
Sampai di depan rumah Arini membunyikan klakson berkali kali,Bi Minah kaget kok jam segini Arini udah pulang,untung Pak Hadi juga baru pulang habis terapi baru diantar Pak Priyo,buru buru Bi Minah membuka pagar depan.
"Dek Bima mana Bi ?"
"Baru tidur Neng habis main"
"Papanya juga tidur ?"
"Nggak tahu Neng tadi di kamar"
Arini memasukkan mobilnya di halaman dan masuk ke rumah,di belakangnya Bi Minah mengikutinya.
"Neng Rini sakit,kok udah pulang ?"
"Enggak Bi,habis dari luar nggak ke kantor lagi langsung aja pulang"
"Ooohhh, Bibi belum masak Neng baru mau,kalau Neng mau makan Bibi bikinin yang ada aja,dadar telor mau ?"
"Nggak usah Bi,aku belum lapar,lanjutin aja Bibi lagi apa biar Dek Bima saya yang jagain"
Arini masuk kamar,Bima tidur di kasur bawah dan Hadi lagi baca di sofa mini dalam kamar mereka, Hadi kaget melihat Arini jam segini udah pulang,lain dari biasanya.
"Rin sayang udah pulang,kamu sakit ?"
Arini melemparkan dirinya di atas kasur, Hadi beranjak mendekati tertatih dengan tongkat penyangga badannya.
"Ya Mas, Aku sakit hati, Aku kecewa Aku terhina harga diriku terlecehkan,baru kali ini seumur hidupku Aku merasa jadi orang paling di hina...Istrimu di hina Mas,seakan tak punya harga diri lagi,hu hu huuuuuuuu.....hiks hiks....Tak ada rasa yang sesakit yang menyesakkan seperti saat ini Mas,sungguh orang itu tak bermoral hiks..hiks..."
"Hai Rin sayang ada apa hemght ??? siapa yang menghina dan melecehkan mu ?
Kamu habis melobby proyek dari kantor seseorang ?"
Arini menangis sejadi jadinya menumpahkan segala perasaannya di kasur samping suaminya,sepertinya sakit hati yang mendalam,tak pernah Hadi melihat istrinya histeris seperti ini, Hadi bingung harus dari mana memulai bertanya nya,Arini masih sesenggukan menangis,biarlah Arini menumpahkan semua rasa yang mengganjal di hatinya dengan menangis, Hadi hanya mengusap usap kepala istrinya dengan setumpuk pertanyaan di dalam dadanya.
Arini masih sesenggukan menyembunyikan wajahnya di bantal,badannya telungkup punggungnya masih tersedu, Hadi melihat dengan perasaan perih serasa teriris,ikut merasakan apa yang di rasa istrinya walau dirinya belum tahu apa yang membuat istrinya begitu tersakiti.
Seandainya dirinya tidak sakit,tentu beban istrinya tak akan seberat ini,rasa marah,rasa emosi juga merasuk ke dalam jiwanya,ingin Ia segera sembuh dan mencari tahu si penabrak ugal ugalan kurang ajar itu,yang membuat segalanya hancur.
"Rin sayang sabar ya,apa yang bisa Aku lakukan buat kamu, Aku nggak bisa apa apa Rin, Aku hanya minta maaf atas semua ini...ini akyu peluk maafkan Aku Rin"
Hadi berkata dengan berlinang airmata,hatinya ikut terkoyak melihat istrinya seperti ini.
Arini bangun dan menggeser kan badannya dan memeluk suaminya,berdua menangis sambil berpelukan.
"Mas cepet sembuh Maaaaaas.... Aku nggak kuat lagi,aku rapuh Aku tak mampu memikul tanggungjawab semua ini... huuuuuuuu... huuuuuuuu"
"Iya Rin kita akan melewati semua ini,sabar dan sabar ya semua akan berbuah manis...
__ADS_1
Istighfar,ingat semua adalah cobaan,kita sedang di uji kalau kita lulus Insya Allah kita naik kelas"
Arini masih tersedu Hadi mengelus pipi istrinya,begitu dalam rasa sayang pada istrinya tak ingin rasanya melihat istrinya muram apalagi sampai tersedu sedan seperti ini,ingin Hadi bertanya penyebabnya,tapi biarlah Arini sendiri yang cerita setelah dia tenang.
Hadi menatap wajah istrinya hidungnya merah,matanya sembab berair,bibirnya kering, Hadi mengecup kening istrinya, Arini membuka matanya dan memandang Hadi dengan pandangan yang sulit diartikan.
"Mas mencintaiku ?
"Sayang kamu tahu jawabannya,kenapa kamu tanyakan itu ?"
"Apa kalau Aku juga mencintaimu itu salah Mas ?"
"Tidak salah Rin selama kita saling cinta,apalagi antara kita telah hadir buah cinta kita Bima,memang ada apa,apa ada yang menghakimi kamu ? Hanya orang yang tak mengerti akan cinta yang memandang cinta itu salah"
"Ya Mas benar,hanya orang yang tak mengerti akan cinta yang memandang cinta itu salah"
"Sudahlah sayang,memilikimu dan buah hati kita Bima adalah anugrah yang tak terlukiskan bagiku,ayku tak akan sanggup hidup tanpa kalian,biarkan orang lain berpendapat tentang kita,toh kita yang menjalaninya"
"Mama mama papa.. Dedek mau naik ke cituuu... Mama Dedek mau bobo cama Mama..."
"Eeeh... Bima,sini kesayangan Mama Papa..."
Arini bangun memangku Bima naik ke tempat tidur atas,di peluknya anaknya dengan penuh perasaan dan Hadi mengusap ngusap kedua orang yang di kasihi nya.
"Dek Bima udah bobonya ?"
"Udah, Dedek kan mau main cama Mama,main pelocotan di taman"
"Ajak, Papa ajak Bi Nah juga ajak,holeeee"
Bima loncat loncatan kecil di atas kasur,keceriaannya mampu menghapus kesedihan,Hadi dan Arini berpandangan dan tertawa.
"Lihat Mas anakmu seneng banget,walau cuma di janjiin main di taman komplek"
"Iya sayang,selalu akyu ajak pagi pagi sambil berjemur jalan jalan ke sana"
"Pantesan dia hapal banget,Dek Bima turun ya nanti jatuh Mamanya mau mandi dulu"
"Rin,jangan pergi dulu biarkan dia main sepuasnya bersama kita, Aku juga kangen sama kamu,walau hanya memandang membelai dan memeluk kamu"
Arini tertegun,dan menghentikan kakinya turun dari tempat tidur,lalu memandang Hadi dengan perasaan bersalah,Arini memeluk Hadi kembali.
"Maafkan akyu Mas,aku terlalu sibuk dengan urusan kantor,pergi pagi pulang sore kadang malam,sampai akyu nggak menyadari kita jarang banget berkumpul bersama,aku juga kangen Mas"
"Ssssst,bukan kamu yang harus minta maaf,tapi Aku"
Hadi mengusap usap kepala istrinya,dan Arini semakin menyusupkan kepalanya ke pelukan suaminya.
__ADS_1
Menjelang sore setelah selesai mandi semua bersantai di teras depan,Bi Minah mengikuti Bima yang tak mau diam,Hadi dan Arini duduk di kursi teras sambil menonton tingkah laku anaknya.
"Rin ada yang mau akyu sampaikan sama kamu,apa hatimu sudah tenang ? atau kamu mau cerita duluan sama aku tentang kejadian tadi siang ?"
Arini memandang suaminya, berfikir sejenak dan mengangguk, menyatakan dirinya dulu yang cerita.
"Aku mencoba mencari jalan keluar permasalahan kantor kontraktor kita Mas, dan maaf Aku datang pada orang yang Mas nggak suka yaitu Arman,satu kesalahanku Aku datang pada orang yang salah,dia malah mengungkit masalah hati dan menyinggung masalah pribadiku,dia belum bisa melupakan Aku,dan dia menghinaku merasa Aku butuh bantuannya, membuat kesimpulan salah tentang rumahtangga kita,
Baru kali ini aku menampar seseorang"
"Terus...?"
"Dia pasang photo Aku sebesar besarnya di balik gorden seakan dia memilikiku,dan terus memupuk perasaannya,rasa cinta dan rasa benci yang mendalam,sampai pada dia ngasih cek kosong dengan menawarkan akuy tidur dengannya walau semalam sebagai kompensasi"
"Stop stop..stoooooooop,cukup jangan di teruskan Rin, Aku sudah bisa membayangkan perasaanmu,kurang ajar,bener bener tuh orang,tak adab sopan santunnya sama sekali"
"Mas akyu merasa seperti orang gila kalau mengingat itu semua"
"Arini sayang,tenangkan hatimu Aku orang paling mengerti keadaanmu,semua itu tak lepas dari pesona mu dan daya tarik mu,kecantikan mu,kebaikanmu kelembutan mu membuat semua orang tak mudah melupakanmu, syukuri itu,itu hikmah terbesarnya..."
"Tapi bukan untuk bebas orang melecehkan ku Mas"
"Iya aku mengerti,tapi semua orang beda pandangan,seperti teman SMA mu itu begitu menggilai mu dan rasa itu diungkapkan dengan emosi berlebihan saat dia punya kesempatan dengan balik menghina dan merendahkan mu yang sebenarnya hatinya mencintaimu"
"Aku trauma Mas, Aku syok, Aku nggak ke kantor dulu mulai besok sampai aku merasa baikan"
Air mata Arini menggenangi matanya kembali, Arini menutup mukanya dengan kedua tangannya, Hadi mengusap usap punggung istrinya,hatinya ikut terluka.
"Ya, Aku nanti telephon Pak Priyo sama Lusy,sudahlah sayang, jangan di ingat ingat terus semua akan menjadi lebih menyakitkan"
"Iya Mas,tapi Aku belum bisa,entah sampai kapan"
"Aku faham sayang,dan satu khabar yang mungkin kurang enak juga Rin juga nggak tepat waktunya Aku menyampaikan dalam situasi kamu yang begini Rin,tapi tetap harus Aku sampaikan"
Hadi memandang Arini,dan Arini juga menatapnya, Hadi menarik nafas berat...
"Soal Hesti Rin,tadi pagi Aku terima telephon dari satu satunya adik Hesti Fadli,Hesti dalam keadaan kritis,dia pesan mengharapkan kita bisa bertemu dia di Surabaya,setahun terakhir ini dia menetap di Surabaya, Aku menyerahkan semua padamu bagaimana baiknya"
"Mas kita harus ke sana,jangan menunda waktu lagi jangan sampai kita menyesal dengan keputusan yang salah,aku takut ini saat saat terakhir Bu Hesti, Aku ingin bertemu Aku mau minta maaf Aku mau mendo'akan nya"
"Rin,dalam keadaan aku begini ?"
"Tiada yang sulit Mas,Bandung - Surabaya bisa di tempuh cuma jam jaman besok pagi kita berangkat,nanti malam Aku pesan tiket pesawat online,Mas sudah bisa berjalan pakai tongkat penyangga,tangan sudah tak di gendong,apalagi ?"
"Rin apa yang harus Aku katakan padamu,untuk semua keikhlasan dan kebesaran hatimu ?"
"Mas Aku juga apa yang bisa Aku berikan untuk membalas rasa sayang Mas padaku dan Bima ? kita keluarga sudah seharusnya kita saling mendukung"
__ADS_1
"Rin ayo kita berkemas,jangan sampai ada yang tertinggal terutama keperluan Bima"
"Iya Mas..."