Meniti Pelangi

Meniti Pelangi
Hasrat yang tertahan


__ADS_3

"Mas jangan ah, aku nggak mau."


"Enggak akan apa-apa sayang, jauh-jauh aku ingin ketemu kamu, ingin melihat memandang kamu cuma ingin peluk kamu saja sayang, apa kamu nggak kangen sama aku hemght?"


"Aku kangen banget Mas." Andini seperti merengek manja tapi hatinya merasa takut.


"Sini aku sudah ada di hadapan kamu, jadi nunggu apa lagi?"


Andini memeluk Arman dengan manja, Arman serasa tak ingin melepaskannya lagi dan tak ingin meninggalkannya jauh-jauh. Dengan perasaan yang membuncah keduanya melepas rindu.


"Sayang, kamu itu telah membuat aku tidak fokus tiap hari aku nggak jelas apa yang harus aku lakukan selain pikiranku tertuju kepadamu, aku bingung dan aku tidak mengerti kenapa kamu begitu membius aku dengan kerinduan ini."


Andini hanya diam dengan jantung tak beraturan dan berdetak lebih cepat dari rata-rata biasa orang normal. Rasa rindu dan takut berbaur jadi satu, takut semua kebablasan dan tak terkendali tak ada yang mengingatkan.


"Aku nggak sabar sayang, ingin rasanya segera kita menjadi suami istri dan kita bisa menuntaskan segalanya."


"Iya Mas." Andini mengusap wajah orang yang di cintainya dengan sebelah tangannya dan Arman mencium kening Andini dengan segenap perasaannya.


"Boleh aku minta sesuatu padamu?"


"Apa itu?"


"Yang selalu aku tunjuk, saat kita melakukan video call."


Andini tersenyum tak berani mengatakan iya ataupun menolaknya, tapi Arman tahu Andini juga merasakan keinginan itu, Arman membelai kedua pipi Andini dan jari jempolnya mulai membelai bibir merah jambu yang tersenyum merekah itu.


Bibirnya mengecup lembut bibir hangat itu, dan memulai dengan lembutnya, dan lama kelamaan napas mereka menjadi terpacu dan kelembutan itu berubah menjadi panas, Arman memeluk erat tubuh Andini dan tak melepaskan ciumannya sampai Andini kehabisan nafas dan menggelinjang.


"Ah, Mas udah ah nanti kita kebablasan."


"Belum sayang, aku masih kangen."


"Tapi aku kepanasan."


"Nyalain dong AC-nya."


"Mas."


"Kenapa?"


"Aku takut."


"Aku tidak ngapa-ngapain kamu kok, aku cuma melepas rasa kangen saja." Arman memandang lekat-lekat seraut wajah yang selalu dirindukannya.

__ADS_1


"Tapi rasa takut itu bukan datang dari diri mas saja lebih dari diriku juga, takut aku juga nggak bisa menahan diri." Andini merasa malu.


"Kita saling ingatkan saja, kan kita sudah sama-sama sepakat kalau saat kita mulai keterlanjuran salah satu diantara kita harus ada yang mengingatkan, biar kita tetap saling menjaga."


"Tapi, sampai kapan kita bisa menjaga semuanya Mas?"


"Sampai kamu resmi menjadi nyonya Arman."


"Mas."


"Apa hemght...?" Arman mengusap bibir Dini yang agak basah sedikit bekas *******ya.


"Mas pernah pacaran serius nggak?"


"Kok nanyanya begitu? ini juga lagi pacaran serius, bahkan lebih serius."


"Bukan itu maksud aku Mas."


"Lantas seperti apa?"


"Maksudku, banyak nggak dulu pacar Mas Arman yang sekarang jadi mantan?"


"Haaaaaaaa... kamu ini lucu banget sayang kenapa bertanya soal itu? Pacar Mas ya cuma kamu satu-satunya dan tak ada kata mantan." Arman tertawa dengan nikmatnya tetapi Andini kelihatan cemberut tidak puas dengan apa yang diucapkannya sebagai jawaban dari pertanyaannya.


"Iya, mau jawaban jujur atau biasa aja, atau jawaban yang menyenangkan hati kamu?"


"Ribet banget sih mau jawab juga, pake pilihan ganda segala kayak lagi ujian aja!"


"Dini, oke Mas jawab ya kalau dibilang pacar itu tidak bisa dikategorikan pacar semua, karena mungkin yang disebut pacaran itu adalah suka sama suka tetapi sejak dari SMA aku berpacaran. Mungkin cinta monyet atau sejenisnya. Tapi kebanyakan aku menyukai seseorang tanpa sepengetahuan orang itu mungkin itu cinta sendiri namanya.


Andini diam mencerna kata-kata Arman...


"Pacaran iya sama seperti kamu banyak mantannya, tapi yang serius seperti perasaanku padamu sekarang dan perasaan setelah dewasa tidak ada, hanya kamu saja yang ada di hatiku kamu yang bisa bikin aku nyaman,sampai saat ini tetap cuma Kamu di hatiku."


Andini tersenyum hatinya menghangat dan perasaannya begitu berbunga menjadi seseorang yang serius dicintai Mas Arman begitu melambungkan dirinya. Merasa bangga sendiri walaupun ada sedikit ketidakpercayaan di dalam hatinya nggak mungkin seganteng ini dan se-tajir ini, sebaik ini tidak ada orang yang nyangkut? tidak ada cewek yang terpikat dengan Mas Arman?


"Kalau kamu gimana? pasti banyak mantannya ya hayo jujur bias kita impas."


"Aku nggak pernah punya pacar, waktu ketemu Mas Arman aku lagi berencana mencari pacar, karena masa kuliahku hampir selesai baru taksir-taksiran gitu."


"Haaa...kayak program pemerintah saja keluarga 'berencana' Aku nggak percaya kalau kamu nggak pernah pacaran."


"Iiiiiiiiiih...nggak percaya ya sudah."

__ADS_1


"Biar aku tanya sama teman kamu si Dewi suatu saat nanti."


"Tanya saja sana, biar aku juga tanya sama Kakakku Teh Arini nanti."


Deg! satu nama yang tak pernah lepas dari ingatannya yang tak pernah hilang dari perasaannya memang sebenarnya itu yang sekarang menjadi ganjalan bagi hubungannya dengan Adiknya sendiri Andini. Saat di ingatkan kembali terasa lemas hati Arman teringat akan Arini pengakuan hatinya begitu banyak bersalah kepada dia, hanya karena perasaannya yang tidak terbalas. Dan satu kebohongan dihadapan adiknya Andini Arman tidak sanggup jujur untuk perasaannya terhadap Arini.


Dini, ada yang aku sembunyikan sebenarnya darimu tentang perasaanku terhadap Kakakmu. Mungkin sekarang sudah mulai terkikis habis berganti dengan perasaan bersalahku dengan perasaan berdosa ku yang sekarang menjadi sesal yang berkepanjangan di hatiku.


Arman memeluk kembali Andini seakan tak ingin lagi kehilangan. Seperti kehilangan Arini kakaknya Andini yang begitu menguras perasaannya sampai-sampai Arman sanggup melakukan perbuatan yang sangat menyakitkan Arini hanya karena keegoisan nya.


Akan tetapi takdir berkata lain Arman di pertemukan dengan adiknya Andini yang sekarang sangat dicintainya dan juga sangat mencintainya.b mungkinkah Arini bisa menerima dirinya sebagai adik iparnya? hanya waktu yang bisa menjawab semuanya.


"Mas, kita jalan-jalan yuk boleh dong aku minta traktir makan?"


"Tapi aku masih kangen Dini, aku masih ingin berduaan di sini."


"Mas, aku sudah lama nggak jalan, biar nanti aku deh yang traktir Mas heee..."


"Memang kamu banyak duit heh? sombongnya mau traktir aku? nggak sayang, ayo kita keluar sekalian jalan-jalan kasihan kamu kerja melulu nggak ada yang ngajak jalan-jalan."


"Kalau banyak sih enggak tapi cukuplah buat makan-makan." Andini mukanya merona merasa malu sok-sok an punya duit mau traktir segala.


"Kamu itu tanggung jawab aku, apapun keperluan kamu aku yang penuhi, dan satu lagi aset ruko dan isinya ini semua dalam pengurusan menjadi kepemilikan atas nama kamu Dini, apa kamu senang?"


"Loh kok begitu Mas, kan aku belum resmi menjadi istrimu?"


"Aku hanya ingin memperlihatkan keseriusanku padamu Andini, biar kamu nggak merasa usaha ini milik aku. Kamu senang?"


"Ya, se-senang Mas, tapi apa nggak berlebihan?"


"Berlebihan memang mungkin berlebihan, tetapi seperti cintaku padamu yang sangat berlebihan juga."


Andini diam sedikit berpikir kenapa Mas Arman begitu menyanjung dirinya. Kenapa juga Mas Arman begitu mencintai dirinya perasaan Andini dirinya sama seperti orang lain tetapi mungkin faktor keberuntungan ada dirinya saat ini.


"Aku sayang kamu Andini, apapun akan aku berikan untuk kebahagiaanmu, satu yang aku minta jaga cintaku ini"


"Semoga aku bisa menjadi orang yang bisa menjaganya Mas."


"Iya sayang, kamu adalah kebahagiaanku."


Arman menarik Andini kembali ke dalam pelukannya, menciumnya dengan perasaan cinta dan kerinduan yang tak pernah padam. Begitu juga Andini pasrah dalam gejolak perasaannya membalas semua sentuhan dan menikmati tiap usapan Arman dengan segenap perasaan cintanya, sampai pada kesadaran mereka telah berpelukan dan berciuman terlalu lama di tempat tidur Andini dengan nafas sama-sama tak beraturan.


"Mas, udah katanya mau jalan-jalan." Andini mendorong tubuh Arman yang masih menempel. Arman memandang Andini dengan pandangan yang berkabut dengan hasrat yang tertahan.

__ADS_1


_Selamat membaca,Terimakasih!


__ADS_2