Meniti Pelangi

Meniti Pelangi
Rindu 2


__ADS_3

Sesampainya di Bandara Husein Sastranegara Bandung, Arman memesan taksi dari layanan online aplikasi ponselnya dan sekaligus Arman menawarkan seandainya Hans Wijaya mau pulang bareng satu taksi dengan dirinya, sebenarnya Arman tak ingin Hans ikut bersama dirinya karena Arman ingin langsung bertemu dengan Andini dan melepas kerinduannya, tapi karena Hans ingin kenal dan ingin tahu jadi apa boleh buat mereka satu taksi lagi dan langsung menuju ke ruko toko Eternity di mana Andini berada.


Jauhnya jarak penerbangan dari Bandara Internasional Juanda Surabaya ke Bandara Internasional Husein Sastranegara Bandung adalah 577 km. dan di tempuh dengan waktu 1 jam 15 menit kurang lebih.


Jadi pas sampai Bandung berangkat dari Surabaya sekitar jam 10 setengah 12 sudah nyampe bandara Husein Sastranegara Bandung dan sudah memilih taksi untuk meneruskan ke daerah tujuan selanjutnya.


Begitu juga Arman dan Hans Wijaya mereka telah duduk di taksi berdua menuju ke ruko, dan Arman ingin mengenalkan Hans teman akrabnya, teman dekatnya, rekan bisnisnya, rekan kerjasamanya kepada calon istrinya Andini.


Sepanjang jalan semakin deg-degan rasa dalam dada Arman, membayangkan bertemu lagi dengan sosok Andini yang sangat dirindukannya.


Semakin dekat semakin Arman berusaha menenangkan dirinya apalagi ini di depan sahabatnya sendiri Hans Wijaya, Arman mengakui motivasi paling besar adalah datangnya dari seorang sahabatnya yaitu Hans, hingga dirinya sampai saat ini bisa memiliki seorang Andini mungkin ada kontribusi suntikan semangat dari Hans Wijaya.


Arman memberhentikan taksinya di depan ruko yang didominasi dengan warna lembut hijau muda dan krem warna kesukaan Andini.


Setelah sopir taksi mengeluarkan isi semua bagasi dan membayar argo Arman duluan turun dan masuk dan melongokkan dulu kepalanya ke dalam dan menyapu semua ruangan yang langsung semerbak harum menerpa hidungnya.


Ada beberapa orang yang lagi melihat-lihat semua pajangan dagangan dan segala macam yang dijual Andini di tokonya dan satu lagi Arman melihat meja kasir. Andini tengah sibuk menulis sesuatu di meja kasirnya.


Arman masuk dengan perlahan dan berdiri di samping Andini yang lagi asyik meneliti setiap produk lalu di tempel dengan sticker harga.


"Asyik amat yang lagi kerja."


"Eh... M-Mas Arman? kapan datangnya?"


"Ini baru datang, Dan langsung ke sini."


Andini sedikit gelagapan dan agak gugup, mungkin ada rasa kaget karena Arman baru tadi bicara tidak bisa pulang hari ini, tapi tiba-tiba dia sudah ada di hadapannya, Andini merasa dibohongi dan mungkin ini tujuan Arman untuk membikin surprise-nya agar dirinya kaget.


"Sssst...aku datang sama temanku partner kerja aku biar kenalan sama kamu ya."


Andini melihat ke arah pintu dan ingin memastikan yang mana temannya yang disebut sama Mas Arman, Hans masuk dan langsung menghampiri Arman juga Andini yang masih berdiri di balik meja kasir.


"Kenalin nih bro ini bidadari gue."


"Wow benar-benar bidadari, Hans Wijaya, temannya boss Arman, teman ngobrol teman konyol teman curhat teman galau teman kerja dan juga sama-sama teman mencari pacar!" Hans menyodorkan tangannya kepada Andini dan Andini merasa kikuk apalagi dari pertama Hans telah memujinya dengan menyebut dirinya bidadari.


"Andini!"


"Nama yang sangat cantik, secantik orangnya."


"Ah, Mas Hans bisa aja!"

__ADS_1


"Serius, temanku yang satu ini begitu pintar mencari seorang pacar secantik Neng Andini, senang saya berkenalan dengan Neng Andini siapa tahu Neng Andini punya teman, karena saya masih membuka lowongan menerima rekomendasi seseorang yang bisa menjadi pacar saya."


"Sudah-sudah baru aja kenal sudah mempromosikan diri dan membuka lowongan udah duduk aja dulu ntar gue cari minuman keluar ya."


Arman menarik kursi mempersilahkan Hans Wijaya duduk di kursi yang tersedia, dan juga ada satu kursi panjang dengan kapasitas 4 orang dan itu untuk istirahat yang sedang berbelanja atau sekedar menunggu di antrian kasir.


Hans tertawa mendengar candaannya di tanggapi sama sahabatnya Arman.


"Gue cari minum dulu jangan nakal jangan genit jangan ganjen jangan digodain dan juga satu lagi jangan jahil pada cewek gue."


"Haaaaaaaa...oke boss!"


Arman keluar dan berjalan ke samping ruko-ruko yang sebelah ujung disitu ada minimarket, selang sepuluh menit Arman balik lagi dengan sekantong plastik besar belanjaan makanan dan minuman.


Andini lagi sibuk melayani orang yang sudah selesai memilih dan telah mengumpulkan apa yang dibutuhkannya, Arman dan Hans ngobrol di kursi panjang dan Andini sesekali melihat dan mencuri pandang pada Arman yang sama kebetulan sedang memandangnya.


"Bening banget bro jujur gue jadi pengen juga melihat Kakaknya Andini, siapa namanya?"


"Arini. lha maksud lo mau apa?"


"Ya gue pengen tahu aja, kan kita senang kalau lihat yang cantik-cantik, cantikan mana adiknya apa kakaknya?"


"Ya iya lah bro, harus itu! tapi gue masih penasaran temen dulu SMA si Arini itu gue pengen tahu aja."


"Dia sudah nikah bro, udah punya anak juga."


"Tapi tetap cantik kan?"


Akhirnya Andini pun berhenti dan selesai juga melayani orang-orang yang bertransaksi dengan dirinya dan bergabung dengan Arman juga Hans.


Arman menyodorkan sebotol minuman dingin kepada Andini Andini mengambilnya dan meminumnya juga di situ sambil ikut nimbrung ngobrol berbagai hal, Arman tak bisa untuk tak menggenggam tangan Andini yang kelihatan begitu malu karena dilihat sama teman nya Mas Arman yang juga masih ada dan ngobrol di situ.


"Ya sudah gue pulang dulu kalau kalian mau melepas kangen, nanti malah kalian macam-macam dihadapan gue dan gue nggak akan sanggup melihatnya, karena pasti kalian sebentar lagi akan melakukan adegan tujuh belas plus, jadi gue pamit dulu ya."


"Sembarangan aja lo menduga-duga, sampai ketemu besok ya."


Oke, Neng Andini senang aku dapat berkenalan denganmu dan semoga kita bisa bertemu lagi."


"Iya Mas Hans, sama sama."


Arman mengantar Hans keluar bersama-sama dan mencegat taxi di depan jalan raya, dan setelah Hans berlalu Arman kembali masuk dan mendapatkan Andini sedang membereskan bekas minuman.

__ADS_1


Arman memeluknya dari belakang dan membalikan tubuh Andini sampai mereka bertatapan, rasa rindu yang menggebu dan membelenggu setelah seminggu tak bertemu membuat Arman tak sanggup lagi untuk tidak menyentuh Andini yang sudah ada di hadapannya.


"Sayang, aku kangen banget."


"I-iya Mas, tapi takut ada orang masuk nanti." Andini berkelit melepaskan tubuhnya dari pelukan Arman.


"Nggak ada tuh lihat, kalau nggak tutup aja dulu kita istirahat di atas."


"Mas, jangan aku takut!"


"Nggak apa-apa sayang aku tahu, tak akan terjadi apa-apa aku cuman kangen pengen meluk kamu itu aja, tutup dulu tokonya ya?"


Akhirnya Andini enggak bisa berbuat apa-apa saat Arman menarik rollingdoor dan menutup sementara tokonya dan menguncinya, Arman menarik Andini ke lantai atas dan tak melepaskannya lagi.


"Kamu semakin cantik aja."


"Ah, itu perasaan Mas aja."


"Serius, apa aku yang pangling seminggu nggak ketemu ya?"


"Mungkin, coba aku tanya segede apa rasa rindu Mas untuk seminggu?" Andini tersenyum manja.


"Tak terkira sayang, sampai aku merasa tidak sanggup untuk menahan nya."


Andini menyandarkan kepalanya di sebelah bahu Arman sambil mereka duduk di tepi tempat tidur.


Arman mencium ujung kepala Andini dan mengusapnya dengan perasaan sayang menariknya ke dalam pelukannya merapatkan dirinya untuk melepaskan beban hati dan perasaannya.


"Mas."


"Hemght."


"Sebentar lagi aku di wisuda."


"Hadiah apa yang kamu pinta dariku untuk kelulusanmu?"


"Aku nggak mau apa-apa lagi, karena semua telah tercukupi. Aku hanya ingin Mas Arman melamar aku dan mengajak aku kepada kedua orang tuaku, Aku ingin serius."


Apalagi aku sayang, iya kita ke rumah orangtua kamu dan kita selesaikan dulu satu-satu, kamu di wisuda dulu dan aku menyelesaikan pengesahan proyek baruku dulu,setelah itu kita sama-sama melangkah ke arah yang serius ya


_Selamat membaca,Terimakasih!

__ADS_1


__ADS_2