
"Sepertinya sudah mendalam banget boss" Hans Wijaya mesem mesem dan memanggang wajah sahabatnya.
"Bukan mendalam lagi hubungan 2 bulan tapi perasaan sudah rasa bertahun-tahun dan perasaan gue tak sabar ingin segera menjadikannya pendamping resmi di sisi gue"
"Mabuk cinta itu benar-benar bro hati-hati aja lah boss nanti kalau kesandung sakit sendiri"
"Nggak apa-apa semua keputusan pasti ada konsekuensinya saat aku memutuskan maju menjalin hubungan dengan Andini aku sudah berpikir jauh sampai hal-hal yang tidak terpikirkan oleh orang lain mungkin,juga sudah mempersiapkan kemungkinan penolakan dari keluarganya aku sudah pikirkan tapi aku yakin aku telah merebut dan memenangkan hati Andini dan itulah yang terpenting bagiku"
"Jauh juga lu berfikir bro !"
"Usia tak akan bohong keputusan bukan hal main main,nanti aku ajak lu temui Andini biar lu lihat dewasanya dia,tapi ingat jangan ngomong sembarangan ya gue menjaganya seperti menjaga ujung kuning telor di ujung jari gue"
"Haaa...yang cinta mati nggak tahaaaaaaan..."
Berfikir tentang Andini terkadang Arman merasa semua ini adalah mimpi,akan tetapi semua begitu nyata saat mendengar suara manjanya walau jauh di ujung telephon sana, menambah rasa kangen yang Arman rasakan.
Saat ini Andini adalah prioritas utamanya segalanya demi Andini dan kebahagiaan Andini yang ingin selalu Arman lihat dari pancaran senyumannya.
Makan siang Arman dan Hans Wijaya telah selesai mereka kembali beraktivitas menyelesaikan perhitungan secara global dan mendetil nya nanti di rapat terbuka antara perusahaan Hans Wijaya dan Arman Jumhur juga ada asisten dari Arman Mbak Rima juga dari pihak Hans Wijaya sendiri.
Ingin rasanya Arman cepat menyelesaikan pekerjaannya dan ini hari sampai malam adalah hari terakhirnya di Surabaya yang panasnya minta ampun seperti di metropolitan saja rasanya.
Proyek perumahan berkonsep modern dan terjangkau yang menjadi proyeknya sudah selesai tahap awal kontrak dan tahap kedua adalah survey tempat dan juga penghitungan segala ***** bengek anggaran pelaksanaannya sampai di situ penyelesaiannya akan diajukan malam ini seandainya masih ada ketidaksinkronan mungkin keberadaan Arman di Surabaya akan menjadi di molor lagi karena akan terjadi negosiasi lagi dengan pengembang dan pemegang saham dan Arman juga Hans hanya kontraktor yang bergerak langsung di lapangan yang sudah ditunjuk.
Setiap malam selalu ada kata kata manja yang selalu menemani sebelum tidurnya dan sungguh itu membuat Arman ketagihan serasa Andini ada di dekatnya dan video call adalah satu satunya hiburan dan saat Hans mengajaknya keluar dari hotel tempatnya menginap sekedar cari angin Arman dengan berbagai alasan menolaknya hanya ingin momen bicara dan memandang wajah Andini di ponselnya.
****
Sore hari di Eternal skin care.
"Hai cantik apa khabar makin kinclong saja di tengah skin care yang mengelilingi mu" Dewi datang sendirian karena merasa bosan di kostan sementara di kampus pakem kegiatan hanya menunggu jadwal sidang kadang sesekali mempersiapkan materi untuk di presentasikan nya nanti.
"Haaa...perasaan gue biasa aja tuh tapi mungkin karena kurang kena sinar matahari dan ruangan ber AC jadi gue tampak pucat"
Andini dan Dewi berpelukan cipika-cipiki seperti layaknya teman lama yang tidak pernah bertemu dan mereka kelihatan gembira satu sama lain begitu senang dikunjungi dan mengunjungi.
"Kemarin gue dari kampus Din ada yang tanyain lu tuh si Alwan, tapi menurut gue perhatian yang terlambat saat lu sekarang sudah punya pijakan dan juga bahu buat bersandar"
"Bisa aja lu"
__ADS_1
"Gue serius"
"Emang tanyain apa si Alwan ?"
"Ya tanyain lu biasanya sama gue kesana kemari dan kemarin sendiri mungkin heran juga tidak menangkap moment kita sama sama lagi"
"Alah itu hal biasa"
"Yang luar biasa pasti Mas yang sekarang ya ? ingat lu dulu suka cari perhatian juga kan sama dia sama kayak cewek-cewek yang centil centil itu dasar !"
"Hehehe...tapi gue kan nggak centil kayak mereka"
"Nggak centil tapi lu lebih parah keong,ngelayap nya bahaya di tempat basah mulu"
"Hehehe...dasar lu ! Ambil aja tuh si Alwan buat lu Wi"
"Lha sukanya sama lu gimana ?"
"Siapa tahu takdirnya si Alwan masih bisa di belokan"
"Sudah lah kalau lu sudah nggak minat biar si Alwan menentukan nasibnya sendiri"
"Apalagi yang di inginkan seorang perempuan selain seorang nakhoda yang membawanya berlabuh di pulau impian dan itu semua hampir nyata di depan mata lu Din"
''Perubahan prinsip yang berubah cepat Wi di diri gue,yang tadinya tak berhaluan seperti ini tapi hadirnya Mas Arman merubah segalanya,cinta telah menjadikan kami mengambil keputusan bersama"
"Yups,selamat dan semoga tersegerakan"
"Makasih Wi" Dewi mengangguk dan menatap wajah Andini yang berbinar bahagia dengan suasana hatinya yang mungkin lagi berbunga-bunga.
"Cowok lu suka ke sini Din ?"
"Iya lah masa nggak nengok gue ? tapi sekarang lagi ke luar kota ada kerjaan sudah beberapa hari ini"
"Owh...nggak bisa di bayangkan sepertinya nanti datang bawa sekarung rindu buat lu"
"Haaaaaaaa...pastinya"
"Hati-hati lu"
__ADS_1
"Iya iya gue ingat dan sadar diri"
"Hai Wi tunggu ya gue beli makan dulu mumpung ada lu di sini biar gue nggak nutup rolling door gue lapar banget tadi siang nggak makan Mas Arman telephon gue bohong saat dia tanya sudah makan apa belum,tadi lagi banyak juga yang belanja"
"Ya sudah sana jangan lupa gue garing banget sama es nya ya"
"Yoi" Andini membetulkan kerudungnya dan berjalan ke luar ada beberapa orang di tokonya dan pintu terbuka dengan lebar, Pak security Bank sebelah tersenyum dan manggut saat Andini menyapanya.
Selang beberapa menit Andini datang dengan tentengan kantong plastik dan Andini menyerahkan pada Dewi dirinya melayani seorang pembeli yang selesai dengan kebutuhannya.
"Din kita makan di sini ?"
"Bebas,mau di mana aja anggap meja kasir gue ini meja makan atau mau di bawah juga leluasa anggap lesehan rumah makan"
Mereka mulai makan seperti saat di kostan mereka kalau mau enak makan selalu datang makan bareng atau nimbrung ke piring siapa aja.
"Lu nginep aja Wi ya ngapain pulang kan kita bisa ngalor ngidul ngegosip di kostan juga nggak ada kegiatan apa cowok mu apel mulu ?"
"Apel lah kan gue sama dia pacaran resmi"
"Haaa...sudah pengumuman belum tuh di mushola kampung kalau lu resmi pacaran ? Gimana yang ini romantis nggak ? seperti cowok lu yang dulu dulu ?"
"Gue belum sampai pada titik mesra-mesra tapi kelihatan orangnya serius sih masih sama sama jaim"
"Ya syukurlah jangan hanya umbar emosi saatnya cari yang serius"
"Jadi kan lu nginep ?"
"Boleh,lu tutup jam berapa ?"
"Tergantung"
"Tergantung apa maksudnya ?"
"Kalau Mas Arman yang datang jam delapan juga sudah gue tutup,tapi kalau ada lu di sini biarin kita tutup jam sembilan saja"
"Dasar lu ini !"
"Hehehe..."
__ADS_1