Meniti Pelangi

Meniti Pelangi
Meniti pelangi


__ADS_3

Fadli nggak bisa menahan kakak iparnya untuk sedikit lebih lama lagi tinggal di tempatnya,ingin dirinya membawa anak istrinya ke mana yang mereka mau,atau sekedar menjamu makanan apa yang jadi ciri khas daerahnya,tapi Fadli memaklumi keadaan Hadi yang belum sehat,masih jalan pakai penyangga membuat Hadi sendiri repot juga nggak mau merepotkan.


Juga Arini yang tak enak meninggalkan tanggungjawab pekerjaan kepada orang lain dan Fadli juga maklum semua itu,Fadli hanya berharap akan janji Arini suatu saat nanti bisa datang kembali dalam suasana yang berbeda untuk liburan dan ziarah ke tempatnya kembali.


Dan Fadli pun di harapkan semoga bisa berkunjung dan keluarganya ke Bandung untuk mempererat tali silaturrahim.


Di Bandara mereka berpelukan,tangis haru semua,lebih ke perasaan masih berduka yang mereka rasakan,karena mereka di pertemukan oleh rasa dan suasana berkabung.


Tak ada kendala yang berarti,pesawat yang membawa Hadi dan keluarga kecilnya sampai di bandara Husein Sastranegara kota Bandung sekitar tengah harian,ada rasa lega di hati keduanya Arini dan Hadi seakan mereka telah menyelesaikan tugas akhir mengantar kepergian Hesti ke haribaan Sang Pencipta,tak banyak kata seakan hati mereka penuh dengan fikiran masing masing,hanya Hadi tak lepas menggenggam tangan istrinya,


terkadang Arini menyenderkan kepalanya di pundak Hadi.


Agak lama menunggu jemputan Pak Priyo mereka duduk di ruang tunggu sambil mengawasi Bima yang lari sana sini,sambil tak henti hentinya berceloteh.


"Rin kalau lama Pak Priyo kita naik taksi aja gimana ?"


"Kasihan Pak Pri Mas,udah capek capek kemari,sabar mungkin sebentar lagi nyampe"


"Kasihan Bima,kayaknya kecapaian"


"Sabar Mas mungkin sebentar lagi"


Bener saja tak lama Pak Priyo datang menjemput.


"Kami segenap pimpinan dan karyawan ikut berbelasungkawa Pak Hadi,kami turut prihatin atas kejadian kejadian yang menimpa Pak Hadi"


"Iya Pak Pri,kami juga sangat berterimakasih pada semua team kita"


"Apa ada perubahan di kantor kontraktor Pak Pri ?"


"Belum keluar dari permasalahan kemarin kemarin pak Hadi"


"Ya ya ya ini perlu penanganan khusus sepertinya"


Dan tanpa terasa mobil pun hampir sampai di rumah.


"Masuk dulu Pak Pri ngopi dulu atau minum teh apa"


"Terimakasih banyak lain kali saja,sekarang saya langsung ke kantor, Pak Hadi sama Bu Arini istirahat dulu"

__ADS_1


"Ya Pak Pri terimakasih banyak ya"


Bima langsung di gendong Bi Minah,seperti kangen yang bener bener lama nggak ketemu,Bima langsung nempel di Bi Minah.


Arini masuk kamar duduk ujung tempat tidur di susul Hadi tertatih tatih,Arini mengulurkan tangannya pada Hadi untuk bisa duduk berdampingan dengannya


"Rin,bersihkan dirimu istirahatlah, Aku juga sama begitu letih, terkuras semua energi dan perasaan,sekarang fresh kan dulu fikiran kita baru kita bisa berfikir untuk selanjutnya, telah banyak yang kita lewati.


Arini mengangguk,suaminya masuk kamar mandi duluan.


Arini termenung sendiri di ujung tempat tidur tergambar semua kejadian yang di laluinya, kepulangannya dari Surabaya,Bu Hesti yang baru kemarin meninggal,dan mewasiatkan aset yang begitu besar pada suaminya,haruskah Aku dan Mas Hadi bahagia dengan semua itu,di tengah krisis keuangan perusahaan mereka ? entahlah...


Teringat kejadian dirinya dihina,di tuduh,di lecehkan Arman,hatinya begitu panas bergetar ingin menyampaikan apa fakta yang sesungguhnya,tapi pentingkah itu ? juga akan kah Arman juga akan mengerti ? yang pasti Arini menutup hati dan matanya sekalian untuk seorang Arman,nikmatilah hidupmu yang kau anggap benar Arman, cintailah bayangan dan bingkai gambar angan angan mu.


Mas Hadi masih belum pulih,itu yang menjadi gumpalan yang mengganjal di relung hatinya yang paling dalam,kapankah Mas Hadi sembuh bisa beraktifitas seperti sedia kala,


aku begitu kangen Mas,kapan kita berangkat kerja lagi sama sama,Bima malah mau tiga tahun,waktuku habis mengurus rumahtangga dan pekerjaan yang sekarang lagi di ujung tanduk.


"Rin kok kamu masih di situ,ayo mandi akyu malah udah selesai sholat ashar nih"


"Oh eh iya Mas aku penat banget, iya ayku mandi sekarang"


"Dari tadi aku perhatikan kamu melamun aja,sudahlah, Aku kedepan main sama Bima ya"


Selesai mandi, Arini,Hadi Bi Minah dan Bima main di teras rumah,hari menjelang sore, Arini dan Hadi ngobrol di kursi teras rumah.


"Rin sayang kamu kayaknya ngelamun,ada apa ?


"Mas begitu banyak yang Aku fikirkan..."


"Aku mengerti Rin,aku terlalu banyak membebani mu,kamu begitu cape tenaga dan fikiran,sebenarnya Aku begitu kasihan sama kamu tapi Aku gimana lagi ?


"Enggak Mas,Mas jangan merasa bersalah begitu, Aku hanya ingin Mas sembuh,ayku ingin membawa Mas kemana gitu yang bisa membuat mas sehat kembali"


"Sudahlah Rin,seiring waktu Aku akan pulih kembali,mungkin ini cara Tuhan berkata lain pada kita yang mesti kita maknai semua kejadian ini,membuat kamu lebih mendalami pekerjaan,lebih bisa mandiri menjadi pimpinan juga menjadikan kita lebih tegar lagi dengan segala cobaan yang menimpa kita sayang"


"Iya Mas,mulai perjalanan cinta kita,hidup berumahtangga begitu penuh warna,seperti warna warna pelangi,dan kita seperti meniti di atas pelangi itu"


"Satu kelegaan hatiku Rin yang ingin Aku sampaikan sama kamu,begitu terimakasih Aku sama kamu sayang atas kebesaran hatimu juga dukungan mu di sampingku,mengantar Hesti dengan keikhlasan hati kita,mungkin Hesti bahagia sekarang selagi kita bahagia"

__ADS_1


"Iya Mas banyak kebaikan yang di ajarkan Bu Hesti pada kita, Aku yakin suatu saat kita akan seperti dahulu lagi Mas bisa beraktifitas lagi dan kita bisa diskusi berbagai hal"


"Rin,setelah tiga hari apa besok masih mau istirahat apa mau masuk kerja ?"


"Kayaknya kerja deh Mas nggak enak lama lama ninggalin pekerjaan, bagaimanapun keadaanya tetap harus kita hadapi"


"Begitu dong,semangat jangan hanya karena ganjalan kecil kita patah semangat"


"Sebenarnya bukan patah semangat Mas tapi lebih ke trauma,takutnya ketemu muka di jalan atau di tempat makan atau di mana aja"


"Iya ajak orang aja kalau ada acara keluar,jangan sampai sendiri"


"Sudah di kasih kabar Lusy besok kamu masuk kerja ?"


" Belum Mas"


"Kabari lah siapa tau ada yang penting penting,takutnya fikiran dia mengganggu kalau harus nelephon duluan"


"Aku mantau terus dari kemarin juga soal pekerjaan dan kantor Mas"


"Tahu dia masalahmu waktu pulang dari tempat Arman ?


"Aku nggak cerita Mas,tapi kayaknya tahu dia nelephon Arman atau Arman yang nelephon Lusy"


"Sudahlah sayang jangan di ingat ingat lagi yang sudah terlewati, kita tata masa kedepan saja"


"Iya Mas,ingin Aku juga seperti itu"


Arini menarik nafas panjang, mengingat kejadian itu terasa menyesakkan dada.


"Bima ayo masuk nak udah mau malam nih,Bi ajak Bima nya masuk"


"Iya Mama Rini..."


"Kalau Papanya siapa ?


Tanya Arini sambil jongkok di hadapan Bima.


"Papanya pyapa Hadi"

__ADS_1


"Anak pintar"


Arini memangku Bima sambil menciumi perutnya dan Bima pun tergelak kegelian.


__ADS_2