Meniti Pelangi

Meniti Pelangi
Cincin bertatahkan batu mulia


__ADS_3

"Dini pujaan hatimu sudah datang, acara akan segera di mulai bersiaplah." Arini masuk kamar Andini yang lagi senyum senyum.


"Teteh sudah bertemu Mas Arman? kok tidak terkejut?" Andini menjadi terkejut sendiri dan tak melihat ekspresi wajah Kakaknya saat bertemu dengan sahabat lamanya Arman.


"Sejak kapan pastinya kalian bertemu dan berpacaran?"


Arini mulai pertanyaan penuh selidik, di tengah hatinya yang kacau menyikapi semuanya.


"Kami bertemu secara tidak sengaja di halte kampusku Teh, saat itu motorku lagi ngadat mogok parah."


Deg! seperti ada yang menohok hati Arini. Pernyataan Andini meyakinkan kalau yang selama ini dirinya takutkan benar-benar kejadian. Andini berpacaran dengan Arman dan sekarang bertunangan.


Apa yang harus dirinya memendam semua rasa di hatinya, menyimpan semua keburukan tentang Arman atau membukanya? begitu dilema bagi Arini tapi di satu sisi adiknya akan bertunangan dan mungkin sekarang di acara ini akan ditentukan juga tanggal pernikahannya.


Andini betapa ingin aku bertanya, dan mengorek semuanya...


jangan-jangan itu hanya akal bulus Arman dan siasat jelek Arman yang dendam pada dirinya lalu melampiaskan pada adikku Andini.


Tapi semua itu semoga bukanlah seperti yang ada di pikiran jelekku.


Andini akan berumah tangga dengan Arman mungkinkah Arman telah berubah? tetapi Arini tidak meyakininya. Arman mungkin telah berubah karena cinta, tapi sekali bajingan tetap saja seperti itu, sekali berhati busuk tetap aja busuk selamanya di mata Arini.


Ya ampun Andini kenapa dirimu harus berteman dengan Arman? kenapa dirimu harus berpacaran dan bertunangan dengan Arman, sedangkan aku sendiri belum sempat dan tadinya tidak akan pernah bercerita tentang seorang Arman pada siapapun dalam kehidupanku.


Biarlah hanya aku dan suamiku Mas Hadi yang tahu, tapi kini orang yang paling di bencinya akan menjadi anggota keluarga besarnya, akan jadi adik ipar dari adik yang paling di sayangnya Andini.


Andini begitu bahagia dengan tunangannya, dengan pernikahannya mungkin nanti, haruskah aku menodai semua itu dengan membongkar aib Arman semuanya? dan itu akan menjadi aib diriku sendiri.


Dan mungkin akan mempermalukan diriku sendiri. Di satu sisi Arman memang sahabatku tapi rasa sakitnya yang ditorehkan Arman terlalu perih kurasakan.


Mungkin inilah saatnya diriku harus mencoba lebih sabar melihat satu permasalahan. Jangan hanya dipandang dari kebencian dan emosiku saja. Tapi ada keluarga yang aku sayangi yang tak ingin aku kecewakan dan aku lukai perasaanya.


Andini biarlah Kakakmu ini berkorban perasaan, posisiku memang tidak beruntung, tapi menganggap semua ini demi kebaikan keluarga tetapi aku akan mencoba memasuki kehidupan Arman yang sebenarnya, apakah ada kebaikan didalamnya ada keikhlasan dalam mencintai adikku? aku harus memastikan itu agar hatiku bisa tenang.

__ADS_1


Lihatlah Arman, sekarang aku seolah merestui kalian sampai aku tahu bagaimana sejujurnya dirimu mencintai adikku.


"Kenapa kamu tak pernah cerita sedikit pun pada Teteh soal pacarmu itu adalah teman Teteh waktu SMA." Arini memandang mata adiknya dan dandanan cantik adiknya.


"Aku hanya ingin bikin kejutan buat teh Rini dan Mas Hadi, itu saja."


"Oke kejutan kamu berhasil, cuma ada satu hal yang tak habis pikir, kenapa kamu begitu tak punya kesempatan untuk bicara sebelumnya?"


"Kesibukanku Teh, aku berusaha meyakinkan dan menjaga kepercayaan Mas Arman, malah ke kampus juga aku datang saat ada pengumuman saja dan memantau segala berita di kampus dari temanku Dewi."


"Dini, apa kamu bahagia?"


Arini memandang senyum yang selalu merekah dari bibir adiknya, Mungkinkah bibir itu telah di sentuh si perusuh itu?


"Bahagia banget Teh, melebihi segalanya, aku mencintainya dengan sepenuh hatiku, dan Mas Arman juga sama bahkan dia lebih dan terlalu mencintaiku dan itu semua dapat aku rasakan dengan nyata."


"Apa kamu tidak punya keinginan untuk bertanya siapa tahu ada kejelekan Arman yang bisa kamu tanyakan pada Teteh soal Arman?"


"Untuk apa? kami tidak mencintai masa lalu kami, walau semua itu tak bisa di hilangkan dari semua kisahnya, kami sepakat hanya punya masa depan. Kami saling mencintai pribadi masing-masing, masa lalu semua orang juga punya dan itu bukan untuk dijadikan permasalahan di masa depan, aku sama Mas Arman sepakat untuk menjadi sepasang suami istri yang saling menyayangi dengan berbekal cinta kami."


"Setidaknya kamu meminta pendapat Teteh soal Arman Andini, Teteh tahu banyak juga segalanya tentang dia, karena Teteh sudah bersahabat dengan dia sejak SMA."


"Itu aku pikir tak perlu Teh, Mas Arman begitu luar biasa mencintaiku, rasa sayangnya dia buktikan dengan segala kemampuannya, dia telah memberikan toko itu dengan segala isinya atas namaku. Setelah tunangan ini dia akan memberikan aku hadiah sebuah mobil apa itu masih diragukan semua perasaannya semua yang dikorbankan untuk aku?"


"Oke Andini Teteh hanya berdo'a yang yang terbaik untukmu, semoga cintamu cinta sejati yang abadi dan pernikahanmu akan pernah menjadi pernikahan yang kau impikan membahagiakan buat hidupmu dan juga keluargamu."


"Makasih Teteh, maafkan aku, aku sudah bikin kejutan yang benar-benar bikin Teteh terkejut."


"Ayo kita keluar acara sudah di mulai."


Arini menggandeng tangan adiknya keluar kamar, tapi Mas Hadi menahannya, menunggu di panggil untuk di perkenalkan.


Satu yang kamu tidak tahu tentang Arman Andini! kalau Arman itu dulunya begitu mencintai dan tergila-gila terhadap Kakakmu ini.

__ADS_1


Sampai-sampai dia memberi pigura satu photo yang setiap saat bisa Arman lihat dan ajak bicara seolah aku hidup di hadapannya. Dan satu lagi Arman tak menerima penolakan cintanya.


Apa jika kamu tahu soal itu tak merubah perasaanmu pada Arman?


Ya ampun Andini, apa yang harus aku lakukan pada kalian?


Arini menggandeng adiknya Andini yang telah dipersilahkan oleh seorang pengatur acara. Mereka menempati tempat yang telah ditentukan berhadap-hadapan persis di depan Arman dan kedua orang tuanya.


Sorot mata penuh cinta Arman untuk Andini tak bisa dibohongi, menjadi pemandangan yang sangat tidak disukai Arini.


Acara begitu lancar dan berjalan sesuai agenda. Keluarga Arman datang dengan niat baik putra kesayangan mereka meminang putri keluarga Bapak Atmaja, semua itu di sambut dengan baik.


Tak lupa menanyakan kesediaan Andini sebagai calon pinangan Arman yang di sambut dengan jawaban Andini ' Aku bersedia menjadi tunangan dan calon istri Mas Arman'


Mereka memakai cincin bertatahkan batu mulia dengan senyum penuh bahagia.


Kesepakatan akhir pun di setujui dari kedua belah pihak, kalau mereka akan menikah pada tanggal yang telah ditentukan setelah Andini selesai wisuda. dan pernikahan akan digelar satu bulan kedepan.


Arman dan keluarganya menyerahkan uang serah dari pihak keluarganya, dengan nilai yang sangat fantastis dan mencengangkan, juga menyanggupi semua biaya pesta pernikahannya nanti.


Seorang Arman memang tidak main-main dengan cintanya terhadap Andini. Andini dianggap yang paling serius di dalam hidupnya jadi dia akan sepenuhnya bertanggung jawab dalam melangsungkan pesta pernikahannya.


Hanya Arini dan Hadinata yang terhenyak dengan semua yang ada di depan matanya. Hadinata mengusap punggung istrinya menguatkan dan memberi dukungan kekuatan lahir bathin.


Tak ada yang bisa dilakukan, hanya pasrah dengan keadaan, dan berharap hatinya bisa menerima semuanya dan luka dalam hatinya tak semakin berdarah tapi berangsur sembuh dengan sendirinya.


Ada do'a dalam hati Arini semoga Arman adalah yang terbaik buat Andini. Walau jauh di sudut hatinya tetap ada rasa sakit yang harus mulai dikikisnya.


*****


Happy reading dan tinggalkan jejak mu ❤️🙏


Rekomendasi Novel yang sangat bagus untukmu, Pesona Aryanti karya Enis Sudrajat🙏❤️

__ADS_1



__ADS_2