
Pagi pagi Arini membuka matanya masih dalam pelukan suaminya,Arini sadar se sadar sadarnya kalau malam tadi itu benar suaminya,Arini meraba dada suaminya dalam ingatan yang masih ngambang antara yakin dan enggak,ya... itu suaminya telah kembali seperti awal awal pernikahannya,Arini mencoba bangun tapi Hadi menariknya kembali dan memeluknya lagi.
"Mau kemana sayang ?"
"Mau bangun"
"Aku masih kangen sayang"
"Mas, Mas benar udah sembuh ? itu benar yang semalam Mas ?"
"Haaaaaaaa kamu pikir hantu ? Kan itu kado buat kamu"
"Kok Aku nggak di kasih tahu,kalau Mas udah sembuh ?"
"Ya namanya bukan kejutan dong,apa kamu senang ?"
Arini menatap suaminya dalam remang lampu tidur sibuk meyakinkan dirinya,tapi pelukan dan ciuman semalam masih terasa hangatnya,begitu juga Hadi menatap istrinya yang kebanyakan bengong.
Hadi kembali memeluk istrinya,Arini mengangguk sambil tersenyum,dan mereka mengulang kemesraan yang telah lama tidak mereka rasakan,kerinduan yang tak berpadu,rasa yang tertunda keinginan yang tinggal keinginan dan hasrat yang terhalang,dan kini semua seakan telah tergantikan,semua telah terobati,seakan baru kemarin semua itu di kecapnya dan hilang dalam sekejap tapi kini semuanya telah kembali lagi.
Arini bangun agak kesiangan,biarlah kan hari ini tidak masuk kerja,ini hari minggu ingin memuaskan diri di rumah sama suami dan anaknya,buru buru masuk kamar mandi dan menyiram seluruh tubuhnya dengan air lalu sholat subuh terburu buru,Hadi pun demikian dengan pura pura masih memakai tongkat ia juga masuk kamar mandi lalu menyusul Arini sholat Subuh.
Keluar kamar Arini heran kok Bi Minah belum bangun jam segini,biasanya paling gesit kalau soal bangun pagi,apa ia sakit,atau malas malas an saja karena ini hari minggu ? biarin lah kali kali Bi Minah santai kasihan tiap hari paling sibuk di rumah ini.
Arini naik ke lantai 2 mau buka buka gorden kaca atas,sejak hamil dan punya Bima kontan nggak ada yang tidur di atas apalagi tambah suaminya sakit nggak bisa jalan otomatis aktifitas banyak di bawah,setelah buka buka gorden kaca dan mematikan lampunya Arini turun kembali.
Arini melirik kamar adiknya yang nginap dirumahnya belum ada tanda tanda udah bangun,emang itu mah kebiasaan jelek adiknya,kalau belum di bangunin ya nggak bangun bangun alarm ya alarm bunyi dengan sendirinya dan berhenti dengan sendirinya,Arini berniat membangunkan adiknya ke ruangan depan,karena Adiknya tidur di kamar depan,sambil mau buka buka gorden kaca ruangan depan,tanpa sengaja Arini menabrak seseorang di ruangan depan yang masih gelap,kontan Arini menjerit kaget,takut,syok dan gugup luar biasa dan ruangan masih gelap.
"Astagfirullah ya ampuuuuun,aaaaaaah...
Mas, Mas tolong toloooooong... ada orang di depan sini"
Tak ada yang keluar satu orangpun,Arini masih dalam posisi jatuh terduduk, kakinya lemas tungkainya gemetaran suaranya parau tercekat di tenggorokan,airmatanya mulai keluar kedua tangannya menutup mukanya fikirannya jauh melayang ke hal hal buruk akan menimpa dirinya dan...trek saklar lampu ada yang memijit dan tereng....terang semuanya, di depannya ada Mas Hadi berdiri tanpa tongkat penyangga badannya tersenyum mengulurkan tangannya,di samping kanan Adiknya Andini tersenyum juga memegang kue dengan lilin diatasnya,samping kiri Bi Minah tersenyum juga.
"Selamat ulang tahun sayang,maafin kita ya...ayo berdiri jangan duduk aja"
Hadi berjalan sempurna lalu jongkok,Hadi menghampiri istrinya mengulurkan kedua tangannya membantu Arini berdiri,Arini terkesiap melihat Hadi berjalan menghampirinya tanpa tongkat penyangga lagi,Arini dan Hadi berdiri berpandangan dan berpegangan tangan,tangis Arini tumpah sambil memeluk suaminya antara percaya dan enggak.
Sebenarnya keheranan itu udah ada dari semalam,suaminya tak seperti biasanya,hanya tidur terlentang atau menyamping,lalu hanya bisa mengusap usap rambutnya tapi malam tadi begitu semangat dan bergairah,kehangatannya telah kembali,walau Arini agak ragu takut malah nambah sakit suaminya,tapi Arini merasakan sendiri suaminya telah sembuh walau tak di ungkapkan dan hanya ada dalam hati dan pikirannya.
"Apa arti semua ini ? Kalian semua tega ngerjain aku hiks hiks...hu hu...kalian sekongkol merahasiakan semuanya awas kalian semua"
__ADS_1
"Selamat ulang tahun kami ucapkan...
selamat panjang umur kita kan do'a kan
selamat sejahtera sehat sentosa...
selamat panjang umur dan bahagia..."
"Nyalain lilinnya Tante Dini"
"Ya Mas"
"Tiup lilinnya tiup lilinnya tiup lilinnya... sekarang juga sekarang juga...sekarang juga"
"Tiup, tiup tiup....."
"Berdo'a dulu ayo kita semua berdo'a dulu"
Arini meniup lilin dengan berlinang airmata yang sebelumnya berdo'a dulu mengucap syukur atas semuanya.
"Terimakasih semua,aku nggak pernah ulangtahun,kok sekali ulangtahun bikin jantung mau copot"
Bima yang denger denger ada berisik bangun juga sendiri dan keluar dari kamarnya menghampiri yang lagi haru biru.
"Hehehe ya ampun Bima sini sayang,ayo nyalain lagi lilinnya Tante Dini biar Bima juga meniup lilinnya"
"Ayo tiup..."
"Puh puh...hore Bima ulang tahun"
"Haaaaaaaaaaaaaaa..."
"Ayo semua pada duduk saya mau minta pertanggung jawaban kalian semua,ini idenya siapa hayo ?"
"Ini semua idenya Bima Rin..."
"Hah Bima ?"
"Maksudnya Papanya Bima heeeeee..."
"Haaaaaaaa"
__ADS_1
Andini tertawa merasa menang dan sukses ngerjain kakaknya,dan dalam hatinya ia juga merasakan kebahagiaan itu,gimana tidak dirinya yang mendampingi kakaknya saat kakaknya dalam masa masa sulit.
"Maafkan kami semua Rin,kami semua sayang kamu Aku tak bisa ungkapkan rasa bahagia ini dan kami hanya menunjukkan kebahagiaan dengan cara ini"
"Sudah saya maafkan dan terimakasih untuk Mas Hadi kejutannya berhasil banget,juga buat Adikku Dini kerjasama yang baik,juga Bi Minah pendukung yang baik pula."
"Rin sebenarnya aku udah sembuh dari beberapa minggu yang lalu walau jalan masih belum bisa lama lama dan jauh,aku terapi luar rumah sakit bersama Pak Priyo di luar sepengetahuanmu,perkembangannya begitu pesat sengaja aku ingin membuat kejutan di hari ulang tahunmu,begitulah ceritanya.
"Traktir traktir...makan di luar dong Teh heee..."
"Iya,siap pilih sesukamu tempatnya karena kurasa kejutan kita ini berhasil banget,mama Bima syok tingkat tinggi jadi kita refreshing Terimakasih ya Dini Bi Minah juga, dan ini kejutan luar biasa dan kebahagiaan yang tak terhingga,sekali lagi selamat ulangtahun buat istriku tersayang do'a terbaik untukmu"
Hadi mencium kening istrinya dan memeluknya penuh perasaan.
"Ma mama potong kuenya Bima mau Ma"
"Boleh sayang"
Sekelumit kisah di jalan hidupnya telah terlewati,haru biru semua telah di rasakan dan ragam kejadian membuat pendewasaan dirinya dalam menapak kehidupan,menjadikan Arini lebih tegar menata hati dan memanage perasaannya.
Yang tak di sangka dan jauh dari perkiraannya kesembuhan suaminya adalah sesuatu kejutan yang tak terkira,semua diluar dugaannya,hatinya seakan mau meledak dan tiada kebahagiaan lain selain belahan hatinya bisa beraktifitas kembali,terasa hidupnya berwarna dan bersinar lagi seperti mentari yang memancarkan energi terang.
Apa yang di rasakan nya kini tak ada lagi selain kebahagiaan,tak terbayangkan masa masa sulit di belakangnya semua terlewati sudah,seperti mimpi buruk yang tak ingin terulang kembali.
Tak terkira bahagia nya hati Bi Minah juga saat di kasih tahu akan pulang kampung sebagai nazar kesembuhan Mas Hadi,langsung aja Bi Minah beres beres pakaiannya.
"Dede Bima nanti kita pulang ke rumah nenek,Dek Bima senang nggak ?"
"Bima senang,mau mancing di rumah nenek kakek ya Ma ?"
"Emang Bima udah bisa ?"
"Bima kan udah gede"
"Boleh sayang,tapi di temani kakek ya"
"Iya Mama..."
"Tapi Dini kayaknya nggak bisa ikut Teh,sayang banget Dini ada acara di kampus nggak bisa di tinggalin udah planning jauh jauh hari"
"Ya biarin nggak bisa mah kita aja ya dede Bima,dadah aja tante Dini heeee...
__ADS_1