Meniti Pelangi

Meniti Pelangi
Berdua di rumah impian


__ADS_3

Akhirnya kita sampai di rumah kita sayang, kita hanya berdua di sini, Arman melempar tas tentengan dan ransel kecilnya ke sofa, mengunci pintu dan membopong tubuh istrinya menaiki tangga.


"Aaah...Mas aku berat, aku takut jatuh."


"Haaa...nggak aku kuat, aku sanggup diam ya, aku akan membuat sejarah menaiki tangga rumah kita dengan membopong kamu"


"Apaan sih Mas, cepat aku takut jatuh."


"Sebentar lagi kamu akan jatuh haaa...tapi ke pelukanku."


"Mas."


Arman membuktikan kalau dirinya mampu, sampai atas dan agak menurunkan tubuh Andini karena membuka pintu, dan sampailah mereka di kamar mereka.


Arman membaringkan tubuh istrinya di tempat tidur dan menatapnya seolah nggak percaya.


"Mas apaan sih melihat aku seperti itu?"


"Andini aku seperti nggak percaya, kita sudah menikah, dan kamu sekarang ada di sini di rumah kita."


"Mas gombal masa nggak percaya? semalam ngapain aku?masa belum sadar?" Andini melempar bantal pada suaminya.


Arman tertawa sambil mendekap bantal yang dilempar Andini di tangannya, Andini melempar lagi satu bantal ke arahnya.


"Aku nggak mau apa-apa sekarang, selain berdua denganmu."


"Aku juga Mas."


Kebahagiaan milik mereka tak satu orangpun mengganggunya, Andini siap dengan pelayanannya dan Arman siap dengan curahan rasa cinta yang sekian lama menjadi impiannya.


Kini Andini telah resmi menjadi istrinya bahagia tak terhingga bagi mereka, perayaan cinta di mulai dengan sepenuh perasaan menikmati manis madunya cinta berdua.


Waktu terasa lama dari kemarin menunggu saat seperti ini bisa bebas melakukan apa saja.


Andini berkali mengingatkan Arman saat mereka hampir kebablasan saat bercinta, kini dirinya yang selalu duluan memeluk Arman dengan manja.


Dunia seakan milik mereka berdua, nikmat bercinta telah mereka lalui, berkali Arman mengusap sayang peluh di kening istrinya dan menciumnya penuh sayang.


Sampai sore, berkali mereka melakukannya sampai tertidur kecapekan, saat bangun duluan Andini langsung ke kamar mandi membersihkan diri dan badannya terasa segar kembali.

__ADS_1


Andini tersenyum melihat Arman masih lelap di balik selimut dengan bertelanjang dada.


Dengan di bungkus kimono mandi dan rambut di gulung handuk Andini membangunkan Arman, karena hari telah beranjak sore.


"Mas, bangun dong udah sore nih."


Arman membuka matanya, memandang seorang cantik di hadapannya, wangi sabun menyeruak penciumannya, Arman tersenyum dan menarik kembali Andini ke pelukannya.


"Mas. Aaaaaaw udah ah sana mandi dulu."


"Sekali lagi sayang baru aku mandi."


"Aaaaah...Mas lepasin, aku sudah mandi, lagian aku lapar banget, nanti Mas aku laporin ke Komnas Ham karena Mas menelantarkan istri."


"Haaa...ya sudah aku bangun, kita cari makan, aku takut di laporin."


Arman bangun dan masuk ke kamar mandi tapi sebelumnya meminta peluk dulu yang membuat Andini geleng-geleng kepala.


Andini membereskan tempat tidur sambil tersenyum, pertama kali membereskan tempat tidur yang super berantakan, dulu dirinya pernah terjebak di tempat tidur ini dan mereka hampir kebablasan akhirnya Andini sendiri yang menyadari dan mengingatkan saat Arman sudah mulai merambah daerah larangan.


Andini tersenyum mengingat semua itu, kini dirinya telah resmi menjadi istrinya Mas Arman dan mereka bebas melakukan apa saja di tempat tidur ini.


"Sayang mau makan apa? tapi agak jauh harus ke depan nggak apa-apa kan?"


"Ya nggak apa-apa, lagian di kamar seharian aku mau menghirup udara luar sekalian meregangkan otot dan syaraf."


"Siap cantik, kita jalan-jalan dulu, ini masa-masa awal bulan madu kita, kita libur seminggu, udah di jalani empat hari jadi kita punya tiga hari lagi untuk bersama-sama sepuasnya sebelum kita beraktivitas lagi."


"Tapi aku sudah kangen toko Eternal kita Mas, besok kita tengok ya?"


"Nggak bisa, habiskan dulu waktu libur seminggu kita, kalau bosen di rumah kita bisa keluar cari Hotel yang kamu inginkan."


Andini cemberut, Arman tersenyum sambil memeluknya dari belakang dan mencium leher Andini.


"Sayang, kamu itu sekarang sudah punya suami aku, yang lebih berkewajiban menghidupi kamu memenuhi kebutuhan kamu dan bertanggungjawab segalanya atas kamu. Aku beri kebebasan kamu untuk mengelola toko untuk bekerja itu hanya untuk kesibukan saja selebihnya kamu milik aku."


Andini diam, dan menyadari betul kalau posisinya kini adalah seorang istri.


"Sudah, senyum dan dandan yang cantik, aku terlalu sayang sama kamu, kalau tidak berpikir untuk kesibukan dan biar kamu ada aktivitas aku tak mengizinkan kamu kerja."

__ADS_1


"Maafkan aku Mas. Aku terlalu semangat sampai aku lupa kalau aku sudah berubah status menjadi istrimu."


"Nggak apa sayang, aku hanya minta seminggu ini saja kita habiskan bersama sudah itu aku juga ada kesibukan dan harus kerja, apalagi sekarang sudah ada kamu aku harus lebih semangat lagi biar bisa membahagiakan kamu."


"Iya Mas, apa aku sudah cantik?"


Andini tersenyum sambil berdiri berputar di depan Arman, seperti anak TK yang memperlihatkan adegan tarian yang baru di dapatnya di sekolah.


Arman tersenyum dan memeluknya, mereka keluar dan Andini memeluk sebelah tangan Arman dengan manja.


"Mau naik mobil yang mana?"


"Yang mana aja Mas, aku lapar banget pagi sarapan di rumah Ibu gitu juga nggak enak dalam keadaan rambut basah dan mungkin muka pucat, makanya sekarang lapar banget."


"Kasihan istriku sampai kelaparan begitu, sebenarnya sama aku juga lapar tapi karena lapar yang lain telah terpenuhi makanya aku jadi tahan lapar makan haaa..."


Andini mencubit pinggang Arman, Arman mengaduh seperti kesakitan banget, Andini tak melepaskan cubitannya sampai Arman meminta maaf dan meminta ampun.


Mobil berjalan menuju pusat jajanan dan makanan Andini, memilih tempat makan yang di inginkan nya Arman hanya mengikutinya.


Arman tersenyum saat melihat istrinya memesan makanan dan minuman, juga saat makan memang benar-benar kelihatan Andini sangat lapar, Arman merasa bersalah hanya memikirkan dirinya saja dan menurutkan keinginannya saja.


"Pesan lagi sayang, buat stamina malam nanti, bila perlu bawa ke rumah biar kalau lapar lagi nanti bisa makan lagi."


"Nggak ah Mas, sepertinya aku makan kebanyakan soalnya makanan gini nggak enak di bawa ke rumah, enakan makan di sini."


"Belanja aja dulu sayang apa yang bisa kamu masak di rumah bisa instan. Jadi kalau lapar nanti daripada kita malas keluar mending masak di rumah."


"Iya Mas, biar aku belanja dulu nanti. Mas akan makan suguhan makanan ala anak kost heee..."


"Nggak apa-apa sayang apa aja yang kamu masak akan aku makan."


*****


Meniti Pelangi memasuki bab bab akhir, bagi yang ingin tahu kisahnya ikuti sampai selesai ya.


Happy reading dan tinggalkan jejak mu ❤️🙏


Sambil nunggu up Meniti Pelangi baca novel yang sangat bagus untukmu, Love Is Rain by Mama Reni. fav, like dan vote ya 🙏❤️

__ADS_1



__ADS_2