
Akhirnya hari H pun datang juga. Andini telah begitu siap dengan kain dan kebaya modern di dampingi Kakaknya Arini.
Dengan hati berdebar menunggu bakal calon pengantin yang akan segera datang. Andini melihat kembali dandanan sempurnanya di depan cermin.
Ibu perias dan penata busana membereskan alat-alat make up di masukan satu persatu ke koper kecil.
Arini tak banyak bicara hanya memandang wajah cantik adiknya, sesekali berbicara dengan Andini juga dengan Ibu perias wajah dan busana untuk hal-hal yang dirasa penting.
Bagi Arini ini adalah pernikahan Adiknya yang tak di inginkan bagi dirinya, bagaimana tidak seorang Arman adalah masa lalunya dan bisa dibilang juga masa sekarang yang tak bisa begitu saja lepas dari ingatannya.
Arman yang telah menorehkan luka di hatinya kini dirinya harus menerima kenyataan Arman akan bersanding dengan adik perempuan nya.
Semua tak bisa dibendung semua tak bisa ditolak lagi karena Arini tahu mereka berpacaran pada saat akhir mereka akan melakukan pertunangan dan merencanakan pernikahan.
Begitu seriusnya hubungan mereka sampai Arini tidak tahu ada apa di balik semua pendekatan Arman pada adiknya. Apa murni bertemu secara tidak sengaja atau Arman sengaja mencari dan memikat adiknya sehingga jatuh cinta dan mereka melakukan pacaran sampai akhirnya serius ke jenjang pernikahan.
Hidup adalah perjalanan yang harus diterima jadi harus dijalani apa pun yang terjadi inilah kenyataannya Arman yang ingin Arini lupakan tak ingin bertemu lagi dalam hidupnya kini akan masuk di keluarganya menjadi bagian dari keluarga besarnya.
Tak bisa dipungkiri Arman punya pesona tersendiri walaupun dulu Arini begitu menyukainya, walaupun suka dalam tanda kutip bukan sebagai kekasih.
Arini tahu Arman tergila-gila pada dirinya beberapa kali menyatakan cinta dan beberapa kali pula ditolaknya, sehingga menimbulkan sakit hati pada diri Arman.
Tapi Arini bertekad untuk bisa menerima semuanya dengan lapang dada dengan hati ikhlas dan terbuka mencoba untuk berdamai dengan masa lalunya mencoba akan berdamai dengan sahabatnya.
Hari ini adalah hari pernikahan adiknya dan sahabat masa lalunya dan aku harus kelihatan bahagia walaupun bertolak belakang dengan hati nurani.
"Dini rombongan calon pengantin prianya kelihatan sudah datang."
"Iya Teh?"
"Heemght...tapi kamu tenang aja dulu."
"Aku agak gugup Teh, dulu teteh gugup nggak?"
"Nggak!"
"Iiiiiiiiiih...Teteh jangan bohong."
"Yang gugup itu malamnya nanti." Arini tertawa, di sambut dengan muka merona di wajah Andini.
__ADS_1
"Teh, serius Aku gugup nih apa yang harus aku lakukan?"
"Minum nih."
Andini meminum seteguk benar benar takut keringatan, gelas yang di sodorkan Kakaknya.
"Dini kamu minta apa untuk mas kawin pada Arman?"
"Aku nggak minta apa-apa, tapi kelihatan akan ada kejutan. Aku sih biasa aja terlalu sering Mas Arman kasih kejutan buatku."
"Apa kamu masih punya kejutan buat suamimu nanti malam?"
"Jelas dong."
"Syukurlah, berarti kamu masih bisa di percaya selama ini."
"Ya ampuuuuun... Teteh, segitunya prasangka nya? jelek banget."
"Karena aku sayang kamu Dini, kalau sama orang lain aku tidak peduli, tapi pada adikku saudaraku sendiri aku ingin semua yang terbaik, berarti kalian masih bisa saling menjaga dan saling menghargai."
"Mas Arman pernah bilang kalau Teh Rini sahabat terbaiknya takkan tergantikan oleh siapapun, Mas Arman bangga bisa memiliki ku dan juga tetap dekat dengan seorang sahabat yaitu Teteh."
"Teh Rini pernah bertengkar dengan Mas Arman dari dulu sampai sekarang selama bersahabat?"
"Kalau itu tanya aja sendiri sama kamu, kan sebentar lagi dia akan jadi teman hidupnya."
"Berarti pernah bertengkar, kalau Teh Rini nggak mau jawab."
"Perkirakan aja sendiri."
"Teh Mas Hadi suami romantis nggak menurut Teh Rini? sama Mas Arman romantis siapa ya?"
"Penilaian baik buruk tergantung hati kita Dini, kalau sudah cinta semua juga baik di mata kita."
"Iya ya...Mas Arman juga paling baik di mataku heee..."
"Tapi di mataku dia sahabat paling menyebalkan!"
"Teh Rini kok begitu!?"
__ADS_1
"Sudah ayo kita keluar kamu sudah di panggil tuh, katanya mau cepet resmi jadi istri sahabatku yang paling menyebalkan."
Andini tak menjawab lagi karena dirinya tahu Kakaknya hanya bercanda.
Acara sakral pun di lanjutkan, pengantin wanitanya datang di gandeng Ibu perias make up dan penata busana juga Arini sebagai Kakaknya.
Semua mata gagal fokus pada pengantin yang tampak begitu cantik, Arini mengantar adiknya sampai duduk di samping Bapaknya sebagai wali nikah dan Arman tampak sedikit gugup di sebrang Andini.
Saksi-saksi, kedua orangtua dari pasangan pengantin telah menempati tempat yang telah disediakan juga tokoh agama dan petugas KUA, dari pemerintahan, juga kerabat saudara dan tetangga hadir akan menjadi saksi ijab Qabul yang tidak lama lagi akan segera dilaksanakan.
Orang tua Arman menyerahkan secara simbolik serah dan maskawin pada keluarga calon pengantin perempuan, berupa perhiasan Mas, dan pakaian juga barang berharga lainnya.
Mas kawin yang begitu fantastis di berikan Arman dan di sediakan di atas meja akad senilai 1M, jumlah yang membuat semua orang melotot seolah tak percaya.
Termasuk keluarga Andini dan semua yang hadir di situ pada bengong. Uang cash dalam kotak mungkin memerlukan satu hari untuk menghitungnya satu-satu.
Andini tak terkejut karena Mas Arman suka dengan yang namanya kejutan. Tapi untuk nilai segitu Andini juga tak urung sedikit agak terkejut walaupun dari awal Andini sudah memperkirakan kalau Mas Arman akan memberi mas kawin yang sangat luar biasa untuk dirinya penghargaan yang luar biasa dari seorang Arman untuk Andini.
Saya terima nikah dan kawinnya Andini Atmaja putri dari bapak Atmaja dengan maskawin tersebut di atas di bayar tunai!
Plong rasanya hati Arman saat saksi serempak mengatakan sah! sah! sah!
Sekarang dirinya resmi menjadi seorang suami dari seorang adik sahabatnya Arini yaitu Andini.
Lanjut penandatanganan dokumen dan penyelesaian tata tertib aturan pernikahan sampai keduanya diberikan buku nikah sebagai tanda telah resmi menjadi suami istri.
Arini menghela nafas panjang lega hatinya merasa lega dan menggenggam tangan suaminya Hadinata yang dari tadi memperhatikan istrinya.
Persiapan resepsi pun di mulai dan akan segera di laksanakan, Andini menggandeng Arman menuju ke pelaminan karena ada sanak saudara yang akan menyampaikan ucapan selamat atas pernikahannya.
Di selingi prosesi adat pernikahan seperti sawer, sungkem, dan ritual lainnya Andini dan Arman ikuti semuanya dengan enjoy tanpa beban semua di lewatinya.
Photo pengantin, photo keluarga menjadi satu moment yang tak bisa di hilangkan.
*****
Happy reading dan tinggalkan jejak mu ❤️🙏
Sambil nunggu up Meniti Pelangi baca novel yang sangat bagus untukmu, Berbagi Cinta : Dia Juga Suamiku By EuRo40, fav, like dan vote ya 🙏❤️
__ADS_1