Meniti Pelangi

Meniti Pelangi
Pertama berpisah


__ADS_3

Andini menghampiri Arman dan memeluknya duluan dengan perasaan yang tak bisa di jabarkan,dengan perasaan seorang perempuan yang di sanjung begitu tingginya Andini tak kuasa hatinya berterimakasih pada semua rasa cinta yang di berikan Arman untuk dirinya.


"Ssssssssst...aku jadi nggak enak seakan kita akan berpisah cukup lama padahal hanya seminggu"


"Mas"


"Jangan menangis,aku akan datang lagi di sisimu dan kita jalani lagi setiap hari kerinduan kita ini nanti"


"Aku bukan sedih karena kita berpisah,tapi aku tak bisa memberikan harus cinta seperti apa yang aku berikan padamu Mas"


"Aku begitu memujamu sayang, jujur mungkin ini adalah cinta sejati ku,aku begitu menyayangimu tak mau yang lain lagi,jadi aku juga ingin memberi apapun yang kamu butuhkan dan akan berusaha membahagiakanmu sepanjang hidupku"


"Mas,aku juga mencintaimu"


"Aku tahu itu sayang"


Arman merangkum kedua pipi Andini dengan kedua tangannya dan membelainya perlahan, mengusap butiran bening di ujung bola matanya dan mencium keningnya dengan sepenuh perasaannya.


"Ayo kita masuk sudah mulai malam" Arman merengkuh bahu Andini dan mereka masuk.


Tak ada tempat duduk sementara selain tempat tidur yang begitu besar yang di sediakan Arman dan meja rias juga tv yang bisa di tonton dari tempat tidur.


Mereka duduk di tempat tidur dan Arman masih mengusap usap punggung Andini,dan menyalakan televisi.


"Boleh aku memeluk Mas Arman lagi ?"


"Haaaa...boleh kenapa enggak sini aku peluk,jangan sedih kan kita berpisahnya nggak lama,kita masih bisa telephon,video call,masih bisa kirim pesan"


"Kamu belajar mandiri tanpa tergantung pada siapapun saat aku nggak ada ya,ini semua adalah tanggung jawab mu,aku tak menuntut apapun aku hanya ingin senyummu" Arman menatap mata indah itu dan memegang dagu Andini dan jempolnya membelai bibir mungil yang menantang di hadapannya dan tak bisa untuk menahannya untuk tidak mendekatkan bibirnya pada bibir itu.


"Dini sayang"


"Mas"


Dan Arman menutup suara dan pergerakan bibir itu dengan mengunci mulutnya mulai aktif membuka katup bibir Andini yang telah menjadi candunya dan dengan lembut memainkan dan menyesapnya dengan gairah nikmatnya.


"Mas jangan" saat mereka rebahan dengan pelukan erat dan bibir sama sama menyatu,Arman hanya bisa mengangguk mengerti kekhawatiran Andini.


"Iya sayang aku tahu,aku tak mungkin merusak kamu walau dorongan itu begitu besar di hatiku" Andini tersenyum sayu menahan semua rasa dan hasrat di hatinya yang bergejolak hebat menerima rangsangan yang bertubi tubi,dan Arman menyergap kembali bibir itu dan menggigitnya perlahan lalu mengusap usapnya dengan lidah panasnya,Andini meronta kecil dan meremas belakang kemeja Arman.


"Aaaah... Mas sakit"


"Tapi enak kan ?"


"Nggak" Andini memegang bibirnya dan nafasnya belum teratur.


"Jangan bohong"


"Tapi aku nggak mau di gigit"

__ADS_1


"Aku gemes sayang,maaf ya" Arman mengecup pipi Andini.


"Mas besok berangkat jam berapa ? apa aku antar ?"


"Nggak usah,aku berangkat pagi tapi aku masih kangen sama kamu dan aku nggak mau pulang aku ingin meluk kamu semalaman"


"Eith eith eith...apa Mas bilang nggak mau pulang ? jadi aku yang harus ngungsi ya ?"


"Haaaaaaaa... nggak usah aku bercanda sayang nanti dua jam lagi aku pulang,lebih dikit nggak apa apa kan kita mau pisah sementara"


Arman tiduran di pangkuan Andini dan Andini mengusap usap rambutnya meneliti setiap detil wajah yang selalu di kangenin nya,Arman memejamkan matanya dan Andini membelai rambut dan pipi Arman,memainkan bibir yang agak gelap dan tebal,mengusap usap dagu dan bibir atasnya yang mulai tumbuh bulu bulu kasar dan semuanya begitu menggodanya untuk di sentuh.


Dan Andini seperti di tuntun terus menyelusuri bagian wajah Arman dan mengecupnya sekali kali dan sampai pada leher dan dada Arman,Andini mengusap usap dada di balik kemeja itu dan Arman membuka matanya.


"Stop sayang tak aku izinkan ke wilayah itu aku takut kita kebablasan,aku menikmati belaian kamu tapi jangan melintas kancingkan lagi kemejanya heee..."


Andini menarik tangannya dan terkekeh sendiri sambil menutup muka Arman kedua tangannya, lucu memang mereka saling mengingatkan saat satu sama lain mulai melintas portal pertahanan mereka dan itulah cinta yang mereka pertahankan demi satu kata yaitu kepercayaan dan rasa cinta itu sendiri yang harusnya mereka jaga.


"Aku bisa saja kirim Ardi ke sini buat temani kamu tapi terlalu beresiko,selain kalian belum kenal aku nggak mau ada orang lain deket kamu walau itu saudara aku,aku akan cemburu pada siapapun itu"


"Sama saudara sendiri ?"


"Iya"


"Terlalu !"


"Sayang sama siapa saja sesuatu mungkin saja terjadi dan aku tidak mau itu kamu hanya milik aku"


"Kalau teman yang main gitar di kost kostan kamu dan kamu yang jadi penyanyinya boleh lah"


"Dasar !"


"Aku akan membuat hidup kamu nyaman di sampingku dan kamu juga harus memberi kenyamanan buatku"


"Apa kenyamanan yang Mas inginkan dariku ?" Andini menatap wajah Arman yang berjarak hanya beberapa centimeter di hadapannya dalam posisi tiduran.


Arman memegang dagu Andini sambil tersenyum.


"Jangan bikin aku cemburu, selalu senyum buatku dan tampil cantik hanya buatku"


"Memang aku nggak cantik sekarang Mas ?"


"Owh sangat cantik sayang, makanya aku jatuh cinta sama kamu karena kamu cantik banget dan sangat menggodaku,tapi kan wanita selalu ingin tampil lebih cantik lagi aku beri kebebasan kamu untuk apa saja keinginanmu,mau merawat diri seperti artis,mau beli pakaian bagus aku bebaskan,nanti aku kirim lagi uang aku tambahin lagi saldonya yang kemarin udah di pakai berapa ?"


"Aku belum banyak pakai Mas sepertinya belum banyak ke ambil aku menggunakannya seperlunya saja,aku bukan perempuan boros dan aku kasihan Mas yang cari uangnya aku malah yang habisin"


"Haaaaaaaa...sayang Andini apa yang bisa aku berikan padamu akan aku berikan,dan aku semakin kagum dan sayang sama kamu kamu perempuan yang pengertian,aku bebaskan menggunakan uang malah kamu mikir mikir kasihan sama aku yang kerja cari duitnya,aku makin cinta sama kamu"


Andini tersenyum dalam pelukan Arman dan Arman semakin dalam memeluk tubuh ramping itu dan sesekali tanpa bosannya mereka saling ******* dan berakhir dengan nafas yang terengah engah.

__ADS_1


"Mas keluar kotanya ngapain kerjanya seperti apa maksudku ?"


"Aku mau survey lokasi proyek yang akan menjadi proyek aku sama temanku sayang,proyek itu aku dapatkan sama temanku dan kami kerjasama,itu proyek terbesar yang aku tangani selama karir aku,makanya kamu sabar aku tinggalkan dulu sebentar ya nanti kalau semua sudah berjalan aku akan kasih kamu kejutan"


"Kejutan apa Mas ?"


"Ya nanti lah aku kasih tahunya kalau sudah aku punya dan sediakan kejutannya"


"Tapi jangan bikin aku syok ya"


"Ya terserah aku dong heee..."


"Iiiiiiiiiih... Mas jahat deh"


"Yang jahat itu kamu" Arman tertawa sambil mencolek hidung Andini.


"Aku ? aku jahat apa ?"


"Kamu telah mencuri hatiku,dan merubah aku jadi kangen terus sama kamu,nggak fokus kerja dan melakukan apapun dan maunya hanya ini saja !" Arman menunjuk bibir Andini dan membelainya lembut.


"Nggak terasa sudah malam Mas, Mas kan berangkat pagi pagi dan istirahat lah pulang sana"


"Bentar lagi"


"Dari tadi bentar lagi bentar lagi terus"


"Heeeee...oke saya aku pulang dulu hati hati selalu dan dan baik baik di sini,aku akan telephon kamu di jam jam istirahat ya dan kamu tidur saja malam ini jangan begadang biar bisa mimpiin aku"


"Iya Mas"


"Aaaaah...Andini aku akan selalu kangen sama kamu" sekali lagi Arman memeluk Andini yang berdiri berjejeran sebelum menuruni tangga bersama.


Arman membuka kunci rolling door dan mendorongnya sedikit dan Andini juga Arman keluar Andini mengantar Arman sampai halaman di mana mobil Arman di parkir,dengan berat hati keduanya saling memandang dan tersenyum lalu melambaikan tangan dan berpisah.


.


.


.


.


Jangan lupa ikuti dan kunjungi juga novel karya Enis Sudrajat lainnya ya :


❤️ Pesona Aryanti (end)


❤️ Meniti Pelangi (on going)


❤️ Biarkan Aku Memilih (on going)

__ADS_1


Up setiap hari


Salam !


__ADS_2