Meniti Pelangi

Meniti Pelangi
Sama sama jomblo


__ADS_3

"Gimana hari ini apa menyenangkan hati Neng Dini ?" Arman melirik Dini dan tersenyum.


"Iya Mas,aku malah lupa motorku di bengkel mungkin turun mesin heee...kalau sudah malas dan nggak hidup hidup aku titipin di tukang jualan tadi dulu baru minta di dorong ke bengkel terdekat kalau kuliah selesai, biasanya si Mang mangkal di samping kampus, waktu itu sore di trotoar dan di halte karena mau pulang aja"


"Kasihan cantik cantik temennya bukan cowok ganteng malah tukang dagang Mang Mang itu haaaa..."


"Ah Mas bisa aja,ngeledek aku terus,mentang mentang sendirinya sudah sukses"


"Aku jomblo gini kamu bilang sukses ?"


"Tapi setidaknya sudah mandiri dan mapan juga tak bergantung pada orang lain"


"Dini perjalanan panjang usahaku sama seperti orang lain yang dirintis dengan tertatih tatih dan setapak demi setapak,masih banyak kelemahan ku dan rasa bersalahku hingga sampai saat ini aku belum berani mengambil langkah untuk masa depanku, tapi hasrat dan harapanku masih besar apalagi tuntutan orangtuaku yang selalu membuat kupingku panas heee..."


"Sabar Mas mungkin belum waktunya,Mas baik pasti dapat jodoh orang yang baik pula"


"Aku bukan orang baik Dini tapi setidaknya aku berusaha memperbaiki diri"


Simpatik Dini semakin bertambah dengan apa yang di ucapkan Arman.


"Maaf ya aku jadi curhat sama kamu Din"


"Terkadang untuk melepaskan beban kita,kita perlu pendengar setia Mas" Seperti kakaknya saja Arini yang suka akan puisi dan selalu mengeluarkan kata kata yang menenangkan dan menyejukkan hati.


"Iya Dini,kamu kuliah jurusan apa sih ?"


"Manajement akuntansi Mas"


"Oh mau jadi tukang urus keuangan ya biar banyak duitnya ? semester ?" Arman tertawa, begitu juga Dini.


"Terakhir Mas makanya lagi sibuk banget sampai nggak sempat urus motor sendiri heee...dan jarang pulang ke rumah Teh Rini juga"


"Orangtuamu pada sehat semua ? kamu masih punya adik laki laki ya perasaanku ?"

__ADS_1


"Alhamdulillah Bapak sudah mau pensiun, Iya Mas adikku satu lagi tahun besok masuk kuliah,aku keluar"


Perjalanan tak terasa di lalui sambil ngobrol ke sana ke mari dan akhirnya masuk ke salah satu gang dan atas petunjuk Dini mobil berhenti di depan sebuah komplek kost kostan.


"Dini kalau kamu besok butuh tumpangan,sebelum motor kamu bener lagi telephon saja aku ya, siapa tahu aku lagi senggang, motor sudah aku bayar biar bisa bener lagi servis sekalian turun mesin,nota nya sudah kamu pegang kan ?"


"Iya Mas,makasih banyak lho"


"Sudah jangan terimakasih melulu aku malah nggak enak, dari dulu masa sekolah aku makan di rumah kamu terus heee..."


Dini hanya tersenyum,sebuah hadiah yang manis dari seorang cantik fikir Arman dan hatinya menjadi deg degan,ingin rasanya mengantar Dini sampai kamarnya dan mengobrol lama lama sambil menikmati malam yang seakan penuh dengan bunga bunga di hati Arman.


"Kamar no 3 dari kanan Mas"


"Oke suatu saat aku pasti mampir, galak nggak penjaganya ?"


"Nggak ada penjaganya emang apartemen apa ? hanya Bapak kost aja itu rumahnya yang ujung"


"Iya Mas hati hati ya" terasa empuk dan adem rasanya suara dan pesan Dini di hati Arman.


Dan Arman hanya mengangguk dan tersenyum, memperhatikan Dini yang turun dari mobilnya dan berjalan setelah senyum dan melambaikan tangannya.


Arman memperhatikan punggung Dini yang berjalan semakin tak kelihatan hanya di terangin lampu penerangan jalan raya,dan Arman menarik nafas dalam dalam lalu melajukan mobilnya dan mengingat ingat jalan ke arah yang barusan di lewatinya bersama Andini.


Sepanjang jalan pulang Arman di liputi rasa yang tak mengerti,ada rasa suka,rasa bersalah dan dilema yang menguasainya,tak sadar setengah hari ini dirinya melewati hari bersama seorang perempuan,sesuatu yang jauh dari perkiraan dan semua serba tak terduga,benar kata sahabatnya Hans Wijaya harus ada gerakan dan jangan jalan di tempat,baru beberapa hari saja dirinya berniat mencari seseorang yang awalnya hanya kenalan,jadi teman dan berharap selanjutnya saling suka,ini malah secara tak terduga seorang Andini mengusik dirinya dalam kesendirian.


Cantik memang cantik banget, Andini tak bisa di bantah oleh siapapun memiliki pesona yang luar biasa,tapi kenapa masih saja jomblo ada apa ya ? apa terlalu pilih pilih atau mau selesai dulu kuliahnya baru mikirin cowok ?


Sampai rumahnya Arman masih merasa tak mengerti betapa kejadian sore tadi sampai malam ini begitu membuatnya salah tingkah,deg degan dan merasa takut sendiri,melihat Andini yang masih malu saat dirinya traktir dan tertegun saat Arman dengan gampangnya membayar uang servis dan turun mesin motor Andini.


Arman dalam posisinya yang sekarang mentraktir Andini dan membayar memperbaiki motornya seperti mengeluarkan layaknya duit receh saja,sampai berani taruhan dengan sahabatnya Hans Wijaya 1M dan memicu semangatnya untuk bangkit dari tak percaya dirinya akan sebuah hubungan dengan wanita,rasa takut gagal dan trauma melakukan kesalahan seperti yang di lakukan pada sahabatnya Arini dengan keegoisan dan limpahan materi membuat dirinya lupa diri dan sombong dengan kemampuannya, sampai suatu hari Hans teman akrabnya mitra dan rekan dalam bisnisnya menyadarkan dirinya dan mengajaknya sama sama bangkit bareng bareng mencari jodoh masa depannya.


Sampai rumahnya yang begitu besar dan mewah hanya sepi yang menyambutnya seperti malam malam sebelumnya, hanya ada adiknya Ardi yang mungkin sudah tidur atau main game di kamarnya atau mengerjakan tugas kuliahnya atau entah apalagi kegiatannya.

__ADS_1


Arman memarkir mobilnya dan di masukkan ke garasi lalu menutup pintu gerbang dan menguncinya masuk rumah dan memang sepi hanya kamar Ardi yang terlihat tidak tertutup dan Arman berpikir mungkin Ardi belum tidur.


Arman menjatuhkan dirinya di sofa ruang keluarga dan mencoba menyalakan televisi hanya sekedar untuk merasa tidak sendiri dan merasa ada yang menemani, Ardi keluar dari kamarnya dan menyapa Kakaknya.


"Kak Arman baru pulang ?"


"Heemght...kamu sudah makan ?"


"Sudah Kak, aku juga pulang agak sore dari kampus,lagi banyak kegiatan" Ardi duduk di sebrang Kakaknya.


"Iya,jangan bawa perut kosong ke rumah ya,di sini susah cari makanan, ada juga nunggu yang lewat enggak bisa dipastikan jadi kita pulang ke rumah harus sudah perut terisi biar tidak sulit lagi mencari makanan di sini, disini adalah kompleks perumahan baru jadi belum banyak pedagang yang lewat dan kemungkinan juga tidak diperbolehkan sama satpam di depan paling untung di rumah hanya ada mie instan sama telur"


"Iya Kak"


"Tiap bulan uang makan dan keperluan mu yang Kakak transfer ke rekening mu habis nggak ?"


"Nggak Kak kadang lebihnya masih banyak"


"Ya sudah Kakak mau mandi dulu, jangan lupa pintu di kontrol lagi sebelum tidur ya"


"Ya Kak"


Arman beranjak mematikan tv dan naik ke lantai dua,dan masuk kamarnya,sengaja Ardi adiknya di bawah dan Arman di atas biar semua serasa terisi walau pada kenyataannya mereka asyik sendiri sendiri di kamarnya,tapi setidaknya ada Ardi lumayan ada yang mengisi rumahnya saat dirinya sibuk dan harus keluar kota.


Selesai mandi Arman merebahkan badannya di tempat tidur dan meraih ponselnya, tersenyum sendiri melihat 12 digit nomor ponsel Andini yang pertemuan mereka begitu tak terduga.


Andini begitu ranum daun muda gadis perawan yang mungkin belum begitu banyak bergaul,dan gonta ganti pacar dan hasrat Arman sebagai laki laki begitu terpesona dengan sebentuk fisik yang di miliki Andini,Andini berperawakan tinggi langsing dengan kulit lebih putih dari Kakaknya Arini,senyumnya sangat menawan,dan bahasanya sangat halus,semua otak Arman di penuhi dengan fikiran Andini,


"Astaghfirullahaladzim,ada apa aku ini ?" Arman beristigfar sambil mengusap mukanya.


Adakah perasaan apa yang ada di hati Andini saat ini ? mungkin saja menganggapnya pertemuan tadi itu biasa saja dan Andini akan melupakannya ? lalu kembali pada kesibukannya, kalaupun Andini menyukainya mungkinkah semua itu, bagaimana reaksi Arini ? Arman sudah bisa menebaknya penentangan yang pastinya atas dirinya.


Aaaaaah...semua bikin pusing kepala Arman kenapa kamu harus mogok motor dan berkenalan denganku Dini ?

__ADS_1


__ADS_2