
Waktu dua hari di rumahsakit dalam keadaan fikiran terbagi antara rumah dan dirinya,Arini merasakan beban yang begitu berat,di satu sisi suami dengan keadaan yang tak berdaya memerlukan bantuannya untuk segala aktifitasnya,walaupun ada Bi Minah tetap saja namanya hanya membantu ada rasa risih di keduanya,tak seperti sama orang terdekat istri anak atau orangtua.
Tekadnya hanya ingin cepet sehat dan bisa pulang,bisa berkumpul kembali dengan keluarga kecilnya,ingin segera menimbang si kecil Bima di rumahnya dan menjemurnya di halaman depan.
Seperti siang ini Arini mendapat pemberitahuan boleh pulang,hatinya bukan kepalang senangnya,Andini langsung di suruh menelephon Pak Priyo untuk menjemputnya,dan Arini sudah beres berkemas tinggal nunggu Andini mengurus administrasi saja.
Si kecil Bima tak lepas dari gendongannya,sesekali menggeliat dan nangis saat haus,Arini begitu menikmati perannya yang baru sebagai Ibu,Bima kecil sudah mulai bisa menyusu dan tidurnya juga pules bangun ketika pipis dan mau menyusu.
Andini datang dengan map di tangan,dan memasukkannya ke ranselnya,mukanya kuyu cape mungkin terlalu capek segala di urusnya sendiri,tapi keceriaan tetap ada di raut mukanya.
"Teh,kita sudah boleh pulang nunggu Pak Priyo aja,semua sudah beres"
"Dini teteh terimakasih ya untuk semua bantuannya,kalau nggak ada kamu tahu gimana jadinya"
"Apaan pake terimakasih segala,udah jadi kewajiban kita sebagai saudara, Teteh nggak usah begitu,melihat Teteh selamat,sehat si ganteng keponakan ini sehat itu kebahagiaan kita"
"Kamu kelihatan capek banget Din"
"Ya biasa kalau kurang tidur mah,namanya juga nungguin orang di rumahsakit"
"Kuliah kamu gimana ?"
"Udah izin,kelasnya agak longgar,kalau ada yang penting penting aku informasi dari temen sekampus ku kok,jadi nggak masalah"
"Ya syukurlah..."
"Teh ntar pulang Bima aku yang gendong ya"
"Emang kamu bisa gendong bayi ?"
"Ya Teteh ajarin dulu.... heeeeee"
"Nanti aja di rumah gendongnya,sementara ini biarin Teteh dulu yang bawa"
"Yaaaaaah Teteh"
****
Sampai di rumah,Hadi menyambut anak dan istrinya dengan kegembiraan luar biasa senangnya,di gendongnya Bima kecil di sebelah tangannya,di ciumnya berulang ulang seakan baru memiliki sesuatu yang tak bisa di bandingkan harganya, Arini bernafas lega bisa berada di rumahnya kembali,melihat suami dengan kegembiraannya semoga menjadi motivasi untuk kesembuhannya.
Apalagi setelah Ibu Bapaknya datang menyambut cucu pertamanya,semakin ramai
saja suasananya,semua rekan kerja dari kantor Hadi juga kantor Arini silih berganti ikut bergabung bersukacita,ucapan selamat dan do'a selalu terucap dari semua yang datang.
Hilang semua rasa yang kemarin kemarin menghimpit perasaan Arini,rasa sakit,sedih,tertekan, cemas,cape dan rasa rasa lainnya,walau di rasa semua kebahagiaan itu jangan sampai berakhir,tapi tak ada kesempurnaan dalam hidup ini.
__ADS_1
Dirinya harus menyingsingkan lengan bajunya untuk lebih fokus pada semua pekerjaan yang semua urusan suaminya beralih menjadi tanggungjawabnya, semua berada di pundaknya, maju mundurnya perusahaan yang di kelola berdua dengan suaminya sekarang ada di tangannya,mau tidak mau dirinya harus belajar lagi di bidang usaha yang di pegang suaminya.
Semua harus berjalan seperti sediakala,semua harus bisa hidup dari semua usahanya, semua karyawannya harus sejahtera tanpa kecuali.
Rutinitas telah di jalani kembali Arini setiap hari harinya,walau tanpa suaminya,menjadikannya bekerja extra setiap harinya, suami yang harus di urusnya, anak yang mulai aktif perlu perhatian penuh,walau ada Bi Minah,juga pekerjaan di kantornya yang menumpuk dengan segala permasalahannya.
Seperti hari hari yang lain,biasanya pulang kerja Arini yang di temui nya Si kecil Bima dan suaminya.
"Gimana Dek Bima rewel nggak Bi hari ini ?"
"Nggak Neng pinter banget,udah mandi di temenin Papanya main,sementara Bibi masak,udah itu minta susu nangis dan tidur"
"Pinter banget,kesayangan Mama Papa ini"
Arini memangku,menimbang dan menciumnya,Bima yang lagi anteng main merasa terganggu lalu nangis dan meronta.
"Ya sudah main lagi ya sama Bibi, Mama mandi dulu"
"Mas,makannya nanti ya saya mandi dulu,gimana minum obatnya nggak lupa lagi kan ?"
"Ya enggak lah,aku kan pengen sembuh, nggak nungguin istri pulang kerja melulu"
"Mas jangan berfikiran begitu,aku bahagia dengan keadaan semua ini kok...,aku nggak merasa terbebani,aku bertanya begitu untuk kebaikan Mas, kita saling support dan saling menguatkan"
Arini mendorong kursi roda Hadi ke dalam rumah,dan masuk kamar,Arini jongkok di hadapan kursi roda Hadi,tangannya di atas pahanya menggenggam kedua tangannya.
"Terkadang aku putus asa Rin dengan keadaanku seperti ini,serasa Aku tak berguna"
"Mas jangan berfikir begitu,hilangkan jauh jauh perasaan itu,lihat aku lihat anakmu, Mas pasti sembuh pasti sehat kembali"
"Rin,maafkan Aku, Aku belum bisa apa apa hanya merepotkan semua orang,sedangkan kamu pontang panting dari pagi sampai malam di rumah,di kantor"
"Mas jangan bicara begitu,jangan membebani diri Mas sendiri dengan permintaan maaf,ini semua sudah menjadi kewajiban ku sebagai istri,kalau Mas sehat tak mungkin kita seperti ini"
"Rin Aku tak tahu apalagi yang harus Aku ucapkan pada pengorbananmu,di saat Aku terpuruk begini,kamu begitu gigih berjuang untuk keluarga kita"
"Kebahagiaan saya harus menjadi kebahagiaan Mas Hadi juga,makannya mas cepet sembuh,biar kita berjuang lagi bersama"
"Iya Rin,ayku ingin sembuh untukmu juga untuk Bima"
"Semua rasa cape saya hilang Mas kalau sudah sampai rumah,melihatmu bisa tertawa, sedikit ada kemajuan, kesehatanmu semakin baik,juga melihat keceriaan tumbuh kembang Bima anak kita semua itu tak terhingga bagiku Mas"
"Rin, Aku tak bisa mencukupi mu, kehidupanmu juga Bima,keluarga ini kamu yang menopang"
"Mas,semua usaha ini adalah aset mu, Aku hanya menjalankannya,semua ini lebih dari cukup,semoga Aku bisa mengelolanya sebaik Mas,Mas semangat aja untuk sembuh demi kita semua,apa tadi pagi Mas berjemur sama Bima nggak ?"
__ADS_1
"Iya Rin,tangan kiri ini yang mulai ada kemajuan,minimal udah ada rasa nggak kaku beku kayak kemarin kemarin,cuma untuk bergerak masih belum ada tenagabUntuk pindah ke kursi,ke tempat tidur mulai ada tenaga juga nggak terlalu sakit,di topang sebelah tangan dan kaki kanan mulai agak ringan"
"Alhamdulillah,segitu juga kemajuan pesat Mas,semangat terus,minggu depan jadwal kontrol sama terapi ke rumahsakit.
Arini memeluk suaminya dengan penuh perasaan,semua yang dialaminya beberapa bulan kebelakang telah mengesampingkan gairahnya, apalagi keadaan suaminya yang belum bisa apa apa,Hadi juga menyadari itu semua,walau Arini tak memperlihatkan tetap aja Hadi melihat keinginan istrinya untuk bermanja,tapi apalah daya semua serba tak bisa hanya keinginan dalam dada dan hanya bisa menghibur hati sendiri.
Hadi membalas pelukan istrinya, mengusap usap punggungnya dengan sebelah tangannya,Arini mencium pipi suaminya dengan berlinang airmata,dan Hadi diam tanpa kata mengerti keinginan istrinya,Betapa keduanya merindukan saat saat bersama yang tidak bisa mereka lakukan saat ini,Arini lebih mengalihkan perhatiannya ke anak dan pekerjaannya,juga Hadi lebih ke ingin sehat,terapi dan belajar bergerak,sungguh semua itu begitu menyiksa,tapi tetap harus di jalani.
Dan Arini cepat cepat mengalihkan perhatiannya,tak ingin semuanya terhanyut terbawa emosi,karena semua hasratnya tak mungkin jadi satu kenyataan.
"Ya udah Mas mau duduk di mana dulu sementara aku mandi,di kursi nonton tv apa di kasur sambil baca ?"
"Oh eh ya Aku nonton tv aja"
"Yu Aku bantu"
Arini mendorong lagi kursi rodanya keluar kamar dan membantu suaminya untuk bisa duduk nyaman di kursi, mengambil remote dan menyodorkannya.
"Aku mandi ya Mas"
Hadi memandang Arini dan mengangguk,Hadi membayangkan betapa cape istrinya sedari bangun pagi memulai aktifitasnya,menggiling cucian,mandiin anak,mandiin dirinya,bikin sarapan mandi dan pergi kerja,itu masih berbagi tugas dengan Bi Minah yang bisa di kerjakan sendiri Ia kerjakan, biar Bi Minah tak terlalu repot kalau Dek Bima lagi rewel.
Sore pulang kerja masih saja mengerjakan ini itu,dan malam masih terganggu dengan tangisan si kecil Bima yang masih di beri asi,Hadi menarik nafas panjang,betapa kasihannya dia terhadap orang yang sangat di cintainya,yang lebih menyakitkan hatinya Arini malah tak perenah mengeluh dengan semuanya,segalanya di jalani dengan datar dan keikhlasan.
"Mas makan yu, Aku suapi ya di sini aja sambil nonton tv,tapi aku juga sambil makan ya lapar banget"
"Aku makan sendiri aja Rin,kamu makan yang banyak,kan buat berdua sama Bima"
"Heeeeee...Iya,Mas tahu aja Aku makannya banyak,ya udah nih Mas udah aku ambilkan"
Tak tega rasanya Hadi mengganggu waktu makan istrinya hanya karena mau nyuapi dirinya.
"Gimana di kantor kontraktor masih berjalan seperti biasanya ?"
"Iya Mas, Alhamdulillah masih berjalan lancar,cuma tadi Pak Pri ngomong belum ada proyek baru,masih menuntaskan proyek lama,mudah mudahan habis proyek ini masuk lagi proyek baru"
"Iya semoga,jadi kamu bolak balik aja gitu ya Rin"
"Nggak juga Mas,pagi fokus dulu di radio,kan ada Lusy yang sudah bisa lah di situ mah menghandle dan bisa di percaya kerjanya, siangan ke kantor kontraktor karena banyak yang harus aku pelajari termasuk melobby kantor atau konsumen"
"Kamu pinter banget Rin,baru aku mau ngasih instruksi seperti itu,kamu sudah menjalaninya"
"Ah Mas,bisa aja.... Aku baru belajar di usaha yang Mas pegang itu,tapi banyak tantangannya kayaknya"
"Untuk melobby kayaknya kamu punya keahlian khusus,pasti semua proyeknya gool,tanya aja sama pak Pri kalau ada kesulitan"
__ADS_1
"Iya Mas..."