Meniti Pelangi

Meniti Pelangi
Perpisahan,selamat jalan istriku...


__ADS_3

Pagi pagi Pak Priyo sudah menunggu di halaman depan rumah untuk mengantar Hadi sekeluarga ke bandara dengan penerbangan pertama,Hadi beres dandan dan menemani Pak Priyo di teras depan,Arini sibuk mendandani Bima,dan Bi Minah membawa tas dan koper ke samping mobil.


Arini keluar menuntun Bima,setelah memberi pesan sama Bi Minah mereka berangkat.


"Hati hati Bi ya di rumah,saya sudah telephon Dini biar menemani di rumah,biar kuliahnya selama saya nggak ada berangkat dari sini aja"


Mobil mulai berjalan perlahan,Bi Minah menutup pintu gerbang,dan mobil hilang di belokan.


"Titip semuanya Pak Pri ya,jangan lupa tengok juga Lusy"


"Iya Bu Arini,semoga Pak Hadi sehat sehat aja tak ada kendala apapun,dan yang si ganteng ini juga nggak rewel ya"


"Aamiin..."


Perjalanan bukan akhir pekan memang lancar tanpa kendala apapun,semua lancar sesuai harapan dan jadwal,juga si kecil Bima begitu bersemangat naik pesawat untuk pertama kalinya,tak henti hentinya Ia berceloteh dan menirukan suara pesawat yang baru mereka tumpangi.


Di bandara Juanda Sidoarjo Hadi dan Arini duduk menunggu jemputan,Fadli yang akan menjemput,Hadi mencoba menelephon dan sudah di perjalanan nunggu macet terurai.


Fadli datang dan menyalami Hadi dan Arini juga menyapa si kecil Bima.


"Mas Hadi apa khabar,ini keluarganya ya..."


"Iya Fad,ini istriku Arini dan ini Bima putraku"


Fadli menyalami Arini sambil membungkuk,dan mempersilahkan masuk ke mobilnya.


Sepanjang perjalanan mereka ngobrol masalah tentang Kabar dan keadaan Hesti yang sekarang sudah tidak mau di rawat di rumahsakit tapi mau menjalani hidup di rumah masa kecilnya.


"Mbak Hesti sempat sehat dan beraktifitas biasa Mas,malah saya optimis ini awal kesembuhannya,tapi setelah ngedrop terakhir


semakin parah"


"Tapi sempat di rawat Fad ?"


"Ya itu maunya pulang dan selalu menyebut dan memanggil nama Mas Hadi,dan satu lagi Mas Mbak Hesti tanpa sepengetahuan saya punya usaha retail semacam supermarket yang dia kelola sendiri,katanya untuk kegiatan sehari hari"


"Udah berjalan berapa lama itu Fad ?"


"Kira kira dua setengah tahunan ada kali Mas mungkin lebih"


"Terakhir saya komunikasi awal awal saya kecelakaan dan berapa bulan ke belakang, saya mulai agak pulih tiga bulan yang lalu,Dia masih kedengaran seger dari bicaranya,masih bersemangat masih mendo'akan saya cepet sehat"


Mobil berbelok ke salah satu rumah besar dan berhenti di depan pagarnya,seorang wanita membuka pagar dan mempersilahkan masuk.


Hadi turun di bantu sama Fadli,Hadi melihat sekeliling rumah yang masih seperti dulu awal awal pernikahannya dengan Hesti,yang berbeda sekarang halamannya kurang terawat dan pohon-pohon nya tinggi tinggi.

__ADS_1


"Alhamdulillah kita sampai Rin ayo turun"


"Iya Mas Dek Bima nya tidur"


Hadi melongokan kepalanya ke dalam mobil Arini tengah memangku Bima yang tertidur pulas dan menggendongnya keluar dari mobil.


"Ini istri saya Dyah Mas Hadi"


Fadli memperkenalkan istrinya,yang membuka pagar tadi dan mempersilahkan tamunya masuk rumah,istri Fadli menolong Arini membawakan tas perlengkapan Bima dan menjinjing nya dibawa masuk.


"Monggo Mbak dedie nya boboin di kamar sini,dan Mas sama Mbak nya istirahat dulu di ruang tamu,saya bikinin teh hangat"


"Iya makasih mbak Dyah"


Arini duduk di di sofa samping Hadi,setelah menidurkan Bima di kamar depan, setelah minum dan istirahat sesaat Fadli dan Istrinya membawa Arini dan Hadi ke ruangan tengah.


Kasur single dengan seprai hijau muda dan bantal yang agak sedikit bertumpuk di bagian kepala,di atasnya terbaring satu sosok kurus,berkerudung selempang batik,mata terpejam dengan nafas teratur,layaknya orang tidur,ada beberapa orang duduk berjejer bersender ke tembok sedang mengumandangkan ayat ayat suci Al-Qur'an hampir tidak kedengaran.


Hadi dan Arini mendekat bersebrangan,setelah Hadi lebih dulu ngasih tongkatnya ke Fadli,dan Fadli membantu Hadi untuk bisa duduk,lama Hadi menatap Hesti istrinya,fikirannya melayang ke beberapa tahun yang lalu saat terakhir Hadi melihat wajah istrinya,yang memutuskan untuk berkelana dengan perjalanan religinya.


Beberapa kali Hadi mengirimkan uang untuk bekal perjalanan istrinya,dengan harapan Hesti bisa berobat dan sehat kembali,sampai pada satu saat Hesti menolak karena uangnya masih cukup.


Tangan Hadi memegang tangan kurus di depannya mengusap usap,menciumnya dan mencium kening istrinya,begitu juga Arini mencium tangan Hesti dengan berlinang airmata.


Perlahan mata Hesti terbuka,dan masih bisa mengenali sosok di depan matanya,mencoba tersenyum menatap Hadi dan memandang Arini,Arini mengangguk dan tersenyum.


"Ya Hes,akuy juga sama istriku minta maaf,aku selalu berharap kamu akan sembuh kembali"


"Ini istrimu....Mas...?"


"Ya,ini Arini yang aku ceritakan waktu itu Kamu istirahat,jangan fikirkan apapun ada ayku di sini menemanimu dan mendo'akanmu"


"Kita adalah ke..lu..arga... Mas"


"Ya kita keluarga ya ya...,ada Fadli, Dyah,kamu ada di tengah tengah keluarga yang menyayangimu"


Hesti memejamkan lagi matanya,seperti kelelahan dan ingin mengumpulkan kembali tenaganya.


Hari beranjak malam,tapi Hadi tak mau beranjak dari dekat istrinya,seakan ingin seutuhnya memberi perhatian di saat saat istrinya dalam kondisi di titik rendah,lemah tak berdaya,hanya waktu sholat saja Ia bangkit menunaikan kewajiban dan berdo'a memohon yang terbaik buat istrinya.


Arini tidur di kamar bersama Bima yang sebenarnya tak bisa tidur,bolak balik menemani suaminya,Fadli juga istrinya,


Ustad Sholeh yang dari kemarin menunggui pas ba'da subuh membangunkan Hadi yang tertidur di samping Hesti dan mengabarkan Hesti semakin melemah,dan mungkin ini saat terakhirnya.


Arini memegang sebelah tangan Hesti,sebelah lagi Ustad Sholeh, Hadi mengusap usap keningnya,tak henti hentinya Ustad Sholeh menuntun Hesti menyebut nama Allah, beristighfar,dan bersyahadat.

__ADS_1


Dan setelah beberapa saat...


"Alhamdulillah,sempurna,Bu Hesti dengan tenangnya telah menghembuskan nafas terakhirnya,semoga husnul khotimah..."


Ucapan Ustad Sholeh di sambut dengan derai airmata Hadi,Arini,Fadli,Dyah dan kerabat lainnya,Hadi memeluk istrinya dan mencium kepalanya untuk terakhir kalinya,Arini mencium tangannya sebelum di tutup seluruh badannya dengan kain panjang,sungguh suasana begitu berkabung.


Prosesi pengurusan jenazah begitu lancar,Hesti telah mempersiapkan segalanya,tak ingin dirinya merepotkan saudara dan orang lain,dirinya telah menginvestasikan uangnya di post post badan pengurusan janazah hingga tuntas sampai pemakaman.


Perjalanan hidupnya telah sampai pada titik ini,perjalanan religinya telah menjadikannya seorang yang ikhlas akan hidup dan matinya,dan mempersiapkan diri sebaik baiknya di di hadapan Yang Maha Kuasa.


Gema tahlil tahmid di sekeliling ruangan mendo'akan,menjadi moment yang sulit di lupakan, suasana begitu berduka bagi keluarga,yang tertinggal hanya kenangan dan kebaikannya.


Hadi,Arini,Fadli dan Dyah duduk mengelilingi sofa,semua muka tampak muram,Fadli bangkit masuk kamarnya dan datang dengan map map juga kotak besar,dan meletakkannya di meja,Hadi tak mengerti dan memandang Fadli dengan mata tanda tanyanya.


"Mas Hadi saya menyerahkan ini semua titipan mbak Hesti sebagai amanat yang harus saya sampaikan ke Mas Hadi"


"Maksudnya apaan ini?"


"Saya juga nggak tahu Mas,silahkan buka aja biar Mas tahu"


Hadi membuka satu map berisi sertifikat usaha,map kedua sertifikat tanah,dan map map lainnya berisi surat berharga, lalu membuka kotak besar isinya perhiasan sebagian Hadi mengenalinya,buku tabungan yang saldonya membuat mata Hadi melotot dan atm atm.


"Fad apa ada kata kata terakhir kakak mu selain menitipkan ini ?"


Fadli mengambil satu amplop kecil dari kotak dan menyodorkan ke arah Hadi, Hadi mengambil membukanya,lalu menyodorkan kembali ke arah Fadli.


"Baca...!"


Fadli mulai membaca.


"Telah Aku antar adikku sekolah setinggi mungkin bersama mas Hadi,jadikan ilmu mu untuk mencari rezeki dan bermanfaat bagi orang lain,dan Aku tak mengambil sedikitpun warisan orangtuaku Aku hibahkan semua untuk adikku Fadli,semua yang Aku punya semasa pernikahanku dengan mas Hadi Aku kembalikan,semoga Mas Hadi bisa memanfaatkannya untuk kelangsungan usaha dan kesehatannya,


Yang aku perlukan hanyalah do'a kalian Maafkan Aku...


-Hesti Hadinata"


"Ya ampuuuuun,Hesti kamu tak memakai semua uangnya,setiap Aku kirim selalu ada,selalu masih ada, Hadi menangis sesenggukan,terbuat dari apa hatimu ?"


Arini mengusap usap punggung suaminya,dan menyeka airmatanya sendiri,betapa hari ini semua telah menyaksikan ketulusan,kebaikan sebuah hati.


"Mas Hadi,kini Mas dan mbak Arini adalah keluarga saya yang ada,kita tetap menjaganya sampai kapanpun"


"Ya Fad,kita adalah keluarga dan akan selalu menjaganya"


"Mas kapan mau balik ke Bandung ? Istirahat aja dulu barang beberapa hari kedepan di sini,sampai semua bisa tenang,barangkali mbak Arini mau kemana dulu saya siap mengantar"

__ADS_1


"Gimana Rin,apa kita jadi besok aja pulangnya ?"


"Berhubung kita masih dalam suasana berkabung,juga saya meninggalkan tanggungjawab di sana jadi saya sama Mas Hadi nggak bisa lama lama,tapi suatu saat kami pasti berkunjung lagi ke sini dalam suasana lain,semoga ! Ya Mas kita besok aja pulang nya"


__ADS_2