
Arini masuk duluan dan Bi Minah juga Mas Hadi masih di luar, toko sudah buka dan ada beberapa pengunjung lain yang lagi melihat lihat Arini menyapu pandangan ke setiap sudut toko yang mirip mini market dan di meja kasir Andini terlihat lagi bicara di telephon dengan seseorang di sebrang jauh.
Arini berdiri di depannya dan tanpa bicara apapun dan saat Andini sadar ada seseorang yang berdiri di hadapannya Andini kaget saat tahu siapa yang ada di depannya.
"Teteh ?"
"Iya ini aku lagi mencari kamu"
"Masa Hadi juga Bima ikut ?"
"Itu masih di luar"
"Suruh masuk atuh"
"Takut salah dan dan bukan kamu yang ada di sini"
"Heeee... Teteh maaf Dini lagi agak sibuk akhir akhir ini, Teteh dari mana tahu Dini ada di sini ?"
"Sibuk apa sudah lupa kami dan tak menganggap kami ada ? aku mencari mu atas dasar tanggung jawab sebagai wakil orangtua dan juga seorang Kakak yang masih perduli"
"Bukan begitu Teh, Dini benar benar sibuk dari kemarin urusan skripsi dan sekarang sudah selesai Alhamdulillah tinggal nunggu sidang,dan sekarang lagi merintis usaha ini kebetulan ada yang percaya sama Dini jadi apa salahnya Dini coba dan semua ini di rintis sendiri,bukannya nggak mau kasih tahu Teteh sama Mas Hadi tapi Dini fikir nanti lebih enak kalau semuanya sudah jalan dan lancar"
"Kami khawatir Dini apapun yang kamu jalani ini tak ada salahnya tapi apa kamu berfikir keluargamu yang mencemaskan pergaulan mu itu yang jadi masalahmu,siapa yang kamu sebut mendukungmu dan memberi fasilitas sama kamu itu ?"
"Temanku !"
"Teman siapa ?"
"Ya teman dekatku Teh"
"Mana sekarang orangnya ?"
"Lagi kerja ke luar kota"
"Apa kamu yakin dengan teman dekatmu itu ?"
"Maksud Teteh apa ?"
__ADS_1
"Maaf Dini Teteh ingin yang terbaik buat kamu,buat masa depan kamu,dan Teteh perlu tahu apa yang di sebut teman dekatmu itu bukan status istri orang Dini ?"
"Kok Teteh setega itu sama Dini sih ? Dini semacam perempuan simpanan gitu ? dan kalau begitu kenyataannya kenapa ? salah ? nggak usah Teteh menjudge diri Teteh paling baik dan orang lain selalu salah,terserah aku masa depanku aku yang tentukan dan aku pilih tidak bergantung sama orang lain"
"Bagus ya omongan kamu sudah layaknya seorang yang sudah termakan rayuan dan dan terbius dengan semua yang temanmu berikan Dini,maaf bukan aku tak senang hanya bahan kehati hatian saja buat kamu,itu semua hak kamu dan benar masa depan mu kamu yang tentukan tak bisa menggantungkan pada orang lain tapi apa seorang Kakak tak boleh merasa cemas,dan khawatir juga ingin sedikit memberi nasehat ?"
Dini hanya diam dan tak memandang Kakaknya yang menatap tajam kearahnya,hanya memainkan ballpoint di tangannya,dirinya memang salah tak bicara dulu setiap yang di lakukannya dengan Kakaknya yang pastinya Kakaknya itu seperti wakil dari kedua orangtuanya,dan pesan Mas Arman juga menjadi pertimbangannya 'biarlah kita nikmati dulu kebersamaan dan cinta kita jangan di pusingkan dengan ini itu aturan dan larangan juga nasehat Kakakmu orangtuamu atau orang lain, aku pada dasarnya berniat baik dan serius sama kamu tapi nanti akan ada saatnya' Mas Arman benar baru nggak datang,pacaran dan pindah nggak bilang juga nasehat sudah berkarung-karung nasehat di jejalkan Kakaknya.
"Kamu serius dengan temanmu itu ?"
"Ya kami serius"
"Bawa ke rumah Teteh dulu sebelum kamu bawa ke orangtua kita"
"Kami sudah merencanakan semuanya"
"Dini apa kamu tahu maksud Teteh ?"
"Iya Teh, Dini mengerti"
"Neng Rini dek Bima tidur nih gimana ?" Bi Minah yang sejak tadi belum masuk bersuara dari balik pintu kaca.
Di tidurkan nya Bima di tempat tidurnya dan Arini juga Bi Minah melihat lihat sekeliling dan Arini lalu berjalan ke terras depan terlihat Mas Hadi lagi menelephon di bawah pohon di pinggir parkiran.
"Nggak ada apa apa Bi nih minumnya,saya masih berbenah,ada kue kue kecil doang makanannya"
"Nggak apa apa Neng Dini biarin nggak usah Bibi masih kenyang tadi sudah sarapan"
"Bi tolong tungguin dulu dek Bima Aku di bawah nggak ada siapa siapa" Andini turun diikuti Arini dan mereka duduk Andini di meja kasir dan Arini di sampingnya ada kursi beberapa buat yang lagi nunggu belanja atau yang ngantar atau yang belanja sekedar istirahat dulu walau sebentar,atau juga saat ngantri di kasir.
Dini melayani orang yang sudah memilih produknya dan dengan senyum manis juga sapaan sopan khasnya.
"Dini Teteh melihat hidupmu kelihatan berubah semoga ini awal baikmu juga kebahagiaanmu dengan pilihanmu,kelihatannya sudah tak menunggu transfer dari Teteh ya ?"
Andini tersenyum,tak mengiyakan juga tak menyangkalnya kelihatan semua seperti yang di katakan Arini Kakaknya.
"Baik baik membawa diri Dini,jangan langsung silau dengan segala yang kekasihmu tawarkan, hanya itu yang bisa teteh pesankan"
__ADS_1
"Iya Teh makasih segalanya,aku juga ingin memperlihatkan keseriusan dalam mengelola toko ini,aku tidak merekrut tenaga bantuan dulu aku rintis akau jalani sendiri aku belanja dan aku tata semuanya sendiri"
"Pokoknya sempatkan datang ke rumah bawa calon mu"
Andini keluar dan menghampiri Mas Hadi yang dari tadi santai duduk di bangku bangku kecil di bawah pohon rindang.
"Mas mari masuk ada tempat duduk di dalam juga,apa khabar sehat benar kelihatannya ?"
Andini menyalami kakak iparnya sambil tersenyum.
"Sehat Din Alhamdulilah,dan ini tadi nge test bawa mobil lagi baru kali ini"
"Wah surprise dong sudah bawa mobil lagi" mereka berjalan bersisian masuk ke dalam toko dan di situ sudah ada Arini lagi melihat lihat produk kecantikan dan semua aksesoris perempuan dan Arini mengumpulkan yang di rasa perlu di keranjangnya dan di bawa ke meja kasir.
Ada bando kalau buat pakai masker,ada bross yang unik dan lucu lucu jepitan rambut,ikat rambut aksesoris kerudung, lampu tidur aromaterapi dan skin care juga, lumayan banyak.
"Belanja banyak harusnya dapat discount ya Pa"
"Heith...Mama apa apa harus serba discount adiknya baru belajar juga,harusnya mendukung bukan minta discount"
"Nggak apa apa ambil aja yang Teteh butuhkan" Dini tersenyum.
"Segitu banyaknya ? jangan Dini hitung semuanya aku bayar"
"Iya Dini Teteh hanya bercanda"
Andini tak mau menghitung dan Arini memasukkan duit beberapa lembar ke laci uang kasir.
"Dek Bima tidur di mana ?" Hadi mencari anak kesayangannya.
"Tidur di atas Mas di tungguin Bi Minah"
"Di bangunin kasihan, aku ada pekerjaan gimana ya ?"
"Paling bentar lagi Mas"
"Ya sudah, demi anak istri semua kalah dan bisa di tunda,apalagi sekarang ada yang lagi manja Din mengalahkan dek Bima di rumah itu"
__ADS_1
"Apa itu yang namanya puber kedua ? hehehe..." Andini terkekeh sendiri dan Arini hanya melotot sama suaminya, Mas Hadi juga sama tertawa.