Meniti Pelangi

Meniti Pelangi
Nggak fokus kerja


__ADS_3

Arman mengemudikan mobilnya dengan perasaan melayang dan dada seakan mau meledak, hati dan rasanya begitu sesak dengan kebahagiaan, menjalankan mobilnya dengan pelan pelan ingin menikmati lebih lama lagi kebersamaan ini, sesekali Arman melirik cantik di sampingnya dirinya juga nggak percaya kalau hari ini dirinya telah berani menyatakan perasaannya, ingin rasanya Arman meneriakkan sebuah kata kalau hari ini telah merubah status jomblo nya jadi punya kekasih.


Arman tangannya tak bisa untuk tak memegang jari jari halus Andini,dan Andini tak menolaknya, Arman ingin meyakinkan hatinya sekali lagi dengan menggenggam tangan itu dan Andini diam saja saat tangannya dalam genggaman Arman.


"Aku bingung Din kita mau makan di mana,mendadak aku nggak lapar,hanya ingin dekat kamu saja heee..."


"Tapi masa iya kita di mobil aja nggak turun turun Mas ?" Andini juga merasa geli sendiri.


"Tapi kamu yang pilih mau turun di mana aku ikut aja,mau makan apa juga aku ikut aja,mau restoran mana juga aku ikut aja, pokoknya aku merasa buntu,aku hanya ingin bersama dengan kamu"


"Iiiiiiiiiih...Mas" Andini merasa tersanjung dan menjadi malu.


"Ya sudah kalau kamu nggak pilih biar aku yang pilih" Arman membelokkan mobilnya ke salah satu rumah makan yang kelihatan dari depan begitu sepi tapi di parkiran berjejer mobil mewah semua.


Arman turun dan berlari kecil mengelilingi depan mobilnya dan membukakan pintu buat Andini dan Arman menyodorkan tangannya Andini menyambutnya sambil tersenyum.


"Makasih Mas" Arman mengangguk dan menggandeng tangan itu tak di lepaskan sambil berjalan dan sampai memasuki Restourant itu.


Arman memilih dan memesan tempat,Restourant itu berupa tempat makan lebih privasi dengan satu anjungan satu anjungan seperti gazebo, tapi ada juga untuk kapasitas rombongan dan di sediakan juga untuk makan meja kursi,dan lesehan.


Pelayan mengantar mereka ke salah satu anjungan dan menyerahkan buku menu,dan Arman langsung memilih hanya perlu diskusi sebentar dengan Andini dan pelayan itu berlalu.


Arman menatap dalam dalam wajah di sampingnya sambil tersenyum,dan Andini merasa kikuk juga malu.


"Dini,maafkan aku,aku nggak bisa sabar seperti orang lain,aku membuat kamu kaget dan salah tingkah,aku begitu cepat menyatakan perasaanku padamu, tapi walau terburu buru aku tulus sayang kamu Dini"


Dini mengangguk dan tersenyum.


"Aku ingin bahagiakan kamu,aku sudah bosan dalam kesendirian, kita sama sama saling menyesuaikan kita ikuti saja alurnya perasaan kita,kita nikmati setiap kebersamaan kita"


"Ya Mas"


"Aku merasa jadi orang paling bahagia hari ini Dini" Arman tak bisa menyembunyikan perasaannya, begitu juga Andini, mereka berpandangan dan tertawa bersama.


"Serius kamu nggak tidur tadi malam ? haaaa...Aku juga bohong sama kamu waktu pagi tadi telephon kamu aku bilang tidur larut banget bukan melihat lihat agenda pekerjaan dan proyek ku tapi aku mikirin kamu"


Pelayan Restourant datang membawa baki menu makanan yang di pesan dan Arman sigap membantu menurunkannya.


"Kita sekarang bukan jomblo lagi kan ?" Arman tersenyum sambil menyuapkan makanan ke mulutnya.

__ADS_1


"Ya Mas perasaan sekilat semua berubah"


"Apa kamu pernah sebahagia hari ini Din ?"


Andini menggeleng.


"Terimakasih telah memberi warna dalam hidupku,sekarang aku yang terimakasih sama kamu,kamu telah merubah perasaan takutku"


"Maksudnya apa Mas ?"


"Aku begitu takut di tolak kamu jadi aku sengaja mewakilkan pada seikat bunga,melihat respon kamu langsung aja keberanian ku bertambah"


Andini tersenyum.


"Terimakasih juga telah bikin aku bahagian Mas"


"Iya Dini aku juga bahagia"


"Apa yang menjadi do'a do'a mu selama ini ?"


"Jujur aku minta seorang yang serius yang tulus mencintaiku dan aku ingin seorang Imam yang baik bagi diriku dan keluarga ku,orang yang satu daerah biar suatu saat kita sampai jadi suami istri nggak rebutan kalau mau pulang kampung heee..."


Andini diam,kata kata dewasa Arman telah menambah rasa simpatik dan keyakinan hatinya kalau Arman yang terbaik buat dirinya.


Arman memegang tangan Andini.


"Dini,aku sudah dewasa aku mencari seseorang yang bisa aku ajak serius dalam hubungan ini, aku bukan hanya mencari pacar pengisi waktu saja,aku ingin yang mau aku ajak dalam suka maupun duka"


"Aku mengerti harapan Mas, semoga aku bisa menjadi seperti apa yang Mas harapkan"


"Dini...Aku mencintaimu" Arman mengusap pipi Andini dengan tangan kirinya dan Andini menangkapnya dan menahannya beberapa saat di pipinya.


Dunia hanya milik mereka tak perduli penghuni lainnya,tak ada yang seindah selain cinta mereka berpadu dan satu rasa yang sama mereka rasakan.


Mereka menyudahi makannya dan Andini sekilas merapikan kerudungnya menelisik sedikit mukanya dengan kaca kecil dari dalam tasnya Arman memperhatikannya sambil tersenyum,lalu mereka bangkit dan berjalan ke parkiran.


Makan hanya namanya saja bagi orang yang lagi kasmaran tapi kebersamaannya yang di nikmatin,begitu juga Arman dan Dini mereka sibuk menikmati getaran getaran hati mereka yang seakan tak terbatas tak ingin yang lain lagi selain bersama dan bertemu setiap waktu.


"Dini Aku ini seorang pengusaha bukan pegawai seperti orang lain, yang terima gaji pasti setiap bulannya,jadi aku sadar diri dalam dunia usaha akan ada turun naiknya,aku berinvestasi untuk masa depan kita,apapun aku lakukan dengan satu tujuan dimana usahaku lagi turun ada aset lain yang masih bisa berjalan,maaf aku sudah bicara masa depan kita karena aku jujur yang tadi aku katakan aku tidak mencari pacar pengisi waktu saja tapi yang mau hidup dalam suka duka bersamaku, aku ingin setelah kamu lulus bisa mengelola satu usahaku Din, tapi nanti aku kondisikan dulu"

__ADS_1


Arman bicara setelah Andini duduk kembali di samping jok mobilnya.


"Aku mengerti apa yang Mas bicarakan,Mas begitu dewasa dan berpandangan jauh di mataku"


"Aku ingin seorang istri yang mengerti dan mandiri dan satu lagi cantik seperti kamu heee..."


"Memuji melulu aku jadi nggak enak"


"Sepertinya semua ada di dirimu sayang" Arman tertawa dan Andini merona pipinya,baru pertama dalam hidupnya ada yang memanggil sayang"


"Kita sudah muter muter terus mau ke mana lagi nih ?"


"Ya terserah Mas"


"Sebenarnya aku nggak mau kemana mana asal berdua sama kamu aku sudah senang"


"Memang Mas nggak melanjutkan kerja hari ini ?"


"Aku lagi nggak fokus dua hari ini Dini,biar aku bersamamu mengabiskan hari ini,boleh ya ?"


"Aku malah jadi menyita waktu kerja Mas Arman dong ?"


"Nggak apa apa mulai besok aku fokus kerja tapi siang apa sorenya kita tetep ketemu ya"


Andini mengangguk dan mobil berhenti di pinggir taman kota yang rindang dan teduh di bawah pohon beringin yang sudah tua.


"Turun yuk sepertinya enak banget santai di sini"


"Aku yang nggak enak Mas"


"Kenapa nggak suka tempat ini ?"


"Bukan ! seperti aku yang menculik Mas dari kantor saja, menjadikan Mas bolos dari kerjaan,lihat stelan pakaian Mas itu bukan stelan main tapi stelan kerja"


"Haaa...kamu detil banget,oke aku ganti baju dulu,aku banyak bawa baju di belakang sini,ini kan ada koper biasanya kalau keluar kota suka lupa nggak di keluarin dari koper ini,hanya baju kotor saja yang di bawa"


Arman melirik pakaian yang di kenakan Andini dan dirinya memilih warna kaos semi resmi berkerah yang senada dengan yang di pakai Andini,Arman membuka kemejanya dan menggantung nya di pinggir kaca,Andini membuang muka tak ingin melihat tubuh berotot di depannya.


"Matching kan baju kita ?"

__ADS_1


Mereka turun dan duduk di bangku bangku kecil,dan kesenangan tukang ngamen dan Arman hanya tersenyum sambil memberi sedikit rejeki bagi pengamen rombongan itu


__ADS_2