Meniti Pelangi

Meniti Pelangi
Nostalgia


__ADS_3

Hadi memasuki ruangan istrinya Arini yang telah menjadi direktur di Radio Riang FM, Hadi menyerahkan usaha rintisannya yang di mulai dari hobi itu pada istrinya.


Sejak dirinya sembuh dari sakit dan Hadinata sendiri sibuk mengurus usaha kontraktor yang kini semakin maju lagi setelah lama terbengkalai ditinggal sakit kurang lebih 3 tahun, otomatis hanya diurus istrinya sama Pak Priyo hampir kolaps untung sampai tidak bangkrut sama sekali.


Hadinata hampir tak pernah datang ke tempat ini yang dulu adalah cikal bakal usahanya berkembang dan bisa ekspansi ke usaha lain karena semakin sibuknya di usaha baru yang akan di mulainya.


Ada kerinduan dan seperti berjalan dalam masa-masa dulu yang kini jadi kenangannya, benar begitu banyak kenangan mereka berdua dan di sinilah awal cinta beda usia dan beda status itu dimulai.


Hadinata telah berusia tiga puluh enam tahun dan Arini duapuluhan lima tahun saat mereka ketemu dan mereka jatuh cinta.


Hadinata melihat sekeliling ruangan yang tertata apik dan rapi, Arini istrinya pecinta kebersihan dan kerapihan akan segala hal.


Arini memeluk suaminya dari belakang dan membenamkan mukanya di punggung suaminya.


Merasakan kehangatan seorang suami yang kini hadir di sisinya.


Serasa mimpi sekian tahun dirinya berkutat sendiri menjaga mengelola perusahaan yang suaminya bebankan karena keterpaksaan.


Ada kebanggaan tersendiri bagi Arini, dalam kurun waktu sekian tahun kendali perusahaannya di pegang dirinya. Semakin maju dan bisa memajukannya itu adalah prestasi dan pujian dari suaminya.


"Rin, inget dulu saat kamu ngobrol sama Arman di lobby bawah tiba-tiba datang Pak Priyo?"


"Iya kenapa?"


"Ada hal lucu saat itu, aku nggak rela kamu dekat dengan siapapun dan aku langsung menyuruh Pak Priyo untuk membuyarkan konsentrasi kamu dan Arman saat itu, tahu nggak waktu itu Pak Priyo menolak apa yang aku perintahkan dengan alasan nggak sopan menegur kamu saat berduaan."


"Aku ingat Mas semuanya apalagi saat pertama kita ngapain di ruangan ini."


Hadi berbalik menghadap dan menatap istrinya, senyumnya mengembang.


"Waktu itu aku memaksa untuk mencium kamu, habis aku greget banget lihat kamu sok jual mahal, sok nggak pernah pacaran, sok nggak butuh dan sok alim juga, kalau sudah di cium balas juga ternyata haaa..."


Arini tertawa mendengar apa yang di katakan suaminya. Dari dulu suaminya selalu mengikuti dan memata matain dirinya sampai tahu segalanya, dan saat Arini tahu semua itu karena cinta Arini hanya tertegun saja banyak hal orang melakukan apapun demi cintanya.


Hadi balik memeluk istrinya dan menciumnya dengan penuh perasaan, dan Arinipun membalasnya tak kalah panas juga.


"Mas, apa kita ke sini hanya buat ciuman saja?"


"Yang lain juga kalau mau."


"Ah, jangan mengada ada ini tempat kerja bukan kamar Hotel"


"Emang nggak bisa? ruangan kerjaan dijadikan tempat untuk bermesraan?"


"Tapi aku nggak mau di sini Mas."

__ADS_1


"Katanya tadi mau bernostalgia sekarang udah ada di sini Kok malah nggak mau?"


"Mas, kita pulang aja seperti nggak punya rumah saja kita."


"Ssssst...di rumah ada anak, kita nggak bisa tenang dan bebas seperti di sini, kecuali anak tidur tapi kan nggak bisa diprediksi. Aku ingin semua disini nggak apa-apa kita kunci pintunya nggak ada yang mengganggu di sini ruangan private."


"Ah, Mas di sini sungguh aku nggak enak hati."


"Arini, ini ruangan kita. Kita bikin lagi kenangan baru di sini."


"Ngaco Mas ini."


"Katanya tadi mau bernostalgia ya kita rayakan kebersamaan kita di sini, sofa ada, tempat tidur ada."


Arini diam.


"Ya sudah, kalau nggak mau jangan memaksakan diri kita di rumah saja."


"Mas, aku orangnya nggak enakan, kalau bukan pada tempatnya."


"Kenapa begitu? kita tak menyalahi, ini ruangan tertutup, kita juga suami istri apa salahnya kita mencari rasa dan suasana beda?"


"Aku memang Ibu-ibu banget ya Mas?"


"Ah, jangan suka memuji aku jadi tambah gak enak."


"Tapi aku mau kasih kamu yang enak."


Hadi mulai memeluk setelah mengunci pintu biar istrinya merasa tenang.


Arini tak menolak memang sentuhan suaminya begitu menggugah gairahnya.


"Mas."


"Iya sayang, apa hemght...?"


Hadi semakin memepet istrinya ke tepat tidur, Arini tak bisa menolak lagi keinginannya hanya pasrah dalam rengkuhan nya.


"Aku tak mau ketinggalan sama yang akan bulan madu kurang dua minggu lagi, aku juga mau bulan madu setiap waktu heee..."


Pernyataan suaminya atau tak urung membuat Arini tertawa kecil lucu memang, perasaan ingin tersaingi dalam hal apa pun dirasakan juga oleh suaminya walaupun gak masuk akal.


Sepertinya bulan madu kedua mereka telah mulai dilancarkan Mas Hadi semenjak berkeinginan untuk memberi adik kepada Bima. Dan setelah sembuh dari sakit ingin menebus segala yang di rasa telah banyak kesalahan pada istrinya.


"Aku sayang kamu Arini, aku tak akan bosan mengatakan itu."

__ADS_1


"Aku juga tak akan bosan mendengarnya Mas."


"Aku setiap waktu mau bulan madu, aku akan menebus kesendirian mu dalam hal apapun selama aku sakit."


"Jangan bicara begitu Mas, jangan mengingat hal itu lagi tinggal kita bersyukur, apalagi kita telah memiliki segalanya, anak yang sehat, Mas yang sehat kembali tak terkira kebahagiaanku kini."


Dan aku memilikimu tak bisa di bandingkan dengan apapun, kamu bikin aku kangen terus.


Mereka berciuman dan saling membelai, rasa cinta dan sayang seolah tak pernah hilang dari kehidupan mereka. Mereka saling memberi dan saling mencukupi apa yang mereka butuhkan.


Benar saja hasrat memang tak kenal tempat di manapun jadi, menjadikan satu momen mengisi kebersamaan dengan perayaan puncak cinta mereka.


Hadi memperlihatkan kalau dirinya telah sembuh seutuhnya, dan memperlihatkan kegagahannya pada istrinya, juga seakan mengetes kejantanan kalau dirinya pria sejati yang bisa memuaskan istrinya.


Sampai akhirnya mereka menyelesaikan satu sesi nostalgia mereka di tempat itu. Hadi memeluk istrinya yang dalam kelelahan mengatur nafasnya.


"Terimakasih sayang, kamu selalu yang terbaik."


"Mas bikin aku kecapekan, aku besok kerja pasti nggak fokus di sini."


"Haaaa...tinggal telephon aja, aku siap datang kita pergi ke tempat yang kamu inginkan." Hadi mencium kening istrinya yang keringatan.


Arini balas memeluk suaminya, seakan tak ingin terpisahkan dan betapa satu sama lain begitu mendamba setiap waktu.


"Kita pulang yuk Mas."


"Nggak aku mau jalan-jalan dulu sama kamu ke tempat-tempat istimewa kita."


"Maksud Mas ke mana?" Arini kembali berdandan dan merapikan kembali pakaiannya."


"Kita ke tempat Mal usaha masa depan kita yang masih dalam masa finishing, tapi sebelumnya kita makan dulu mau di mana?"


"Wah, sepertinya menyenangkan, aku sudah lama nggak nengok proyek lama kita itu sudah sampai gimana ya?"


"Makanya kita ke sana sekarang lihat proyeknya, tapi proyek lain kita lanjutin di rumah ya..."


"Mas!?"


*****


Happy reading dan tinggalkan jejak mu ❤️🙏


Sambil nunggu up Meniti Pelangi baca novel yang sangat bagus untukmu, MIRAGE By Shan_Neen. fav, like dan vote ya 🙏❤️


__ADS_1


__ADS_2