Meniti Pelangi

Meniti Pelangi
Seperti dalam mimpi


__ADS_3

"Mas sudah sore pulang yuk aku mau ambil motorku"


"Alah biarin saja nggak bakal hilang,kalau hilang nanti aku ganti besok aja lagi ambilnya sekalian kamu ke kampus"


"Ya sudah tapi pulangin aku ya,aku perasaan ngantuk banget habis makan kenyang banget jadi ngantuk tambah malamnya kurang tidur heee..." Andini merenggut manja.


"Kasihan yang lagi jatuh cinta jadi kurang tidur,ayo kita pulang aja"


Andini tertawa sambil mencubit tangan Arman,dan Arman juga tertawa sambil pura pura mengaduh kesakitan dan giliran tangan Andini di tangkapnya dan di pegang di simpan di dadanya hingga tubuh Andini seperti membungkuk ke samping, mukanya hampir menyentuh stir mobil.


"Mas aaaaah...udah bawa mobilnya jangan sambil bercanda aku takut"


"Ya ya ya..." Arman melepaskan tangan Dini sambil tertawa dan kembali fokus ke jalan yang akan di laluinya.


Arman memarkir mobilnya di depan gerbang tapi datang Ibu kost dan menyuruhnya di masukin saja biar aman karena parkir di dalam juga luas.


"Neng Dini mobil temannya di masukin saja biar tenang,malah Ibu khawatir mobil tamunya di simpan di luar,biar pintunya di tutup kembali"


"Nggak lama kok Bu saya hanya ngantar Dini saja" Arman menyalami Ibu kost Andini.


"Masukin saja mau lama sebentar juga tinggal dorong pintunya gampang"


Andini memandang Arman dan mengangguk Arman memasukan mobilnya dan Andini menutup pintu gerbangnya.


Berjalan melewati deretan kamar kost kost an yang sudah banyak penghuninya lagi pada ngadem santai di luar sudah pasti suit suit dan candaan teman Andini melewati kuping mereka, Andini dan Arman sempat grogi tapi akhirnya biasa saja.


"Woi... diam diam juga ternyata Andini menghanyutkan kapal dan bawa kapten nya ke sini haaaa..." suara seorang pria yang lagi main gitar tanpa permisi melengking suaranya,di sambut tawa yang lainnya.


"Bisa juga ya keong satu ini serius rupanya heeee..."


Andini senyum saja sambil mengepalkan tinjunya ke arah teman teman perempuannya yang lagi ngeriung makan rujak dan satu poci es teh di bale depan salah satu kamar,teman temannya tertawa melihat Andini dan menanggapinya dengan macam macam candaan dengan riuh.


"Cowokmu ganteng Din"


"Ada lagi nggak stoknya ?" yang lainnya menimpali.


"Iya dong,kan pesanan special, sorry cuma satu satunya" Andini menjawab seenaknya aja ternyata Arman baru tahu Andini bisa juga bercanda,sial seperti martabak saja Arman merasa geli.


Andini dan Arman masuk dan membiarkan pintu terbuka Arman duduk di tempatnya tadi dan mengambil remote control tv dan menyalakan nya, Andini ke belakang mengambil air minum karena dirinya juga merasa haus.


"Perasaan aku nggak mau pulang Din"


"Terus mau ngapain di sini ?"


"Ya kita pacaran lah kayak orang orang,maksudku ngobrol apa aja gitu"


"Emang Mas betah di tempat ini ?"


"Asal ada kamu di mana mana juga sepertinya enak aja"


"Sangat klasik,dan jawaban kuno"

__ADS_1


"Haaa...kamu bisa aja membuat aku selalu ingat kata kata mu Din" Arman menarik tangan Andini sehingga duduk mereka begitu berdekatan.


Dini diam dan Arman menarik kepala Dini biar bersandar di sebelah pundaknya, Arman mengusap usap pangkal lengan Dini seraya berbisik.


"Sungguh malam nanti kita tak akan bisa tidur lagi"


Andini menarik tubuhnya perlahan dan kembali duduk tegak sedikit menjauh,tapi Arman malah menaruh kepalanya sambil tiduran di pangkuan Dini.


"Mas malu nanti di lihat orang"


"Kita nggak ngapa ngapain kok,semua orang juga mengerti kalau lagi jatuh cinta dan pacaran ya seperti ini"


"Coba lihat nih kalau kamu ke kantor saya berapa menit kira kira dari sini ? ini titik kita berada dan ini lokasi kantor saya nih lihat lagi jarak dan waktunya" Arman melihat lihat ponselnya di peta panduan perjalanan salah satu aplikasi selularnya dan Dini mengambil ponselnya dan dirinya biasa memakai aplikasi ini sedang Arman tersenyum menikmati wangi harum parfum di tubuh Andini.


"Dua puluh menit Mas"


"Heemght..." dan tanpa sadar sebelah tangan Andini di muka Arman mengusap dan menjelajah dagu leher dan membelai belai rambutnya Arman memejamkan matanya, betapa nyamannya bermanja manja seperti ini seakan tak ingin beranjak,menyadari semuanya Andini mulai menarik tangannya perlahan tapi Arman menahannya dan tetap mengarahkan tangan kiri Andini agar tetap di kepalanya.


Arman pura pura tidur tapi setiap tangannya Andini di tarik tetap di tahannya,berarti semua pura pura dan melihat peta perjalanan tadi adalah triknya Arman saja dasar laki laki selalu memanfaatkan kesempatan, Andini tersenyum sendiri,Andini melihat dari dekat detil wajah seorang yang baru menyatakan perasaannya, hidungnya mancung, pipinya, matanya yang selalu tajam setiap memandang, alis yang hitam dan kumis yang selalu di cukur rapi juga dagunya begitu licin,Andini menyelusuri semuanya dan sampai di hidungnya dan memencetnya perlahan,awalnya Arman pura pura kuat menahan nafas tapi lama kelamaan akhirnya tertawa juga.


"Haaaaaaaa...ampuuuuun sayang"


"Bangun nggak ?"


"Nggak"


"Bangun"


Arman tertawa sambil duduk dan perlahan menyender lagi di pundak Andini dan pura pura tidur lagi.


"Iiiiiiiiiih...Mas malu tuh ada orang"


"Biarin"


"Aku marah ya"


"Ya"


"Mas duduk yang benar ah suka aneh aneh aja"


Arman menggeliat dan akhirnya duduk tapi seketika menarik tangan Andini dan tubuhnya hingga tidur kepalanya di pangkuannya,Arman tertawa di atas muka Andini.


"Kalau gini kamu marah nggak ?"


"Tetap marah lah"


"Emang maunya apa ?"


"Enggak mau apa apa"


"Bohong"

__ADS_1


Arman tertawa dan melepaskan Andini duduk kembali dan dirinya juga duduk dengan benar,Arman melirik pergelangan tangannya dan memandang Andini.


"Aku pulang dulu ya"


"Heemght"


"Apa mau ikut lagi ? nanti aku antar lagi"


"Ya nggak ada habisnya Mas"


"Biarin"


"Nggak ah"


"Kenapa ?"


"Lucu aja,di antar tapi ikut lagi"


"Nggak apa apa aku senang kok"


"Emang besok nggak ada hari lagi ?"


"Ya sudah aku pulang dulu ya sudah sore banget,besok ke kampus nggak ?"


"Iya persiapan mau sidang, do'ain ya biar semuanya lancar"


"Do'a terbaik buat kamu sayang"


Andini berdiri dan mengulurkan tangannya pada Arman yang seperti enggan untuk beranjak, Arman berdiri memegang kedua tangan Andini dan menariknya merapat ke tubuhnya Arman memeluknya beberapa saat dan mencium kepala Andini dan Andini hanya diam.


"Kok sedih ?"


"Enggak"


"Senyum dong"


"Heeeee..."


"Antar dong ke depan yuk"


Andini melihat dulu dirinya di cermin,dan Arman tertawa Andini begitu memperhatikan penampilannya,apalagi habis berduaan pasti pandangan orang lain lain,kusut sedikit aja pakaian mereka pasti sebagian orang memandangnya mesum dan sangat sedikit yang punya fikiran habis tiduran dan menonton tv.


Arman keluar duluan di susul Andini dan mereka berjalan bersisian Andini membuka pagar Arman mengusap pundak Andini dan naik ke mobilnya.


"Baik baik ya"


"Mas juga hati hati"


"Iya,ketemu besok ya"


"Heemhgt"

__ADS_1


Andini menatap belakang mobil yang berjalan perlahan lalu menutup pintu gerbang,semua seperti dalam mimpi.


__ADS_2