
"Ada apa dengan Andini ya Mas, kita serasa lepas kendali sama dia, kita sibuk dengan aktivitas kita sehingga adikku tak terkontrol."
"Kenapa memang?" Hadi yang lagi membaca buku melirik Arini yang mulai bicara.
"Kita besok pagi pulang, Andini mau tunangan, kasih tahunya begitu mendadak banget nggak ada jeda." Arini kelihatan ada sesal dalam hatinya.
"Begitulah anak sekarang, senang dengan kejutan." Hadi menghadap istrinya yang tiduran di sampingnya.
"Aku menangkap keganjilan pada adikku sendiri Mas, aku penasaran dengan pacar baik dan royalnya itu, aku malah timbulnya takut."
"Kamu jangan berlebihan menilai orang sayang."
"Justru karena aku nggak bisa mengontrol belum kenal sama orangnya, jadi aku merasa takut. Adikku terlalu polos belum banyak pengalaman menyikapi seseorang yang baik seperti itu."
"Orang baik itu pasti ada maunya, itu pasti, kalau nggak ada maunya nggak mungkin orang itu baik, dekat, akrab, kan udah jelas dia punya niat baik sama adikmu. Ubah dulu cara berpikir kamu itu jangan terlalu berprasangka buruk jangan suudzon dulu."
"Aku terlalu sayang pada adikku Mas, jadi timbul pikiran jelek aja terhadap apa yang dilakukan Andini atau apa yang orang lakukan pada dia. Tapi Semoga semua itu hanya pikiranku saja."
"Kamu itu terlalu capek, sini aku peluk." Hadinata menyimpan buku bacaannya dan merentangkan tangannya sambil tersenyum mengangguk pada istrinya.
Arini mendekat dan bergeser, Hadinata memeluk istri tersayangnya dengan penuh cinta.
Selalu ada kedamaian setiap galau rasa hati Arini, teman curhatnya adalah suaminya, tempat mengadu segala keluh kesah adalah suaminya, tempat berbagi rasa kerinduan capek lelah hati ya suaminya memang sudah semestinya mereka saling memberi dan menerima.
Menutupi segala kekurangan, dan itulah rumah tangga yang mereka bina bersama.
"Andini beda sama kamu sayang, tak selincah kamu, tak sepintar kamu juga tanggungjawabnya juga beda, jadi anak paling gede seperti kamu pasti akan lebih dewasa cara berpikirnya."
"Aku selalu khawatir dengan pergaulannya Mas, bukan hal lainnya. Takut terjebak sama orang yang kurang tanggungjawab atau hanya keinginan sesaat"
"Tenang saja, Andini bukan orang bodoh untuk terlalu gampang dibohongi atau dikibuli, aku yakin itu, dia punya pendirian seperti kamu."
"Makasih Mas, Mas selalu bijaksana dalam menyikapi segala hal selalu menenangkan aku dalam ketegangan selalu memberi rasa nyaman saat aku gelisah."
"Aku suamimu Rini, aku mencintaimu sepenuh hatiku, aku juga banyak terimakasih padamu atas cinta dan segala yang kamu korbankan untuk keluarga kita ini, kebanggan tersendiri kita selalu bersama dalam kebersamaan yang penuh cinta ini."
__ADS_1
Hadi mencium kening istrinya dalam pelukannya. Perlahan tangannya mengangkat dagu Arini yang tersenyum menanti sentuhan yang tak pernah puas dan bosan melakukannya.
"Mas, tadi belum jawab, kita pulang kan besok?"
"Iya, kita pulang semua pekerjaan bisa di atur, kenapa enggak? masa adik tunangan kita nggak pulang?"
"Iya, aku penasaran aja sama adikku, katanya mau kasih kejutan buat aku aku juga jadi seperti terbawa arus ingin tahu kejutan apa yang dia berikan padaku besok."
"Haaa...paling ya kejutan kenalin tunangannya."
"Mas juga mau kasih kejutan buat aku? malam ini ya?" Arini menggoda suaminya.
"Boleh kita lewati malam ini dengan sangat indah?" Hadi mulai membuka pakaiannya dan menarik tali gaun tidur Arini.
"Selalu kita isi dengan panas setiap malam juga Mas."
"Aku ingin lebih malam ini."
"Lebih gimana?"
"Secepat itu?"
"Aku merasa kasihan anak kita nggak ada temannya, satu aja lagi mau cewek atau cowok lagi nggak masalah."
"Apa aku nggak harus lihat program jangka panjang dulu di pekerjaanku Mas?"
"Nggak usah, jangka panjang kita sekarang adalah program anak lagi, semua sudah terlewati, aku hanya ingin menikmati hari-hari bersamamu menebus waktu yang terlewati dalam kesibukan dari kemarin-kemarin."
"Tapi jangan suruh aku berhenti mengurus usaha kita di Radio, aku nggak mau, semua itu adalah kebanggaan ku juga kebahagiaanku."
"Siapa yang suruh kamu berhenti? Tapi aku minta waktumu lebih banyak buat hal menyenangkan seperti ini."
Arini tersenyum penuh arti, Hadi mengangguk sambil mengecup bibir istrinya.
"Mas, pastikan Dek Bima sudah pulas apa belum? baru aku buka semua heee..."
__ADS_1
Hadi Bangun dengan bertelanjang dada dan hanya mengenakan celana boxer nya, memastikan buah hati mereka sudah tertidur pulas di ranjang yang terpisah, mencium pipinya dan menyelimutinya.
"Selalu ada kebahagiaan setelah anak tidur buat kita." Hadi berada di atas istrinya menopang kepala dengan sebelah tangannya.
Arini yang berada di bawahnya tersenyum sambil mengusap usap jambang dan bulu-bulu halus sekitar wajah suaminya yang sudah tiga hari nggak cukuran, juga dada bidang berbulu suaminya yang menimbulkan sensasi lain saat kena di kulit wajahnya.
"Aku merasa adikku si Dini masih kecil aja Mas, kadang aku belum rela dia bergaul bebas padahal ada masanya kali, sekarang sudah dewasa sama seperti kita mendambakan kedamaian hidup bersama orang yang kita cintai."
"Kamu itu terlalu sayang sama keluargamu, adikmu sama-sama cantik sepertimu biarlah dia menebar pesonanya, memilih masa depannya sendiri, melakukan yang terbaik untuk langkah-langkahnya sendiri. Kita sebagai Kakak dan orangtua hanya wajib mengarahkan saja seandainya dia menginjak kepada jalan yang kurang baik, cukup begitu saja jangan terlalu ikut campur terlalu dalam, kita hanya membimbing dan mengarahkannya."
"Iya Mas, terkadang aku lupa, padahal Andini sudah lulus kuliah bahkan mulai merintis usaha jauh melampaui pencapaianku walaupun bukan hasil keringatnya sendiri, tapi ada seseorang yang begitu mencintainya.
Hadi mencium bibir Arini dengan lembut mengusap dan merangkum pipinya. Jarinya bermain diantara bibir dagu dan lehernya, mencium belakang telinganya membuat Arini merinding sendiri dan balik menggelinjang memeluk suaminya.
"Mas."
"Hemght."
Malam kian senyap tetapi dalam kamar sini begitu hangat dan semakin panas, Hadi dan Arini memacu hasrat kerinduan mereka, menumpahkan kasih sayang dengan senyata nyatanya memberi kepuasan pada pasangannya.
Ciuman, usapan dan belaian membuat hasrat keduanya meronta, meminta penyelesaian lebih, hanya selimut yang menutupi mereka dan Arini pasrah dalam nafas yang tersengal saat suaminya mulai merambah daerah sensitifnya.
Kenikmatan luar biasa saat mulut dan tangannya memainkan sesuatu di dada istrinya, mengulum dan menciumnya dengan rakus menjadikan pemanasan puncak berakhir dengan penyatuan.
******* Arini menambah kian menggebu Hadinata memacu menyatukan hasrat gelora asmaranya,mereguk manisnya cinta suami istri dalam kepuasan yang selalu ingin di ulangnya lagi dan lagi.
Senyum puas dalam dekapan sayang keduanya, juga usapan sayang dengan peluh setiap pori porinya, Arini terkulai dalam dekapan.
"Tidur dulu, nanti kita ulang lagi."
***
Rekomendasi Novel yang sangat bagus untukmu, Pesona Aryanti karya Enis Sudrajat🙏❤️
__ADS_1