Meniti Pelangi

Meniti Pelangi
Semangat Baru


__ADS_3

Seperti pagi pagi yang lain,seperti biasanya aktifitas rutin di jalani Arini sebelum berangkat kerja, membereskan segala sesuatu yang ada di rumah,dari mulai bangun sholat menggiling cucian masak sarapan mandiin anak dan mengurus suami yang mulai bisa berjalan walau pakai penyangga badan.


Hadi duduk di depan meja makan dan Arini mandiin Bima,terdengar suara Bima yang teriak teriak di ajak bercanda mamanya.


"Anak mama udah gede ya ?"


"Uda dong"


"Udah pinter apa hayo"


"Gocok gigi cama mandi"


"Anak Mama siapa Bima ini ?


"Mama Rini cama Papa Hadi"


"Udah mandinya yu entar Bima nya kedinginan ya"


"Nggak mau Bima mau main busa sabun kayak es clim"


"Main busanya entar aja sama Bi Minah Mama kan mau kerja,nanti kesiangan ya"


"Mama mau kelja ya,Bima ikut ya Ma "


"Bima di rumah aja sama Bi Minah sama Papa,anak kecil belum boleh kerja,anak kecil main aja"


"Kan Bima udah gede Ma"


" Heeeeeee Iya udah gede tapi belum boleh kerja"


"Bima mau ikut kelja cama Mama"


"Iya,iya tapi Bima udah mandinya,pakai handuk, pakai baju nanti ikut mamya"


"Holeeee Bima ikut Mama"


Arini memangku Bima dari kamar mandi, membawanya ke ruangan tv memakaikan baju dan memberinya bedak lalu menyisir rambutnya.


"Udah Bima main dulu ya Mama mau siapin sarapan dulu"


"Ya Ma"


Dan Bima pun anteng mengacak acak mainannya,Arini ke belakang yang nyatu sama dapur hanya memakai penyekat ruangan.


"Mas mau sarapan apa ?"


"Apa aja Rin yang gampang aja"

__ADS_1


"Nasi goreng aja ya"


"Boleh"


Hadi memandang punggung istrinya yang lagi menyiapkan makanan,dengan cekatan Arini mengerjakannya,masih seperti yang dulu Arini yang nggak mau diam semua ingin di kerjakan nya sendiri,apa yang bisa ia lakukan di lakukan nya.


Walau masih pakai baju rumahan Arini kelihatan cantik dan menarik di pandangan Hadi,rambut yang agak panjang di jepit ke belakang terlihat kulit lehernya yang putih,


cuma sekarang agak gemuk sedikit setelah melahirkan Bima,tapi pesonanya tetap terpancar dari keseluruhan penampilannya.


"Mas ini sudah siap, Mas makan duluan ya aku lihat Bima dulu di depan,nih air putihnya,ini kerupuknya"


"Rin Aku mau makan bareng sama kamu"


Arini tertegun dan menghentikan langkahnya,dan menatap Hadi, Hadi merasa bersalah.


"Maksudku lihat aja dulu Bima Rin kita sarapan bareng nanti, Aku mau ngobrol sama kamu"


Dan Arini mengangguk,


Arini menghampiri Hadi,mengusap usap punggung dan rambutnya,tanpa kata lalu kedepan melihat Bima dan menengok Bi Minah yang lagi menyapu halaman depan.


"Rin akyu hanya ingin ngobrol sama kamu sambil sarapan tapi Aku tak tega melihat kesibukan kamu setiap pagi"


Setelah duduk di depan meja makan Arini mengambilkan nasi ke piring Hadi.


"Sebenarnya itu Rin,jelas Aku sangat cemburu tapi gimana lagi,Maksudku gini coba nanti diskusi sama Pak Priyo berapa dana yang di perlukan untuk menutupi operasional kontraktor kita"


"Ya Mas nanti saya ngobrol sama Pak Priyo"


"Semoga ada solusi biar kamu nggak merasa terbebani banget,kan kita sudah punya jalan keluar,kita pakai dana dari Hesti dengan niat baik,mudah mudahan bermanfaat banyak"


"Iya Mas,semoga jadi jalan keluar permasalahan kita"


"Dan satu lagi Rin biar kamu nggak mengganggu mobil operasional di kantor radio,pakai aja mobil yang di garasi biar kamu terbiasa"


"Iya Aku coba nanti Mas"


Selesai sarapan Arini bersiap berangkat kerja,setelah mencium tangan suaminya lanjut membawa Bima muter muter perumahan sekedar menghibur anaknya, lalu berpamitan dan Bi Minah menutup pintu pagar.


"Dah Bima jangan nakal ya,nanti Mama pulangnya nggak sore sore banget biar kita jalan jalan lagi ya"


"Dah mama Rini"


"Dah sayang"


Arini berlalu mengendarai mobil suaminya yang sudah di service kembali,sampai di kantor masih agak lengang dan baru ada beberapa orang yang datang,dan langsung menuju ruangannya, ada map map yang bertumpuk Arini hanya meliriknya dan langsung menghidupkan laptopnya.

__ADS_1


Dan tak lama Lusy datang mengetuk pintu kepalanya nongol di balik pintu.


"Pagi Bu cantik,pagi banget datangnya,lagi semangat ya ?


"Hai pagi juga Lus,iya dong semangat banget kan kita mau menggapai bintang heeee"


"Baik baik semuanya Bu?"


"Alhamdulillah"


"Boleh Aku sampaikan sesuatu Bu pagi pagi gini ?"


Lusi duduk di depan meja Arini.


"Tentang...?"


"Emh soal luar kerjaan Bu"


"Soal apaan ?"


"Bu gini waktu kita pulang dari tempatnya Mas Arman kan Bu Rini langsung pulang,nah sorenya Mas Arman nelephon saya Bu lalu datang ke sini,dia minta maaf dia cerita semuanya,dan akhirnya dia menyesal Bu,apapun akan dia lakukan asal Bu Rini memaafkannya katanya"


"Masih punya muka rupanya,lantas jawabanmu apa ?"


"Ya aku jawab Aku nggak tahu seperti apa hati orang,mungkin Ibu terlalu sakit saat ini untuk memaafkan,pokoknya Mas Arman kelihatan sangat menyesal Bu"


"Aku nggak ingin membahas lagi soal Arman,denger namanya juga aku nggak mau,tutup semua sampai di sini"


"Iya Bu saya mengerti,mungkin saya juga kalau ada di posisi Ibu akan seperti itu,dia ngasih cek segala barangkali Bu Rini berubah fikiran katanya masih mau menganggap dia sahabatnya,dan meneruskan kerjasama dia mau kasih pinjaman uang berapapun juga"


"Seenaknya aja dia,emang semuanya bisa dibeli dengan uang ? apa serendah itu saya kalau masih mau menerima bantuan dari dia ? betapa persahabatan dan perasaan begitu nggak ada nilainya di mata dia,begitu egois begitu angkuhnya memiliki dunia dan saat posisi lagi di atas"


Arini bicara sambil memancarkan kemarahan yang sangat sangat memuncak, belum pernah Lusy melihat Arini marah seperti itu.


"Maafkan saya Bu,saya membuat Bu Rini marah masih pagi pagi"


"Maafkan saya juga Lus,saya lepas kendali terbawa emosi,saya hanya marah pada keadaan dan diri saya sendiri,sudahlah cukup kita yang tahu,apa Pak Pri tahu ?"


"Kayaknya tahu Bu mungkin Pak Hadi yang cerita,saya juga kasih tahu Mas Arman kalau saat itu Bu Rini sama Pak Hadi lagi menghadiri pemakaman Bu Hesti di Surabaya.


"Arman itu sebenarnya nggak begitu,mungkin perasaan tersakiti yang membentuk dia seperti itu, Aku sudah berulang kali minta maaf atas perasaan hati yang tak bisa Aku berikan padanya,terlalu mendalam dia menyimpan perasaan,tapi Aku tak bisa berbuat apa apa hati nggak bisa di paksakan"


"Iya Bu,waktu ketemu juga kelihatan kacau banget"


"Aku tak mencintainya Lusy,selain sebagai sahabat dari dulu,ada banyak perbedaan diantara Aku dan dia,dengan kejadian ini semoga dia bisa mengambil hikmah terbaiknya,dan kita tata hidup kita kedepan dengan lebih baik lagi"


Betul itu Bu...

__ADS_1


__ADS_2