
"Halo Lusy,apa khabarnya Lus lama kita nggak ngobrol juga ketemu"
"Eeeeh Mas Arman ya,aku baik baik saja Mas,Mas Arman sendiri apa khabarnya ?"
"Masih seperti biasa Lus,Arini dan keluarganya sehat sehat semuanya ?" terkadang susah juga menghilangkan seorang Arini dari obrolan antara dirinya dengan Lusi karena mungkin antara Arman dan Lusi kenalannya dikarenakan keakraban Arini dan Arman sendiri,susah menghilangkan image seorang Arini dari pembicaraan mereka pasti ada aja yang menyangkut Arini entah pekerjaannya karena Lusy juga bekerja dengan Arini.
"Bu Arini Alhamdulillah baik baik juga keluarganya bahkan lebih baik, sekarang Mas Hadi nya sudah sembuh dan mulai beraktifitas kembali walau kerjanya hanya mengontrol ngontrol aja"
"Serius Lus ? aku merasa bersyukur banget semoga kedepan lebih baik lagi aku sendiri begitu banyak salah kepada Arini, seandainya waktu bisa di ulang kembali Aku ingin tetap menjadi sahabatnya seperti dulu dan mendapatkan maafnya" Arman terdengar menyesali semua yang telah terjadi.
"Nggak apa Mas Arman semua orang juga pasti punya kesalahan mungkin juga Bu Arini sudah memaafkan Mas Arman tapi karena mungkin jarang ketemu tidak ada waktu bertemu bahkan tidak pernah ketemu lagi kita tidak melihat sifat baik dan niat baiknya"
"Mungkin kesalahanku terlalu banyak Lus dan juga terlalu menyakitkan bagi hati Arini aku juga sadar diri tapi walau bagaimanapun kalau ada kesempatan aku tetap akan menjalin tali persahabatan kembali mungkin dengan jalan silaturahmi suatu saat walaupun aku tahu akan seperti apa penerimaan Arini"
"Aku turut prihatin dengan kondisi hubungan kalian Mas Arman dan saya berharap suatu saat kita bisa harmonis lagi bisa makan bareng lagi bisa tertawa bareng lagi ngobrol dengan akrabnya"
"Iya Lus,kamu jangan ikut ikutan membenci aku ya kita tetap berteman kan ?"
"Heee...iya Mas Arman"
"Mungkin Arini telah menutup pintu hatinya untuk aku"
"Sabarlah Mas Arman,kita tidak bisa memaksakan kehendak kita memaksakan kehendak kepada orang lain semoga Bu Arini datang kesadarannya bisa memaafkan Mas Arman, waktu aku terakhir aku bicara soal Mas Arman kepada Bu Arini dia malah mengalihkan pembicaraan ke hal-hal lain"
"Itulah Lus,sudahlah yang penting semua baik baik saja aku senang mendengar khabar baiknya juga"
"Iya Mas Arman"
"Oke sudah dulu ya lanjutin kembali aktivitasnya ya"
Telepon terputus dan meninggalkan rasa termangu di diri Arman sendiri Arman mengetuk ngetukkan bolpoin di meja kerjanya, selalu dari kemarin-kemarin setiap saat lagi sendirinya selalu membuka dan menatap photo Arini sebagai semangat hidupnya sebagai pemacu dalam segala hal atas dasar kemarahan atas dasar dendam dan atas dasar sakit hatinya tapi kali ini tidak lagi gambar lukisan Arini telah Arman turunkan dan disimpan di belakang meja kerjanya.
Arman berniat ingin merubah segalanya, hidupnya ingin seperti orang lain dan bisa bahagia tidak hanya mengharapkan seseorang yang sudah bahagia seperti Arini, tak adil rasanya dirinya tidak ikut bahagia atas kebahagiaan sahabatnya hanya karena sahabatnya tidak menjadi milikknya,Arman kini telah merelakan,Arman telah ikhlas yang ada sekarang Arman yang mulai menata dirinya sekarang dan masa depannya.
Hari ini Arman berniat jalan jalan lagi tapi agak sorean dikit, entah ke mana tujuannya yang pasti keluar dari kantor dan dari rumahnya,setelah kemarin hanya jalan jalan biasa saja,mungkin seperti kemarin juga nggak apa apa yang penting bisa melihat banyak orang itu sudah menjadi antusias bagi dirinya.
Seperti kemarin hanya memutar mutar dan keliling ke sana kemari melihat banyaknya orang ngantri di ATM,melihat kendaraan ngantri di pom bensin dan melihat orang keluar masuk di salah satu Mall terkenal di kota Bandung,dan ujung ujungnya ke halte depan salah satu universitas yang kemarin dirinya duduk di situ.
Arman menghentika mobilnya jauh dari halte dan turun berjalan santai di trotoar,enak juga sore sore gini menikmati suasana walau seorang diri.
Ada gerobak jajanan dan minuman samping halte, yang di dorong bukan yang mangkal, kebetulan fikir Arman aku bisa sambil minum yang di botolan itu jadi bisa lebih santai dan lama lama mengobrol sama si Mamang nya.
__ADS_1
"Mang minumannya satu yang itu,dingin ya"
"Oh siap boss" ceklek si Mamang membuka tutup botol dan memasukkan sedotan di simpan di samping Arman.
"Rokok nggak boss ?"
"Enggak Mang" dan si Mamang kembali melayani yang lain.
Selang beberapa menit ada yang bicara sama Mamang tukang dagang seperti sudah akrab dan sudah biasa.
"Mang gojlekin motornya nih aku sudah pegel banget hadeuuuuuuuh..."
"Kenapa lagi Neng ?"
"Nggak tahu Mang jarang servisnya pakai melulu ya begini lah"
Si Mamang mencoba menggojlek motor itu berusaha menghidupkan mesinnya, tetapi sia-sia dan akhirnya menyerah juga dan si cewek tadi mengambil minuman di gerobak si Mang lalu membuka helmnya dan duduk setengan putus asa agak jauhan dari Arman, Arman meliriknya dan agak terkejut sepintas matanya seperti melihat mata Arini dan Arman merasa kenal apa ini adiknya Arini ? terakhir ketemu kapan ya ? Arman lupa,sudah lama banget.
"Sudah lah Mang kalau nggak bisa mah,nanti aku minum dulu sambil mikir"
Si Mang mengelap keringat di dahinya dan duduk di trotoar.
"Benerin atuh Neng tinggal ke bengkelkan,biar bisa di starter lagi,nggak capek gojlek gojlek melulu"
Arman bangkit dan melihat lihat kondisi motor,dan mencoba membuka tangki bensin,juga segala kabel kabelnya yang sebenarnya motor nggak tua tua amat cuma kurang rawat saja dan mencoba nenghidupkannya, tapi sama saja motor tak bisa hidup.
Arman duduk kembali dan tersenyum melirik dan menaikkan mata dan bahunya pada cewek pemilik motor dan tertegun melihatnya saat cewek itu balas tersenyum,itu Andini alias Dini adiknya Arini, Arman tahu gigi Dini ada yang gisul satu tapi menambah ciri khasnya dan kecantikannya.
Arman ragu takut salah dan cewek itu juga seperti lagi mikir dan mengingat nama seseorang takut salah juga,berusaha berpikir tentang seseorang yang pernah dilihat dan dikenalnya tetapi sama seperti halnya Arman takut salah.
"Maaf boleh kenalan ?" Arman berusaha biasa.
"Dini" langsung menyodorkan tangannya.
"Arman" Arman membalasnya.
"Dari Tasikmalaya kan ? Dini seolah dapat satu keyakinan.
"Kamu Andini adiknya teman saya Arini kan ?"
"Astaghfirullahaladzim...Kak Arman ya ampuuuuun nggak nyangka banget kita bertemu di sini heee..."
__ADS_1
"Dini kamu dari mana ? kuliah apa kerja ?"
"Aku masih kuliah Kak"
"Terus kamu tinggal di mana ?"
"Aku kost nggak jauh dari kampus ini paling lima belas menitan,tapi kadang pulang juga ke ruman Teh Rini kalau nggak capek,Kak Arman ngapain di sini ?"
"Oh eh...aku nunggu seseorang tapi nggak datang datang, sekalian cari minum di sini"
"Seseorangnya siapa tuh boleh tahu heee..." Dini dengan mimik lucu"
"Teman kerjaku Din,laki laki tapi tadi sudah cancel nggak jadi bertemu di sini" Arman berusaha mencari alasan.
"Oh,di kira seseorang yang cantik kuliah di sini yang di tunggunya heee..."
"Yang cantik dan kuliah di sini kamu,ya kan ?"
"Aaaah... Kak Arman bisa aja"
"Haaaa..." Arman jadi tertawa juga Dini termakan omongannya sendiri.
"Kak Arman kerja di mana ?"
"Aku usaha sendiri kecil kecilan Din"
"Oh" Arman tersenyum sambil menatap Dini,yang menurut hatinya sama cantiknya seperti Rini Kakaknya.
"Kak Arman pernah ketemu kak Arini ?"
"Dulu sering tapi sejak menikah dan tak mengundang aku nggak lagi dan jarang bahkan tak pernah sekarang sekarang ini, biasa pasang surut pertemanan begitu,aku banyak salah pada Kakakmu Din"
"Nanti juga baikan lagi Kak"
"Aamiin,aku juga berharap begitu Din"
Dini hanya tersenyum dan menatap sepatunya.
"Ayo mari aku bantu kita ke bengkelkan motor kamu dan kamu aku antar pulang,sekalian aku juga mau pulang kita ngobrol ngobrol nggak apa apa ?"
"Wah jadi ngerepotin Kak Arman nih"
__ADS_1
"Nggak apa apa aku malah senang ketemu kamu di sini"
Arman membayar minuman,dan mendorong motor Dini ke bengkel terdekat dan menyuruhnya menservis sampai bagus semuanya,dan membayar semua ongkos servis nya, membuat Dini merasa malu sendiri,apalagi saat Arman membawanya mengajak jalan jalan dulu sebelum mengantar Dini ke tempat kost nya.