Meniti Pelangi

Meniti Pelangi
Saran Kakak


__ADS_3

"Halo Bima sayang... selamat pagi!"


Suara Andini sambil masuk kamar dengan tiba-tiba, tanpa


mengetuknya karena merasa mungkin Kakaknya sama suaminya Mas Hadi sudah bangun, padahal mereka belum bangun sama sekali.


Andini mendapatkan Kakaknya masih tertidur dalam posisi berpelukan.


Tak bisa di hindari, Andini merasa kaget dan tertegun melihat pemandangan yang tak pernah dilihatnya walaupun dirinya sudah dewasa. Akhirnya Arini juga bangun menyingkirkan tubuh suaminya yang tidur bertelanjang dada sambil memeluknya, suaminya yang masih kelihatan sangat ngantuk masih saja tergolek tidur.


Arini bangun mengikat rambutnya dan membetulkan pakaiannya.


"Teteh kesiangan?"


"Iya."


"Apa pulang hari ini?"


"Sepertinya begitu."


"Teh."


"Hemght...?"


"Dini mau curhat."


"Nanti lah Dini, Teteh belum mandi soal apa? calon suamimu bukan?"


"Ya, udah Dek Bima bangunin ya?"


"Ssssst...jangan kasihan biar kenyang dia tidur, soalnya kemarin sampai malam dia main berlebihan."


"Ada apa dengan calon suamimu?"


Arini melirik sambil menyimpan handuk di pundaknya lalu berjalan keluar kamar bareng adiknya Andini.


"Teteh mandi aja dulu, biar Dini ceritanya nanti saja."


Arini masuk ke kamar mandi yang begitu banyak kenangan masa kecilnya dari dulu di sini.


Selalu saja ada omelan dan pepatah saat Arini mandi sama adiknya Andini dan Arya adik bungsunya, karena rebutan gayung lah, rebutan sabun, dan saling ciprat air berujung rusuh.


Terasa baru kemarin semua terlewati, kini adiknya Andini menyusul akan berkeluarga juga, inilah siklus kehidupan semua berjalan pada kodratnya.


Arini selesai mandi menengok ke kamar bapak sama anak masih saja terlelap Arini menutup kembali pintu kamarnya.


"Dini kamu ke Bandung lagi kapan?" Arini sambil mengeringkan rambutnya di gosok-gosok dengan handuk.


"Nunggu di jemput Mas Arman."


"Apa yang mau di tanyakan tadi?"

__ADS_1


"Teh, persiapan sebelum menikah apa sih?"


"Paling utama, adalah mental kita karena berubahnya status kita secara otomatis, dan setelah itu persiapkan diri untuk bahagia udah!"


"Segitu doang?"


"Emang apalagi? Teteh nggak banyak persiapan."


"Bayanganmu seperti apa yang namanya persiapan pernikahan itu? kalau seperti perawatan tubuh itu semestinya dilakukan bukan saat mau jadi pengantin baru saja. Dan itu teknik kita bagaimana membahagiakan pasangan kita."


Andini diam.


"Satu kunci yang teteh pegang dalam membina rumah tangga yaitu nggak mudah mengeluh apapun kesulitan kita."


Andini masih diam.


"Udah faham apa tambah bingung? udah ya, itu padat, singkat dan penuh makna."


Andini mungkin baru terpikir kalau yang diucapkan Kakaknya jauh dari perkiraannya. Andini membayangkan Kakaknya akan merinci semua persiapan sampai ke teknik-tekniknya, tapi Arini memang sangat bijaksana dalam memberi masukan dan pengertian.


"Udah ya, teteh bangunin Mas Hadi sama Bima biar mandi dan siap-siap berangkat pulang lagi ke Bandung."


"Teteh sama Mas Hadi hadir saat wisuda Dini ya."


"Siap, Ibu sama bapak juga datangnya ke tempatku kali?"


"Ke tempatku juga boleh biar sekalian tahu tempat ku jualan."


"Iya Teh."


Mas Hadi sama Bima sudah bangun dan mereka lagi umpet-umpetan di bawah selimut.


"Mas ayo mandi juga Bima kita pulang lagi ke Bandung."


"Horeeeeee... pulang naik mobil lagi."


Hadi mengendong Bima ke kamar mandi meneruskan kebersamaannya bermain air di kamar mandi, teriakan Bima begitu kedengaran sampai ke luar.


Arini menyiapkan sarapan membantu Mamanya juga Andini mereka akan makan bersama sebelum pulang pamitan kembali.


"Minggu depan kita ketemu di wisuda kamu ya Din, lanjut kamu persiapan segala macam pernak-pernik kebutuhan pernikahan kamu."


"Iya Teh."


"Hanya saran saja, jangan pesan baju pengantin ke butik karena lama takut nggak komitmen, habis waktu kita hanya untuk ngecek dan bertanya kapan gaun kita selesai. Karena postur tubuhmu ideal lebih baik beli jadi dari desainer dan butik yang menyediakan model-model yang sudah ada karena persiapan pernikahanmu begitu singkat."


"Gitu ya Teh?"


"Hasilnya sama saja, banyak pilihan dan rancangannya bagus-bagus, kita hanya ingin kenangannya dengan gaun itu kan? nggak usah ribet banyak yang cocok menurut Teteh, coba aja nanti diantar lihat-lihat ke butik langganan Teteh."


"Tuh denger apa kata Kakakmu."

__ADS_1


"Iya Bu."


"Jadi kamu bisa leluasa punya banyak waktu, untuk mempersiapkan hal lain tidak hanya memikirkan baju pengantin saja."


"Nanti aku bicara dulu sama Mas Arman."


"Biasanya laki-laki mengikuti saja apa baiknya keinginan kita, dan kamu sebagai perempuan harus bisa mengarahkan calon suamimu untuk bisa mengerti dan memahami pendapat kita, juga dalam hal pemilihan pakaian."


"Sebenarnya Mas Arman nggak ribet pasti bisa mengikuti keinginanku apalagi dia lebih banyak sibuknya dari pada waktu senggangnya."


"Apalagi seperti itu, sekalian setelan sama buat calon suamimu."


"Iya bener Teh."


"Seandainya ada kekurangan sedikit masih bisa di rubah dari pada nungguin baju di bikin dari awal."


"Iya, ya."


"Yuk kita sarapan, karena Teteh mau langsung berangkat lagi, mana Om Arya apa sudah bangun?"


Mereka sarapan bersama, semua anggota keluarga duduk melingkar. Satu momen yang jarang terjadi sejak mereka dewasa dan punya kehidupan masing-masing, jadi saat seperti ini begitu sangat dirindukan.


Selesai sarapan Arini berdandan di kamarnya di tungguin adiknya Andini seakan masih kangen ingin bersama-sama.


Arini pamit duluan sama Ibu Bapaknya, mereka diantar pandangan mata dan lambaian tangan mereka juga doa-doa dari kedua orang tuanya. Juga pelukan sayang untuk cucu tercinta mereka Bima.


Sepanjang jalan Arini hanya diam, Bi Minah juga sama diam dan Mas Hadi fokus ke jalan yang akan di laluinya.


"Rin, pendapatmu seperti apa tentang tunangan adikmu itu?" Hadi melirik Arini di sampingnya.


"Aku no comment Mas."


"Kok gitu, setidaknya ada harapan seperti apa?"


"Ya kalau harapan baik sih, semoga Arman telah berubah dan Andini bisa merubahnya, bukan seperti yang aku takutkan ada unsur lain dari niat Arman."


"Aku yakin mereka saling cinta, kalau nggak cinta nggak mungkin Arman berani memfasilitasi Andini dengan aset begitu besarnya atas nama Andini, dari situ juga aku sudah bisa menilai."


"Iya Mas, kalau melihat itu aku juga yakin, tapi di balik semua itu aku begitu sakit hati ada rasa benci sama Arman."


"Sudahlah semoga mereka menjalani kisahnya dengan baik-baik saja."


Arini membayangkan seandainya Andini datang kepada dirinya bersama Arman ingin diantar kepada butik langganan Arini dan melihat-lihat gaun pengantin untuk adiknya, akan seperti apa Arini bersikap dan Arini juga tak bisa membayangkan sikap Arman akan seperti apa.


Arini menyadari dirinya sebagai seorang kakak harus lebih bijaksana memahami semua, dan juga menerima semuanya, Andini tidak tahu dulu Arman begitu mencintainya.


*****


Happy reading dan tinggalkan jejak mu ❤️🙏


Sambil nunggu up Meniti Pelangi baca novel yang sangat bagus untukmu, TRIO KANCIL By Santi Suki fav, like dan vote ya 🙏❤️

__ADS_1



__ADS_2