Meniti Pelangi

Meniti Pelangi
Penasaran


__ADS_3

Aku harus bangkit semangat dan semangat lagi,kini Arini bukan lagi tujuanku sekarang,semua harus berubah haluan,Aku harus bisa menata hatiku sendiri,walau telah hancur semuanya berkeping keping,semua kandas tak tersisa,hanya sakit yang mengganjal di relung hatiku,satu hal yang ingin aku tahu seperti apa suami pilihan Arini.


Ya ya ya.. Lusy sekretaris Arini,juga sekaligus teman dekat Arini jadi mustahil Lusy tak tahu masalah sahabatnya,kenapa Arini menikah buru buru,atau jangan jangan Arini kecelakaan,tapi ah...nggak mungkin Arini bukan orang seperti itu,seberapa lama pacarannya,orang seperti apa suaminya,dan setumpuk penasaran lainnya.


Arman mencari cari no ponsel Lusy,terakhir makan siang sama Arini Lusy pernah tukeran no ponsel sama dirinya.


"kriiiiiiiiiiiiing..."


"Yaaaa"


"Hallo Lusy"


"Siapa ya ?"


"Aku Arman temen Arini...yang waktu itu kita pernah makan bareng"


"Owgh ya ampun maaf Mas Arman,no nya nggak ke save,Mas Arman apa khabar ?"


"Aku alhamdulillah baik baik aja"


"Lus aku mau tanya apa itu benar ? Arini udah menikah ya Lus,kok aku nggak di undang ?"


"Iya Mas Arman,emang nggak banyak yang di undang, private banget,dengan alasan biar lebih sakral dan khidmat katanya"


"Iya Lus aku memang bukan orang penting di kehidupan Arini,juga bukan kerabatnya aku hanya temannya"


"Mas Arman tahu dari mana ?"


"Arini sendiri yang ngomong ke aku"


"Oh..."


"Lama pacarannya Lus ?"


"Emh....di bilang lama cukup lama,bahkan bertahun tahun,di bilang sebentar emang seriusnya sebentar begitulah rumit kisah mereka itu...heeee..."


"Hah ? bertahun tahun ? apa masih temen kerja ya ?"


"Emang Mas Arman belum kenal ? Bukan Mas bukan temen kerja,itu Pak Hadinata pemilik Radio kami,juga pemilik usaha usaha lain seperti kontraktor juga,Yang saya tahu pak Hadi sudah menikah sebelumnya tapi saya nggak tahu statusnya,juga masalahnya yang sebenarnya saya takut salah"


Deg !Arman merasa ada yang menonjok di dadanya,Arini menikah dengan atasannya yang sudah menikah sebelumnya, berarti Arini istri ke dua dong,


Ya ampun Arini atas dasar apakah pernikahanmu,jabatan ? materi ? status ? betapa jahatnya kamu,teganya kamu mempertaruhkan hidupmu seperti itu,Arman mempertanyakan semua itu pada kehampaan.


"Hallo Mas Arman ?"


"Oh eh iya Lus makasih ya khabar kabari nya,


Boleh kita suatu saat ketemu meneruskan perkenalan kita ?"


"Owgh boleh boleh dengan senang hati"

__ADS_1


"Save nomor ku ya jangan lupa"


"Iya Mas..."


"Ya udah dulu ya"


Arini betapa aku tak mengerti jalan fikiran mu, apa dunia ini begitu sempit bagimu ? Aku tawarkan cinta yang tulus sepenuh hatiku tapi kamu tak hiraukan ku,tak sedikitpun kamu membuka hati untukku.


Aku akan menjadi saksi perjalanan rumahtangga mu Arini ! Apa kau cukup pintar dengan pilihanmu,atau kau begitu naif dengan ambisi mu !


Arman meninju ninju tembok,meja apa aja yang ada di hadapannya,hatinya tak terima,geram,sakit hati,marah benci,tapi entah pada siapa,mungkin pada dirinya sendiri yang tidak bisa memenangkan dan meyakinkan hati Arini.


Ingin rasanya ia teriak sekeras kerasnya,menghilangkan segala ganjalan di hatinya,tak tentu apa yang di fikirkan nya,semua mumet dan buntu,Arini yang begitu di cintanya memilih menjadi istri kedua, betapa Ia membenci predikat itu.


Siapa yang tak tertarik dengan Arini,cantik,pintar,baik,sopan,ramah pada siapapun,jangankan orang biasa ternyata pimpinannya juga kepincut dan bisa memenangkan hatinya.


Arman membereskan dan memisahkan map map di mejanya,Ia begitu berharap pada satu map berisi berkas pengajuan lelang tender proyek Departemen Perumahan Rakyat yang akan di serahkannya hari ini.


Arman keluar ruangannya menuju parkiran dengan map di tangannya,langkahnya panjang panjang seperti orang yang baru mendapat suntikan semangat.


Datang ke kantor Departemen Perumahan Rakyat sudah banyak yang hadir,sama mungkin seperti dirinya pemilik usaha kecil dan menengah yang ingin mengadu nasib memenangkan order proyek,semua mengambil antrian dan duduk menunggu di panggil.


Ada satu pasangan yang turun dari mobil hitam mengkilat,yang laki lakinya tinggi tegap gagah,ganteng,dengan rambut sedikit berombak ramah pada semua yang bertatapan dengannya,dan yang perempuannya tinggi,putih,cantik berhijab dengan setelan yang sangat serasi dan pas di tubuhnya yang ramping ideal,semua mata terpesona.


Arman salah tingkah,bingung gugup,dan sejenisnya,samperin apa nggak ? pura pura nggak melihat aja atau biarin aja,


tapi keberaniannya benar benar mengalahkannya.


"Hai juga ya ampuuun... Arman,kamu di sini juga ? Mas Hadi nih kenalin sahabat saya masa sekolah Mas"


Hadi berdiri tersenyum dan menjulurkan tangannya ke arah Arman dan menyebut nama masing masing.


"Man ini Mas Hadinata suamiku,seneng banget kita bertemu di sini"


"Ternyata usaha kita sama Mas Arman"


"Oh Iya..."


"Sudah lama di bidang properti ini ?"


"Lumayan,meneruskan usaha orangtua,tapi pindah ke Bandung ada kali empat lima bulanan"


"Mungkin kita bisa kerjasama kedepannya"


"Ya,semoga"


Mereka terlihat ngobrol yang ringan ringan,Hadi nampak akrab begitu juga Arman sebisa mungkin tak memperlihatkan suasana hatinya,Hanya Arini yang datar saja tanpa beban,senyumnya selalu mengembang.


"Sayang, Pak Priyo sebentar lagi mau datang,biar dia aja yang meneruskan ngantri di sini"


"Oh ya udah"

__ADS_1


"Mas Arman,kami pamit duluan ya,semoga sukses"


"Oh iya,iya..."


Hadi menyalami Arman begitu juga Arini.


"Yu yah Man"


"Iya Rin"


Hadi berjalan sambil merengkuh sebelah bahu Arini,Arman menatapnya dengan perasaan nanar,Hadi tahu siapa Arman,tahu juga hatinya terhadap istrinya,sengaja Ia tak ingin berlama lama ngobrol dan mengambil langkah sendiri dengan menelphon Pak Priyo.


Hadi merasa kebetulan bertemu Arman,karena Dirinya dan istrinya tak harus menceritakan pernikahannya,cukup dengan kemesraan mereka.


Arini kelihatannya bahagia dengan pernikahannya,tak ada raut raut muka muram, begitu juga suaminya begitu mesra seakan jauh dari bayangan Arman selama ini,Arini yang tertekan,muka terpaksa,terkekang, terbebani,sedih dan kecewa.


Apakah ini setingan atau kenyataannya seperti itu, aaaaah...apa peduliku dengan mereka,mau bahagia,mau nggak bukan urusanku...Arman mengutuk dirinya dan mengusap mukanya


Tapi jauh di sudut hatinya sosok Arini masih mengisinya.


Hadi menatap istrinya yang duduk di sampingnya,meremas jari istrinya yang jari manisnya dilingkari cincin pernikahannya, ada perasaan lega setelah melihat kikuknya Arman di hadapannya,terlihat jelas ada rasa yang di sembunyikan.


"Kita ke mana sayang ?"


"Katanya mau lihat lokasi untuk proyek baru kita Mas ?"


"Tapi agak jauh nggak apa ya kan sekalian jalan jalan"


"Nggak apa apa aku seneng Mas ngajak aku jalan jalan"


"Sayang,maafkan aku ya,aku tak membawamu ke mana mana,sebagai liburan bulan madu kita,sekarang malah udah beberapa bulan kita menikah"


"Mas nggak usah minta maaf,aku nggak menuntut itu semua kok,asal kita selalu bersama,perencanaan masa depan lebih kita fokuskan lagi"


"Bulan madunya di rumah mulu,takut kamu nya bosan sayang"


"Nggak kok Mas asal mau tidur dan bangun tidur ada Mas itu udah bulan madu... heeee..."


Arman menepikan mobilnya,turun di susul Arini.


"Lokasi ini sudah lama aku incar,sampai aku mampu membelinya,aku peruntukkan ini proyek masa depan kita sayang.


"Pasti banyak dana yang Mas keluarkan ya ?"


"Lumayan banyak,oh iya sayang aku lupa kita belum membahas soal keuangan kita,nanti aja di rumah ya,


Lokasi ini kedepannya pasti akan strategis apalagi sebelah sana akan di bangun perumahan rakyat yang tadi kita mengajukan lelang tender Departemen Perumahan Rakyat.


Hadi antusias melihat lokasi yang masih kosong itu dan menunjukkan batas batasnya pada Arini.


"Semoga kita bisa merealisasikan mimpi kita sayang

__ADS_1


Arini menatap Hadi,tersenyum dan mengangguk...


__ADS_2