
Pagi hari Andini bangun dengan malas masih dengan muka kecutnya, mandi sarapan dan berangkat kerja tetap tak banyak kata hanya bicara seperlunya saja.
Arman yang sangat protektif memaklumi sikap istrinya, dan mulai malam tadi Andini menolak berhubungan karena alasan siangnya sudah dan demi janin dalam perutnya.
Baru malam ini Arman tak mendapatkan jatahnya, hanya memeluknya dan mencium saja sebelum tidur. Arman memakluminya mood wanita hamil mungkin seperti ini.
Sampai di tokonya Andini langsung melihat pesan dari sahabatnya Mas Arman, saat suaminya sudah berangkat pamitan dan mencium pipinya.
Maksudnya apa semua ini? apa aku jadi bahan taruhan dan pernikahan ini juga taruhan mereka?
Bos aku udah transfer 1M taruhan kita, Bos memenangkannya. Selamat ya untuk pernikahannya dan Miss 1M nya, semoga bahagia selalu walau semua berawal dari taruhan haaaa...
Siapa Miss 1M itu? apa aku? siapa lagi kalau bukan aku? Hans Wijaya transfer 1M, Bos memenangkan nya terus ada kata-kata semoga bahagia walau semua berawal dari taruhan.
Astaghfirullahaladzim berarti aku ini jadi bahan taruhan mereka? begitu naif nya aku? teganya Mas Arman menjadikan aku sebagai bahan taruhannya?
Hati Andini panas, semua isi pesan yang dikirim dari temannya Mas Arman yaitu Hans Wijaya dirinya mengerti sekarang.
Cinta yang begitu besar dan tulus yang aku berikan seakan tiada arti dan begitu rendahnya Mas Arman melakukan semua itu hati Andini sakit dan marah se-marah marah nya.
Air matanya tak bisa di bendung lagi, ingin rasanya dirinya menunjuk muka suaminya yang dengan tega mejadikan istrinya sendiri bahan taruhan yang menjijikan.
Tubuh Andini bergetar menahan rasa marah, sakit, kecewa dan benci, langsung menutup tokonya dan mematikan ponselnya biar nggak bisa di hubungi, pasti makan siang Mas Arman datang ke tokonya.
Andini kecewa dengan semua perlakuan Mas Arman yang selama ini dianggapnya begitu mencintainya. Pernikahan baru berjalan mau menginjak tiga bulan riak-riak ketidakjujuran telah terlihat, mungkin seperti itu sifat aslinya?
Andini berpikir ingin pergi tapi entah ke mana, dalam hatinya bingung dan gamang harus melangkah dan pergi ke mana? ke tempat kerja Kakaknya? ke rumah Kakaknya? atau kemana lagi? atau mungkinkah kalau ke kostan temannya? sudah lama dirinya tidak menghubungi Dewi. Mungkin sudah tidak kost di sana lagi.
Akhirnya Andini mencegat taksi dan menyebutkan satu alamat.
Dalam mobil Andini nggak banyak bicara emosinya masih tinggi dan amarahnya masih meluap-luap, hatinya begitu panas dan tak terima dirinya diperlakukan seperti itu oleh suami yang selama ini dirinya cintai dengan sepenuh hati.
Sampai di halaman parkir Radio Riang 14.89 Fm Andini membayar taksi dan berjalan ke gedung itu, naik lift sampai lantai lima.
Andini mengetuk pintu ruang kerja Kakaknya dan terdengar suara menyuruhnya masuk.
Andini masuk dan langsung menangis memeluk Kakaknya Arini.
Jelas saja Arini kaget dan tak menyangka tiba-tiba Andini datang langsung menangis dan memeluknya, tak sedikitpun ada gugur atau angin semua serba tiba-tiba.
Itu sesuatu yang jarang terjadi tak pernah Andini mengadu apapun terhadap dirinya selama ini. Soal apapun dan kedatangannya kali ini terang aja membuat Arini kaget luar biasa ada apa dengan Andini? apa ada hubungan dengan pernikahannya? atau dengan Arman ada masalah apa mereka?
"Ssssst...eh Dini ada apa? kok datang-datang menangis begini? Teteh nggak mengerti, duduk dulu, tenang, baru cerita." Arini membimbing adiknya untuk bisa duduk di sofa karena tadi Andini lagi sibuk melihat laporan yang dikirimkan Lusy untuk bulan ini di meja kerjanya.
__ADS_1
"Teh, aku benci semuanya."
"Apa? ada apa ini, apa yang kamu katakan benci itu."
"Aku benci Mas Arman."
Deg! Arini berpikir ada apa dengan rumah tangga adiknya ini?
"Dini, minum dulu nih biar kamu tenang dan nggak tegang seperti ini." Arini mengambil gelas berisi air minum dari mejanya yang biasa disediakan OB setiap hari untuk dirinya.
Setelah Andini kelihatan tenang baru Arini menatap adiknya dan berkata dengan hati-hati.
"Kamu ini kenapa heh?"
"Aku hamil Teh."
"Lha, namanya menikah dan punya suami apa anehnya? bersyukur tidak semua perempuan bisa hamil."
"Tapi bukan itu masalahnya, aku benci sama Mas Arman, aku nggak mau pulang aku mau tunggal di rumah Teh Rini."
Arini menatap Andini adiknya dengan heran dan tidak mengerti, hamil kok seperti ini? perasaan dulu dirinya tidak benci pada Mas Hadi waktu tahu dirinya hamil dan merasa ngidam.
"Dini kamu hamil dan membenci suamimu heee... aneh!"
Andini diam tapi airmatanya tetap saja mengalir dengan deras, Arini pun semakin heran.
Andini membuka ponselnya membuka pesan dan memberikannya pada Kakaknya.
Arini membacanya sambil mengerutkan dahinya, lalu menatap adiknya.
"Pesan dari siapa ini?"
"Dari temannya Mas Arman."
"Kamu kenal orangnya?"
"Iya."
"Mungkin mereka bercanda."
"Tapi aku tak meyakini itu candaan, sepertinya itu serius."
"Kamu sudah bicara sama suamimu?"
__ADS_1
"Aku malas bicara keburu marah, dan benci, aku emosi waktu pertama membacanya."
"Sebaiknya kamu bicara dulu, kalau nggak sama temannya, cari tahu apa maksud pesannya itu"
"Aku kecewa, aku sangat marah masa aku di jadikan bahan taruhan? aku mencintainya dengan sepenuh hati sepertinya pernikahan ini hanya mainan saja."
"Ssssst...,kamu jangan dulu buruk sangka belum jelas masalahnya, sudah marah-marah, kamu ke sini apa sepengetahuan suamimu?"
"Nggak, dikiranya aku ada di toko. Aku baca pesan itu kemarin pagi sebelum ke dokter."
"Khabarin suamimu dia pasti khawatir jangan dulu marah-marah, cari tahu dulu kebenarannya."
"Aku nggak mau biarin dia mencariku biarin dia mencari tahu penyebab aku marah pokoknya aku mau pulang ke rumah Teteh, aku mau menginap aku nggak mau bertemu sama Mas Arman."
"Kalau dia menelephon gimana?"
"Aku nggak mau bicara."
"Kalau menelephon Teteh?"
"Terserah, pokoknya aku nggak mau bicara dan bertemu."
"Andini, berarti kamu menyerahkan masalah ini kepada Teteh untuk menyelesaikannya begitu."
Andini diam, setidaknya Kakaknya sudah tahu masalahnya.
Arini berpikir berusaha mencerna pesan yang dibacanya tadi berulang kali, Arini berpikir ujung-ujungnya Arini mengambil kesimpulan sementara kalau Arman memang benar telah melakukan permainan taruhan dengan temannya.
Dada Arini merasa panas merasa marah juga dan merasa dilecehkan untuk kesekian kalinya, seperti dugaan awal Arini sekarang terbukti Arman punya niat jelek, punya niat jahat dan punya niat tidak baik terhadap adiknya.
Apalagi sekarang adiknya sedang hamil, sungguh Arini tidak bisa menebak apa maksud Arman, kalau memang Arman punya niat tidak baik berarti dirinya selama ini kecolongan, Arman berhasil merusak keluarganya dengan tipu daya dengan berbungkus cinta sebagai alasan.
Brengsek tetap saja brengsek, dan perusuh memang otaknya tetap culas, Arini marah tapi tak di perlihatkan dihadapan adiknya. Arini berusaha menjadi kakak yang bijaksana dalam menyelesaikan masalah yang sedang menimpa adiknya.
.
.
.
Meniti Pelangi memasuki bab-bab akhir, bagi yang ingin tahu kisahnya ikuti sampai selesai ya.
Happy reading dan tinggalkan jejak mu ❤️🙏
__ADS_1
Sambil nunggu up Meniti Pelangi baca novel yang sangat bagus untukmu, DIA JUGA SUAMIKU Karya terbaik Nazwa Talita. fav, like dan vote ya 🙏❤️