
Datang ke kantornya Arini masih terlalu pagi kurang dari jam seharusnya Ia mulai kerja,
semangat yang tinggi,semangat kerja dan jiwa mudanya telah menuntunnya,kalau sudah beres semuanya ngapain juga di rumah,kalau di kantor mungkin ada yang bisa Ia kerjakan dan selesai lebih cepat itu akan lebih baik.
Arini menganggap kantornya rumah keduanya,karena berapa persen waktunya di habiskan di kantornya,untuk itu senyaman mungkin Ia mengatur ruangan tempatnya bekerja.
Arini melihat agendanya yang Ia tulis sendiri hari ini, memeriksanya satu persatu, kayaknya hari ini agak longgar Ia berencana sore sore mau ngajak Lusy belanja sambil mencoba mobil kantornya... ya ya tepatnya seperti itu,sepertinya Ia sudah berani bawa mobil walaupun masih pelan pelan.
Teringat mobil orangtuanya, mobil tua jaman dulu tapi nyaman dipakainya karena terawat bodynya bening,walau mesinnya terkadang batuk batuk,
Arini bersyukur orangtuanya sedikit mapan bisa memiliki mobil yang membuat pintar anak anaknya minimal bisa mengenal kendaraan tidak buta sama sekali.
Hanya perlu kursus sebentar penyesuaian,karena dasarnya sudah menguasai semuanya lancar.
Arini melihat jam di pergelangan tangannya baru jam delapan kurang, Arini teringat sahabatnya Arman lalu ambil hp nya.
nuuuuuut.... nuuuuuut...
"Hai Rin,apa khabar,pagi pagi dah nlp ada perlu nih"
"Baik,kamu gimana,mau aja nelpon emang nggak boleh ?"
"Aku juga baik baik aja, wah enggak banget setiap saat juga boleh kok, Aku baru mau berangkat tapi santai aja"
"Di kira belum bangun,tadinya Aku mau bangunin kamu"
"Udah doooong, Aku kan disiplin sekarang,nggak mau kalah sama Bu Arini"
"Ya udah kalau sehat sehat mah syukur hanya pengen say hello aja heee..."
"Iya iya makasih ya Rin"
"Untuk apa ? Aku kan nggak ngasih apa apa"
"Oooh eeeh iya untuk nelpon dan khabarnya,Eeeh Rin gimana kalau nanti makan siang kita makan bareng mau ?"
"Eeemh Aku udah ada janji sama temenku Lusi mau keluar urusan cewek"
"Yaaaaah....ya udah atuh kapan kapan aja"
"Iya Man"
Arini menghela nafas dalam dalam lega rasanya mendengar suara Arman dan dia baik baik aja
"tok tok tok"
"Ya masuk"
"Pagi Bu Arini"
"Ya Lus pagi juga"
Lusy datang dan biasa membawa map map di tangannya.
"Aku kangen siaran loh Lus"
"Siaran aja Bu,ntar Lusy sampai kan ke bagian penyiaran biar di atur"
"Ya tapi nanti nanti aja,kalau waktunya pas,sore ini kamu nggak kemana mana Lus ?"
"Enggak Bu,mau ajak nonton ya ?"
"Bukan,mau jalan jalan aja aku mau di temenin beli sesuatu"
__ADS_1
"Yaaaaaah di kira nonton heeeee..."
"Bukannya kalau nonton mah enakkan sama pacar ? bukan sama temen"
"Habis saya baru putus bu heeeeee..."
"Putus mulu siiih, kapan seriusnya ?"
"Tau Bu,susah cari yang bener bener cinta dan sayang"
Arini menatap temannya,yang sudah seperti adiknya sendiri,memang bener Lus susah dalam hati Arini.
"Ya udah,perbaiki yang salahnya,yang baiknya pertahankan dan tambah di perbaiki lagi,asal jangan putus asa aja ya"
Arini memberi nasehat sedikit sebagai turut prihatin atas masalah sahabatnya.
"Enggak Bu lah,semangat terus mencari pengganti yang lebih baik lagi"
"Gitu doooong..."
Lusy keluar sambil terkekeh,Arini menarik nafas berat,sambil membetulkan kacamatanya Arini menarik map satu persatu dan mulai membukanya.
Sampai jam makan siang Arini nggak keluar keluar dari ruangannya,Selesai menunaikan sholat duhur Arini malah melamun melihat lewat jendela kaca ruangannya,Parkiran,mobil berjejer rapi,jalan raya,orang lalu lalang,perumahan elite,air mancur,waterpark di sampingnya,pepohonan yang kelihatan dari atas lancip lancip berjejer rapi.
Perasaannya nggak lapar,pagi cuma sarapan roti selai dan minum air putih aja,
Nanti aja sekalian keluar cari makanan.
Teringat Mas Hadi, Arini senyum sendiri teringat malam,tlp nya di tutup sepihak,jangan jangan nih orang belum bangun fikir Arini,atau jangan jangan ngambek sama dirinya,ah biarin aja aku mau tau ngambeknya seperti apa.
Sampai jam 3 an Arini duduk berkutat dengan map,laptop dan hp nya,Arini berdiri meregangkan otot dan sendi sendinya terasa letih karena malam kurang tidur,waktu tidurnya hanya 4 jam mungkin kurang,Arini hanya tersenyum mengingatnya, aaaah gara gara Mas Hadi ini semua.
Arini ke ruang karyawan mencari Lusy,dan Lusy udah siap,mereka berjalan berjejeran menuju ke lift sambil ngobrol.
"Emang Bu Arini sudah lancar Bu ?"
"Insya Allah lancar"
Lusy berbinar dan antusias banget, Arini hanya tersenyum.
Mobil keluar parkiran pelan banget,sampai di jalan raya jalan yang lebar Arini mulai tenang juga terbiasa.
"Kamu juga tuh belajar bawa mobil,kalau udah bisa mah gampang"
"Aduh Bu, bawa motor juga masih empot empot an saya mah heeee..."
"Pelan pelan aja,semua di jalani serius jangan takut duluan"
"Iya ya Bu"
"Ngomong ngomong gimana ceritanya soal kamu putus itu ?"
"Alah Bu jangan suruh saya cerita males banget,kalau soal selingkuh"
"Heee..."
"Ya sudah nggak usah cerita"
Mobil belok ke kiri yang ada bacaan pusat perbelanjaan terbesar di kota Bandung, dengan hati hati Arini memarkir di lokasi parkir yang tersedia.
Asyik berbelanja,pindah dari outlet satu ke yang lainnya mencoba ini coba itu nyari yang lainnya akhirnya sore juga.
"Cape banget ya Lus..Aku lapar banget cari makanan yu"
__ADS_1
"Ayo sama Bu aku juga"
Berdua menenteng belanjaan,lumayan banyak, mereka sepakat makan di warung tenda "bebek bakar pedas gila"
Mereka makan sambil ngobrol,tak henti hentinya,emang sifat wanita kali ya bawel dan banyak omong jadi ciri khasnya.
"Lus,bagaimana pendapatmu soal boss kita Pak Hadinata,menurutmu dia orang seperti apa ?"
"Emang kenapa Bu ?"
Lusi melotot,terus matanya menyipit penuh selidik menatap Arini.
"Yaa aku pengen tahu aja pendapat mu sebagai sesama karyawannya"
Lusi berhenti makan,kelihatan berfikir mencari pendapat penilaiannya pada Pak Hadinata.
"Kelihatannya orangnya baik Bu, ganteng,tegas,tapi seperti menyimpan sejuta permasalahan dan penuh misteri gitu heeee..."
"Heeeee...kayak film aja ada misterinya"
"Emangnya ada apa Bu ?"
"Ssssssssst,saya punya rahasia sama kamu,tapi serius nih hanya kamu yang tahu ya"
"Iya Bu saya janji buat Bu Arini"
Dan Arini pun bercerita alakadarnya secara garis besarnya,Lusi melongo mendengarnya.
"Seperti cerita sinetron Bu"
"Ya begitulah,rumitnya soal hati,
menurutmu aku harus bagaimana Lus ?
Arini menatap Lusi serius"
"Terus terang saja aku nggak bisa berpendapat Bu,
paling kalau aku jadi Bu Arini,aku menjalaninya apa kata kata hati dan perasaan saja"
"Ya,terima kasih Lus setidaknya kamu tak memojokkan aku,bisa berfikir dengan logika yang benar,Dan ingat ya ,sementara hanya kita yang punya cerita ini"
"Siyaaaaap Bu"
Dan merekapun pulang dengan fikiran masing masing
Sampai di pelataran parkiran kantor,Arini memarkir kembali mobilnya dan mereka berpisah,Lusy pulang dengan naik motornya dan Arini pulang dengan naik becak Pak Min,
Hari menjelang senja di musim hujan, cuaca tak menentu kadang gerimis,kadang hujan juga panas,Pak Min mengayuh becak dengan santai irama kretek kretek ban becaknya yang teratur di tambah angin yang semilir membuat Arini mengantukArini tertidur di becaknya.
"Neng Neng,udah nyampe"
Pak Min menepuk dengkul Arini, Arini kaget dan gelagapan.
"Oooh iya Pak,aku sampai ketiduran"
Arini malu sama Pak Min,Pak Min hanya tertawa.
Sampai rumah Arini penat banget akibat kurang tidur,buka kerudung,buka blazernya Arini hanya mengenakan daleman tangtop,teringat belum sholat maghrib Arini ambil air wudhu dulu dan sholat lalu, melemparkan tubuhnya di kasur,
Tiduran ajalah dulu fikirnya nanti bangun baru beres beres.
Arini kecapaian, Arini ketiduran tanpa menghiraukan apapun,kantong belanjaan tergeletak di kursi panjangnya,tasnya tumpah di meja riasnya,sepatu di bawah samping tempat tidurnya,Arini benar benar pules tidur...
__ADS_1