Meniti Pelangi

Meniti Pelangi
Doa terbaik


__ADS_3

Arini masuk kamar, saat tamu semua beramah tamah dan makan bersama diikuti Mas Hadinata, semua tak terpikirkan sebelumnya.


Dunia Arini seakan terbalik dengan kenyataan yang ada di depan matanya, semua sungguh diluar ekspektasinya.


Hati dan perasaannya terasa diombang-ambing antara adiknya Andini dan Arman sahabatnya. Sebenarnya Arini sudah lama memaafkan Arman dan berusaha melupakan kejadian itu.


Tapi kenapa semua seakan muncul kembali ke permukaan semua yang telah terjadi. Dan seorang Arman yang telah membuat hatinya terkoyak luka.


Tapi Arini tak akan perlihatkan di depan orang-orang apalagi di depan kedua orang tuanya juga adiknya Andini,kalau antara dirinya dan Arman telah terjadi perseteruan yang sangat hebat, sampai memutuskan tali persahabatan yang telah mereka jalin sejak dari masa anak-anak.


"Mas." Arini memeluk Hadinata dengan linangan air mata dan hanya suaminya yang mengerti akan perasaan dirinya, sakit hatinya yang harus dikubur rasa kecewa yang harus dikikis habis demi keutuhan keluarga.


"Sabar sayang. Kita do'akan yang terbaik buat mereka, satu yang aku harapkan dari kamu, jaga perasaan adikmu sendiri."


"Semoga aku bisa dan harus berusaha bisa Mas. Terimakasih atas pengertiannya, hanya Mas Hadi yang mengerti perasaanku."


"Aku yakin kamu bisa melewatinya sayang."


"Semoga Mas."


Di luar, di tengah acara, lagi berlangsung ramah tamah acara akhir semua tampak bersukacita, saling menyapa dan bercerita tentang keluarga mereka masing-masing.


Ibunya Andini begitu akrab dengan Ibunya Arman, mereka berusaha mengakrabkan diri karena akan menjadi besan.


Bapaknya juga kelihatan berseri menyapa saudara dan kerabatnya Arman juga Bapaknya, obrolan khas laki-laki.


Di satu sudut rumah, Andini dan Arman tak kalah berbunga nya hati mereka, saling pandang penuh arti sambil makan dan bercengkrama.


Tak bosan Arman memandang wajah cantik Andini yang terlihat begitu apik dan Arman tak henti bilang cantik, suka, sayang dan juga begitu cinta, dengan jujur memperlihatkan rasa dan perasaannya begitu suka akan penampilannya Andini yang begitu pangling.


Tak kalah begitu berbunga nya hati Andini, satu keseriusan dari seorang laki-laki yang di cintainya harapan berjuta perempuan.


"Mas, kok Teh Rini nggak terkejut?"


"Ah, sebenarnya dia terkejut tapi lebih bisa sembunyikan semuanya di depan kamu."


"Terus pertama ketemu tadi sama Mas Arman gimana?"


"Aku melihat dia terkejut bahkan malah bengong. Mungkin tak menyangka kalau pacar kamu itu aku."


"Mana sekarang Teh Rini ya?"


Andini menyapu seluruh ruangan tapi tak melihat sosok Kakaknya.

__ADS_1


Lalu Andini pamit dulu sama Arman maksud hati ingin mencari Kakaknya. Andini mencari Arini sampai di kamarnya dan menerobos masuk tanpa mengetuk dulu.


Andini melihat dan menyaksikan Kakaknya lagi di peluk Mas Hadinata sambil menangis. Andini melongo sendiri kenapa Arini kakaknya menangis seperti itu? Bukankan ini hari pertunangannya dimana semua orang begitu gembira menyambutnya, tapi kenapa Arini Kakaknya bersedih sampai mengasingkan diri bersama suaminya.


Mau memanggil pun Andini langsung batal, dan mundur selangkah merasa bersalah ada diantara suami istri dalam keadaan ber-tangisan.


Andini merasa bersalah, dari sekian banyaknya kesalahan terhadap Kakaknya, terutama sejak awal dirinya membina hubungan dengan Mas Arman.


Andini berpikir mungkin semua tangisan Kakaknya ada hubungannya dengan dirinya, di situlah Andini merasa ada yang harus di sampaikan pada Kakaknya Arini.


"Ya, Dini ada apa? masuklah."


Andini ragu untuk masuk, melihat Kakaknya melepaskan pelukan dari suaminya sambil menyeka airmatanya. Terlihat kesedihan yang mendalam di mata Arini, karena saat menangis ada orang yang menjadi objek kesedihannya datang jadi merasa semakin bersedih.


"Ada apa Teh Rini, Mas Hadi? kok Teh Rini menangis?"


"Aku menangis bahagia Dini, jangan berpikiran yang lain-lain."


"Teh, aku bertunangan sama teman sekolah Teh Rini dari kecil, seharusnya Teteh bisa lebih akrab dan kelihatan antusias saat aku beri kejutan, tapi kenapa seolah ada hal yang aneh?"


"Dini, jangan samakan aku dengan sebelum menikah, ada batas sejak aku menikah mana yang pantas dan yang tidak, aku sudah lama tak bertemu Arman. Teman lama akan kehabisan topik pembicaraan saat bertemu, karena hanya masa lalu yang di obrolkan."


Andini tak menyadari semuanya,


"Tapi kenapa Teh Rini masuk kamar dan menangis? ada apa dengan semuanya, apa aku yang membuat Teh Rini sedih atau apa?"


"Ada hal yang tak bisa aku cerita pada semua orang Dini, aku punya suamiku tempat aku mencurahkan segala rasa kini, dan yang pantas mendengarkan keluh kesah istrinya hanya seorang suami."


"Yakin Teh Rini nggak apa-apa?"


"Iya Dini, aku sama Mas Hadi mendo'akan yang terbaik buat kamu dan rumahtangga mu kelak."


"Makasih Teh, juga Mas Hadi."


"Kamu makanlah dulu, kita masih ada yang di obrolkan."


"Iya Mas."


Andini keluar dari pintu kamar Kakaknya, dengan pertanyaan yang belum terjawab tuntas, di dalam pikirannya tetap saja mengganjal pikiran dan perasaan gak enak hati, ada apa dengan mereka sampai mereka khususnya Teh Rini nangis?


Andini duduk kembali di hadapan Arman dengan sedikit agak mendung, Arman dan Ardi adiknya juga Arya adik bungsu Andini juga Bima lagi duduk juga sambil ngobrol.


"Dini sayang, aku tidur di rumahku ya, besok aku samper dan ke Bandung lagi sama-sama."

__ADS_1


"Iya Mas."


"Kakakmu Arini ada?"


"Ada, sepertinya kurang enak badan."


"Oh."


Arman berpikir mungkin Arini begitu membencinya, betapa ingin Arman katakan langsung permintaan maafnya, dan baru kali ini Arman bertemu muka kembali semenjak mereka berpisah, ketika Arman saat itu di ruangan kantornya mengatakan kata-kata kasar dan penghinaan terhadap Arini karena keegoisan dan perasaan arogant nya.


Arman mengerti dan menyadarinya, dirinya bukan sahabat yang baik bagi Arini dan bukan kata-kata sahabat yang seperti itu.


Hanya karena mendapatkan Arini yang di cintainya tak memberikan rasa cintanya, malah memilih seorang atasannya yang punya istri.


Cinta bertepuk sebelah tangan membuat Arman tersinggung dan ucapan serta penghinaan saat Arini datang meminta bantuannya.


Arini layak kecewa dan sakit hati Arman mengakui dirinya memang tak layak di maafkan.


Dunia seakan begitu sempit, Dirinya bertemu adiknya Arini Andini secara tak sengaja, mereka jatuh cinta dan berpacaran, cinta yang di berikan Arman begitu membuai Andini. Begitu juga Arman ada rasa ingin memperlihatkan di hadapan Arini kalau dirinya sanggup memberikan segalanya pada cintanya.


Aku pecinta sejati walau bukan hinggap untuk pertama kali, begitu Arman meyakinkan dirinya. Dengan segala kemampuan dan segala yang di milikinya Arman juga tak mudah menjatuhkan pilihan, dan baru kali ini setelah di tolak cintanya sama Arini Arman jatuh cinta dan bertekuk di hadapan Andini.


Melihat Bima di hadapannya Arman seperti, melihat Arini dan Hadi calon Kakak iparnya.


Arman memangku Bima dan mendudukkannya di pangkuannya, membelai kepalanya dan mengusap pipinya.


"Kita kenalan dulu ya, namanya siapa?"


"Bimantara."


"Wah, gagah banget namanya."


"Om siapa namanya?"


"Om Arman.


****


Happy reading dan tinggalkan jejak mu ❤️🙏


Rekomendasi Novel yang sangat bagus untukmu, Pesona Aryanti karya Enis Sudrajat🙏❤️


__ADS_1


__ADS_2