
"Udah Bi istirahat aja cape biarin Dek Bima sama saya tasnya biarin kalau berat mah entar di ambil Mas Hadi, Bibi masukin yang kecil kecil aja"
"Iya Neng"
"Maaf Bi tempatkan aja itu oleh olehnya dulu yang bisa di kulkas atau yang bisa di lemari.
"Terus Neng Rini sama Mas Hadi mau makan nggak nanti Bibi hangatkan,kan ini ada nasi timbel"
"Kayaknya nggak dulu Bi masih kenyang"
Habis pulang kampung begitu capek tapi senang,di tinggalin dua hari aja kangen pada rumah sendiri yang namanya sudah berumahtangga tak betah rasanya tinggal sama orangtua lama lama,sudah melepas kangen ingin rasanya pulang segera.
Habis maghrib Arini sama Hadi duduk di teras depan di lantai atas rumahnya,Bima seperti kecapaian tidur dari maghrib tadi,Bi Minah selonjoran sambil nonton tv di ruang keluarga bawah.
"Mas besok mulai coba ke kantor nggak ?"
"Rencananya seperti itu kenapa emang ?"
"Nggak apa apa Aku senang aja"
"Paling Aku kontrol kontrol aja dulu, Aku belum bisa total, kadang capek kakiku untuk berjalan agak jauh,perlu adaptasi dulu,tapi Aku pengen banget melihat perkembangan bangunan kita itu Rin"
"Iya Mas jangan sekaligus,pelan pelan aja kan ada Aku sopirnya heeee..."
"Sopirnya harus di bayar berapa kiran kira ya ?"
"Hemght...sepertinya nggak di bayar juga nggak apa apa,tapi..."
"Kok ada tapinya ? pasti mintanya apa hayo ngaku saja ? haaaaaaaa... Aku tahu pasti itu"
"Ih Mas malu maluin saja,kedengaran orang kayak abg lagi pacaran aja...maksudku tapi Mas percaya nggak sama Aku ?"
"Malu sama siapa nggak ada orang di sini,ke bawah jauh nggak kedengaran coba lihat kesini"
Hadi berdiri di teras atas depan rumahnya,dan Arini berdiri menghampirinya,Arini ingat waktu dulu Hadi mempersembahkan rumah ini untuk hadiah perkawinannya persis di tempat ini,Hadi menarik tangan istrinya meraih pinggangnya dan mereka berpandangan lalu berpelukan di benderang nya langit berbintang dan lengang nya malam di malam hari yang cerah.
Tak ada kata kata hanya Arini menenggelamkan kepalanya dalam dekapan suaminya Hadi mengusap usap kepala istrinya seakan ingin menebus semua kesendirian istrinya sekian lama.
__ADS_1
Hadi melonggarkan pelukannya menatap wajah istrinya dalam dalam,remang remang lampu teras menghanyutkan keduanya,di rangkumnya wajah istrinya dengan kedua tangannya,membelai kedua pipinya Arini terdiam menikmati setiap sentuhan.
"Sayang rasanya seperti baru pertama Aku kenal kamu, Aku tak puas puas rasanya menatap wajahmu,mencium dan memelukmu..."
"Iya Aku juga kayak baru pertama kali Mas mendengar rayuan dan gombalan,setelah sekian lama Mas tak merayuku heeeeee"
"Dasar kamu,awas ya nggak Aku lepaskan"
Arini lari kecil masuk kamarnya yang di atas,dan Hadi berhasil menangkapnya percis di samping tempat tidur
"Aaaaaah geli Mas kenceng banget aku nggak bisa nafas nih"
Hadi mendekapnya sambil berguling guling di tempat tidur,Arini hanya pasrah saja sambil tertawa geli,terasa mengulang awal awal pernikahan,mereka mengisi kamar ini dengan penuh kebahagiaan dan rasa asmara yang membara,penuh suka cita dan kebahagiaan.
"Mas kita ke bawah aja kasihan Bima sendiri nanti bangun minta susu"
"Ah Rin,kan ada Bi Minah ini di bawah,apa salahnya kita menikmati waktu berdua"
"Bi Minah mungkin udah tidur kecapaian,nggak boleh gitu kan udah ada Bima di tengah tengah kita,dan itu bukan tanggungjawab orang lain tapi tanggungjawab kita"
"Ayo kita teruskan di bawah ya..."
"Mas aku sholat isya dulu ya"
"Hemgh"
Berdua di di tempat tidur Arini dan Hadi berpandangan,lelah di perjalanan tak membuat keduanya ngantuk,tak puas rasanya berdua melepaskan kerinduan, dalam remang lampu kamar saling mengusap dan bersentuhan.
****
Tak seperti hari hari yang lalu bangun di pagi ini semua serba ceria,Bi Minah sibuk dengan aktifitas paginya,Arini juga sebagai istri lebih memahami semua kebutuhan anggota keluarganya,giling cucian biar Bi Minah tinggal jemur,mandiin anak dan bikin sarapan dan hari ini ada yang bantuin beres beres sapu halaman dan ada yang menghidupkan mesin mobil.
Mas Hadi telah kembali,Arini memandang suaminya dari balik kaca dan tersenyum,terasa tenang hatinya,apalagi hari ini rencananya Mas Hadi mau masuk kerja pertama kalinya setelah sekian bulan bahkan tahun hanya tinggal di rumah.
Dalam hati Arini penuh dengan do'a terbaiknya,begitu lega rasa hatinya sekarang melihat kesembuhan suaminya, kerinduan akan semua sentuhan Mas Hadi telah Arini rasakan... dan kecemasannya selama ini telah hilang,hanya ada kebahagiaan yang Arini rasakan.
Selama sakit dan tak berdaya suaminya telah menempa kedewasaan dan kemandirian Arini dalam segala hal pahit manis kehidupan capek penat semua telah di laluinya, sekali lagi Arini menengok keluar Mas Hadi tengah menyalakan mobilnya mungkin kangen juga selama kurang lebih dua tahun tak memegang mobil kesayangannya.
__ADS_1
Arini akan mengantar Mas Hadi ke kantornya walau cuma menengok dan melihat lihat saja,dan akan menjadi kebahagiaan yang luar biasa bagi semua rekan kerjanya dan terutama bagi Mas Hadi sendiri.
Sempurna rasanya kebahagiaan Arini dan lengkap sudah kini dalam hidupnya Mas Hadi yang jadi sandarannya telah beraktifitas kembali.
Datang ke kantor Arini dan Hadi di sambut semua personil karyawan Riang 89,14 Fm Radio dan Arini hanya tersenyum membalas semua sambutan karyawan karyawannya Mas Hadi.
Senang rasa Hadi bisa melihat semua aset berupa Stasiun Radio dan karyawannya masih bisa berjalan dengan baik dan yang terpenting masih bisa menghidupi mereka.
Dan perjalanan hari pertama Hadi dan Arini di lanjutkan ke kantor kontraktor yang begitu lama tak terurus hanya mengandalkan Pak Priyo tanpa suntikan dana segar permodalan di tengah krisis dan semua menjadi jalan di tempat dan karyawan banyak yang di rumahkan.
Hadi hanya senyum saja sambil mengusap punggung istrinya.
"Alhamdulillah aset dan nama perusahaan masih milik kita sayang"
"Iya Mas masih terselamatkan"
Hadi masuk ruangannya dan entah dari mana Pak Priyo tergopoh gopoh masuk dan menyalami dan mengucapkan selamat atas kesehatannya dan mengucapkan selamat datang kembali di kantor.
"Masih terawat walau tanpa modal Pak Priyo haaaaaaa"
"Beginilah Pak Hadi heee"
"Oke kita tata ulang semuanya dari awal lagi,tiga tahun di tinggalkan masih cukup baik baik saja terimakasih Pak Priyo telah bersama kami dalam keadaan apapun"
"Sama sama Pak Hadi"
"Apa sekarang ada proyek yang lagi di kerjakan ?"
"Apapun kami terima Pak Hadi yang penting buat ngikat karyawan proyek biar tak lepas dari perusahaan kita,kita menerima renovasi sekecil apapun,lagi ada merenovasi tempat Ibadah di salah satu komplek perumahan Pak"
"Wow bagus itu pak Priyo lanjutkan saja,saya memaklumi mempertahankan pasti sama beratnya dengan merintis satu usaha"
Itulah senangnya Arini pada suaminya yang beda usia cukup jauh dari dirinya yaitu selalu memandang optimis apapun kendala di hadapannya dan selalu ada jalan keluar dari setiap permasalahannya.
Hadi duduk di kursinya dan tersenyum pada Arini istrinya.
"Siapa yang pernah pingsan di sini karena belum sarapan ?"
__ADS_1
Arini tertawa dan merasa semuanya begitu sepele hanya karena gara gara cemburu buta tak beralasan.