
Arini berkutat dengan pekerjaannya seperti biasa sampai menjelang makan siang baru mengendurkan urat syaraf dan otot pinggangnya karena kelamaan duduk.
Arini berjalan ke arah jendela tempat paforitnya sambil menikmati semilir angin dari luar,ada kerinduan di hatinya tapi entah kerinduan apa begitu jauh lamunannya mengingat perjalanan hidupnya,semua tergambar dalam bingkai sketsa alam fikirannya.
Rindu Ibu Bapaknya yang jauh di sana,rindu masa anak anaknya,masa sekolahnya,rindu siaran di radionya juga rindu suami dan anaknya,Arini tersenyum mengingat suami dan anak yang di milikinya,juga suaminya yang telah menjalani perjalanan panjang cintanya dari pacaran sampai sekarang sudah menikah.
Dan Arini begitu kangen rumahnya dan berencana beres pekerjaannya dia akan pulang lebih awal,biar memuaskan keinginannya bermain bersama anaknya Bima ini kan hari Sabtu Arini berencana mau ajak Bima sama adiknya Dini berbelanja.
Arini melihat lihat lagi berkas di mejanya dan membereskannya mematikan laptop,lampu, AC dan menarik gorden lipat kaca ruangannya,ngobrol sebentar di ruangan karyawan dan pamitan turun lewat tangga menuju area parkiran.
Arini menaiki mobil yang biasa di pakai suaminya,mobil semi adventure yang sebenarnya Arini kurang nyaman mengendarainya tapi daripada nggak dipakai pakai jadi kebiasaan juga menaikinya.
Sampai depan pintu pagar Arini membunyikan klakson berkali kali tapi tak ada yang keluar,pintu utama tetap tertutup,Arini celingukan dan membuka kaca mobilnya melongokan kepalanya dan melihat pintu pagar di gembok.
"Bi Minah... Dek Bima...pada kemana semuanya ini ?"
"Mas, Maaaaaas...."
Arini mengambil ponsel dari dalam tasnya.
"Halo,ya halo...Dini lagi pada kemana ini ?"
"Oh Iya teh nih Dek Bima lagi jalan jalan,tadi pengen jalan jalan kebetulan tadi ada Pak Pri mampir jadi semua ikut heeeeee..."
"Oh,terus kalian dimana ?
"Jauh deh pokoknya,bentar lagi pulang kok"
"Jauh ? jauh di mana nggak jelas banget,Mana Mas Hadi,kasih telephonnya Teteh mau ngomong"
"Mas Hadi lagi Ter...terapi eh lagi jalan jalan ya jalan jalan sambil ngobrol sama Pak Priyo"
"Bima mana lagi ngapain ?"
"Itu lagi lari lari an"
"Masih lama nggak pulangnya Teteh nggak bawa kunci rumah,kalau masih lama mau balik lagi nih mau belanja dulu"
"Ya udah Teteh belanja aja dulu,Bima masih seneng kok mainnya"
"Cepetan pada pulang ya,hati hati Bima suka jatuh tuh"
"Iya Teh..."
Dan telephon pun di tutup.
"Waduh hampir lupa ngomong Bi Aku..."
"Ngapain juga Neng Rini tengah hari udah pulang ya Neng Dini ?"
"Iya ya jangan jangan dia sakit Aku tadi nggak nanya"
Pak Priyo dan Hadinata berjalan pelan pelan keluar dari tempat terapi,kelihatan Hadi mulai stabil walau jalannya masih amat pelan tanpa tongkat penyangga badannya,di sampingnya Pak Priyo memegang tongkat sambil memberi pengarahan,sesekali mereka berhenti memberikan ruang pada Hadi untuk mengumpulkan tenaga dan kekuatannya.
__ADS_1
"Papa papa...udah mainnya Bima mau pulang"
"Oh iya Nak ayo kita pulang,nih lihat Papamu sudah bisa jalan"
Andini dan Bi Minah tersenyum senang melihat Mas Hadi mulai bisa jalan.
"Bima senang nggak Papanya bisa jalan kembali dan sembuh?"
"Iya senang Tante,becok papa naik mobil lagi ngeeeeeeng...ngeeeeeeng....
"Haaaaaaaa..."
Semua tertawa dengar celotehan Bima.
Mobil melaju berjalan pelan pulang,semua tampak puas dan senang.
"Alhamdulillah Pak Hadi ini terapi terakhir semuanya berjalan sesuai harapan kita.
"Iya Pak Pri,tapi ini semua rahasiakan dulu di depan istriku ya,akyu ingin melihat dia syok karena senang hehehehe..."
"Iya Mas siap"
Sampai rumah depan pintu pagar yang nggak di kunci,kelihatan Arini duduk di kursi teras agak cemberut dan mobilnya udah di parkir depan garasi.
Hadi turun sambil tetap pakai tongkat, Arini nyamperin dan membantu suaminya turun dari mobil dan membimbingnya.
"Pada pergi nggak bilang bilang"
"Iya sayang,Bima senang ?"
" Senang..."
Pak Priyo hanya tersenyum dan langsung pamitan.
"Biasanya nggak pulang jam segini sayang"
"Aku lagi suntuk aja Mas, pantesan Pak Priyo di telephon nggak aktif ponselnya,tadinya ada yang mau di bicarakan tapi biarlah besok aja"
"Ya sudah kalau suntuk capek jangan di paksain"
Ingin rasanya Hadi bermanja manja dengan istrinya,tapi selalu keinginannya terhalang kondisinya yang masih sakit,dan ingin memberitahu perkembangan kesehatan dirinya yang hampir sembilan puluh persenan sembuh,sudah bisa jalan tanpa penopang walau pelan pelan,tapi biarlah sampai malam yang di rencanakan itu datang.
"Rasanya Aku kangen Ibu sama Bapak Mas,aku kangen nginep di rumah masa kecilku"
"Ayo kita pulang rame rame,semua juga pasti senang...Bi Minah,Dini pasti pada mau,Ibu Bapak juga pasti gembira,atur aja dulu waktunya Jum'at depan boleh minggu sore balik lagi"
"Iya Mas bener,tapi Mas kuat nggak perjalanan jauh gimana kesehatannya nggak malah membuat penyembuhan yang di jalani terganggu"
"Aku sehat,pasti kuat cuma pegang kemudi kayaknya masih belum kuat kakinya"
"Oh iya nggak boleh dulu,kan ada Aku Mas yang siap jadi sopir hehehe..."
"Terus kamu kangen apalagi,apa kangen Aku nggak ?"
__ADS_1
"Kalau itu mah jangan di tanya"
"Kan Aku nanya pengen tahu"
"Coba tanya aja pada rumput yang bergoyang,pada semilir angin,pada bulan bintang,pada ombak di lautan, pada gelap dan sunyi nya malam juga pada kenyataan"
"Haaaaaaaa...kayak ABG lagi kasmaran Rin puitis banget"
"Tahu ah..."
Arini manyun mendelik Hadi malah terbahak lucu melihat roman istrinya yang merasa di sindir mukanya merona,dan melempar bantal sofa ke hadapan Hadi dan Hadi menangkapnya sambil tetap tertawa.
Hadi berjalan menghampiri istrinya sambil pegangan ke ujung sofa.
"Sayang kita makan yu, Aku lapar banget"
"Ayo,Bi Dini kemana kita makan bareng"
"Tadi keluar Neng mau ada yang di beli katanya"
Hadi tahu Andini pasti ngambil pesenan kue ulang tahun buat pagi pagi besok menjelang maghrib baru datang kue di simpan di garasi di atas mobil.
Habis Isya Hadi duduk membaca di kursi kamarnya,Arini mengusap usap punggung Bima yang ngantuk kebanyakan main jadi capek.
Hadi membuka kacamata bacanya dan pindah ke kasur telentang menatap langit langit di susul Arini merebahkan badannya di samping Hadi.
"Sayang apa resolusi di ulang tahunmu kali ini ?"
Hadi menyamping menatap wajah istrinya,mengusap rambutnya,Arini balik menatap suaminya.
"Mas emang nggak lupa ulangtahun ku ?"
"Makanya Aku tanya aku ingat,apa keinginanmu ?"
"Keinginan dan harapanku hanya kesehatanmu Mas,yang lainnya nomor sekian Aku berjalan sendiri tanpamu begitu lemah,aku ingin sandaran aku ingin Mas yang memimpin kembali"
Hadi mengangguk,dan merangkul istrinya,Arini terdiam karena fikirnya percuma membalas ciuman juga rangsangan toh mas Hadi masih sakit.
Tapi Hadi terus aja menarik tangan istrinya,
mereka berpandangan, Hadi membelai kepala istrinya, Arini hanya terdiam.
"Katanya kangen kok diam aja ?"
Arini tak sanggup berkata kata,hanya airmata yang menggenangi kelopak matanya,Arini memeluk suaminya sambil sesenggukan menangis di dadanya,ingin menumpahkan segala galau isi hatinya,telah lama Ia ingin bermanja,bercumbu,dan mengadu,juga menyandarkan perasaannya,saat capek,saat jenuh,saat sendiri,juga saat masalah datang mendera yang begitu menguras energi dan fikirannya.
"Untuk kesekian kalinya maafkan Aku ,Selamat Ulangtahun, harapanmu adalah kado terindah buat kamu sayang, Aku ingin memberi hadiah terindah buatmu"
Arini menengadahkan wajahnya,tak mengerti ucapan suaminya,dan Hadi kembali memeluknya.
"Ssssssssst jangan ucapkan apapun"
Hadi berkata sambil menarik tali gaun tidur istrinya,dan meredupkan lampu yang ada di sebelah tempat tidurnya...
__ADS_1