
Sepeninggal Arini dan Andini Bi Minah dengan cemas melongok ke kamar Mas Hadi beberapa kali tapi belum ada tanda tanda Mas Hadi bangun,pintunya di buka lebih lebar,Bi Minah menghampiri ranjang Hadi dan melihat Hadi sudah bangun.
"Mas sudah bangun ?"
"Ya Bi,Arini mana ?"
"Oh eeeh...Neng Rini sama Neng Dini ke rumah sakit Mas,Neng Rini perutnya mulai berasa katanya,mulai mules mules sejak bangun tidur"
"Hah ??? ya ampuuuuuun Bi kok nggak ngasih tahu aku ? Istriku mau melahirkan,ya Allah Bi kapan Rini berangkat,terus sama siapa ?"
"Neng Rini berangkat sama Neng Dini,sudah Bibi larang bawa mobil sendiri suruh telephon Pak Priyo,tapi Neng Rini memaksakan diri,bawa mobil nyetir sendiri dalam keadaan kontraksi"
"Arini....maafkan aku.....huuuuuuuu.....aku tak berguna...maafkan aku...aku ini suami macam apa ? Bi kenapa nggak bangunin aku ?"
Hadi menangis sejadi jadinya, tangan kanannya meninju ninju kasur,airmatanya bercucuran,Ia berusaha bangun menyenderkan kepalanya di bantal yang lebih tinggi,Bi Minah membantunya meletakan bantal di kepala Hadi.
"Sabar Mas,maafkan Bibi, Bibi nggak bisa apa apa, Bibi hanya di suruh menjaga Mas Hadi,Neng Rini orangnya gitu nggak mau ngerepotin orang lain,selagi bisa sendiri dia lakukan sendiri"
"Apa yang bisa saya lakukan Bi ? bagaimana ini,istri sendiri mau melahirkan saya tak tahu, minimal saya menelephon orang atau siapa aja"
"Kita berdo'a aja Mas,semoga Neng Rini di beri kelancaran"
"Iya Bi,semoga semuanya lancar,
Bi tolong ambilkan hp saya di atas meja rias"
Hadi mencari kontak di ponselnya lalu menelephon seseorang,terlibat pembicaraan dan menutupnya.
"Bi tolong aku mau ke kursi roda, aku mau ke kamar mandi,sama mau ganti baju tolong siapin"
Bi Minah membantunya dengan telaten, sampai Hadi duduk di kursi roda dan mendorongnya ke kamar mandi.
Sekeluarnya Hadi dari kamar mandi Bi Minah membawa baju salin Hadi dan membantu memakaikannya.
__ADS_1
Bi tolong nanti buka pagar depan Pak Priyo mau datang.
"Baik Mas"
"Bi saya mau ke rumahsakit, sama Pak Priyo tolong jaga rumah"
"Mas Hadi sudah kuat, Bibi khawatir Mas"
"Bibi nggak usah khawatir,saya pergi sama Pak Priyo kok bukan sendiri"
Sampai di rumah sakit menjelang malam,Hadi di dorong Pak Priyo menuju lobby rumah sakit,di lobby ketemu sama Andini yang antusias menyambut Hadi dan Pak Priyo.
"Mas syukurlah bisa ke sini, baru saja saya mau nelephon Mas Hadi,Teteh udah lahiran anak Mas sama Teteh laki laki, Mas Hadi nggak apa apa bisa ke sini sudah kuat ?"
"Dini bawa saya ke kamar kakakmu"
"Iya Mas,saya baru mau nelephon,suruh Teteh ngabarin Mas,bayinya masih di ruang perawatan,sehat Alhamdulillah,kalau Teteh baru masuk ruang perawatan kayaknya masih kelelahan dan lemah,semoga datangnya Mas ke sini menjadikannya cepet pulih"
Tak sabar Hadi ingin segera bertemu istrinya juga anaknya,dorongan Pak Priyo di kursi rodanya terasa lambat dirasanya,juga Andini yang ngomong nyerocos seakan samar di dengarnya.
Pintu terbuka mereka masuk ke ruangan yang diisi 2 orang pasien, Arini sedang makan di tempat tidurnya di suapi suster,Hadi menatap istrinya dengan perasaan haru biru,hatinya sakit dengan keadaan dirinya yang tak berdaya untuk istrinya,Arini yang berjuang sendiri tanpa bantuannya,hanya dukungan moril yang bisa Ia berikan,tanpa bisa melakukan apa apa.
Arini masih kelihatan pucat dan cape,tapi gurat kebahagiaan terpancar dari mukanya,setelah berkutat seharian dengan perasaan sakit mules perutnya,terbayar dengan melihat bayi laki laki yang nangis dengan kencangnya.
Arini mengangguk pada suster dan menyudahi makannya,dan suster pun minggir memberi jalan pada yang datang.
"Rin sayang,maafkan aku...ya ampun Rin kenapa kamu ini,apa apa di lakukan sendiri,aku sampai nggak tahu kamu pergi ke rumahsakit,hamil itu dalam kondisi selemah lemahnya perempuan"
"Ssssssssst,untuk apa Mas minta maaf ?Anak kita sudah lahir Mas sesuai USG laki laki,sudahlah saya juga minta maaf waktu itu nggak pamitan, takutnya Mas malah panik,yang aku fikirkan hanya bagaimana aku bisa segera sampai di tempat ini,nggak mau nunggu siapapun"
Arini berbicara dengan berlinang airmata,Hadi dengan berlinang airmata juga memegang tangan Arini dan menciuminya,
seakan tak ada kata lagi untuk keduanya.
__ADS_1
"Selamat ya Bu Arini sama Pak Hadi atas kelahiran putranya anda sekarang jadi orangtua"
"Terima kasih Pak Priyo"
"Saya selalu menunggu telephon dari Bu Arini setiap saat,tapi saya kecolongan Pak Hadi"
"Nggak apa apa Pak Pri,saya masih bisa melakukan sendiri,saya di bantu adik saya,yang penting sekarang sudah selamat Alhamdulillah, kelahiran normal memang tak bisa di tentukan pasti kata dokter ,hanya prediksi dan itu bisa maju juga bisa mundur dari tanggal perkiraan,sudahlah semuanya lancar"
Suster datang dengan bayi mungil di gendongannya,lalu menyerahkannya pada Arini untuk pertama kalinya Arini mengendong buah hatinya di saksikan Hadi dengan berlinang airmata,mereka menciumnya bergantian berkali kali tanpa ada kata,hanyut dengan kebahagiaan dalam hati masing masing, betapa ingin Hadi menggendong buah hatinya,tapi Ia tak berdaya,hanya sebelah tangannya yang bisa bergerak, yang kirinya di gendong ke lehernya dengan memakai kain dan penyangga agar tidak berubah posisinya.
"Bu Arini coba untuk menyusui asi eksklusifpertama kalinya ya...biar bayinya terbiasa belajar mengisap"
Arini mencoba menyusui walau kelihatan susah,di coba dan di coba lagi dengan sabar suster memberikan petunjuk cara menyusui yang benar sampai bayinya mau menyusu,
Hadi mengusap usap kepala bayi mungilnya.
"Mas sekarang pulang aja istirahat,saya ada suster sama Andini di sini nggak apa apa yang penting sekarang sudah selamat ya, Mas harus istirahat ingat kesehatan Mas"
"Aku mau di sini aja Rin nemenin kamu,aku belum puas melihat buah hatiku"
"Mas,tak ada yang bisa di lakukan di sini,pulanglah istirahat besok atau lusa aku udah bisa pulang kok,tolong Mas jangan ajak saya berdebat untuk hal ini,ini demi kebaikan semua,kasihan Bi Minah mungkin cemas sendiri di rumah,saya juga perlu istirahat untuk pemulihan"
Arini menatap Hadi sambil mengelus rambutnya.
"Baiklah sayang,tapi kamu bener nggak ada yang di butuhkan lagi ?"
"Iya Mas,ada Andini kalau saya butuh apa apa,yang terbaik buat Mas saat ini ya di rumah jangan lupa minum obatnya"
"Ya Rin kamu istirahat,aku akan baik baik saja,cepet pulih ya biar cepet pulang"
Arini menatap kursi roda yang membawa suaminya keluar di dorong Pak Priyo,Arini menghela nafas panjang,fase kehidupannya jauh dari bayangannya selama ini,suami yang gagah tinggi tampan berkharisma sekejap tak berdaya dengan keadaan bergantung pada orang lain,sungguh sesuatu yang membuat hatinya teriris,saat dirinya butuh butuhnya kehadiran seorang suami terpaksa semua di lakukan nya sendiri memaksakan diri untuk mandiri.
"Bimantara,semoga kehadiranmu membawa secercah kebahagiaan bagi semua"
__ADS_1
Arini menciumnya sekali lagi kening bayinya sebelum di serahkan ke suster untuk di tidurkan kembali di box nya...