
"Mas, kita sudah mau sampai, pokoknya Mas pulang aku nggak izinin Mas nginep di rumahku sampai pada hari H nya ya."
Andini bicara sambil sedikit memberi perintah.
"Siap, apapun perintah mu sayang aku ikuti, tapi mampir dulu lah pamit keluargamu masa datang antar kamu lalu pulang lagi."
"Jangan lama-lama aku ngantuk banget mau tidur."
"Galak banget, awas nanti ya."
"Biarin sekarang aku masih bisa galak nanti aku yang pasti di galakin sama Mas."
Arman tertawa sambil mengusap pipi Andini di sampingnya.
Mobil masuki halaman dan Andini di sambut keluarganya kedua orangtuanya dan kerabat saudara lainnya.
Terasa berbeda suasana rumahnya saat ini, tenda sudah terpasang dan properti lainnya juga lagi di kerjakan, para pekerja Event organizer lagi memasang background dan pelaminan.
Andini turun duluan di sambut pelukan juga senyuman Ibunya, Arman menyalami semuanya dan diajak masuk duduk di ruangan tamu.
"Ibu khawatir, seharusnya calon pengantin sudah ada di rumah bukannya baru datang atau malah pergi kemana-mana."
"Iya Bu, Dini tahu tapi banyak banget yang harus di bereskan di sana juga, belum persiapan lainnya, yang penting Dini sekarang sudah pulang."
Ibunya tersenyum memandang putri cantiknya yang perasaan baru kemarin masih manja.
Arman ngobrol sama bapaknya Andini mungkin seputar pekerjaan, Andini mengambilkan air minum dan Ibunya membawakan kue-kue kecil.
"Bapak tadinya tidak mau terlalu besar-besaran, cukup akad, resepsi tamu keluarga saja."
"Biarin Pak, asal ada aja rezekinya, keluargaku tak bisa seperti itu, keluargaku begitu banyak dan relasi kerja juga, nggak apa-apa sekali seumur hidup kita merayakannya." Arman memberi alasan.
"Iya sih, sekali seumur hidup kami semua juga berharap seperti itu. Tetapi menghambur-hamburkan duit juga kurang begitu bagus masa depan kalian masih panjang masih banyak keperluan lain seandainya dialokasikan untuk hal lain, tetapi Bapak juga maklum kepuasan kalian berdua ingin merayakan pesta lebih dimengerti."
"Itu Mas Arman bukan aku."
"Iya Dini, aku memang menginginkan karena kalau sangat sederhana juga kasihan tamunya, biarin jadi repot semuanya Bapak sama Ibu di sini."
"Nggak apa Nak Arman, kebahagiaan kalian adalah kebahagiaan Ibu Bapak juga."
"Juga mungkin maaf, karena kesibukan kami, habis akad nikah dan resepsi mungkin kami tidak akan bisa tinggal lama di sini. Banyak yang mesti kami urus dan tanggung jawab kami terhadap pekerjaan. Alhamdulillah perusahaan aku mendapatkan tender untuk proyek yang lebih besar dari kemarin-kemarin mungkin juga adalah rezeki pernikahan dan rezeki Andini yang akan menjadi istriku."
"Ya nginep lah tidur satu malam dua malam di sini dulu." Ibunya Andini langsung memberi perintah secara tidak langsung.
"Alhamdulillah, Bapak senang mendengarnya Nak Arman."
"Iya Pak Bu, doakan saja rezeki dan usaha kami lancar kedepannya."
"Semoga Nak Arman. Bapak selalu mendo'akan anak dan menantu Bapak semuanya."
__ADS_1
"Silahkan di minum dulu, Nak Arman nginep saja di sini, besok pulangnya. Nggak boleh lho calon pengantin pergi melakukan perjalanan malam-malam, pamali kalau kata orangtua dulu mah."
"Iya, Bu." Arman melirik Andini yang merasa menang kalau dirinya di perbolehkan tidur di situ.
"Dini, siapkan kamar buat calon suamimu."
"Iya Bu."
Arman tersenyum saat Ibu Bapaknya Andini pergi meninggalkannya berdua di ruang tamu.
"Sepertinya akan ada yang jadi menantu kesayangan Ibu sama Bapak."
Arman tertawa, Andini meledeknya.
"Yang pasti akan jadi suami kesayangan."
"Dini seperti apa perasaanmu saat ini?"
"Mungkin seperti Mas Arman."
"Aku sangat bahagia, yang aku tanya hatimu."
"Ya seperti itu lah, sama Mas aku juga bahagia."
"Kita istirahat aja ya, aku juga mau tidur, capek juga."
Andini mengantar Arman ke kamar tamu sampai di pintu.
"Iya, kenapa? kamar ini biasa dipakai teh Rini kalau pulang, dulu kami satu kamar berdua. Sejak Teh Rini menikah otomatis nggak ada yang nempatin, ya paling paling kalau pulang saja."
"Nggak apa-apa, kamu tidur di mana?"
"Ya di kamarku, jangan ngelindur ya malam malam."
"Justru aku mau ngelindur jadi tunjukkin kamar kamu yang mana biar aku nggak nyasar kalau nanti ngelindur." Arman menggoda Andini.
"Mas!?"
"Iya Dini, aku tahu nggak mungkin aku lakukan, kalau niat dari kemarin aku sudah memaksa kamu, sekarang tinggal dua malam lagi masa aku nggak sabar?"
"Makasih ya Mas."
"Untuk apa?"
"Untuk pengertiannya juga kesabarannya."
"Iya sayang, untukmu semua aku lakukan dan tak aku lakukan heee....selamat tidur sendiri dua malam terakhir, sudah itu..."
"Sudah itu apa?"
__ADS_1
"Kita boleh tidur berdua."
"Ya sudah, selamat istirahat jangan banyak pikiran aku di kamar sebelah."
Andini keluar dan menutup pintu sambil tersenyum mengingat apa yang di ucapkan Arman, "Justru aku mau ngelindur jadi tunjukkin kamar kamu yang mana biar aku nggak nyasar kalau nanti ngelindur." Andini hanya tersenyum.
Arman terlentang menatap langit-langit kamar, kehidupan memang berputar yang tak mungkin menjadi mungkin, semua berjalan sesuai alurnya.
Dua hari lagi dirinya akan menjadi anggota keluarga ini, tapi tak terpikirkan kalau yang dia dapatkan adalah adik dari Arini, Jatuh cinta dengan beberapa kali di tolak sama Arini, malah Adiknya yang dia dapatkan.
Arman membayangkan harapan indahnya dulu sama Arini, tapi malah terdampar di kamar kenangan masa kecil dan dewasanya Arini, mungkin di kamar ini Arini pernah memadu kasih dengan suaminya, dan nanti dirinya dan Andini juga akan menempati kamar ini juga berdua.
Siap lahir bathin itulah Arman sekarang, telah begitu matang mempersiapkan segalanya, kehidupan yang matang dan menteri yang mencukupi membuat Arman siap dengan masa depannya.
Satu yang dirasa belum sempurna belum memboyong seorang istri ke rumah mewahnya.
Sekarang semua itu akan segera di wujudkan dan memberikan seorang menantu cantik bagi kedua orangtuanya.
Arman melakukan video call sambil menebak apa Andini sudah tidur apa belum.
Kelihatan dalam remang wajah Andini sudah berselimut.
"Mas mau apa lagi, belum tidur?"
"Aku nggak bisa tidur."
"Tapi aku ngantuk Mas."
"Aku ada yang lupa bilang padamu"
"Bilang apa?"
"Kamu bisa ke sini dulu nggak?"
"Mas, aku ngantuk sudah berselimut, besok aja."
"Ya sudah."
Tak urung membuat Andini kepikiran ada apa kira-kira yang mau di omongin Mas Arman.
Tapi semua kalah oleh kantuk dan capek yang telah begitu berat, hari esok menantinya dengan semua prosesi awal perawatan tubuhnya tradisi seorang pengantin yang mungkin juga akan sangat melelahkan.
Arman tersenyum dan mematikan sambungan telephon saat terlihat Andini telah terlelap dan tak bersuara lagi.
*****
Happy reading dan tinggalkan jejak mu ❤️🙏
Sambil nunggu up Meniti Pelangi baca novel yang sangat bagus untukmu, Papa Merindukannya By Anggraeni arp. fav, like dan vote ya 🙏❤️
__ADS_1