Meniti Pelangi

Meniti Pelangi
Happy Engagement


__ADS_3

Segala persiapan telah dilakukan untuk menyambut tamu keluarga calon besan yang akan datang. Keluarga orangtua Arini dan kerabat dekat juga tetangga ikut membantu.


Arini melihat binar kebahagiaan di wajah adiknya Andini, mungkin sama seperti dirinya dulu merasa bahagia saat datang hari dimana cinta mereka direstui kedua orang tua dan itulah saat yang paling bahagia mereka.


Arini ikut tersenyum juga, seakan hanyut dalam kebahagiaan yang dipancarkan dari wajah Andini.


Seperti jadinya pulang segala sesuatu diurus sendiri begitupun Andini sampai semuanya telah siap dan selesai hari telah menunjukkan jam 16 lebih.


Acara di mulai pukul 19:00 Arini masih punya banyak waktu untuk berjalan-jalan bersama Mas Hadi dan Bima di kolam ikan dan halaman yang luas samping dan belakang.


Dengan ditemani Bapaknya mereka bercengkrama ngobrol penuh keakraban, apalagi ada penghangat di antara mereka yaitu cucu pertama kesayangan semuanya Bima.


Sesekali Arini melihat kesibukan di dapur ada kerabat dan tetangga nya yang ikut membantu menyiapkan makanan untuk penyambutan alakadarnya.


Juga tak henti-hentinya Arini mengamati wajah Andini yang begitu gembira seakan mewakili dirinya yang turut berbahagia atas segala yang akan dicapai adik perempuan satu-satunya itu.


Terlihat Andini tak lepas dari ponselnya yang sesekali berbunyi dan mengangkatnya sambil bicara, entah apa yang dibicarakannya tak begitu jelas kedengaran dan Arinipun tak ingin tahu mungkin tidak jauh dari kata-kata mesra antara pasangan yang lagi kasmaran.


Andini semoga masa depanmu cerah dan bahagia secerah pancaran mukamu saat ini, semoga kebahagiaan itu selalu menyertaimu disetiap langkah langkah ke depannya nanti.


Begitulah doa tulus seorang kakak kepada adiknya yang ingin melihat adiknya bahagia.Yang ingin melihat adiknya sukses dalam segala hal syukur kalo melebihi dirinya dalam segala hal dan pencapaian yang lebih dalam hal lain.


Sebenarnya Arini ingin bertanya lebih jauh terhadap Andini tentang seseorang calon tunangannya yang belum pernah dikenalkan pada dirinya sama sekali.


Tetapi entah kenapa Andini seperti menghindar dan mengalihkan saat dirinya bicara dan bertanya tentang sosok seorang yang kaya, baik hati, dan mencintainya dan juga dicintai Andini.


Bukan soal siapa calon tunangannya Andini, tetapi Arini meraba seolah apa yang dilakukan adiknya ada keganjilan yang tidak bisa diungkapkan Arini terhadap siapapun hanya dirinyalah yang bisa merasakan itu.


Dari mulai Andini pindah kost-an, menempati satu ruko yang begitu mewah dengan fasilitas yang komplit dan usaha yang bukan modal sedikit, terus Andini tak pernah datang ke rumahnya lagi tak pernah meminta jatah bulanan nya lagi dan otomatis sejauh ini hubungan mereka seakan putus komunikasi putus kunjungan karena kesibukan.


Sekarang pun begitu saat tunangan Andini seakan terburu-buru tanpa pemberitahuan dari awal, wisuda minggu besok dan tunangan hari ini. Begitu banyak yang tidak diketahui Arini tentang adiknya selama ini.


Ibunya menghampiri Arini sambil membawa kue yang baru matang dari dapur.

__ADS_1


"Rin, Arya tahun ini lulus SMA dan katanya mau kuliah di Bandung juga, walaupun Ibu sangat sedih ditinggalkan semua anak-anak Ibu tapi demi masa depan anak-anak Ibu, Ibu rela mungkin Ibu sama Bapak yang akan sering berkunjung pada kalian jika suatu saat nanti Arya juga sudah bisa kuliah di Bandung.


"Nggak apa-apa Bu malah Rini senang kalau Arya bisa tinggal di rumah Rini sekalian bisa menjadi teman buat Bima. Walaupun itu belum bisa dipastikan tetapi Rini akan mencoba bertanya dulu biar Arya bisa tinggal di rumah Rini sama Mas Hadi."


"Keinginan iybu sama Bapak juga begitu Rin. Ibu merasa tidak tentram seandainya Arya kost sendiri bukannya tidak diajarkan kemandirian tetapi perasaan Ibu melepaskan anak bungsu satu-satunya laki-laki begitu berat rasanya Rin."


"Ibu harus belajar mengikhlaskan segala hal termasuk pada anak-anaknya karena tidak akan selamanya anak-anak itu menjadi milik Ibu, akan ada saatnya anak-anak Ibu menjadi milik orang lain, menjadi milik suaminya menjadi milik mertuanya menjadi milik masyarakat di lingkungannya dan sekaligus menjadi milik anak-anaknya."


"Iya Rin Ibu mengerti, cuman Ibu titipkan Arya sama kamu sebagai anak yang paling besar ganti dari Ibu sama Bapak ganti sebagai orang tua adik-adikmu adalah kamu."


"Iya Bu, Rini mengerti semoga Arini bisa memegang amanat Ibu dan Bapak dan nanti akan Rini dibicarakan juga sama Mas Hadi. Sebenarnya Mas Hadi tidak akan menjadi masalah mungkin dia akan bersenang-senang saja."


"Ibu sangat berterima kasih kepadamu Rin, sampai sekarang kan Andini sudah lulus kamu telah begitu banyak membantu dalam segala hal terhadap adik-adikmu, terutama dalam hal pengawasan yang mungkin Ibu sendiri tidak bisa."


Deg! seperti ada yang menohok perasaan Arini saat Ibunya membahas tentang pengawasan terhadap adik-adiknya, terutama Andini.


Yang pada kenyataannya Andini lolos dari pengawasannya. Bahkan sampai sekarang Arini tidak tahu kapan Andini mulai pacaran dan sampai sekarang pun mereka mau serius tunangan Arini belum tahu siapa sosok calon tunangannya itu.


"Mama, Mama, Bima mancing dapat ikan gede."


"Oh ya? siapa yang mancing?"


"Papa."


"Iya Rin, sudah di kasih sama Bi Minah biar di goreng." Hadi duduk di samping Arini sambil merengkuh pundaknya.


"Bima mau makan ikan goreng, Mama."


"Iya sayang, tapi Bima Mandi dulu ya, tuh sudah sore terus nanti Bima makan ikan goreng disuapin sama Mama ya?"


Bima mengangguk senang, dan loncat-loncat di atas sofa.


"Bima bobonya nanti sama Tante ya." Andini datang menangkap dan menggendong juga menciumnya.

__ADS_1


"Boleh nggak Ma?" Bima menatap Mama sama Papanya.


"Boleh banget sayang, biar Papa sama Mama mau berduaan saja, tapi kalau tengah malam Jangan bangun dan minta pindah ya?"


Bima diam, antara keinginan dan keberaniannya, belum bisa memilih.


"Dini kok kamu belum dan dandan sih?"


"Maghrib dulu Teh, nanti akan ada penata rias ke sini."


"Kamu untuk acara gini juga mengundang penata rias?"


"Mas ku yang minta hehe..."


"Mama sih ketinggalan, zaman sekarang itu zaman posting, apa-apa di posting makan di posting, jalan-jalan di posting apalagi acara seperti tunangan dan pernikahan semua sudah umum mengundang penata rias, penata busana itu." Hadi mengucek kepala istrinya.


Andini tertawa, melihat Kakaknya merasa aneh aja, mungkin pikirnya dandan biasa saja atau dirinya yang dandani adiknya Andini itu sudah cukup, tetapi bagian Andini dan Arman itu adalah sesuatu yang keharusan untuk menjaga penampilan mereka berdua.


"Oh ya sudah syukur atuh kalau ada penata riasnya, Teteh juga numpang dandan biar cantik lagi heee..." Arini mendelik pada Hadi suaminya.


Hadi tersenyum saja melihat kakak adik yang begitu akrab.


"Yuk Dek Bima, kita mandi dulu biar nanti Mama ikutan dandan sekalian."


***


Happy reading dan tinggalkan jejak mu ❤️🙏


...Sambil nunggu Meniti Pelangi up,...


Rekomendasi Novel yang sangat bagus DIA JUGA SUAMIKU karya terbaik Nazwa Talita, jangan lupa baca, dan tinggalkan jejak fav, like dan vote nya 🙏


__ADS_1


__ADS_2