Meniti Pelangi

Meniti Pelangi
Pulang


__ADS_3

Hari begitu tak terasa dijalani Andini hingga waktu hari pernikahan akhirnya akan tiba juga, setelah segala persiapan begitu menyita waktu dan tenaganya.


Malam ini Andini akan pulang diantar Arman. Tiga hari menjelang persiapan pernikahannya akan di jalani di rumah orangtuanya di Tasikmalaya.


Tadinya Andini berharap bisa pulang bareng Kakaknya Arini dan keluarganya, berhubung begitu banyaknya kesibukan akhirnya Andini pulang duluan sama Arman, dan Arini akan menyusul sehari sebelum hari H.


"Nggak ada yang lupa sayang?"


"Nanti aku cek semua di atas, Mas naikin saja dulu ini semua di bagasi."


Andini naik lagi melewati tangga dan mengecek sekali lagi, semua sudah selesai, Andini menutup kain gorden balkon depan dan turun kembali lewat tangga.


Andini menatap semua ruangan yang sudah agak gelap, menatap tempat tidur yang mungkin nanti akan jarang digunakan.


Andini turun seperti menghitung anak tangga yang di injaknya. Pikirannya melayang tak karuan entah kemana arahnya, mungkin kecemasan calon pengantin seperti itu.


Tak ada teman kost dan kampusnya yang di kasih tahu, mungkin cuma Dewi teman paling akrabnya saja, itu juga nggak bisa hadir karena faktor jarak yang tak memungkinkan dirinya untuk hadir. Terlalu jauh jarak, juga karena Dewi persiapan melakukan test untuk memasuki dunia kerja.


Arman mengunci ruko tempat Andini belajar merintis usahanya, dan mungkin habis pulang nanti nggak ti tinggali lagi kalau malam, karena Arman akan membawa istrinya ke rumah idaman mereka.


Andini duduk duluan di depan samping jok Arman yang tak lama selesai lalu menyusul Andini duduk di kursi jok kemudi.


Sambil menyandarkan tubuhnya yang terasa capek Andini memejamkan mata, dan berdo'a dalam hatinya semoga perjalanan nya lancar.


Arman mulai melajukan kendaraan dan masuk ke jalan raya membelah ramainya lalu lintas di jalanan kota Bandung dan melipir belok ke pinggiran lanjut ke jalur agak lengang.


"Din...kamu tidur?"


"Hemght." Andini menyahut tanpa merubah posisinya.


"Kamu sakit? apa ngantuk?"


"Entahlah Mas, mungkin aku capek."


"Apa kita berhenti dulu? cari sesuatu minuman apa biar kamu segar kembali?"


"Terserah Mas, pokoknya aku lelah sehari tadi itu."


"Ya sudah, maaf ya aku bikin lelah kamu sayang. Tapi aku janji setelah menikah nggak akan membuat kamu capek, semua kita lakukan bersama-sama suka dan duka."


"Semua juga harapannya seperti itu Mas, tapi kehidupan rumahtangga yang belum kita jalani akan seperti apa nantinya.


Aku ingin tetap kerja mengelola toko, rumah tangga tanggungjawab harus ke pegang, mengurus suami juga harus jadi prioritas dan belum lagi nanti akan datang buah cinta kita semua pasti akan menyita perhatian kita."

__ADS_1


"Pokoknya aku nggak mau sampai kamu nggak ada waktu buat aku."


"Hidupku adalah milikmu Mas, tapi menjalani semuanya perlu pengertian dan perhatian, seorang istri yang baik pasti waktu utamanya sama suami tersayang."


"Haaa...kamu bisa aja sayang, bikin aku nggak sabar meminta waktu istimewamu buatku."


"Mas, jadi nggak habis akad dan resepsi kita langsung pergi ke Bandung?"


"Aku mau banget, tapi di izinkan nggak?"


"Pakai aja trik ala teh Rini waktu itu."


"Bilang aja dan minta izin masalah diberi izin atau tidak itu urusan nanti yang pasti aku malu kalau harus lama-lama di rumah mertua."


"Kenapa malu? semua juga maklum kok."


"Tapi akan lebih bebas kalau kita melakukannya di rumah sendiri."


"Iya Mas, nanti juga ada saatnya kita bebas."


"Jadi nih kita turun dan berhenti dulu?"


"Yuk, aku mau jus stroberi."


Mereka turun, di rumah makan tapi tidak makan hanya pesan minuman dan cemilan.


Arman meremas jari Andini yang hanya diam di sampingnya.


"Jangan banyak melamun, nanti juga bakal ngalamin pada waktunya." Arman menggoda Andini.


Andini meliriknya sambil tersenyum, dan mencubit pinggangnya, Arman mengaduh pura-pura sakit sambil tertawa.


"Tuh si Hans temanmu sudah dapat gebetan belum? kasihan juga sama kebeletnya sama Mas Arman."


"Aku? kebelet? nggak lah cuman nggak tahan doang haaa..."


"Awas ya Mas nanti sehabis malam pertama kita jangan berbagi cerita sama dia tabu tahu dan aku malu!"


"Aku juga belum merasakan, boro-boro mau cerita, tapi pasti dia cari tahu dan goda kita."


"Iiiiiiiiiih... cowok suka gossip juga ternyata."


"Sebenarnya cowok suka fakta, dan mengkhayal yang nggak faktanya, tapi khayalanku akan segera jadi kenyataan, aku akan membawa nyonya Arman ke rumah impian kita dan kita hidup bahagia di dalamnya."

__ADS_1


"Mas, akhirnya kita akan sampai juga ya."


"Dini, aku telah begitu jauh berkelana, mencari kecocokan dan yang sehati punya niat baik saling sayang dan saling cinta tapi jodohku mengantarkan aku padamu yang bertemu tanpa sengaja di halte kampusmu."


"Ya di situ mungkin jodoh siapa yang tahu itu Mas."


"Tiga hari lagi kamu akan menjadi milikku."


"Aku takut Mas."


"Takut apa? justru ada aku yang menjadi tanggungjawab atas semua nya."


"Aku hanya takut perubahan yang akan mengagetkanku."


"Jangan bilang takut, kalau takut perempuan nggak akan ada yang nikah."


"Ya akan berusaha nggak takut lah, kecuali nikah sama orang yang nggak aku cinta."


"Berarti aku orang yang kamu cinta? makasih sayang."


"Memang Mas baru ngerasain?Dari kemarin-kemarin kemana aja?"


"Aku ada di hatimu Andini."


"Iiiiiiiiiih...cowok gombal."


"Ngegombalin cewek cantik enak lho, bisa lihat senyum malunya dan pipinya yang memerah."


Arman tertawa, tak ada kebahagiaan dirinya seperti saat ini, saat membawa pujaan hatinya untuk meresmikan hubungan mereka, tinggal selangkah lagi mereka untuk jadi suami istri dan jadi adik ipar dari sahabatnya Arini.


Walau kebahagiaan datangnya terlambat, tapi bagi Arman tidak ada kata terlambat dan saat ini adalah memiliki Andini adalah anugerah bagi dirinya, dan kebahagiaan tak terhingga datangnya saat ini.


Dulu Arman tergila-gila pada kakaknya Andini, Arini. Tapi Arini tak menyambut hati Arman, berkali Arman ucapkan cinta berkali pula Arini menolaknya, hingga hubungan mereka menjadi kurang harmonis karena perasaan sendiri. Arman menjadi minder di hadapan Arini.


Nasib, takdir berkata lain. Hadirnya Andini di hadapannya menjadi semangat buat Arman di usia rawan, rawan sentilan dan sindiran juga peringatan awal kedua orangtuanya untuk segera berumah tangga.


Arman tidak tahu akan seperti apa hubungan antara dirinya dengan Arini nantinya, tetapi Arman berharap semoga akan ada perubahan dirinya bersama Arini bisa harmonis lagi seperti saat dulu masa-masa mereka masih sekolah dan bersahabat.


Semoga cinta telah mengubah segalanya, dan Arman akan mempertahankan semua yang menjadi miliknya terutama istrinya.


*****


Happy reading dan tinggalkan jejak mu ❤️🙏

__ADS_1


Sambil nunggu up Meniti Pelangi baca novel yang sangat bagus untukmu, YUMNA AZZURA By Trias Wardani. fav, like dan vote ya 🙏❤️



__ADS_2