Meniti Pelangi

Meniti Pelangi
Gantian traktir


__ADS_3

Arman tertawa sambil memeluk tunangannya yang tersenyum juga.


"Aku kira kamu ga suka dengan apa yang aku berikan."


"Siapa yang nggak suka di kasih hadiah?"


"Kalau di kasih ini suka nggak?"


Arman mencium bibir merekah merah jambu Andini yang berada di pelukannya.


"Mas, aku belum mandi."


"Walau belum mandi aku tetap suka, kamu begitu wangi walau nggak mandi juga, biarin nggak usah mandi aku suka wangi kamu."


"Ah, Mas gombal masa orang nggak mandi di bilang wangi?"


"Tapi aku suka!"


"Aku nggak mau."


"Kenapa?"


"Itu rolling door nya belum di tutup."


"Terus kalau sudah di tutup kita ngapain?"


"Pokoknya tutup aja tokonya aku malu, kalau sampai ketahuan orang kita seperti mesum berdua sini."


"Oke, aku tutup dulu sementara kamu boleh naik sana, mau mandi juga boleh nanti aku tungguin sebelum kita jalan-jalan, tapi aku kasih pelukan dulu ya?"


Andini tersenyum sambil mengangguk, dan naik ke lantai dua rukonya dan langsung masuk kamar mandi. Dan membiarkan Arman menutup rolling door tokonya.


Keluar kamar mandi Andini melihat Arman tidur di tempat tidurnya Andini membiarkannya.


Andini berdandan di meja rias sebelah tempat tidurnya.


"Mas, katanya mau jalan-jalan kok malah tidur?"


Arman diam saja. Andini selesai berdandan menghampiri sambil menggoyangkan pangkal lengan kekasihnya.


Arman yang pura-pura tidur menarik tangan Andini yang berdiri membungkuk menghadap ke arahnya, sengaja Arman membuat kaget Andini dan pura-pura tidur.


Andini menjerit karena kaget sehingga sampai jatuh menimpa tubuh Arman yang ada di bawahnya.


Di peluknya tubuh harum itu dan bibirnya menjadi sasaran utamanya.


"Aku mau memeluk kamu semalaman Dini, aku kangen banget."


"Mas jangan ngaco, kurang empat minggu lagi kita bisa ngapa-ngapain, aku akan berikan semuanya."


"Tapi aku nggak tahan sayang, dan nggak sabar."

__ADS_1


"Aku juga sama Mas, makanya kita jangan di sini, kita jalan-jalan aja yuk, untuk mengalihkan semuanya."


Arman semakin erat memeluk Andini dan mengunci pelukannya.


"Mas jangan! aku mohon jangan lakukan itu."


"Enggak sayang, aku hanya mau memelukmu saja. Jangan takut aku masih ingat komitmen kita."


"Aku takut, jangan di sini katanya mau jalan ayo kita berangkat sekarang."


"Aku mau sepuluh menit aja."


"Ah, Mas jangan begitu aku merasa nggak enak."


"Sayang, tapi aku kangen, pelukan aja ya?"


"Aku juga suka nggak bisa ngontrol diri, jangan memancing aku."


"Oke, maafkan aku ya, ayo kita jalan, kita coba mobil kejutannya."


Arman menunggu Andini di pintu menuju tangga, sambil memandang Andini berdandan sekali lagi di depan cermin.


Andini selalu menarik dalam kondisi apapun di matanya, tak tega rasanya melihat kekasihnya memohon di hadapannya walau dirinya begitu ingin bermesraan. Arman sadar sekarang belum waktunya dan harus menghargai prinsip masing-masing.


Mereka keluar mencoba menaiki mobil barunya, walau Andini dalam hatinya belum bisa menerima semuanya, terasa berlebihan rasanya Arman memberikan hadiah seistimewa itu, bahkan Andini ada sedikit rasa nggak enak di hadapan keluarganya takut dirinya yang terlalu menuntut padahal Arman lah yang menghargainya begitu.


"Gimana enak nggak mobil barunya?"


"Haaa... kamu bisa aja, seperti aku dong yang bikin kamu nyaman."


"Heeee...Mas sayang, tapi aku terima ini mobil kalau kita sudah resmi jadi suami istri ya, aku mohon, simpan aja dulu di rumahmu."


"Loh kenapa? memang kamu nggak suka dengan hadiah ini?"


"Suka banget Mas bahkan aku mau guling-guling rasanya saking senangnya. Tapi ada hal yang harus di jaga mungkin ini alasan cengeng atau apa, aku menjaga pandangan orang lain dan keluargaku."


"Maksud kamu itu apa?"


"Aku begitu menjaga pandangan orang negatif aja, takutnya sangkaan mereka aku yang meminta ini itu dan menuntut berlebihan, di hadapan orangtuaku juga orang tuanya Mas sendiri."


"Andini! sebentar lagi kamu jadi istri aku apa salahnya sih?"


"Nggak salah Mas, tapi maaf kalau aku menjaga nama baik Mas juga diriku sendiri, apa aku juga salah?"


"Oke sayang, apapun itu aku mohon maaf memberikan hadiah tanpa berunding dulu, biar aku pakai aja mobilnya ya."


"Jangan! ini kan punya aku. Tapi aku titip dulu sampai aku bisa memakainya dan aku sah jadi istri Mas."


"Baiklah aku mengerti sayang, calon istriku yang paling cantik, aku ikuti keinginanmu, asal kamu senang aku juga bahagia."


"Sekarang kita ke mana ini?"

__ADS_1


"Aku mau makan dulu, boleh nggak? soalnya nanti mau cari sepatu buat wisuda sama sekalian buat ganti di resepsi nanti."


"Nih pakai." Arman menyodorkan ATM ke hadapan Andini.


"Aku juga banyak nggak usah, Mas kan habis keluar duit banyak buat hadiah yang besar, yang kecil-kecil biar aku yang bayar ini juga duit dari Mas heee..."


"Sombongnya calon istriku yang punya banyak duit, sekarang traktir aku hasil dari toko itu ya?"


"Boleh banget, ayo biar aku nggak malu lagi bisa traktir Mas dari hasil usahaku."


"Jangan sayang, kamu tak berkewajiban, aku yang harusnya tanggungjawab atas hidupmu."


"Nggak apa, aku mau juga memberi dan berbagi hasil usahaku."


"Emang udah ada hasilnya?"


"Ada lah."


"Ya sudah, syukurlah. Pertama kali aku akan di traktir cewek, cantik juga baik haaa... terasa hilang harga diriku."


"Kok gitu sih Mas?"


"Bercanda sayang, saking senangnya aku punya kamu, bukannya kamu memanfaatkan aku malah kamu yang mau berbagi dengan aku, aku makin sayang sama kamu cantik!"


"Jangan memuji belum tahu aja kalau aku marah ya? aku bisa makan orang juga Mas."


"Haaaaaaaa...lucu kamu, mau banget kamu makan aku."


"Ssssssssst... Mas kita dah sampai."


Mereka turun dan bergandengan tangan menuju tempat makan yang di pilih Andini, lesehan santai mereka duduk berdua bersisian, Andini dengan manja menyandarkan kepalanya di bahu Arman sambil selonjoran kaki mungkin karena pegal seharian duduk di kursi kasir, Arman yang santai memilih menu membiarkan Andini di pundaknya.


Sepasang mata memandang dan meyakinkan dengan mengerutkan dahinya, Hans Wijaya temannya Arman, sedang mengamati apa yang sedang di lihatnya.


Sepertinya si Bos sedang serius ini dan aku akan kalah taruhan kalau seandainya mereka tambah serius. Biarlah dia bahagia nanti biar aku menyusul walau aku harus keluar duit sebagai komitmen kesepakatan.


Hans Wijaya perlahan meninggalkan Restourant itu takut kelihatan dan ketahuan sama sahabatnya dirinya makan sendiri di Restourant itu, sudah pasti dirinya nanti di bully.


Bukannya tak serius usaha Hans Wijaya juga dalam mencari seorang jodoh yang serius, selain omongan kedua orangtuanya yang mulai tak nyaman di telinganya dan adik perempuannya yang mulai bawa teman cowoknya, seakan sentilan serius bagi dirinya dan warning untuk segera beranjak dari zonanya sekarang.


Ingin segera merubah statusnya yang sekarang, tapi kenapa dirinya tak semudah si Bos Arman dalam menemukan pasangannya.


Seperti Arman saja, Hans Wijaya memiliki segalanya dan usaha yang mumpuni tapi merasa kurang sukses dalam percintaan.


*****


Happy reading dan tinggalkan jejak mu ❤️🙏


Sambil nunggu up Meniti Pelangi baca novel yang sangat bagus untukmu, TERNYATA ITU CINTA By Aveeiiii, fav, like dan vote ya 🙏❤️


__ADS_1


__ADS_2