
Arini terbangun,terdengar lantunan adzan subuh yang melengking dari kejauhan,Arini mencari ponselnya takut ada kabar dari rumahsakit tapi mendapatkan ponselnya dalam keadaan lowbat,posisi badannya menyamping,lalu bangun perlahan terlihat Bi Minah masih tertidur di kasur busa lipat di bawah tempat tidurnya, Arini bersyukur memiliki Bi Minah hatinya begitu tentram.
Mendengar suara Arini bangun Bi Minah juga bangun.
"Bi,sudah bangun ?"
"Iya Neng"
"Bibi denger ponsel saya bunyi malam ?"
"Iya Neng,tapi Neng Rini sudah terlelap,mau bangunin bibi kasihan,jadi bibi angkat aja telephonnya,telephon dari Neng Dini, Bapak sama Ibu udah datang tapi jagain Mas Hadi di rumahsakit nggak kesini dulu,terus Mas Hadi mulai berangsur sadar katanya dan memanggil manggil Neng Rini katanya"
"Ya ampun Bi,kenapa nggak bangunin saya Bi ? Alhamdulillah Ya Allah terima kasih"
Arini antusias,Arini terisak kembali, kedua tangannya menutupi mukanya,Bi Minah mengusap usap punggungnya, ikut merasakan apa yang di rasakan Arini.
"Tapi Neng Rini harus istirahat,juga bayi yang di kandung Neng,Bibi khawatir kalau Neng kecapaian takut malah bahaya"
"Ya udah Bi, saya langsung mau ke rumahsakit pagi ini"
"Iya Neng,tapi hati hati turunnya"
Bi Minah membimbing tangan Arini turun dari tempat tidurnya,terlihat mulai susah untuk melakukan aktifitas keseharian,dengan perut yang membuncit tertatih Arini menuju kamar mandi.
Bi Minah membereskan tempat tidurnya dan melakukan sholat dulu lalu turun ke dapur...
Terlihat Arini lagi membereskan isi tasnya kelihatan segar setelah mandi.
"Neng sarapan dulu sama minum susu ya,nanti datang ke rumahsakit udah nggak usah nyari lagi makanan"
"Tapi aku belum lapar Bi...nanti aja"
"Ah Neng jangan gitu, Bibi udah siapin semuanya,kasihan bayi di perut Neng,jangan ikuti keinginan sendiri,tapi fikirkan kehidupan di perut Neng"
__ADS_1
Arini mengusap perut besarnya,dan tersenyum mengangguk ke Bi Minah.
Dengan taksi Arini sampai di rumahsakit,tak menghiraukan orang yang lalu lalang di koridor lorong panjang rumahsakit,
keinginannya hanya bertemu dengan suaminya dan melihatnya setelah tak sadar tiga hari lalu.
Di luar kamar suaminya di rawat Arini di sambut Adiknya Andini dan Ibunya mereka berpelukan, isak mereka mengharu biru, suasana hati mereka yang berduka tak bisa di sembunyikan.
Apalagi seorang ibu yang melihat anaknya hamil tua,suami kecelakaan,bolak balik rumahsakit bukan pekerjaan mudah, belum lagi memikirkan pekerjaan dirinya dan suaminya yang mau tidak mau menjadi beban di pundaknya.
"Maafkan Rini Bu,Rini membuat repot Bapak sama Ibu"
"Nggak ada repot untuk seorang anak Rin, kuatkan hatimu,jaga kandungan dan bayimu istirahat, makan yang teratur itu aja, Mas mu kan ada dokter yang menangani"
Arini mencoba tersenyum manggut-manggut di depan ibunya,ibunya mengusap ngusap punggungnya.
"Temui lah suamimu, biarin Bapakmu istirahat,dari semalem terus memanggil dan yang di sebut hanya namamu.
Ibunya membimbing Arini berjalan ke pintu di depannya dan mengetuk pintu,
Tak ada kata,percakapan atau apapun selain tangis Arini dan cucuran air mata Hadi,Arini memeluknya hati hati,sebelah tangan kanan Hadi mengusap ngusap kepala Arini dan membelai pipinya,terus mengelus perutnya dan berusaha menciumnya tapi tak terjangkau.
"Rin,Aku minta maaf,aku tak bisa menjagamu,aku membuat kamu sama bayimu capek"
"Mas...,Mas nggak usah minta maaf semua ini cobaan untuk kita...ini takdir kita"
"Aku jadi orang yang lemah Rin,aku cacat,sebelah tangan dan kakiku tak berfungsi,aku nggak bisa jalan"
"Ssssssssst...Mas jangan ngomong apapun,tenangkan hati Mas,jadikan aku dan bayimu ini motivasi mu untuk sembuh"
"Aku mau pulang Rin"
"Iya Mas,kalau dokter mengijinkan kita pulang,kita pulang ke rumah kita,Mas pasti sembuh"
__ADS_1
"Semalem bapak yang nungguin Aku Rin, Aku sedih belum bisa bahagiain kamu,juga semua keluargamu,keadaanku malah seperti ini"
"Mas jangan berfikiran apapun,tenang fokus pada kesembuhan Mas,semua kita akan lalui bersama sama"
"Maafkan aku Rin,maafkan papamu anakku"
Hadi memeluk perut Arini dengan berlinang air mata.
"Akan aku cari si pengecut itu,akan aku temukan orang gila itu"
"Mas,tenang,sabar untuk apa mendendam ? biarin jangan membuat hati kita terbebani dengan dendam,semua akan terhukum dengan sendirinya, buang perasaan itu,biarkan hati kita tenang"
"Aku nggak rela Rin...orang gila itu membuat aku hilang kesempatan mendampingimu saat saat kamu membutuhkan ku"
Hadi memukul mukul tangan kanannya ke kasur,sebelah tangan kirinya masih di balut perban,mukanya memperlihatkan kemarahan pada si pengendara ugal ugalan yang menabraknya,begitu geramnya hingga giginya di tekan atas bawah menimbulkan suara gemeretuk.
"Sudahlah Mas,nggak baik seperti itu,ingat sebentar lagi kita punya anak,anak kita Mas,ada kebahagiaan lain datang setelah satu kebahagiaan kita hilang"
"Aku benci orang gila itu,aku benciiiii...apa yang bisa aku lakukan untukmu sekarang Rin ? suatu saat aku akan menemukannya, dan menempatkannya di tempat yang semestinya !"
Hadi menyandarkan kepalanya ke bantal,air matanya bercucuran nafasnya tersengal sengal sungguh emosi yang tak tertahankan tapi kemampuan tak ada,Arini menyeka muka suaminya dengan berlinang, mengusap usap dan memeluknya,berusaha menenangkan,dan memberi semangat juga kekuatan.
"Mas kita masih punya keluarga,ada Ibu Bapak dan yang lainnya semua memberi semangat untuk kita, apa yang Mas risau ? aku masih bisa bekerja,Mas semangat aja untuk bisa sembuh,setelah luka luar kering kita pulang,kita pulihkan semua di rumah"
"Aku takut Rin,aku takut tak bisa berjalan lagi"
"Ssssssssst....jangan bicara begitu,kita berserah diri pada Yang Kuasa Mas,aku menyayangimu,tak mungkin aku meninggalkanmu"
Arini begitu memahami kegalauan hati suaminya,semua begitu cepat merenggut kebahagiaan mereka,Hadi tak bisa membayangkan masa depannya seperti apa,hidup di tempat tidur dan kursi roda dan merepotkan semua orang,dan tak bisa apa apa hanya di layani.
Sementara istrinya sekarang lagi hamil tua,buah cinta mereka, anak yang di tunggu tunggunya.
Keputusasaan,kekecewaan,penyesalan,kegalauan,kemarahan,kebencian dan fikiran fikiran lain terus melandanya Hadi tak bisa berfikir jernih...dirinya belum terbiasa menjalani keadaan seperti sekarang ini.
__ADS_1
Arini sebagai istri saatnya mengambil peran,menguatkan suaminya membangkitkan kembali semangatnya untuk sembuh,menjadi tulang punggung keluarga itu sudah pasti,menjadi orang yang kuat tegar dan mandiri tanpa peranan suaminya sementara,
dan yang terpenting adalan menjalankan roda usahanya agar tetap berjalan stabil.