
Deru mobil di depan, Arman datang. Bi Minah membuka pagar, mobil masuk ke halaman.
Bima menyambutnya dan Arman memangku nya, mencium pipi menggemaskan anak laki-laki itu.
"Tante Dini ada?"
"Ada Om, Papa juga Mama ada."
"Ya sudah, Bima main lagi ya biar Om masuk dulu." Arman menurunkan Bima dari pangkuannya.
Arman memberi salam, Hadi menjawab dan mempersilahkan Arman masuk di ruang tamu.
Mereka duduk, walaupun ini pertama kali Arman masuk ke rumah Kakak iparnya, Arman berusaha menghilangkan kecanggungan.
"Dini ada di sini kan Mas?" Arman duluan bertanya pada Hadi.
"Iya, aku juga nggak ngerti ada apa, tiba-tiba Rini nelephon pulang katanya Dini mengadu nangis di sini." jawab Hadi.
"Aku juga belum mengerti ada apa." sahut Arman.
Datang Arini dengan gelas minuman di nampan di simpan depan suaminya dan depan Arman.
"Ma, panggil Dini biar dia mendengar penjelasan suaminya."
Arini masuk dan kembali dengan Andini kelihatan matanya merah, habis nangis. Andini duduk di samping Arini. Arman menatapnya dengan tanda tanya.
"Ada apa dengan Dini, Rin? sayang kenapa?" Arman memandang Arini dan Andini istrinya bergantian.
"Harusnya aku yang tanya sama kamu, kenapa sampai Andini datang ke sini?" jawab Arini.
"Aku nggak merasa ada apa-apa Rin, selain khabar kalau Dini kemarin periksa positif hamil."
Arman memberi penjelasan, menatap istrinya juga Kakak iparnya.
__ADS_1
"Coba baca pesan dari temanmu yang bernama Hans Wijaya, apa isinya? Andini membaca pesan itu! apa maksudnya? kamu mempermainkan adikku? dengan menjadikannya taruhan 1M dengan temanmu! Astagfirullah Arman, di mana perasaanmu?"
Arini mulai emosi, Hadi yang mau ngomong duluan menjadi diam karena Arini keburu mencerca Arman.
Arman membuka ponselnya dan mencari pesan yang dimaksud, Arman terkejut melihat dan membacanya.
"Astaga! rupanya berawal dari pesan ini Rin? semua ini tidak seperti yang kalian sangka dan tuduhkan kepadaku! oke aku akan cerita semuanya dari awal agar kalian semua bisa tahu yang sebenarnya, bahkan bila perlu kita konfrontasi dengan Hans Wijaya sendiri kalau antara aku sama dia seperti apa ceritanya."
"Aku tidak perlu konfrontasi dengan orang yang tidak aku dikenal. Aku hanya bertanya satu aja kepadamu Arman! apa kamu benar menjadikan Andini taruhan?"
Arman diam memandang satu satu pada orang di hadapannya.
"Ya, aku taruhan dengan temanku Hans Wijaya! cerita berawal jauh sebelum aku kenal Andini Istriku. Kami sama-sama jomblo tidak memiliki kekasih, aku dengan Hans begitu saling percaya. Hans Wijaya adalah partner kerja, partner bisnis sudah seperti saudara sendiri. Dari situ semua cerita berawal."
"Kamu seenaknya aja Arman! apa motivasimu dalam taruhan itu?" Arini tetap ngomong dengan nada tinggi.
"Arini, Mas Hadi juga Andini tolong dengarkan aku! Aku sama Hans sama-sama jomblo sedangkan orang tua kami selalu mendesak kami untuk segera berumah tangga. Mencari pasangan di saat usia dewasa tidak semudah membalikkan tangan, perlu adaptasi, perlu perkenalan dan tidak segampang membalikan tangan. Berawal dari iseng dan obrolan biasa Hans mengusulkan diantara kami berdua siapa-siapa yang duluan mendapatkan perempuan, mendapatkan pacar, mendapatkan cewek terus sampai menikah kami bertaruh akan membayar 1M dengan syarat pacaran dan saling cinta lalu menikah."
Semua diam termasuk Andini.
"Brengsek berarti kalian berdua." Arini bersungut-sungut.
"Stop Rin! jangan dulu memberi penilaian jelek karena aku belum selesai bercerita." Arman memandang Istrinya juga Arini Kakak iparnya.
"Mulai dari situ, kami mencari jodoh kami masing-masing walaupun kami tidak berharap banyak dari pencarian konyol yang kami lakukan. Dengan harapan bukan 1M yang menjadi target! aku dan Hans kami serius mencari kekasih dan berniat tulus ingin mencari pasangan hidup kami."
"Tapi kamu tetap salah menjadikan istrimu taruhan dan permainan kamu! itu yang menyakitkan." Arini tetap tegang, sedang Andini hanya mendengar dan memikirkan ucapan suaminya.
"Buat apa uang 1M? aku punya lebih dari nilai itu, aku punya aset punya modal usaha, aku harus ngomong apa sama kamu Rin biar kamu ngerti? aku sudah berbicara sama Hans waktu itu, nggak usah jadi kirim uang nggak usah transfer buatku. Aku sudah bahagia dengan pernikahanku aku sudah bahagia memiliki Andini sebagai istriku, aku tidak kurang suatu apapun. Tapi Hans orangnya bertanggungjawab dan konsekuen pada janji dirinya sendiri."
Semua diam dan hening.
"Aku dan Hans punya prinsip yang sama dalam hal mencari jodoh. Menurut Hans Wijaya kalau mencari seorang cewek orang kuliahan kita harus nongkrong di halte bus kampus, universitas atau akademi, kalau kamu ingin mencari perawat cantik kamu harus nongkrong di halte rumah sakit, juga kalau ingin mencari cewek karyawan harus nongkrong depan kantor atau pabrik mungkin seperti itulah awal kekonyolan kami dan akhirnya aku terdampar di halte kampus Andini waktu itu saat Andini mogok motornya."
__ADS_1
"Apapun alasannya kamu tak. berterus terang dari awal, tak ada keterbukaan, jangan anggap dengan pembelaan diri sudah menjadi orang yang baik! saat tahu kejelekan mu, istrimu jadi tersakiti." Arini mengemukakan pendapatnya.
"Apa yang kamu katakan Rin? benar aku bukan orang baik, jujur dan terus terang! tapi aku ingin berubah menjadi orang yang lebih baik, aku selalu belajar untuk bisa jadi pribadi yang lebih baik dari orang yang aku kenal, aku ingin menjadi suami yang baik buat istriku, menjadi teman dan sahabat baik, menjadi anak yang baik buat orangtuaku dan calon bapak yang baik bagi anakku, tak bolehkah aku merubah hidupku?"
"Arman, sudahlah aku menangkap permasalahan mu ini hanya salah faham saja." Mas Hadi bicara bijaksana.
"Tapi Arini menuduh aku seakan aku orang yang tak punya sedikitpun kebaikan dalam hidupku, satu kesalahan bisa di perbaiki dengan tidak mengulanginya. Baiklah, satu lagi kejujuran ku padamu Arini! aku yang waktu itu menabrak mobil suamimu karena aku dan temanku lagi agak mabuk. Saat itu aku lengah. Aku syok dan belum bisa menerima kenyataan kalau yang aku tabrak itu suamimu bersama seorang sopir apa temannya yang baru keluar dari pintu gerbang kantor. Kini Aku telah jujur dengan segala kesalahanku, yang selama ini sampai sekarang menjadi ganjalan di hatiku, aku siap untuk bertanggungjawab."
Arini, Andini dan Hadinata terkejut luar biasa, tak di sangka kedatangan Arman membuka tabir yang selama ini jadi misteri.
"Apa kamu bilang? sekarang mau bertanggungjawab, seperti apa tanggungjawab mu heh?" Arini semakin sewot.
"Astaghfirullahaladzim, Arman! kenapa kamu tak berterus terang dari awal?" Hadi menatap tajam wajah Arman.
"Mas Hadi, dilema bagiku untuk berterus terang, akan ada sangkaan aku sengaja mencelakai suami orang yang aku cintai! sehingga aku memilih waktu yang tepat untuk bercerita semuanya, saat ini mungkin yang paling tepat membuat pengakuan untuk berterus terang dan meminta maaf."
Andini menangis saat mendengar kejujuran suaminya, kalau suaminya Arman juga mencintai Arini Kakaknya. Mengakui juga kesalahan kalau dirinya yang menabrak Mas Hadi waktu itu, hingga tak bisa jalan selama tiga tahun.
"Andini semua itu berubah setelah aku bertemu denganmu, Aku tak lagi mencintai siapapun selain kamu, saat kita pacaran adalah saat terberat ku, haruskah aku terus terang saat itu? tapi rasa cinta yang begitu besar padamu aku tak bisa menyakiti kamu, maafkan aku."
"Begitu gampangnya kamu minta maaf, setelah menjadikan suamiku tak berdaya selama tiga tahun dan adikku menjadi taruhan permainanmu Arman!"
"Apapun pembelaan ku dan alasanku tak akan masuk dan di terima saat emosi menguasai kita, aku pasrah silahkan serahkan aku pada polisi. Usut kasus itu sampai tuntas, aku siap mempertanggungjawabkan semua perbuatan ku, aku siap di penjara kalau maaf tak bisa aku terima. Aku berpikir akan ada saatnya aku berterus terang dan inilah saatnya."
Semua diam dengan perasaannya masing-masing.
"Aku siap menjalani hukuman, aku telah mempersiapkan segalanya buat istriku, buat kerja dan toko untuk dia kelola bila suatu saat aku harus menjalani hukuman dan mendekam di penjara!"
Tangisan Andini semakin sedih dan sesenggukan, mendengar pengakuan dan kejujuran yang suaminya Arman ungkapkan.
*****
Happy reading dan tinggalkan jejak mu ❤️🙏
__ADS_1
Sambil nunggu up Meniti Pelangi baca novel yang sangat bagus untukmu, Masa Lalu Sang Presdir karya Enis Sudrajat. fav, like dan vote ya 🙏❤️