
Andini begitu berseri saat Arman datang menjemputnya.
Arman mencium tangan Andini, dengan pandangan berjuta cinta. Kalau bukan di rumah calon mertuanya pasti Arman sudah memeluknya dan tak melepaskannya sampai setengah jam, atau bahkan lebih.
Seperti seorang pemenang yang telah memenangkan hati sang kekasih juga calon mertua, Arman begitu percaya diri melangkah masuk dan duduk di ruang tamu di ruangan yang masih seperti dulu saat Arman bersama Arini mengerjakan tugas masa-masa SMA mereka.
Kebanggaan tersendiri bagi Arman masuk kembali ke rumah ini, rumah masa lalu sahabatnya yang kini akan menjadi kakak iparnya.
Cinta telah mempertemukan mereka, Andini kini calon istrinya, padahal yang Arman taksir sejak masih sama-sama duduk di bangku SMA adalah Arini Kakaknya, tetapi pada kenyataannya akhirnya Arman akan serius dengan adiknya Arini yaitu Andini.
"Mas, minum dulu ya, aku buatkan."
"Boleh, mana Ibu sama Bapakmu?" Arman celingukan seperti mencari seseorang mungkin Arini atau suaminya.
"Bapak lagi di belakang, Ibu juga sama biar aku panggilkan mereka."
"Din sepi amat apa Kakakmu Teh Rini sudah pulang?"
"Sudah Mas, dia nggak bisa lama-lama Mas Hadi nya terlalu sibuk katanya."
"Oh, tadinya aku mau ngobrol sama Kakakmu juga Kakak iparnya."
"Tadi aku ngobrol banyak sama Teh Rini, konsultasi baju pengantin ada pandangan lain yang sangat masuk akal dari Teh Rini." Andini menyimpan minuman di hadapan Arman.
"Seperti apa?"
Teh Rini menyarankan membeli baju, atau gaun pengantin jadi saja tapi tetap di butik, nggak pesan karena lama kalau memesan dari pengukuran, dan di khawatirkan habis waktu kita hanya untuk pengukuran, cek jadinya kapan, sesuai dengan model yang kita pilih, juga apa tepat waktu tidak sedangkan persiapan pernikahan kita hanya sebentar."
"Aku sih nggak masalah, senang kamu aku juga seneng."
"Biar nanti aku diantar Teh Rini aja ya Mas."
"Boleh, mungkin sama aku juga kan?"
"Iya lah, emang pengantinnya aku aja? ya harus ada calon laki-laki nya."
"Tapi kalau aku sibuk, gimana apa kamu bisa kira-kira ukuran buatku?"
"Ih... ngaco aja, ya harus pas lah biar enak di pakainya."
"Aku nggak sabar ingin segera pas dan merasakan yang enak di pakainya heeee..."
"Mas?"
"Iya, bajunya bukan yang lain."
Arman berdiri saat Ibu sama bapaknya Andini datang dan duduk sambil menyalami calon menantunya.
Tak lama mereka pamitan, seraya Andini di jejalkan dengan segala pepatah dan nasehat.
Tak lupa Arman menawarkan juga seandainya nanti Andini wisuda apa perlu dijemput apa tidak, dan orangtuanya menyatakan tidak usah mereka akan datang sendiri.
Andini meninggalkan kedua orangtuanya yang mengantarnya sampai mobil menghilang di balik pepohonan.
"Mas, akan seperti apa konsep pernikahan kita nanti?"
"Kamu maunya seperti apa sayang?"
"Aku nggak terlalu mau yang rumit, simpel tapi sakralnya tetap terasa."
__ADS_1
"Mau seperti apa konsepnya, rancang sendiri! kalau nggak konsultasi sama Kakakmu, biaya tinggal bilang, dan satu lagi yang tak kalah penting aku tawarkan spesial buat sekarang tunangan ku yang sebentar lagi akan menjadi istriku, mau bulan madu ke mana tinggal bilang, jadi kita bisa merancangnya dari sekarang dan merencanakannya dengan matang."
"Sepertinya aku nggak kepikiran Mas."
"Kok?"
"Aku ingin menghabiskan waktu di rumah kita saja."
"Haaaa...seperti keinginanku juga sayang tapi aku sebagai suami kalau tidak menawarkan padamu takut nanti aku dibilang suami pelit."
"Kebahagiaan bukan di tempat jauh Mas, tapi kebahagiaan kita yang ciptakan. Aku pikir di kamar kita pasti yang akan menjadi tempat paling indah."
"Betul itu sayang, aku selalu membayangkan saat itu datang."
"Mas, apa kita juga seperti Teh Rini dan mas Hadi aja?"
"Apa maksudnya sayang?" Arman melirik Andini di sampingnya bahkan menepikan mobilnya.
"Kok berhenti Mas?"
"Aku mau tahu seperti apa yang kamu katakan tadi sayang."
"Maksudnya, seperti Teh Rini juga Mas Hadi habis resepsi tamu semua bubar mereka langsung pergi ke Bandung lagi berdua, maksa gitu heee..."
"Masa sih sayang, aku juga mau banget haaa..."
"Tapi kita sepertinya nggak di izinin Ibu sama Bapak."
"Ya kita maksa aja, mereka bisa kita juga pasti bisa, terbanyang aku nggak tahannya."
"Apaan sih Mas, suka ngaco deh ah."
"Sekarang juga bisa aku Mas bawa ke rumah impian kita, tapi aku nggak mau nginep heee..."
"Tapi aku yang nginep di ruko kamu ya."
"Enak aja, waktu kita kurang dari sebulan lagi, aku mau bersabar karena sabar itu manis buahnya."
"Aku juga mau bersabar biar selain manis, enak juga buahnya nanti."
"Yeeeee... ikut-ikutan aja!"
"Mas, turun aja yuk kita cari makanan aku lapar. Sudah siang ini."
"Tanggung sayang sudah dekat ini, nanti kita beli saja kalau sudah sampai, kita pesan di aplikasi pesan antar, kita makannya di toko kamu, sambil nunggu kita kan bisa pelukan bebas heeee..."
"Iiiiiiiiiih...ngeri deh."
"Haaaaaaaa... akan lebih mengerikan setelah akad nikah."
Andini menutup muka Arman dengan sebelah tangannya, Arman menangkapnya sambil mendekatkan tubuh Andini tanpa batas dengan menariknya perlahan.
Andini diam setelah jarak muka mereka begitu dekat, selalu saja deg-degan saat sentuhan menjadi panas dan ciuman tak bisa di elak kan lagi.
"Kamu adalah resmi tunangan aku sekarang cantik! jarimu telah aku hiasi dengan cincin keseriusanku, dan orangtua kita telah menjadi saksi, selangkah lagi kita jadi suami istri."
Andini tersenyum, memperlihatkan bibir merah muda yang merekah dan barisan giginya yang rapi menambah kecantikannya.
"Mas, jangan di sini malu takut ada orang lewat, ayo jalan lagi aku lapar."
__ADS_1
"Haaaaaaaa...kasihan yang lapar, oke dikit lagi kita sampai, kamu pesan aja makanan di aplikasi pesan antar sekarang mau apa? jadi pas kita sampai datang juga makanannya."
"Mas Ikut aku ya?"
"Oke aku ikut aja, asal nginep!"
Arman menggoda Andini.
Andini cemberut lucu, dan kelihatan manjanya, membuat Arman begitu gemes. Arman meraih tangan Andini dan menaruh di pahanya.
"Tapi boleh nggak aku kalau numpang tidur siang?"
"Nggak!"
"Wah pelit amat, cantik banget orangnya tapi pelit luar biasa."
"Biarin saja!"
"Aku suka pengen nge-bales deh sama orang pelit itu."
"Bales aja, emang aku pelit."
"Nanti ya balasannya, kita sampai dan turun dulu."
"Nggak berasa ya Mas kita sampai Bandung lagi." Andini membuka sabuk pengaman nya.
"Apalagi nanti akan lebih nggak berasa lagi."
"Apa lagi?"
Arman turun duluan dan membukakan kunci rolling door hingga buka seukuran pintu, dan mereka masuk menyalakan lampu.
Andini melempar tasnya di tempat tidur dan membaringkan tubuhnya yang terasa capek.
Arman membuka gorden dan pintu balkon depan sambil melihat-lihat sekeliling ruangan itu.
"Sayang coba lihat sini ada pemandangan aneh di depan sini."
Andini bangun dan menghampiri Arman yang masih melihat ke depan dari pintu balkon. Andini tahu, nggak ada apa-apa di depannya tapi agar Andini menghampirinya saja.
Arman meraih pinggang Andini dan beralih pada kedua tangan Andini yang di lingkari cincin tunangan mereka, Arman menciumnya dengan penuh perasaan.
Mereka berpelukan dalam kebahagiaan yang mereka miliki.
"Aku sayang banget sama kamu Dini." Arman merangkum wajah cantik di depannya.
"Aku juga Mas."
"Sebentar lagi kamu jadi milik aku."
Bibir mereka mulai bersentuhan hangat, selalu saja getaran halus menjalar di nadi Andini juga Arman, begitu tak sabar nya mereka menanti saatnya tiba dengan angan-angan berisi keindahan harapan mereka.
*****
Happy reading dan tinggalkan jejak mu ❤️🙏
Sambil nunggu up Meniti Pelangi baca novel yang sangat bagus untukmu, Berbagi Cinta : Berbagi Suami By Febyanti. fav, like dan vote ya 🙏❤️
__ADS_1