Meniti Pelangi

Meniti Pelangi
Jaga hatimu untukku dan jangan kecewakan aku


__ADS_3

"Tok tok tok...Dini !"


"Tok tok tok...Dini !"


Kemana ini orang apa dari semalam nggak pulang ? sudah nggak bener ini semua, Arini pindah mengetuk kamar sebelahnya dan sama Dewi juga sahabat Andini pintunya rapat.


Di telephon nggak jawab di datangi nggak ada gimana ini orang jam berapa ada di rumahnya ?


Hadinata menghampiri Istrinya yang ke sana ke mari mengetuk pintu dan akhirnya bertanya pada Ibu kostnya.


"Bu maaf saya mau bertanya adik saya hari ini ke mana ya ? semalam saya ke sini dia lagi main katanya keluar terus saya datang lagi pagi agak siangan ini juga udah nggak ada lagi biasanya kan hari minggu ada di sini,dan kegiatan di kampus libur barangkali Ibu tahu dia pergi kemana ?"


"Saya kurang tahu kalau untuk acara main gitu Neng, Dini nggak pernah bilang kalau mau ke mana,cuman kalau ke kampus ya biasanya rutin kuliah udah itu pulang,kalau main lagi atau ke mana belanja ya saya nggak tahu, biasanya berangkat sama temennya paling saya suka pesenin kalau ada yang datang nyamperin pulangnya jangan malam-malam paling saya pesan begitu"


"Apa perginya sama temannya Dewi Ibu ?"


"Saya nggak melihat pasti Neng"


"Owh ya sudah Bu saya permisi dulu"


"Mangga Neng"


"Nggak ada lagi Bun ? Hadinata bertanya pada Arini.


"Nggak ada Mas tahu ke mana tuh anak"


"Coba bunda telephon lagi barangkali aktif sekarang"


"Nanti saja lah sudah di mobil"


Hadinata merengkuh bahu Arini dan mereka melangkah ke mobilnya,dan setelah duduk di belakang kemudi baru Arini menelephon Dini.


Nada tunggu lama banget nggak di angkat


"Aktif ?"


"Iya Mas"


"Halo Teh, ini Dini"


"Kamu di mana ini ?"


"Emght ada di rumah"


"Rumah siapa dan di mana ?"


"Teteh ini di mana ?"


"Di tanya malah balik nanya,kamu ini di mana sekarang ?"


"Iiiiiiiiiih...Teteh aku di rumah"

__ADS_1


"Rumah mana ? aku di kost kostan kamu dari semalam aku ke tempatmu kamu lagi malam mingguan,sekarang aku ke tempatmu lagi sudah nggak ada, kamu pergi sama siapa ?"


"Aku di rumah teman dan perginya sama teman"


"Dini teman itu ada namanya rumahnya ada tempatnya, kamu itu bikin aku cemas aku takut kamu apa apa jangan macam-macam kamu,telephon nggak di angkat,datang ke rumah enggak,mau hidup sendiri apa ?"


"Iya aku mengerti Teh,aku lagi sibuk,nanti aku nginep kalau sudah selesai semua urusan kampus,kemarin kemarin motorku mogok terus aku numpang ke kampus sama teman"


"Terus kamu sekarang urusan apa itu sama teman kamu ?"


"Ya elah Teteh ya mainlah refreshing sedikit dari kesibukan masa aku harus tinggal di kostan mulu boleh aku juga gaul dan pergi sama teman teman dan orang lain"


"Ya sudah hati hati kamu,main jangan kebablasan"


"Iya Teh,maaf Dini ya"


Andini menutup telephonnya dan Arman yang dari tadi menyimak tersenyum dan merentangkan kedua tangannya sambil bergeser duduknya dan Andini memeluknya hangat semakin agresif dan berani saja Andini membuat Arman juga agak takut kebersamaan mereka di dalam rumahnya mengundang ***** lain yang tak terkendali,saat adiknya satu satunya Ardi tak pulang dan menginap di rumah temannya dengan bebas Arman mencumbu dan bermesraan dengan Andini walau di niatkan dalam hati jangan sampai dan jangan sampai.


"Katanya mau ajak aku melihat sesuatu untuk masa depan kita Mas ?"


"Ini semua gimana menurutmu,ini juga rumah masa depan kita sayang,suatu saat kita pasti menempatinya bersama dan kita akan bahagia di sini" Arman mencium kembali bibir mungil yang sudah hilang lifstick nya itu.


"Mas aku nggak sabar ingin menjadi istrimu"


"Sama sayang apalagi aku, tapi sabar kita lalui prosesnya"


"Kita jalan jalan ke atas yu pemandangannya indah banget mau ?"


"Ini balkon depan kita bisa bersantai sambil bermesraan di sini dan ini satu kamar masih kosong mungkin buat anak kita suatu saat nanti dan ini ruang tengah sengaja aku buat luas agar kita bebas dan sangat privasi dan nah ini kamar utama nya buat special nyonya Arman, dan sekarang aku yang mengisinya,mau masuk ?"


Andini agak ragu tapi Arman menariknya perlahan.


Kamar yang begitu luas dambaan semua orang,dengan tempat tidur besar dan kasur empuk dan perabotan lainnya lemari pakaian yang menjulang di rancang khusus mengikuti ukuran dan denah lokasi kamar dengan rancangan maksimal desain interior, lemari rias sofa kecil menghadap keluar dan kamar mandi utama yang sudah pasti di dalam begitu mewah.


Arman dan Andini duduk di ujung tempat tidur dengan senyuman Arman yang mengembang,dan Arman menyalakan AC,dan menyimpan remote control nya.


"Apa kamu suka dengan rumah ini sayang ?"


Andini tersenyum dan mengangguk.


"Mau tidur di sini ?"


"Mas !"


"Bercanda sayang"


Tapi Arman menarik Andini sampai tidur terlentang di tempat tidurnya,dan Andini merasa panik sendiri seakan ini adalah perangkap,tapi Arman sendiri yang menenangkannya.


"Nggak apa apa sayang cuma tiduran doang jangan mengira aku akan berbuat yang macam-macam aku terlalu menyayangi kamu aku tak ingin terjadi apa-apa sebelum kita sah menjadi suami istri jangan takut"


"Mas aku takut"

__ADS_1


"Takut apa hemght...?"


"Takut aku nggak kuat"


"Ya kita harus kuat,aku yang lebih dewasa harus lebih kuat,walau untuk yang satu ini aku benar benar nggak bisa kuat"


Arman mulai mencium bibir dan leher Andini dengan rakus dan agak kasar dan tanpa di sadari menyingkap dan mencium dada Andini yang menggelinjang sesuatu yang sangat sensitifnya tersentuh bibir panasnya kenikmatan sesaat di rasakan berdua, puncak perawan yang masih begitu utuh di sentuh dengan ciuman dan sesapan nikmat, menghadirkan panas yang menggelora tak tertahannkan yang menggelinjang dan hampir kaku tubuh Andini karena kejang.


"Sayang aku nggak tahan"


"Mas aku juga sama,tapi jangan lakukan Mas aku mohon,aku takut"


"Iya sayang aku hanya menciumnya dan sedikit mencicipinya sayang, aaaaaaah..."


"Mas udah udah jangan di teruskan aku nggak tahan"


Andini menarik pakaiannya dan pelindung dalam dadanya dan mendorong Arman yang mulai menindihnya.


"Astaghfirullahaladzim Mas,Mas istighfar Mas" Arman mengusap mukanya beberapa kali dan menarik Andini dari terlentang nya, Andini menutup dadanya dan ada air bening di sudut matanya.


"Maafkan aku Dini sayang dan terima kasih telah ingatkan aku,aku bukan berandal yang ingin meminta dan memaksa yang belum hak aku,tapi tadi kita hanya terbawa arus"


"Sama aku juga maaf Mas,tadi aku hanya menguji Mas Arman, ternyata Mas mencintaiku dan menghargai ku,kalau orang yang tak menghargai ku pasti sudah terjadi semuanya"


"Ayo sayang kita keluar lagi biar saat indah itu kita realisasikan di sini saat kita sudah sah menjadi suami istri"


"Makasih Mas" Andini mengangguk dan tersenyum.


"Sebaiknya kita jangan sering sering berduaan di rumah tanpa orang lain ya sayang,aku takut menyakiti perasaanmu"


Andini memeluk sebelah tangan Arman dan Arman mengusapnya dengan sepenuh hatinya.


"Habis lagi lifstick aku tuh Mas"


"Haaa...biar nanti aku ganti mau beli berapa banyak hemght...?"


"Satu juga awet Mas"


"Sekalian biar pacar aku bisa belanja apa yang kamu mau,mau beli pakaian,mau perawatan,mau ke salon mau makan pokoknya kamu sudah jadi tanggungan aku,aku tidak mau orang yang aku sayang kekurangan apapun selagi aku ada akan aku cukupi, dengan satu syarat saja mau tahu syaratnya ?"


"Syarat apa itu ?"


"Jaga hatimu untukku dan jangan kecewakan aku"


Andini tertawa dan memeluk Arman dengan manja,dan Arman begitu suka sifat manja Andini.


"Aku telah membuat kartu untukmu sayang,pakai sesuai keperluan mu,memang kartu ini atas namaku tapi kartu dan PIN juga password nya boleh kamu ganti kalau nggak suka,ingat PIN nya adalah tanggal jadian kita saat aku kasih kamu bunga pertama kalinya,ingat ?"


Andini mengangguk sambil tertawa,dan Arman mencium kan kartu itu di bibir mungil Andini dan menciumnya dengan bibirnya sebelahnya lagi sambil tertawa tawa.


"Nggak ada rasanya ya kalau ada penghalangnya haaaa..."

__ADS_1


__ADS_2