Meniti Pelangi

Meniti Pelangi
Diam-diam punya pengagum


__ADS_3

"Hai Alwan, ngapain di situ?" Dewi menyapa seorang laki-laki yang bernama Alwan. Alwan lagi duduk di bangku-bangku kecil di taman kampus, Dewi tahu seorang Alwan lagi mencari perhatian dan sedang mencuri-curi perhatian pada sahabatnya Andini.


Terlambat lo Alwan, Si keong sekarang lagi manis-manisnya merasakan madunya cinta, lo terlambat dan tertinggal sangat jauh dalam hati Dewi.


"Hai Wi, apa khabar?"


"Baik, lo sendiri gimana khabarnya? seperti lagi mencari kutu di tumpukan jerami kelihatannya? heee..."


"Bisa aja lo."


"Si Dini nggak pernah kelihatan sekarang apa dia ke mana? atau nyambi kerja gitu sambil menunggu masa-masa akhir perkuliahan ini?"


"Kenapa baru sekarang lo begitu perhatian sama si Andini heh? padahal gue kasih tahu ya, si Dini cinta sama lo dari dulu dasar lo nya aja yang nggak peka, sampai suka curi-curi pandang dan caper di depan lo, lo nya aja yang sok jual mahal."


"Masa sih Wi? justru gue lagi mencari-cari kesempatan kapan bisa berduaan kapan bisa ngomong kapan bisa bertatap muka dan mengungkapkan perasaan gue."


"Huh! ke laut aja lo, mungkin habis kuliah si Keong kayaknya mau serius."


"Apa kok nggak tahu pacarannya tiba-tiba serius aja Wi."


"Elo, siapanya dia? apa kalau pacaran harus bilang dulu sama elo? atau sekalian pengumuman di toa pengeras suara mushola biar semua pada tahu dan maklum adanya? heee..."


"Bukan gitu juga kali Wi, gue sebenarnya suka juga sama dia, tapi melihat respon dia kayak nggak butuh gitu, gue tahan tahan aja."


"Terlambat lo, hai penunggu dan pencari cinta!"


"Serius Wi, gue suka banget."


"Pendem aja lagi perasaan lo."


"Dia masih nge-kost sama lo kan?"


"Yeeee...dah lama pindah."


"Pindah ke mana?"


"Itu yang lo nggak tahu, makanya kalau cinta sama seseorang kejar, perjuangkan, giliran dapat kabarnya lo terkaget-kaget giliran orang yang lo taksir udah punya pacar lo limbungan sendiri, nyesel deh luar dalam."


"Iya Wi gue salah, tak memperjuangkan apa yang hati gue inginkan, apa gue sudah nggak punya kesempatan gitu?"


"Tipis sepertinya brother, si Andini udah love banget sama pasangan yang itu."


"Dia belum, tunangan kan? juga belum menikah? berarti gue masih punya celah kesempatan, kan janur kuning belum melambai di gang jalan ke rumah dia? heee..."


"Gue tahu lo orang tajir, tapi fasilitas dari ortu lo, kalau pacarnya si Dini dia hasil kerja dia otomatis dia lebih tajir melintir ketar-ketir seperti petir dia."


"Wah berarti tua dong pacar si Dini? nggak mungkin seusia gue pacarnya si Dini sudah punya usaha dan pekerjaan yang sukses, seusia gue kan masa-masanya kuliah."


"Iya sih, sudah usia. malah katanya teman Kakaknya si Dini tuh cowok."

__ADS_1


"Bagi no telephonnya dong."


"Ntar, gue bilang dulu sama dia boleh apa nggak nya."


"Ya elah...cuma minta no telephon ribet amat."


"Eh, jangan salah ya, konflik hubungan, percintaan dan rumah tangga berawal dari nomor telepon, gue nggak bisa sembarangan ngasih-ngasih gitu."


"Oke, baiklah. Padahal gue cuma mau tanya khabar doang."


"Kan sudah tahu dari gue khabarnya dia gimana."


"Lo sudah kayak asisten pribadinya saja haaaa...."


"Gue lebih dari asisten pribadinya, gue teman dekatnya, habis di cium juga dia curhatnya sama gue."


"Waduh gawat, kalau lebih dari itu lo di kasih tahu juga?"


"Mungkin, haaaa...."


Obrolan mereka terhenti saat satu mobil berhenti di pinggir jalan raya depan kampus mereka, Dewi tahu siapa yang turun dari mobil itu, dan sangat kenal dekat familiar banget dengan dirinya.


Panjang umur nih si Dini, baru saja di obrolin nongol deh orangnya.


Andini turun dari mobil suv warna silver, ngobrol sebentar sambil melongokan kepalanya dari kaca luar dengan yang ada di dalam mobil, entah apa yang di ucapkan nya. Tapi senyuman Dini menandakan mereka sedang bahagia.


"Dini! sini..."


Andini menghampiri Dewi dan Alwan yang sejak tadi duduk mengobrol di situ. Dini tersenyum pada Alwan.


"Hai, apa khabar?"


"Baik-baik aja Din, kamu gimana?"


"Ya, beginilah, kita memang jarang ketemu, apalagi sekarang hanya menunggu jadwal wisuda."


"Itu tadi siapa Din? yang ngantar kamu, pacar ya?"


"Teman, maksudnya teman dekat heee..."


"Jawab aja pacar, apa salahnya sih?"


Andini hanya senyum saja, melihat Alwan kelihatan mencari perhatian dari dirinya.


"Udah udah ayo kita cari informasi." Dewi seakan tidak tahu kalau kedua orang itu Andini dan Alwan sama-sama pernah saling menyukai walaupun semua itu tak pernah terungkap dan tak pernah mereka nyatakan satu sama lain.


Sekarang keadaannya berbeda. Andini serius menjalani hubungan dengan seseorang, walau rasa itu masih ada di salah satu sudut hatinya tak bisa dipungkiri kalau Alwan adalah idolanya.Tapi itu dulu sebelum punya kekasih dan jauh sebelum pacaran dengan Mas Arman.


Sedang Alwan juga sama menyimpan satu rasa yang spesial buat Andini, dari dulu hanya ada dalam hatinya saja entah kenapa semua itu tak pernah terungkap atau mengungkapkan sama sekali.

__ADS_1


Hanya gerak-gerik pandangan dan sorot mata yang menandakan kalau mereka saling suka.


Mengetahui status Andini sekarang ada rasa sesal di dada Alwan, juga rasa tak rela.


Mungkin itu yang namanya sesal datangnya belakangan. Jauh di sudut hati Alwan semoga ada celah untuk bisa aku masuki.


Mereka berpisah di halaman depan kampus, Alwan memandangi punggung Andini dan Dewi yang berjalan semakin jauh.


"Andini, kamu semakin cantik dan mempesona saja, kenapa keberanian ini datang saat kamu sudah ada yang memiliki? kamu satu-satunya perempuan yang menarik hatiku."


Alwan menarik nafas penuh sesal dan beranjak dari situ.


"Lo nggak pernah main Wi ngapain aja, pacaran mulu lo ya?"


"Ya gitu lah haaaa...menikmati masa tenang, tapi bukan itu juga kali gue malu kalau pacar lo ada di situ."


"Lho, kenapa malu kan sudah kenal?"


"Iya, takutnya lo lagi pacaran heee..."


"Idiiiih...Mas Arman itu baru datang hampir dua minggu ke luar kota, baru kemarin dia datang dari Surabaya, kan dia nggak tinggal di situ kadang gue kesepian sehabis tutup toko."


"Wah, apalagi habis pergi lama, udah lepasin rindunya?"


"Udah dong, heee..."


"Gue nggak bisa bayangin penjelajahan kalian habis berpisah haaa...."


"Lo ngaco aja, seperti nggak pernah merasakan juga." Andini langsung merona pipi dan mukanya.


"Ntar lo di jemput lagi?"


"Iya, kan kita masih kangen heee..."


"Ck ck ck...nggak ada kata selain kangen, cepet lo nikah ntar kebablasan."


"Iya, ya Wi, setiap bertemu selalu saja gue mau bablas kalau nggak ingat dan menyadarinya, apalagi kita habis berpisah lama, kemarin juga Mas Arman langsung datang dari Surabaya ke ruko gue, toko langsung gue tutup kita pelukan sampai jam sepuluh malam."


"Astaga! Andini, sadar lo. Pantesan lo merasa mau bablas aja, kalian itu bucin banget sih pacaran?"


"Gue kangen banget Wi, begitu juga Mas Arman."


"Apa nggak sekalian sampai pagi aja? Dosa loh itu sayang, kalian basah-basahan berdua, ya ampuuuuun... Dini.''


.


.


.

__ADS_1


Rekomendasi Novel yang sangat bagus untukmu, Pesona Aryanti karya Enis Sudrajat🙏❤️



__ADS_2