Meniti Pelangi

Meniti Pelangi
Apa Mas bahagia ?


__ADS_3

Habis maghrib teng Arman sudah menjulang di depan pintu kamar kost an Andini dan di sambut senyum manis kekasih yang sama lagi kasmaran,dandanan yang di maksimalkan Arman begitu mengundang decak kagum Andini yang melihatnya seraya tersipu.


"Boleh masuk nggak ?"


"Oh iya masuk Mas,aku merasa terkesima di kira yang datang bukan Mas Arman"


"Oh ya ? jadi ada yang suka datang malam minggu selain aku ?" Arman agak sedikit cemberut.


Andini terkekeh sendiri dan merasa lucu dengan sikap Arman dan Arman tak mengerti arti tawa Andini.


"Mas aku terkesima karena di kira yang datang itu aktor korea yang lagi di gandrungi cewek cewek dan Ibu Ibu"


"Alah kamu ini ada ada aja" Arman merasa gemes dan menangkap Andini yang masih tertawa.


"Justru aku yang terkesima melihat cantiknya kamu,katanya mau pergi mau ke mana ? pokoknya jangan terserah aku kalau terserah aku akan aku culik kamu semalaman"


Andini tersenyum dalam hatinya apa yang akan di lakukannya kalau semalaman dengan orang yang sama sama lagi jatuh cinta.


"Mas duduk aja dulu"


"Kamu mau ngapain ?"


"Mau dandan"


"Emang ngapain dari tadi belum dandan ?"


"Ya nungguin Mas Arman takut nggak datang"


"Serius takut aku nggak datang ?"


Arman menghampiri Andini dan menarik tangannya menciumnya dan lalu memeluknya sambil di goyang ke kiri dan ke kanan dengan perasaan sayang.


"Aku seneng banget Dini kamu merasa takut aku nggak datang dan aku juga justru lebih takut lagi kalau aku nggak datang kamu malah pergi sama yang lain"


Andini diam dalam pelukan Arman dan Arman tak bisa kalau tidak menciumnya dengan perasaan kangennya,sama sama kangen walau baru kemarin mereka bertemu dan selalu ada getaran getaran nikmat yang menyelusuri setiap urat mereka dan sampai ke jantung dan menghadirkan debaran aneh,Andini hanya pasrah dalam gairahnya juga saat Arman tanpa di pinta juga tanpa izin telah mengulum bibirnya dan saling balas dengan gairah yang mendalam,dengan perasaan sayangnya Arman melepas ciumannya dan memandang wajah Andini dari jarak centimeter dan meyakinkannya kalau ini nyata adanya dan memeluknya kembali sampai Andini berbisik samar di telinganya.


"Mas kenceng banget aku kesakitan"

__ADS_1


"Oh maaf Dini aku begitu terbawa perasaan aku kangen banget sayang heee..."


"Iya tapi jangan bikin aku ringsek dong"


"Masa sih aku bikin sakit kamu melulu ya ? kemarin sampai berdarah sekarang bikin ringsek, aku lupa sayang kamu itu begitu lembut,dan kangen aku begitu besarnya sama kamu"


"Maafkan aku ya" Arman masih saja memeluknya.


"Aku jadi merasa takut Mas, gimana kalau kita pengantin baru ?"


"Haaa...kamu sudah sejauh itu berfikir nya sayang,enggak dong ingatkan aku kalau aku terlalu grusuk-grusuk dan menyakiti kamu aku nggak bisa menunda kalau aku kangen aku ingin segera melonggarkan dadaku dengan bertemu atau sekedar mendengar suaramu, Dini aku terlalu mencintaimu,tolong jangan kecewakan cinta yang kuberikan padamu"


"Mas aku juga terlalu menyayangimu aku juga sama nggak mau kecewa dan jangan kecewakan semua rasa sayangku ini"


"Ah Dini tak kamu ucapkan juga aku mengerti,aku ingin cintamu bukan hanya sesaat aku ingin masa depanku bersamamu kita punya keluarga dan anak anak kita dalam bahagia,aku tak sabar kamu selesai kuliah dan kita melangkah dalam keseriusan,aku ingin segera memiliki kamu seutuhnya sayang"


Andini memeluk Arman dan menenggelamkan semua rasa di dadanya menikmati getaran hati mereka di selingi pelukan dan ciuman yang membara membakar gairah muda mereka,gairah yang tak terlampiaskan tuntas hanya ******* bibir dan memeluk erat tubuh masing masing tak ayal nafas mereka begitu memburu dan tak beraturan.


"Mas udah ah nanti kita kebablasan"


Andini malu dan merapikan kembali pakaiannya dan berdandan kembali,hatinya tersenyum geli atas ucapannya sendiri tadi pada Dewi sahabatnya pacaran itu boros pulsa dan boros lifstick memang benar adanya.


"Mau kemana jalannya sayang ?" Arman memeluk Andini dari belakang yang lagi duduk di meja belajarnya.


"Boleh kalau aku mau nonton Mas ?" Andini dengan tatapan ke depan kalau melirik ke salah satu sisi pasti wajah mereka bertemu lagi.


"Owh boleh banget sayang,mau berapa film yang kamu tonton mau sampai midnight juga boleh"


"Iseng aja Mas gimana rasanya nonton sama orang yang kita cintai"


"Biasanya nggak konsentrasi sayang kalau nonton sama pacar konsentrasinya akan hilang dan cerita filmnya nggak ketahuan yang ada kita bikin adegan berdua"


"Masa sih Mas ?"


"Ayo kita buktikan,aku juga kata cerita orang heee..."


"Iiiiiiiiiih Mas Arman bohong seperti pengalaman sendirinya ya ?" Andini memukul mukul manja dada Arman dan Arman tertawa dan menangkap tangan Andini.

__ADS_1


"Serius sayang aku kapan waktunya nonton,baru kali ini ketemu dengan kamu aku ingin sedikit melonggarkan waktu untuk diri sendiri dan kamu kapan lagi kita bisa bersama kalau hanya mengikuti kesibukan kerja ? nggak di sempat sempatkan pasti tidak bisa, katanya mau nonton ayo nanti aku cium lagi"


"Aaah..Mas !"


Akhirnya Dini dan Arman keluar membuat semua mata yang memandang merasa iri dan seperti ingin menjadi mereka dan ingin menjadi muda kembali melihat keserasian pasangan ini dan Dewi yang lagi duduk duduk di bale depan salah satu teman kost mereka batuk batuk di buat buat saat Andini sama Arman lewat dan Andini hanya tersenyum dan siap dengan segala ocehan dan godaan mereka.


"Mas jangan lupa balikin tuh temen aku ya !"


"Siap,aku pinjam sampai jam sepuluh sebelas lah"


"Heeeeei...emang aku ini barang apa ? pakai pinjam pinjam segala" Andini melotot dan Arman tertawa.


"Haaaaaaaa...iya lah aku kan pinjam kamu sama teman kamu,sepertinya nggak rela ya tuh teman kamu aku pinjam ?"


"Solidaritas saja takut Mas nya nggak bener namanya kita sama teman sudah seperti kayak saudara saja"


Arman duduk di balik kemudi dan Dini di sampingnya.


"Mas"


"Hemght...apa sayang ?"


"Apa Mas bahagia ?"


"Kenapa kamu bertanya begitu sayang ? tentu saja bahkan mungkin aku orang paling bahagia"


"Kenapa ?"


"Aku ingin menjadi istrimu Mas"


"Tentu sayang aku juga ingin menjadi suamimu dan Bapak dari anak anak kita,kita jalani prosesnya ya,habis kamu selesai sidang aku ingin kita ke rumah orangtua kamu gimana kamu setuju ?"


Arman memegang tangan Andini dan Andini mengangguk tersenyum.


Arman konsentrasi pada jalan yang akan di laluinya,dan Andini sibuk dengan fikirannya sendiri, tak terbayangkan akan seperti apa reaksi orangtuanya saat dirinya tiba tiba bawa seorang laki laki,akankah orangtuanya merestui mereka ? dan oh iya aku juga belum kasih tahu hubungan ini dengan Teh Rini,entah kapan waktu yang tepat untuk memberitahukannya pada Teh Rini.


Sampai di tempat tujuan Arman turun duluan di susul Andini, bioskop 22'paling terkenal elite di salah satu Mall paling terkenal di kota Bandung siapa yang tak tahu,Andini bergelayut manja di tangan Arman dan Arman seperti seorang pemeran utama dalam sebuah cerita film malam itu yang habis memenangkan peperangan di sambut dan di gandeng seorang putri yang sangat cantik dan dengan bangganya melewati berpasang pasang mata yang memandangnya dan kelihatan semua merasa iri pada kemesraan mereka.

__ADS_1


__ADS_2