Meniti Pelangi

Meniti Pelangi
Bangun kesiangan


__ADS_3

Paginya mereka bangun kesiangan karena malam-malam mereka mengulang kembali apa yang sangat menyenangkan buat mereka, hingga keduanya kelelahan dan tidur dengan pulas nya.


Paginya Hadi sibuk menelephon, Arini menyiapkan sarapan, Bima sudah duduk manis di meja makan samping Papanya, Bi Minah sibuk juga membantu Arini menyiapkan sarapan pagi mereka.


"Kok mendadak begini Neng kita pergi ke Tasikmalaya nya?" Bi Minah menjadi orang paling sibuk mempersiapkan semuanya.


"Iya Bi, pemberitahuannya juga mendadak begitu jadinya mau tidak mau kita juga dadakan semuanya muanya."


"Sudah nggak usah buru-buru banget acaranya juga malam nanti, masih banyak waktu, jangan terlalu banyak yang di bawa Bi, kita nggak lama di sana nginep satu malam saja."


"Iya, Neng."


"Dek Bima sarapannya mau apa sayang?" Arini mengusap kepala Bima sambil lewat membuka kulkas.


"Mama, Mama... sarapannya goreng sosis sama nugget ya."


"Boleh, tapi pakai nasi gorengnya."


"Pedes nggak Ma?"


"Enggak sayang."


"Mau, mau, mau..."


"Bi, goreng ini ya, buat Dek Bima.


buat telornya di dadar aja seperti biasa."


"Iya Neng, biarin sama Bibi aja. Kalau Neng Rini mau dandan dulu silahkan."


"Iya, Bi."


"Dek Bima makan sendiri ya, tuh di goreng sama Bi Minah nugget nya."


Arini naik tangga masuk kamarnya dengan rambut masih di gulung handuk, masih sempat membereskan tempat tidurnya yang super berantakan.


"Rin, kamu sudah telephon Lusy belum? kalau kita mau keluar kota dulu?" Mas Hadi mengikutinya dan langsung masuk kamar juga.


"Nanti saja Mas, di Radio nggak ada yang urgent semua biasa saja."


"Ya syukurlah, kalau di kantorku lagi agak repot, tapi Pak Priyo bisa di andalkan. Juga proyek masa depan kita semua hampir rampung tinggal finishing nya."


"Kapan ya kita bisa menengoknya lagi?"


"Nanti, kalau aku senggang sekalian jalan-jalan ajak Dek Bima juga."


"Mas, pilih sendiri baju yang mau di bawa." Arini membuka gulungan handuk di kepalanya yang masih basah depan cermin.


Lalu mengamati wajahnya, mengambil sisir dan hairdryer


"Aku lebih senang di pilihkan kamu Rin, biasanya kan kamu protes, pakai ini nggak matching sama yang di pakai Istri, pilih yang itu kurang ganteng, Pilihkan saja sama kamu."


Hadi memeluk pinggang istrinya dari belakang, mencium leher tengkuk dan area bawah telinga.

__ADS_1


"Hai hai hai...Mas ngapain sih ini? lihat nih rambut juga belum kering."


"Aku masih kangen sayang, wangi sabun mu mengundang gairahku."


"Ya ampuuuuun Mas, stop dulu kita kan mau jalan dulu, apa semalam tadi masih kurang?"


"Malam sama siang beda lagi sayang." Hadi masih saja memeluk Arini dan mengusap-usap perutnya ratanya membuat Arini merasa geli sendiri sambil memegang tangan kekar suaminya yang mengunci pinggangnya.


"Aku ingin segera ada kehidupan kembali buah cinta di sini." Hadi mengusap perut Arini lalu sedikit ke atas dengan nakal.


"Buktikan ketajaman mu Mas." Arini balik badan menghadap suaminya yang tangannya mulai merambah liar keluar jalur.


"Haaaaaaaa... ayo mau sekarang atau kapan?"


"Jangan ngaco deh Mas ah..."


"Aku ingin menebus ketidak hadiranku saat kehamilan dan kelahiran Bima dulu, sungguh itu waktu yang tak bisa terulang kembali, momen spesial yang tak kunikmati, biarkan aku menjaga dan mengikuti perkembangan kehamilan keduamu sayang."


"Sepertinya aku juga kangen dengan kehamilan Mas."


"Makanya ayo kita bikin lagi."


"Tapi bukan waktu mepet seperti ini Mas, nanti malam ada waktunya. Kita kan merencanakan perjalanan ayolah jangan macam-macam mancing-mancing, kita siap-siap ya."


"Aku maunya sekarang sayang."


"Ya ampun Mas, semua sudah pada siap, Mas malah meminta yang aneh-aneh, malu tuh sama Dek Bima."


"Nggak butuh waktu banyak Rin, paling sepuluh menit."


"Arini, kalau nanti ya nanti lagi, sekarang lain lagi."


"Laki-laki kenapa sih rencana mau mengerti untuk hal ini? selalu memaksa kalau punya keinginan."


"Karena menganggap keinginannya wajar."


"Justru yang aku pertanyakan keinginan di luar kewajaran."


"Aku memang sudah nggak wajar?" Hadi tersenyum menarik lebih rapat pinggang istrinya.


"Sepertinya begitu."


"Tapi kamu masih lincah mengimbanginya."


"Yeeee... istri yang baik semestinya begitu."


"Istri yang baik siap kapanpun di inginkan."


"Mas, kapan dandannya kalau begini terus?"


Arini yang masih mengenakan kimono mandinya merasa sedikit lagi semuanya tak bisa di kendalikan, seperti saat dulu di awal-awal mereka menikah, saat lagi masak pun harus berhenti, saat suaminya menginginkannya dengan awalnya seperti ini, memeluk dan merayunya dari belakang. Arini tahu kalau suaminya begitu serius memintanya.


"Mas, apa nggak bisa sabar sampai nanti di sana kalau kita sudah sampai?"

__ADS_1


"Aku terobsesi keinginan kamu untuk hamil adiknya Bima Rin, jangan matikan gairahku karena mungkin ini saatnya yang akan jadi."


"Mas, aku takut Dek Bima naik ke sini, dan memangil manggil kita."


"Dek Bima lagi sarapan Rin, aku menginginkan sarapan lain, aku menginginkan dirimu saat ini."


"Kunci pintu."


"Makasih sayang."


"Secepat kilat Hadi mengunci pintu dan balik lagi menyergap tubuh istrinya, memeluknya dengan hangat menciumnya seperti baru merasakan asmara yang tak pernah di di sentuhnya.


Perlahan menarik kimono mandi Istrinya dari samping, pemandangan menggairahkan di hadapannya. Arini seperti menemukan kembali momennya tak kalah panas memberikan sentuhan di dada suaminya dengan gesekan dan sentuhan bibirnya di leher suaminya.


"Ah... Rini sayang kita di tempat tidur ya?"


Arini tak menjawab, langsung merubah posisi berdirinya, merebahkan badannya di tempat tidur, Hadi mengungkungnya dengan gairah tinggi dan gejolak yang tak tertahankan.


Semua telah terbuka, semua menanti sentuhan yang lebih intim. Hadi memusatkan permainan rangsangan di dada istrinya, itu begitu menyedot gairahnya yang paling puncak.


"Rin, aku nggak tahan."


"Iya, Mas."


Pergulatan panas dan panjang akhirnya usai juga, Arini mendesah di ikuti lenguhan Hadi yang sama-sama berkeringat seperti habis joging.


Keduanya terlentang dengan napas yang tak beraturan, Hadi mengusap usap kepala istrinya yang sama-sama masih kecapaian.


Arini bangun duluan, keluar dari selimut yang menutupi mereka berdua, mengenakan kimono nya lagi.


"Kenapa sih Mas nggak bikin kamar mandi di atas? jadi susah mandi lagi ke bawah nih." Arini setengah menggerutu.


"Haaa... dari kemarin-kemarin kamu tak pernah mempersoalkan kamar mandi? tapi kenapa baru kali ini kamu mempersoalkannya?"


"Aku malu sama Bi Minah, baru selesai mandi masa sekarang habis diatas berdua sekarang mandi lagi?"


"Kamu aja yang begitu perasa banget, belum tentu Bi Minah punya pikiran seperti itu, lagian kalau Bi Minah punya pikiran seperti itu biarin aja, kita suami istri bukan lagi pacaran yang mencuri waktu dan kesempatan. Setiap saat kita ingin menikmati kebersamaan kita nikmati saja jangan jadikan semua itu beban."


"Ayo ah mandi lagi sekalian lanjut kita sarapan di meja makan bukan di tempat tidur, dan kita berangkat sudah siang ini."


"Yang ikhlas dong Arini sayang, jangan menggerutu begitu."


"Iya, aku ikhlas kalau nggak ikhlas nggak mungkin aku mendesah."


Hadi bangun memakai kembali kaos oblong nya dan menggandeng Arini turun melewati anak tangga.


***


Happy reading dan tinggalkan jejak mu ❤️🙏


Sambil nunggu Meniti Pelangi up,


Rekomendasi Novel yang sangat bagus untukmu, Berbagi Cinta : Satu Atap Tiga Hati, karya terbaik R.Angela 🙏

__ADS_1



__ADS_2