Meniti Pelangi

Meniti Pelangi
Menjalani status baru


__ADS_3

Mereka benar-benar menikmati saat bulan madu di rumah saja. Seperti kesepakatan mereka berdua dari sebelum menikah.


Hanya berdua, tidur makan dan bercengkrama penuh dengan kemesraan dan kebahagiaan. Apa yang mereka inginkan semua ada dan tersedia terkadang ingin keluar hanya jalan-jalan dan cari angin segar.


Arman memperlakukan Andini sebagi ratu di rumahnya benar-benar Arman perlihatkan rasa semakin cintanya pada istrinya. Dan semua Andini rasakan bahkan di rasa terlalu berlebihan, tapi begitulah Arman dengan cintanya.


"Mas, kok Adik Mas Arman Ardi nggak pulang-pulang ke sini bukankah waktu itu dia tinggal di sini?" Andini dengan manja tiduran di pangkuan suaminya.


"Ardi sudah aku tempatkan di kantorku sekalian dia dikasih sedikit tanggung jawab. Bukan apa-apa kalau tinggal di sini takut kamu merasa canggung dan Ardi sendiri mungkin merasa canggung juga, aku sangat menjaga perasaanmu sayang dan aku hanya ingin melewati masa-masa awal pernikahan ini berdua denganmu."


"Aku jadi nggak enak Mas, ada aku kok Adik Mas malah tinggal di kantor?" Andini bangun dan menatap Arman.


"Sayang itu sudah lama, bahkan aku sudah memberi pengertian sebelum kita menikah karena aku sudah memperhitungkan semuanya aku tidak akan bebas dan kamu juga tidak akan merasa bebas."


"Apa dia layak tinggal di kantor Mas?"


"Dini sayang, tinggal di kantor juga bukan tidur di kursi atau di sofa, aku sediain kamar bahkan aku juga kalau malas pulang ya tidur di kamar itu."


"Ooh...kalau gitu aku merasa tenang."


"Dini, ini rumah kita hanya ada aku sama kamu dan cinta kita, aku akan cemburu saat aku tinggalkan kamu kalau ada Ardi di rumah ini."


"Mas segitunya sih?"


"Aku sangat mencintai kamu Dini, aku persiapkan segalanya dan antisipasi sebisaku, sekecil apapun kerikil dan rintangan yang ada dihadapan kita, aku ingin menikmati kebersamaan tanpa seorangpun mengganggu."


"Aku juga sayang Mas Arman."


"Iya sayang aku tahu itu."


*****


Seminggu berlalu...


"Mas jadinya kita kesiangan, memang belum bosan minta yang satu itu semalam lebih dari satu kali?"


"Sepertinya nggak ada kata bosan sayang, malah aku semakin minta nambah biar kita cepet punya buah hati yang lucu dan cantik seperti Mamanya."


"Tapi kata orang kalau pengen cepet isi jangan ngegas terlalu cepet harus di lambatin dikit."


"Alah itu hanya kata orang, menurut logika makin sering makin banyak kesempatannya."


"Suka-suka Mas lah."

__ADS_1


"Memang aku sangat suka!"


"Sekarang mau nambah nggak?"


"Aduh sayang nanti aja, aku kan sudah dandanan mau ke kantor kamu juga kan?"


"Yeeeee...ngeres aja pikirannya maksud aku Mas Arman mau nambah nggak sarapannya? kok malah otaknya travelling ke mana-mana sih?"


"Haaaa...kamu juga sih sayang seperti menggoda aku saja, awas ya nanti aku balas, aku istirahat siang nanti ke toko, kamu harus sudah siap."


"Maksudnya siap apaan?"


"Makan siang bersama dan lanjut program anak."


"Aduuuuuuh Mas, aku pasti sibuk deh, kan malamnya kita masih bisa."


"Jangan bilang sibuk, aku juga sibuk kalau mengikuti kesibukan dan waktu seakan tak ada hentinya untuk suatu pekerjaan, tapi aku ingin pertemuan yang berkualitas setiap kita bertemu aku tahu kita kan sama-sama sibuk tapi aku nggak mau waktu berdua kita tersita oleh kesibukan."


"Iya deh, aku tunggu jam makan siangnya."


"Gitu dong, jangan lupa pakaian ganti, takut kusut."


Waktu sarapan di habiskan dengan ngobrol di selingi perasaan cinta mereka, akhirnya Arman mengantar Andini sampai ke tokonya dan Arman langsung ke kantornya untuk memulai pekerjaan setelah berhenti selama kurang lebih seminggu di tinggalkan.


Andini memulai semuanya dengan bersih-bersih dulu di atas tempat huniannya dulu dan dibawah sampai selesai membersihkan semuanya sampai siap untuk melayani pengunjung dan pembeli.


Andini tenggelam dalam kesibukannya hingga waktu siang menjelang. Andini sadar dirinya harus mempersiapkan dan berkomunikasi dengan suaminya apa yang akan mereka makan, apa mereka akan membeli diluar atau mereka yang akan keluar mencari makanan.


Benar saja Arman memang orangnya tepat waktu, mungkin sudah terbiasa disiplin seperti itu. Mungkin juga memberi contoh kepada bawahannya.


Arman datang dan langsung mencium pipi istrinya, Andini tersenyum menyambutnya.


"Gimana pekerjaan Mas hari ini apa semuanya lancar?"


"Lancar sayang, aku punya Ardi yang bisa aku andalkan, apalagi proyek sudah berjalan tinggal ngontrol dan terima laporan kekurangan ini itu baru nanti di kirim."


"Mas mau makan di sini apa kita keluar?"


"Enaknya kamu sayang mau di mana?"


"Aku sih enaknya di bawah."


"Haaaa...kamu tuh! di bawah di atas juga nanti habis makan dan malam kita praktek lagi."

__ADS_1


"Maksudku makanya di sini di bawah, nggak usah keluar Mas beli dulu makanannya."


"Ya sudah, aku keluar dulu cari makanan biar kamu nggak usah nutup toko."


"Mas, apa aku sudah perlu satu karyawan biar toko tidak dibuka tutup kalau kita ada keperluan?"


"Nanti dulu lah, setelah tiga bulan baru boleh cari karyawan."


"Aku ingin tiga bulan pertama kita masih bulan madu nggak mau ada yang ganggu."


"Dasar!"


"Dini istriku sayang, aku menginginkan kamu itu begitu lama. Aku ingin benar-benar menikmatinya, melewati masa bulan madu kita."


"Iya, aku mengerti Mas." Andini memeluk suaminya.


"Kok malah peluk aku sih? apa kamu mau yang lain dulu?"


"Oh nggak, yang lain nanti aja, sekarang aku mau makan."


"Heeee...di kira mau bonus dulu biar semangat."


"Aku semangat terus Mas, seperti semangatnya Mas Arman."


"Siap sayang, akan selalu ada makan siang dan tidur siang sebentar di atas nanti."


Andini tersenyum memandang punggung suami tercintanya, keluar mau mencari makanan dulu. Andini berpikir Mas Arman memang matang mempersiapkan semuanya, mereka punya tempat di sini di atas dan rumahnya yang bisa mereka gunakan untuk kesenangan mereka saat bertemu dan bermesraan.


Tak semua orang bisa sebebas seperti mereka dalam mengekspresikan cinta dalam masa bulan madu.


Andini membayangkan akan seperti apa mereka menikmati ranjang pertamanya mereka di ruko ini, jangan-jangan seperti kemarin selalu bablas sampai sore baru mereka bangun.


Tapi biarlah karena ini masa bulan madu dan awal pernikahannya, juga mereka kerja bukan di orang tapi usaha sendiri dan rintisan sendiri.


Manis madu cinta yang mereka reguk seakan tak kenyang kenyang, malah semakin menagih dan menginginkan lagi, tak terbayang seandainya mereka jauh jika mengharuskan Mas Arman keluar kota.


Andini tak bisa bayangkan gimana rasanya dan seperti apa suaminya merindunya?


*****


Meniti Pelangi memasuki bab bab akhir, bagi yang ingin tahu kisahnya ikuti sampai selesai ya.


Happy reading dan tinggalkan jejak mu ❤️🙏

__ADS_1


Sambil nunggu up Meniti Pelangi baca novel yang sangat bagus untukmu, Masa Lalu Sang Presdir by Enis Sudrajat. fav, like dan vote ya 🙏❤️



__ADS_2