
"Ayo dong dek Bima nyanyi lagi"
"Lagu apa Pa?" Bima senang banget.
"Maunya dek Bima lagu apa ?"
"Balonku agih ya Pa ?"
"Boleeeeh..."
Bima kecil langsung nyanyi dengan logat yang agak cadel dan di susul ekspresi kaget saat pas kata meletus balon hijau dan teriakan horeeeee...Mas Hadi setelah Bima selesai bernyanyi,membuat Bima kegirangan.
Hadi sudah bisa membawa mobil sendiri walau masih agak trauma dan merasa takut,tapi semua harus di latih,semua kejadian telah mulai terlupakan walau tak akan di lupakan sama sekali.
Kebahagiaan dengan anak dan istrinya itu yang terpenting dan kesembuhan dirinya adalah yang membuat hatinya tak terkira bahagianya,Bima sudah jalan empat tahun dan sebentar lagi masuk play group,sungguh tak terasa semua berjalan seperti tanpa di sadari nya.
Anugrah istri cantik dan anaknya Bima dalam hidupnya sungguh tiada tara walau ini bukan pernikahan pertamanya,dan Arini yang mencintainya sama seperti dirinya yang tak mempermasalahkannya statusnya adalah satu nilai plus bagi Hadinata,dan perjalanan cinta mereka sampai mendapat restu orangtua Arini begitu panjang karena seorang Hadinata yang waktu itu masih status suami dari Hesti yang sedang sakit,tentu saja penolakan yang di terimanya.
Dan sekarang Hadinata bisa bernafas lega setelah semuanya berakhir,masalah dengan Istri terdahulunya selesai karena Hesti meninggal karena kanker serviks stadium akhir yang di deritanya,dan seorang Arini menggantikan posisi istri di sampingnya sekarang dan Bima adalah cinta dan buah hati mereka.
Andini melihat lihat ponselnya dan menbiarkan Bima dan suaminya mengoceh ini itu,dan Bima sebentar ke depan ke pangkuan Arini dan sebentar ke belakang pada pengasuhnya Bi Minah,bahkan inginnya memegang stir mobil seperti Papanya karena menurut nalarnya begitu mudah dan asyiknya mengendarai mobil.
Samapi kost kostan Andini,Arini dan Mas Hadi turun dan begitu banyak orang yang lagi duduk duduk melihat ponselnya dan seperti biasa bermain gitar dan nyanyi nggak jelas,dan Arini permisi pada mereka dan berjalan ke ujung kamar no tiga dari kanan dan kamar sebelahnya Dewi kelihatan terbuka.
"Eeeeh...Teh Rini ya ampuuuuun memang Dini nggak kasih tahu Teh Rini kalau Dini sudah pindah ?"
"Apa ? pindah Wi ? pindah kemana dan kenapa pindah ?"
"Dini nggak kasih khabar ya Teh ?"
"Enggak"
"Dini mulai usaha Teh"
"Usaha apa ?"
"Teh Rini masuk saja dulu biar kita ngobrolnya nggak sambil berdiri,silahkan !"
"Ya terimakasih Wi, Mas ke sini aja biar Bima di temani Bi Minah"
Arini memanggil Hadi untuk bisa mendengar langsung apa yang akan di sampaikan Dewi.
__ADS_1
"Wi ada apa sih dengan Dini ?" Arini kelihatan nggak sabar dan ingin segera tahu,cemas langsung menyelimuti wajahnya dan yang terbayang hanya yang jelek jelek saja tentang adiknya.
"Andini mulai berdagang dan mengelola sebuah ruko yang di belikan pacarnya,dan Dini tinggal di situ juga"
"Astaghfirullahaladzim Mas apa apaan si Dini ini ?"
"Sebenarnya saya nggak enak Teh Rini cerita duluan ini tapi gimana saya juga jujur merasa cemas dengan Teman saya Dini itu"
"Dewi apa sama pacarnya itu dia tinggal di situ ?"
"Saya nggak tahu Teh Rini tapi saya rasa dan kemungkin tidak"
"Astagfirullah Dini pantesan saya nggak enak hati,jadi ceritanya gimana Wi siapa pacarnya itu ?"
"Pokoknya mereka sama sama cinta banget deh Teh juga cowoknya baik banget dan sangat tajir heee..."
"Apapun itu tetap salah Wi Andini mengambil keputusan yang salah menurutku itu sudah tidak mengindahkan pandangan orang lain, tinggal di situ dan mungkin pacarnya akan selalu ke situ apa jadinya ? mulai usaha dengan segala di fasilitasi dari pacarnya pasti suatu waktu akan menuntut lebih dan hanya berdua di situ Astagfirullah"
"Tapi aku percaya Dini Teh"
"Dewi orang saling cinta berdua dalam satu ruangan begitu bebasnya dan godaan itu akan selalu mengkilikitik kita,sekuat kuatnya Iman kita setiap waktu ketemu akan seperti apa ? dan syetan akan lebih berkuasa di tengah tengah mereka"
"Mama tenang dulu,belum tentu semua perkiraan kita benar,dan satu jangan salah sangka dan berprasangka buruk dulu pada Dini,Papa tahu sedikit banyak Dini perasaan dia juga bukan orang bodoh pasti mengambil tindakan yang bukan tanpa pertimbangan baik buruknya"
"Ah Mama tetap khawatir Pa"
"Ya terus kita harus gimana ? paling kita mendatanginya melihat dan memastikan dia baik baik saja"
"Kalau kuliahnya gimana sekarang Wi ?"
"Udah beres nggak ada lagi perkuliahan nunggu sidang dan lulus wisuda kita berpisah"
"Apa kamu tahu tempatnya Dini itu ?"
"Iya Teh,malah waktu pindahan aku sama Ira mengantarnya dan syukuran segala, malam tadi saya masih chating sama dia Alhamdulillah di awal awal buka sudah mulai ramai katanya"
"Apa yang dia jual ?"
"Produk skin care import dan aksesoris wanita,itu Teh yang lagi viral di sosmed sosmed sekarang dan Dini membuka juga pemasaran sistem reseller yang model jualan jaman sekarang itu Teh"
"Aku boleh minta alamatnya Wi ?"
__ADS_1
"Boleeeh"
"Jangan di marahin ya Teh nanti sama saya nyalahin nya lagi"
"Hehehe nggak lah Wi saya bukan mau marah hanya ingin tahu saja kenapa punya pacar nggak ngasih tahu,buka usaha nggak kasih tahu pindahan nggak kasih tahu kan setidaknya kita masih saudara apa salahnya minta pendapat dulu ?"
"Iya Dini belum aja kali Teh kasih tahu dan memilih waktu yang tepat menurut dia"
"Dewi benar Ma belum aja mungkin dan pasti akan menemui hambatan dulu kalau harus adu pendapat dulu sama Kakaknya"
"Makasih banyak Wi informasinya jadi kalian sudah jarang ketemu paling nanti kalau jadwal sidang ya ?"
"Iya Teh,tapi aku akan datang ke tokonya Dini dan mau melamar jadi karyawannya heee..."
"Ya sudah aku pamit dulu ya aku mau ketemu Dini,biar aku tahu tempatnya dan memastikan dia baik baik saja"
"Iya Teh sama sama,salam saya buat Dini" Arini mengangguk dan berpamitan bangkit dari duduknya, Arini keluar dan sekali lagi melirik kamar bekas adiknya Dini selama kurang lebih empat tahun tinggal di sini.
Mobil berjalan perlahan dan Arini masih bingung dan kacau dengan fikirannya.
"Neng Dini pindah ya Neng ?"
"Iya Bi,dan bikin kita nggak mengerti jalan yang di pilihnya,dan kita coba ke tempatnya aku mau lihat sekalian siapa tahu pacarnya ada di situ biar tahu pacarnya itu"
"Tenang saja Ma,semua akan berjalan seperti biasa, yang Papa heran dan agak ragu kok se tajir itu pacarnya Dini,mungkin mereka sudah sepakat untuk membina masa depan bersama dan berani banget investasi dengan pacar segitunya, itu tempat kawasan elite lho Ma, diatas M ruko siap pakai di situ,belum modal usahanya skin care import, pinter juga Andini kalau menurut Papa"
"Pinter apa Pa malah Mama semakin cemas jangan jangan itu suami orang ! dan Andini hanya jadi simpanan"
"Eith eith eith...jangan dulu mikirnya jauh jauh salah itu, berprasangka baik itu yang lebih baik"
"Iya Neng masa Neng Dini begitu ?"
"Itu kekhawatiran aku saja yang berlebihan Bi,semoga semua fikiran jelekku itu salah"
"Mas pelan pelan ini kawasan itu yang di maksud Dewi kan ?"
Arini matanya menyapu setiap belah kanan jalan,jalan rayanya sudah benar tinggal blok mana rukonya.
"Nama tokonya tadi apa katanya Ma ?" Hadi juga tak lepas lirik lagi lirik lagu ke luar.
"Eternal"
__ADS_1
"Oh itu di depan pasti soalnya senangnya ada fresh mart makanan frozen" Hadi langsung tahu dan membelokkan mobilnya dan berhenti tepat di area parkir ruko itu,Arini meyakinkan lagi dan benar itu ada papan namanya terpampang dengan jelas.