
Waktu bergulir,masa berganti hari hari berjalan tanpa peduli dan mempedulikan setiap apapun kejadian kejadian, terkadang dengan kesibukan kita tak menyadari perubahan yang terjadi,tahu tahu dan menyadari semua telah berubah dan terjadi.
Terkadang waktu begitu cepat berlalu saat kita sadari,terkadang waktu begitu lambat merambat dan ingin segera berlalu,begitu yang di rasa Hadi,begitu jenuhnya Ia menjalani hari harinya dalam menapaki masa masa penyembuhannya,sudah mau dua tahun berlalu tapi dirinya masih berkutat dengan rasa sakit dan ke tak berdayaan, hanya Arini dan Bima yang menjadi penghibur hatinya, perkembangan kesembuhannya begitu lambat walau Hadi begitu gigih semangat tinggi untuk sembuh,luka dalam dan patah tulang yang mempengaruhi syaraf otot itu penyebabnya.
Sudah mulai bisa berdiri memakai penyangga tongkat tapi begitu cepat lelah satu kaki menopang tubuhnya yang tinggi gede.
Bima sudah berjalan,sudah pintar ngomong dengan aksen cadelnya dan masa lucu lucunya,tak puas rasanya Arini dan Hadi bermain di waktu senggang dan liburnya.
Seperti malam ini Bima sudah tidur di samping Hadi yang lagi baca baca buku, Arini baru pulang kantor ada urusan yang mesti di selesaikan,Arini tampak letih dan kecapaian datang langsung masuk kamar menyapa suaminya dan mencium Bima,lalu duduk di pinggir tempat tidur samping suaminya.
"Rin kamu baru pulang ? cape banget kelihatannya"
"Iya Mas, di kantor kontraktor lagi rumit"
"Seperti apa kesulitannya Rin ?"
"Semua order yang di rencanakan gagal masuk, proyek ini itu tak jadi kerjasama sama kita kayaknya kita menemui jalan buntu,kalau begini terus usaha kontraktor kita mulai terancam Mas,akyu belum pandai mengurus dan mengelolanya Mas,setiap melobby selalu gagal.
"Sudahlah Rin,jangan bahas dulu kerjaan,akyu nggak tega lihat kamu seperti ini,bersihkan dulu dirimu lalu rileks sebentar dan istirahat, nanti kita bahas lagi soal tadi"
"Iya Mas,maaf tadinya ayku hanya ingin berbagi beban kondisi kerjaan kita saat ini"
"Ssssst,sudahlah sayang,semua akan ada solusinya,mandi dulu tenangkan fikiran mu"
Arini beranjak tanpa kata,betapa berat beban yang di pikulnya, akan selalu ada jalan keluar, hanya itulah harapan dan penghiburan hatinya.
__ADS_1
Malam begitu senyap,Arini tidur terlentang di samping suaminya,Hadi melipat bukunya dan menyampingkan tubuhnya mengusap rambut istrinya,Arini juga sama menyampingkan tubuhnya dan mereka bertatapan.
"Mas,akyu kangen sama kamu...apa Mas juga kangen sama Aku ?"
"Rin sayang jangan tanyakan itu sama akyu,kamu juga tahu jawabannya,setiap akuy melihat kamu tertidur pulas bersama Bima, Aku tahu tempatmu bersandar adalah Aku suamimu,tapi tak bisa memberimu kedamaian di hatimu"
"Mas, Aku ingin kita seperti dulu, sembuhlah Mas,akyu begitu lemah tanpamu,seperti rapuh dan tak ada kekuatan apa apa"
Arini memeluk Hadi,mencium bibirnya,lehernya dan semuanya dan memberikan rangsangan dengan mengusap usap punggung dan pangkal lengan Hadi sepertinya melupakan keadaan suaminya, begitu bernafsu dan ingin melepaskan semua kegundahan hatinya,dibukanya kancing piyama suaminya perlahan juga baju tidurnya sendiri,dengan nafas yang tersengal.
Tapi semua sia sia, Hadi tak bisa melakukan apa apa,hanya permintaan maaf yang keluar dari bibirnya dan air mata,begitu juga Arini menangis sesenggukan di pelukan suaminya,ada rasa sesal di hatinya dengan memperlihatkan hasratnya di depan suaminya, dan semua berakhir dengan sama sama tanpa kata dalam diam.
Tak tahu berapa lama Hadi termenung,ingin memberikan kebahagiaan pada istrinya,tapi Ia tak berdaya,di tatapnya wajah istrinya yang sudah tertidur di samping Bima,hatinya haru melihat kedua belahan hatinya, Hadi tak bisa memejamkan matanya seolah kantuk menghilang dari matanya,hingga tengah malam baru bisa matanya terpejam.
Terbangun agak kesiangan Hadi tak melihat lagi istrinya,dan Bima sudah bermain main bersama Bi Minah,Hadi tertatih berjalan dengan penyangga badannya ke teras depan.
"Iya Mas,katanya tadi pamitan aja kasihan membangunkan Mas lagi pules tidur"
"Iya Bi nggak apa apa,Bi.... sebaiknya apa yang harus saya lakukan Bi biar cepet pulih bisa normal kembali dan sehat kembali ?"
"Kalau Bibi mah mau terapi tiap hari Mas,kan kelihatan dari proses terapi mah,tulang Mas Hadi sudah agak pulih tinggal syaraf syarafnya itu bisa terapi akupuntur dan di urut ke ahlinya,tapi tetep obat medis jangan di tinggalkan"
"Iya ya Bi...aku begitu jenuh dalam keadaan begini Bi,juga kasihan sama Arini kerja sendirian banting tulang di rumah di kantor,sementara Aku kepala keluarga tak berguna apa apa dan menjadi bebannya"
"Mas Hadi jangan ngomong begitu,kan Mas lagi sakit...semua juga mengerti keadaan Mas"
__ADS_1
"Aku sebagai suami tak bisa memberikan nafkah lahir juga bathin Bi"
"Mas sabar ya,semua akan terlewati kalau kita bisa melewati dengan kesabaran"
"Pa pa ...pa pa..mama mama...mama mama..
Hadi mengelus kepala Bima yang menghampirinya,hatinya terenyuh,dirinya belum bisa memberikan kasih sayang sepenuhnya pada anaknya,Bima begitu lincah pintar di usianya yang kurang dari dua tahun jalannya sudah lancar ngomongnya juga lancar,puas rasanya Hadi mengikuti perkembangan buah hatinya tapi begitu sedih mengingat keadaan dirinya.
"Bi tolong ambilkan ponsel saya di atas meja rias kalau nggak di cash di meja sebelahnya"
Hadi tercenung sambil memandang Bima yang lagi main berlarian ke sana kemari segala ingin di pegangnya,segala ingin tahu,fikiran Hadi melayang ke sosok istrinya dan kejadian semalam,tak biasanya Arini seperti itu,juga tak biasanya Arini berangkat tanpa pamit,apa Ia kesal,marah pada dirinya ? atau dia malu ?Ah...tak mungkin, seharusnya dirinyalah yang malu di hadapan istrinya, karena dua hal yang membuat seorang laki laki kehilangan harga dirinya tak bisa memuaskan istrinya di tempat tidur dan tak bisa memenuhi kebutuhan sehari harinya,yaaaa ...nafkah lahir bathin itulah yang tak bisa Hadi berikan selama ini.
Hati Hadi berontak, Aku harus sembuh, Aku harus normal kembali demi keluarga yang aku bina dengan perjuangan panjang tekadnya kuat ingin menyelamatkan perusahaannya dan rumahtangganya,aku tak boleh membebankan semua masalah keluarga dan pekerjaan di pundak istrinya,dia tak berkewajiban dengan semua beban itu,aku harus membuat istriku tersenyum kembali tanpa di paksakan,ingin melihat istrinya tak kesepian lagi,dirinya harus menjadi sandaran istrinya,tempat bermanja,tempat mencurahkan keluh kesahnya.
Separah apa krisis di kantor kontraktornya Hadi tak tahu,mungkin Arini menutupinya di hadapannya agar tidak jadi beban bagi dirinya,Aaaaaah... Arini terlalu baik kamu,terlalu menjaga perasaan hingga semua menjadi masalah yang tak bisa terpecahkan sendiri.
"Mas,ini hp nya"
"Ooohhh iya Bi,makasih ya"
Hadi menelephon dan bicara di telephon begitu lama,yang di lihat Bi Minah Hadi begitu bersemangat bicara,dari berdiri memakai tongkat penyangga sampai pegel kelihatannya dan duduk kembali di kursi rodanya.
"Bi sini Bi,saya mau mencoba terapi di alternatif luar rumahsakit bersama pak Priyo,tapi Bibi jangan bicara ke Rini ya Bi soal ini,anggap aja ini seperti biasa,saya akan berangkat setelah Rini berangkat kerja, Bibi jaga rumah sama Dek Bima"
"Baik Mas, Bibi do'akan semoga Mas Hadi cepet sembuh"
__ADS_1
"Aamiin...Bi"
Pak Priyo datang,dan langsung di sambut Hadi,Bi Minah memangku Bima dan mendudukan nya di sofa samping Hadi,lalu membuat minuman,setelah minum mereka pergi naik mobil Pak Priyo,Hadi berjalan perlahan dengan tongkat penyangga di tangannya...