
"Halo bro gimana hari harinya apakah sudah jauh berkelana ? 1M cuma cuma menanti haaa..."
"Elu sendiri gimana apa sudah ada sedikit bayang bayang yang cocok dengan hati nurani lu, orang tua lu, saudara lu, nenek kakek lu,pakde bude lu ?"
"Haaaa... belum boss tapi sepertinya aku yang akan menerima 1M dan akan aku persembahkan untuk Nyonya Milioner Hans Wijaya"
"Mimpi lu !"
"Apalagi lu bro mengkhayal kali jadi pemenang ! gimana mau ngalahin gue sekarang aja lu pasti lagi memandang photo masa lalu mu Arini dari meja kerja lu ya kan ?"
"Sue lu kalau iya kenapa ? kalau di batalkan saja semua perjanjian ini gimana ?"
"Haaaaaaaa...kalah sebelum berusaha si boss ini,ya nggak bisa siapa siapa yang mundur cash 1M siap mengisi saldo"
"Oke lah kalau begitu lanjuuuut..."
"Ke lapangan boss kita kontrol proyek perumahan sambil makan siang yuk"
"Aduh bro gue sudah ada janji dengan teman kapan kapan lah atur lagi waktunya jangan dadakan"
"Janji apaan nih janji mandangin photo mantan ? haaa..."
"Suka suka gue lah,pokoknya hari ini nggak bisa aja judulnya titik"
"Ceilaaaaa...serius amat"
"Harus serius untuk nyonya 1Milioner"
"Oke selamat berjuang boss !"
"Siiiiip"
Arman menyimpan ponselnya di meja dan setengah jam lagi dirinya keluar,Arman mendatangi asistennya Rima dan bicara sesuatu dan Rima mengangguk angguk sambil tersenyum, sepertinya pembicaraan mereka sangat serius terlihat Arman mondar mandir seperti berfikir dan akhirnya Arman meninggalkan Rima dan masuk ruangannya,lalu keluar lagi sambil pamitan sama Rima dan pekerja kantor lainnya dan Rima tersenyum sambil melambaikan tangannya.
"Selamat berjuang boss !"
"Ssssst..."
Arman menjalankan mobilnya dengan perasaan deg degan,apa yang akan dirinya perlihatkan di hadapan Andini nanti dan bagaimana reaksinya Andini, seakan tak percaya dengan perasaannya sendiri dan keyakinannya juga seakan memberi semangat untuk tetap maju dengan niat hatinya.
Dengan hati hati Arman mengemudikan mobilnya dan melirik jam di pergelangan tangannya waktu masih jam sebelas masih lama ke waktu jam dua belas yang di janjikan, dengan santai Arman turun di toko bunga segar berkonsultasi sambil senyum senyum dan pelayan toko sudah terbiasa melayani orang yang lagi jatuh cinta seperti pria yang bicara di hadapannya saat ini.
"Yang ke berapa kalinya tuan muda mau memberikan bunga ini ? ini hanya saran saja bukan keharusan kalau pertama kali ya mawar merah hati,kalau untuk ke sekian kali boleh warna apa aja,pink,putih atau warna warna lembut lainnya itu juga terserah balik lagi pada selera"
"Saya pilih merah hati saja"
"Oke,mau satu tangkai apa satu buket atau rangkaian sudah kami dandani di susun sedemikian rupa dan ada kartu ucapannya, tapi lumayan harganya,ini model modelnya tinggal pilih saja"
__ADS_1
"Saya pilih yang ini saja"
"Siap,di tunggu lima menit dan ini buat kartu ucapannya silahkan tuan tulis sendiri"
Arman bingung harus tulis apa dan ucapkan apa,sedangkan respon Andini saja dirinya belum tahu,karena bingung kartu itu di apakan lalu Arman memasukkan kartu ke dalam saku celananya dengan dalih dan alasan nanti saja dia menulisnya dan bertanya bagaimana cara memasangnya karena dirinya merasa buru-buru, dan pelayan pun menyerahkan satu buket karangan bunga yang tidak terlalu besar tapi cukup cantik dan sangat menarik bahkan menawarkan segala apakah akan disemprot dengan pewangi mawar atau tidak karena tidak mengerti Arman hanya mengangguk saja.
Ribet banget ternyata sekedar membeli bunga saja harus menyampaikan pilihan juga menjawab pertanyaan pertanyaan, yang Arman sendiri belum pernah melakukan hal seperti ini tapi entah kenapa saat ini dirinya ingin memberikan lebih terhadap Andini.
Bunga di simpan di jok sampingnya dan Arman melihatnya lagi dengan tersenyum,akan ada jawaban dengan bunga ini fikirnya.
Dengan tak sabar Arman memarkir mobilnya depan pintu gerbang,suasana agak lengang hanya ada beberapa mahasiswa atau mungkin pegawai yang libur atau pula habis sif malam lagi main gitar dan bernyanyi nyanyi santai sambil ngopi,Arman melewatinya sambil mengangguk ,dan semua pada memandang Arman sambil mengangguk juga.
"Permisi Bang"
"Oh ya mari,cari siapa ?"
"Andini" Arman menunjuk kamar no 3 dari kiri.
"Oh Dini,ada Mas silahkan !"
Arman mengangguk dan meneruskan langkahnya.
Nomor 3 dari kiri, Arman menghitung sepintas dan ini sepertinya pintunya agak terbuka,dan Arman mengetuk pintunya dan memberi salam"
"Waalaikum salam Mas Arman mari masuk dulu"
Arman membuka sepatunya dan masuk sambil tangannya satu ke belakang menyembunyikan bunga di tangannya.
"Maaf Mas tempatnya begini, duduknya juga lesehan"
"Ssssst... jangan banyak yang di bahas,ada sesuatu kejutan manis buat yang paling cantik hari ini"
Arman menyodorkan buket bunga di hadapan Andini dengan tersenyum lebar dan Andini hanya tertegun merasa tak terduga diberi kejutan seperti ini dan Andini hanya diam seperti terkesima dan Arman berbicara lagi.
"Di terima nggak kejutannya ?"
"Ya ampuuuuun aku terima Mas makasih banget,bagus dan sangat aku suka,aku senang banget Mas Arman sekali lagi terima kasih"
"Aku senang Din kalau kamu senang" Arman girang.
"Aku senang banget Mas"
Arman mengangguk.
Andini agak gelagapan dan salah tingkah tapi Arman mengerti lalu memegang tangan Andini dan mengajaknya duduk untuk sekedar menghilangkan kegugupannya dan Arman sendiri baru pertama kali memberikan bunga pada seorang wanita dan baru tahu reaksinya kalau perempuan itu suka akan bunga dan Arman melihat reaksinya.
Andini memeluk bunga itu lalu menciumnya sambil tersenyum melirik Arman yang lagi tersenyum juga.
__ADS_1
"Mas Arman romantis banget"
"Padahal aku tak berfikiran begitu sebelumnya,hanya terlintas saja lalu aku beli bunga buat kamu,habis aku bingung kasih oleh oleh apa ? heee..."
"Mas mau minum apa dulu biar aku buatkan"
"Nggak usah Din,aku habis minum tadi di kantor kan kita janjinya mau makan juga kan ?"
"Atuh biarin masa baru pertama datang berkunjung minum aja nggak di suguhin" Andini dengan logat Sunda nya begitu terdengar ingin menghargai tamunya.
"Ya sudah aku minta air putih saja takut nggak di perbolehkan lagi main ke sini heee..."
Andini berdiri dan Arman memegang tangannya dan sedikit menahannya.
"Air putih aja jangan repot repot ya" Arman sengaja bicara agak pelan dan mengusap tangan Andini menariknya perlahan dan mencium punggung tangan itu lalu melepaskannya dan mengangguk sambil menatap Andini yang seperti terkesima untuk kedua kalinya.
Andini berjalan ke belakang seperti melayang saja rasanya, tak di sangka Mas Arman memberikan sinyal begitu jelas dia suka sama dirinya, seperti rasanya ingin bersorak saja hati Andini mungkin kali pertama ini merasakan yang namanya jatuh cinta,dan gayung bersambut dengan pertemuan keduanya kali ini, kenyataannya masih baru kemarin mereka bertatap muka tapi getar-getar asmara dirasakan keduanya begitu membara, kelihatan perhatiannya Mas Arman perlihatkan dan memperlakukan dirinya lebih dari seorang teman apa kalau bukan atas dasar perasaannya ?
"Minum Mas cuman air putih"
"Kan aku juga mintanya air putih"
"Nggak ada makanannya,jarang ngemil nggak ada teman,aku lebih sering makan di luar apalagi kalau lagi sibuk tugas"
"Melihat senyum kamu juga aku sudah senang Din"
"Ah suka gitu deh" Andini merasa malu dan Arman memegang tangannya sambil tak melihat rona wajah yang bersemu merah dan meletakkannya tangan itu di pahanya yang duduk bersila sambil bersandar di dinding.
Arman memejamkan matanya sambil tersenyum dan Andini salah tingkah,dan tinggal dor ! aja satu tembakan di bekas kan Arman yang di nanti Andini saat ini.
"Din"
"Hemght"
"Apa aku salah dan terlalu cepat menyimpulkan perasaan hatiku ini padamu ?"
Andini diam, sebenarnya perasaan itu juga yang sekarang ada memenuhi hati dan perasaannya.
"Katakanlah Mas aku tak tahu harus jawab apa"
"Aku suka kamu Andini, aku sayang kamu dan mungkin aku telah mencintai kamu secepat ini" Arman mempererat pegangan tangannya takut dan takut jawaban Andini tidak sesuai dengan harapannya.
"Mas Arman aku juga satu perasaan denganmu,aku juga merasakan itu,tapi aku malu mengakuinya,aku semalam tadi nggak bisa tidur dan..."
"Ssssssssst...stop Andini sudah cukup,aku telah tahu hatimu dan kamu tahu hatiku" Arman mengambil kedua tangan Andini dan menciumnya dan meletakkan kedua telapak tangan Andini di kedua pipinya ada genangan bening di ujung mata Arman dan Andini pun merasa lemas sendiri tak kuasa menatap mata itu dan hanya menunduk dengan kedua tangan di wajah Arman.
"Ayo kita rayakan hari ini dengan kegembiraan aku ingin ucapkan sekali lagi Dini kalau aku mencintai kamu"
__ADS_1
Arman berdiri dan menarik tangan Andini perlahan dan secara cepat Arman mencium samping kepala Andini, Andini seperti terkesima dan hanya mematung dengan tungkai yang terasa lunglai.