
Arini, Pak Priyo,Lusy duduk bersebrangan di ruangan Arini, baru kali ini Arini begitu serius mau membahas kondisi usahanya dengan orang orang kepercayaannya.
"Lusy,kondisi usaha kantor radio kita sampai saat ini bagaimana ?"
"Masih stabil Bu Arini,kayaknya tak terlalu kena dampak krisis,semua berjalan seperti biasa,pemasukan pengeluaran masih normal terkontrol,karyawan juga nggak ada masalah"
Lusi memperlihatkan file file dan grafik di laptopnya,dan Arini melihatnya secara acak.
"Alhamdulillah,tetap di pertahankan ya itu dapur keluarga saya... heeeee,syukur syukur kita bisa lebih meningkatkan kualitas dan kuantitas nya.
"Pak Pri gimana coba saya pengen tahu presentasinya di kantor kontraktor Hadinata"
Pak Priyo menarik nafas berat dan panjang,mencoba menyampaikan semua kondisi di kantor dan di lapangan.
"Sampai saat ini tak ada yang bisa di lakukan Bu Arini selain harus adanya suntikan dana segar,proyek yang kemarin selesai hasilnya ketahuan saya alokasikan ke proyek pribadi Pak Hadi yang Mall itu,tadinya biar semua jalan,otomatis operasional di kantor kontraktor berkurang dana,sekarang masuk proyek baru kita kekurangan dana untuk operasionalnya...sungguh dilema"
"Bagaimana kalau begini proyek Mall di pending dulu Pak Pri ?"
"Bisa aja Bu Arini,tapi akan ada tenaga kerja kita yang di berhentikan minimal pengurangan,masalah juga buat kita,apa kita cukup punya dana nggak untuk sekedar pesangon atau bekal dirumahkan dulu ?"
"Ya ya yaaaaah..... Pak Pri sudah mencoba mengajukan pinjaman ke bank ?"
"Bu Arini,perusahaan Pak Hadi masih punya beban setoran dari pinjaman terdahulu untuk beberapa bulan kedepan,kalaupun kita mengajukan sekarang belum tentu di ACC saya takut malah tumpang tindih"
"Ya ampuuuuun Pak Pri apa yang harus kita lakukan ? coba barangkali ada masukan sebagai solusi"
"Kita coba begini Bu Arini barangkali jadi jalan,stop total proyek pribadi Mall Pak Hadi itu kan nggak tahu selesainya kapan dan kita juga nggak punya target,alihkan semua pekerja tambahkan ke proyek yang terakhir mau tidak mau harus ada yang di rumahkan dulu,sambil kita mencari dana untuk membiayai proyek baru"
"Ya ya ya boleh nggak apa apa bagus itu Pak Pri...sekarang proyek itu sementara tak ada biaya jadi stop aja dulu,itu langkah terbaik dan bijaksana Pak Pri,Semoga ada jalan keluar setiap permasalahan kita"
"Semoga aja tak ada demo Bu Arini,saat pekerjaan yang terakhir itu selesai dan kita sudah punya jalan keluar"
"Semoga Pak Pri...
Kiranya untuk hari ini cukup sementara,Lusy ikut saya keluar ya"
"Baik Bu..."
Rapat darurat akhirnya bubar, Pak Priyo pergi duluan keluar mau ke kantor kontraktor,Arini sama Lusy naik mobil yang di kemudi Arini berdua sepanjang jalan lebih banyak diamnya.
"Bu kita kemana ?"
"Kita ke tempatnya Arman Lus,siapa tahu bisa memberi jalan keluar buat kita,kita cari pinjaman lunak,khabar terakhir dia lagi bagus usahanya"
"Bu Arini yakin mau ke sana ?"
"Setidaknya kita mencoba Lus,kan kita lama banget nggak ketemu"
"Saya ikut aja Bu gimana bagusnya"
Mobil melaju di kecepatan standar Arini telah begitu mahir membawa kendaraan,walau hatinya ada rasa trauma setelah kejadian yang menimpa suaminya...yang akhirnya mobil setelah ada yang nabrak masuk bengkel sudah bagus lagi Arini nggak mau pakai dan menjadi penghuni garasinya.
__ADS_1
Mobil berbelok ke satu komplek perkantoran yang banyak berjejer mobil dan motor,Arini mencari parkiran yang kosong dan memarkirkan mobilnya.
Lusy turun duluan di susul Arini dan masuk di lobby depan,setelah nanya nanya akhirnya Arini di antar ke salah satu ruangan dan di sambut seorang perempuan mungkin sekretaris atau resepsionis.
"Maaf dengan Ibu siapa ?"
"Arini...."
Keperluannya bertemu Pak Arman,apa Ibu sudah punya janji ?"
"Belum,tapi bilang aja Arini temennya mau ketemu"
"Ya ya Bu Arini di tunggu ya..."
Setelah perempuan tadi bicara agak lama baru mempersilahkan Arini mengikutinya,dan Lusy menunggu di ruangan depan tadi.
Pintu di ketuk dan di buka setelah dipersilahkan,Arini masuk perlahan dan perempuan tadi balik lagi ke mejanya.
"Hai Arman..."
"Hai juga Arini,apa khabarnya lama banget kita tak bertemu.
"Baik Man,kayaknya kamu mulai ketemu nih usahanya"
"Yaaaaaah beginilah Alhamdulillah di syukuri aja Rin"
Arman menjabat erat tangan Arini,sorot matanya masih seperti yang dulu,tajam dan sedikit penuh selidik,melihat Arini dari ujung rambut sampai ujung kaki,Arini tahu itu tapi pura pura tak tahu dan biasa aja.
"Nggak usah repot Man apa aja"
"Baik,saya masih belum pikun kesukaanmu juice stroberry aku pesan dulu ya"
Arman memencet satu tombol dan berbicara pada seseorang, lalu memencet lagi tombol dan menutup bicaranya,tak lama minuman datang.
"Kamu tau aja Man"
"Itu hanya sebagian kecil dari yang Aku ingat tentang kamu Rin... heeeeee..."
"Ngomong ngomong ada angin apa nih mau datang ke tempatku, Aku merasa tersanjung banget Rin"
"Arman, Aku sengaja datang kesini dengan satu harapan, kamu menjadi jalan keluar dari permasalahan ku"
"Aku? memangnya ada masalah apa Rin ?"
"Arman,suamiku kecelakaan sudah mau dua tahun tak berdaya,otomatis roda perusahaan Aku yang pegang kendali,tapi satu usahaku tak bisa menopang usaha lainnya,usaha kontraktor Mas Hadi di ambang kebangkrutan dan butuh suntikan dana untuk bisa bertahan dan bisa beroperasi kembali,barangkali kamu ada dana lebih pinjami Aku Man sampai usahaku stabil kembali nanti Aku bayarnya di cicil"
"Arini,Arini di kira kamu datang dengan masalah apa ?Arini,telah lama Aku menunggumu datang ke Aku tapi aku mengharapkan bukan permasalahan suamimu, tapi masalah hati kita yang tertunda"
"Arman ? antara hati kita sudah usai dan tak perenah ada,kenapa di ungkit ungkit kembali setelah Aku punya suami dan anak ?"
"Bagimu mungkin usai Arini,tapi bagiku belum selesai,belum selesai dan mungkin tak akan selesai... Aku masih berharap kamu datang ke Aku dengan membawa hatimu untukku"
__ADS_1
"Ya ampuuuuun,Arman Aku tak tahu perasaanmu sejauh itu,dan tolong kamu jangan begitu"
Arman berdiri menarik tali gorden sampai terbuka,dan terpampang lah photo Arini dengan anggunnya hasil photoshop terkini.
Arini bengong menatapnya,juga bingung,bolak balik kepalanya menatap Arman yang berdiri dan photo dirinya dalam bingkai warna emas,tak mengerti apa fikiran Arman dengan memasang photo dirinya segede itu.
"Arini, aku tak bisa memilikimu, tapi aku seakan memilikimu, setiap waktu Aku melihatmu dengan perasaan cinta dan sakit hati yang mendalam, Aku selalu berbicara ke photomu dalam bingkai ini, mengungkapkan perasaan dan isi hatiku, Aku jadikan photomu motivasi hidupku untuk berubah dan untuk maju."
"Arman, maafkan Aku...kamu salah, kamu sakit dengan cara seperti ini."
"Salah? dimana salahnya Rin? tak bolehkan aku mencintai dan berharap di cintai? Aku berharap sedikit rasa darimu Rin."
"Arman, jelas kamu salah besar, kamu memupuk perasaanmu sendiri, kamu mencintai orang yang tak mencintaimu, kamu menambatkan rasa pada orang yang salah."
"Haaaaaaaa haaaaaaaa.... masihkah kamu datang dengan menyalahkan Aku Arini ?
lihat siapa dirimu ? apakah kamu orang yang benar ? kamu tak lebih hanya seorang wanita perebut lelaki orang,suamimu adalah suami orang apa kamu menyadari itu ? aku benci predikat itu Arini !!!"
"Stop Arman,semua tak seperti yang kamu bayangkan,dan kamu fikirkan,ada yang tidak kamu tahu soal Aku dan suamiku,jadi stop omongan tak bermoral mu itu,itu semua pilihanku hakku untuk menentukan masa depanku dengan siapa aku berumahtangga itulah pilihan hatiku aku menjalaninya dengan bahagia"
Haaaaaaaa haaaaaaaa...Arini ternyata kamu tak cukup pintar dengan otak cemerlang mu,demi ambisi mu apapun kamu korbankan termasuk perasaanku dan rela di madu menjadi istri kedua suamimu.
"Arman !!! ....harus bagaimana Aku memberi pengertian padamu,aku tak mencintaimu dan tak akan pernah titik"
"Oke oke Arini Atmaja,kamu sekarang datang sebagai apa ? sebagai teman ? dan meminta bantuan mau berapa yang kamu butuhkan ? silahkan isi ini cek"
Arman mengeluarkan buku cek dari lacinya dan menyimpannya di hadapan Arini.
"Tulis yang kamu butuhkan,bberapa ? lima ratus juta ? satu milyar ? tapi kompensasi apa yang kamu berikan untukku Arini ? mau ngasih imbalan apa kamu ke Aku ?"
"Arman ! apa yang kamu maksud ?"
"Untuk hidup bersamaku kedepan jelas itu tak mungkin Arini,tapi untuk menghilangkan kesepian mu tak tidur bersama suamimu bertahun tahun karena suamimu tak berdaya lagi, Aku minta satu malam saja menjadi milik kita berdua,bagaimana ? silahkan pilih sesukamu mau di hotel atau villa mana ? aku rasa ini cukup adil buatku"
"Arman ...!!! coba katakan sekali lagi hinaan kamu padaku dan suamiku...katakan...!!!
Aku tidak serendah itu,tidak sehina itu, Aku masih bisa berfikir dengan otak sehatku,tak pantas kamu bicara seperti itu di hadapanku, aku seorang istri dan seorang ibu tak pantas kamu lecehkan seperti ini"
Arini berdiri dengan muka merah dan airmata tak terbendung, marah,kecewa,terhina dan sakit hati,tangannya gemetar mengambil cek merobek kertas cek itu sekecil kecilnya di atas meja dan menumpahkan segala yang ada di atasnya, minuman,asbak,vas bunga semua tercecer berantakan.
plak ... plak... tangannya menampar muka Arman dan menerbangkan serpihan cek di hadapan Arman.
"Begitu tak beretika ucapanmu Arman,semua ucapanmu akan menjadi bumerang bagi dirimu sendiri,sepanjang hidupmu tak akan perenah mendapat kedamaian dengan hati yang seperti itu,ingat satu hal Arman, Aku Arini Atmaja,sekarang selain aku tak mencintaimu Aku juga orang yang paling membencimu hai...perusuh !!!
belilah dengan uangmu cinta yang berjejer di pinggir jalan karena itulah yang pantas buat orang sombong seperti kamu"
Arini bangkit dengan airmata,dan membuka pintu ruangan itu lalu keluar dengan terburu buru,Lusy yang sedari tadi menunggu sambil dengerin musik bingung melihat pimpinannya,datang Arman mengejar sambil memanggil manggil nama Arini,tapi Arini tak menggubrisnya,semakin bingung Lusi berlari mengejar Arini yang sudah berjalan jauh ke tempat parkiran.
Arini membuka pintu mobil dan masuk di susul Lusy,Arman yang datang mengejar sambil ngos ngosan memanggil manggil namanya,tangannya mengetuk ngetuk kaca mobil,Arini sibuk menjalankan mobilnya tak melirik,tak perduli apapun di sekelilingnya,Arman berteriak teriak kayak kesurupan Arini membelokkan mobilnya ke jalan raya.
Sampai di parkiran gedung Radio Riang 14.89 Fm Arini menurunkan Lusi dan dirinya langsung pulang membawa mobil kantornya, tanpa memberi keterangan apapun pada Lusy,
__ADS_1
Lusy mengerti dalam diamnya dia turun tak banyak tanya,dan meneruskan aktivitasnya di kantor,cuma Lusi melihat sedari keluar dari kantor Pak Arman air mata Arini tak berhenti menetes,hanya segudang pertanyaan memenuhi dadanya...