
"Tok tok tok...Din Dini ! woi bangun nih kunci motor lu"
Lama nggak di buka Dewi memutar handle pintu berulang-ulang dan mengetuk ngetuk kaca mengintip ke dalam tapi tak kelihatan semua masih agak gelap.
"Dini !"
"Apaan sih lu pagi pagi dah teriak teriak bangunin orang kayak kesurupan aja" Andini membuka pintu dan melongokan sedikit kepalanya karena masih memakai shot pendek dan tangtop di tubuhnya.
"Hai lu pulang jam berapa semalam ?" Dewi mendorong pintu dan menerobos masuk.
"Jam setengah sebelas"
"Alah gue masih nongkrong di depan sama anak anak jam segitu lu belum datang"
"Pokoknya jam segitu gue lupa apa jam sebelas... apa jam dua belas heee...emang lu mau kemana pagi pagi gini ?"
"Gue mau jalan sana cowok gue nih kunci motor lu makasih ya, eh lu semalam di cariin Kakak lu Teh Rini tuh"
"Ah masa,serius Wi ?"
"Ya iya lah masa gue bohong,malah ngobrol lama sama gue"
"Terus tanya gue kemana gitu ?"
"Iya lah yang di tanyain elu kan elu adiknya bukan gue" Andini bangun dan menatap Dewi.
"Teh Rini tanya apalagi ?"
"Tanya elu kemana,ya gue jawab jalan sama pacarnya malam mingguan,tanya soal kegiatan di kampus lu juga ya gue jawab apa adanya"
"Makasih ya Wi"
"Oke aku jalan dulu ya"
"Eh elu pagi mau kemana ?"
"Aku mau jalan jalan sama cowok gue,dia hobby nya kayak jalan jalan ke alam gitu makanya aku mau coba ikut dia kalau menyenangkan aku lanjut tapi kalau nggak ya aku nggak ikut biar jadi hobby dia aja sepertinya menarik juga camping segala tapi nggak sampai nginap makanya berangkatnya pagi banget"
__ADS_1
"Oh gitu ya enak juga ya kedengarannya"
"Pokoknya ntar aku dulu yang ikut kalau menyenangkan nanti aku ajak lu sama cowok lu"
Dewi menghampiri Andini dan meneliti wajah sahabatnya dan Andini keheranan sambil mendorong badan Dewi yang mendekatinya merasa risih karena Andini belum mandi.
"Apaan sih lu ? sudah kayak lesbong saja"
"Gue melihat perubahan Dini di bibir lu, tuh lihat jontor banget semalam lu kemot an mulu ya,ampun deh ahaaay..."
"Ah masa sih ?
"Ngaca lu"
"Gue nggak ngapa ngapain"
"Alah lu jangan bohong,gue nggak nungtut lu ngaku dan terus terang biasa aja lagi,semalam jalan jalan dari mana lu ?"
"Heee...gue nonton semalem"
"Gue tahu durasi dua jam lu kemotan sudah itu di mana lagi lu mampir pasti aja lu gigit gigitan dan saat cowok lu pamitan setengah jam itu sudah nggak bisa di elakkan lagi,pasti bikin nafas lu ngos ngosan dan basah area sensitif lu haaaa" Dewi begitu nikmat pagi ini sarapan tertawa.
"Haaaaaaaa...tahu lah dodol memang gue nggak pernah pacaran apa ?"
Dewi terbahak lagi dan keluar kamar Dini dan dini hanya termangu sendiri dan melanjutkan tiduran lagi.
Dini meraih ponselnya dan sudah ada pesan singkat dari Arman, Andini tersenyum mengingat semua yang telah dilakukannya semalam dengan seorang Arman yang telah begitu dalam mengisi hatinya.
"Sayang dah bangun belum ?
Siang kita ketemu lagi ya kalau nggak sore,soalnya aku ada kerjaan dulu nggak bisa di tunda, bobo aja lagi "
Cium sayang dan Love banget
Andini tersenyum ucapan selamat pagi yang sangat manis membuat malas untuk bangun dan beraktivitas maunya dekat dan pelukan selalu.
"Mas,tahu nggak bibirku lihat nih jadi seperti ini ! "
__ADS_1
Andini memotret bibirnya yang memang keadaannya seperti itu dan mengirimkannya pada Arman yang kebetulan lagi online.
"Heee...tapi enak kan ? nanti juga sembuh,kalau belum sembuh ntar aku cium lagi"
"Aku jadi malu keluar nih Mas, baru si Dewi yang melihat habis aku di bully pagi pagi "
"Sudah jangan keluar nanti aku kirim makanan mau apa ?"
"Apa aja Mas,kan katanya mau kerja dulu ?"
"Tapi buat kamu yang aku sayang aku sempat sempatkan,lagian aku sudah kangen lagi heee..."
"Aku juga sayang Mas Arman"
"Iya nanti aku ke situ ya,eh kalau nggak kemana mana ikut aku kerja ya,nanti kita lihat lihat program masa depan kita, pokoknya mandi dan dandan yang cantik buat aku terpesona,aku samper ya"
"Oke Mas bye !"
Andini tersenyum mengingat kekasihnya selalu ada kejutan yang di berikan,entah apa lagi yang nanti akan di berikan pada dirinya sebagai kejutannya.
Andini meneliti kembali muka dan bibirnya dan semalam begitu kuatnya mereka berciuman dan entah gimana juga nasib bibir Mas Arman sendiri.
Andini masuk kamar mandinya dan merelaksasi ketegangan tubuhnya,yang dari semalam di liputi dengan ketegangan dan gairah gejolak hasrat yang membara,Andini berlama lama di kamar mandi dan menikmati sentuhannya sendiri dengan foam sabun yang begitu wangi melambungkan angan angannya tinggi bersama Arman.
Aaaaaah...semua menjadi bergairah dan memicu semangatnya, lanjut keluar kamar mandi mengeringkan rambutnya dan masih memakai kimono mandinya duduk di meja belajarnya dan di hadapannya ada kaca besar dan melihat wajah beningnya.
Aku begitu mencintai Mas Arman, apa karena dia mapan nya ? apa karena gantengnya ? apa karena teman Kakaknya ? aaaah...semua begitu sempurna di mataku dan satu lagi Mas Arman begitu mencintainya juga.
Ciumannya yang panas dan tangannya yang nakal,juga pelukannya yang begitu hangat membuat Andini selalu tersenyum mengingatnya.
Dan sekarang sudah mau datang lagi dengan kerinduannya aku harus berdandan semaksimal mungkin dan akan membuatnya terpesona,dan terkagum kagum padaku,aku suka tatapan nakal Mas Arman yang menggairahkan dan senyum manisnya sangat menggoda.
Andini memilih pakaian yang sangat di sukai nya dan merasa paling feminin saat di kenakan dan Andini ingin tampil lebih cantik hari ini,dan bersama sama lagi begitu suka aaaaaaah... senangnya dan bahagianya saat jatuh cinta.
Andini menimbang nimbang apa telephon dulu Teh Rini apa nanti aja ya ? pasti paling banyak ceramahnya nanti kalau di telephon malah mempengaruhi moodnya hati ini nanti saja malam biar waktunya panjang mau nelephon jungkir balik juga lagian kalau sekarang takut Mas Arman keburu nyamper jadi kepotong potong bicaranya nanti.
Andini merasa suatu saat dirinya harus datang khusus atau bila mungkin sama Mas Arman memberitahukan sekalian hubungan mereka mungkin jadi surprise buat Teh Rini dan Mas Hadi,atau mungkin lebih surprise lagi kalau Teh Rini tahunya hubungan dirinya dan Mas Arman langsung dari orang tuanya saja.
__ADS_1
Karena Mas Arman juga merasa jangan dulu pemberitahuan sama siapapun dengan alasan kita nikmati dulu kebersamaan kita ini selalu dan selalu begitu saat dirinya ingin membuka hubungan mereka pada Teh Rini atau menelephon orang tuanya.