
Resepsi yang melelahkan tapi di rasa bahagia, semua di lewati Arman dan Andini dengan hati senang, hingga tamu terakhir yang datang mereka masih bisa senyum menerima ucapan selamat dari mereka.
Arini dan Hadi masih saja bercengkrama dengan kerabat dan orangtua mereka di ruang keluarga, di tengah seliweran orang beres-beres semua peralatan pesta. Di tambah orang event organizer yang membereskan semua properti nya hanya tinggal menyisakan tenda dan panggung saja.
Kebahagiaan kedua orangtua juga kedua mempelai begitu terlihat jelas dari raut muka sumringah mereka walau di balut kelelahan.
Kedua orangtua Andini merasa puas dengan resepsi yang baru saja selesai, tamu hampir semua datang dari pihak keluarganya, teman Andini, teman Arman juga relasi kerja dan usahanya menyempatkan datang walau jauh dari Bandung.
Arini masuki kamarnya dan membereskan semua barangnya ke koper biar besok bisa pagi-pagi sudah berangkat kembali, dengan tujuan memberi keleluasaan pada pengantin untuk bisa bebas di rumah keluarganya.
Hadi yang mengikutinya merebahkan diri di samping Bima yang sudah terlelap karena capek, baju batik seragam keluarga nya masih belum sempat di ganti.
"Kok mukanya di tekuk seperti itu? iri hati apa pada pasangan yang baru saja sah?"
"Kenapa harus iri? sungguh kata kata nggak jelas."
"Rin, senyum dong seperti dulu saat kita langsung pulang ke Bandung, kamu kelihatan ada beban yang tak kamu ceritakan kenapa? cobalah terima apa adanya."
"Aku bahagia tapi belum seratus persen Mas, karena aku belum melihat rumahtangga mereka, takut Arman mempermainkan adikku."
"Astaghfirullahaladzim Rini buang jauh-jauh pikiran seperti itu, ucapan adalah do'a jadi berpikirlah yang baik-baik buat adikmu."
"Aku mencoba meyakinkan hatiku Mas, tapi karena Arman pernah menyakitiku salahkah aku punya pikiran seperti ini pada adikku?"
"Tidak salah cuma harus mulai memperbaiki diri dan merubah pandangan baik pada mereka."
"Tak bisa sekaligus Mas, perlu proses dan itu yang sedang aku jalani sekarang."
"Ikhlaskan hatimu, semua akan terasa lapang."
"Aku akan merasa lapang setelah mereka melalui satu tahun pernikahan dan mereka bahagia, terutama adikku."
"Ya sudah kalau itu keinginanmu, tapi boleh dong kita juga merasakan bulan madu lagi malam ini?"
"Jangan ngiri pada mereka Mas, mereka baru mau mulai kita sudah setiap hari bulan madu."
"Haaaa...bisa aja kamu sayang, sini tidur istirahat biar aku peluk semalaman mengalahkan pengantin baru."
"Maunya Mas begitu, aku maunya segera pulang biar kita bisa bebas bulan madunya di rumah kita."
"Kan kita lagi menyusuri kenangan dan nostalgia kita kenapa di sini kita tak melakukan dan menikmatinya?"
Yang di katakan suaminya benar juga, mereka lagi mengenang masa-masa indah hubungan mereka di tiap tempat yang mereka anggap punya kenangan manis.
Andini merebahkan tubuhnya di samping suaminya mereka bertatapan penuh arti dan saling membelai.
__ADS_1
"Ada satu tempat yang sangat begitu ingin aku nikmati di daerah sini, coba tebak dimana itu?"
"Aku tahu Mas, di Hotel itu kan? saat aku pulang meminta restu orangtuaku Mas menunggu di situ, dan kita seperti setelah berpisah bertahun tahun."
"Ah sayang, masih ingat aja kamu."
Arini dan Hadi tenggelam dalam nostalgia kenangan masa-masa indah mereka.
"Andini lagi ngapain ya sekarang?"
"Ya nggak tahu lah Mas, mungkin sama seperti kita lagi mengenang masa-masa indah dan cinta manis mereka."
"Salah, mereka pasti lagi mencoba sesuatu yang baru kalau mereka belum rasakan sebelumnya, mungkin malam ini adalah malam bersejarah bagi mereka."
"Udah ah kita tidur, ngapain membayangkan orang lain." Arini memeluk suaminya.
Di tengah rumah Andini mondar mandir melihat kamar Kakaknya Arini yang sudah tertutup rapat.
Andini mau minta facial lotion, cuci muka buat bersihin wajah dari make up karena punya dia ketinggalan, Andini merasa itu kebiasaannya sebelum tidur.
Tak lama Arman keluar menariknya perlahan merangkulnya masuk kamar dan menguncinya.
"Sabar Mas, aku mau cuci muka dulu tadinya mau minta sama Teh Rini tapi pintunya sudah rapat nggak enak ganggu mereka.
"Iya maaf, aku lupa kalau ini malam yang di tunggu tunggu kita, aku malah belum bisa keluar dari kebiasaan mencuci muka dulu sebelum tidur."
"Tadi kan sudah di kamar mandi pakai facial scrub? habis dong waktu buat aku? pokoknya nggak ada tidur malam ini."
Andini tersenyum sambil berdiri menghadap suaminya di samping tempat tidur, Arman juga sama berdiri memegang kedua tangan Andini yang mulai panas dingin.
"Dini sayang, akhirnya kita sampai pada malam ini, pertama aku ingin memelukmu sepuasnya." Arman bersuara parau menahan getaran perasaannya.
"Iya Mas, aku serasa nggak percaya, kita di pertemukan oleh cinta."
"Dini cinta telah menjadikan kita bersatu."
Arman mulai membuka pakaian tidur tipis Andini, hanya dengan membuka menarik tali pita di kedua pundaknya semua telah terbuka dan pakaian Andini jatuh di lantai, Arman mendekap istrinya dalam keadaan dada telanjang dan merasakan kehangatan luar biasa, piyama tidurnya sama sudah ada di lantai.
"Sayang kita mulai kepenasaran kita malam ini ya?"
Andini mengangguk, Arman dengan nafas yang memburu membopong istrinya naik dan menidurkan Andini di tempat tidur, mulai menjelajahi tiap centimeter kemolekan tubuh Andini.
Andini membalas dengan tak kalah panasnya, karena setiap sentuhan Arman begitu membangkitkan gairahnya.
"Sayang, aku baru melihat keindahan yang seperti ini."
__ADS_1
Arman tak berhenti di sela sela nafasnya mencium dam membelai menyentuh daerah sensitif istrinya.
"Mas, aku juga sama."
"Boleh kita coba sekarang?"
"Hati-hati."
"Iya sayang, aku mulai pelan-pelan dulu."
Semua alami mereka lakukan, ungkapan kasih sayang dan cinta tertinggi telah mereka berikan pada pasangan, Andini menangis di pelukan Arman dengan berjuta perasaannya.
"Aku semakin cinta sama kamu sayang, terimakasih untuk malam pertama yang sangat berkesan ini." Arman berkali-kali mencium kening istrinya yang masih kecapaian dan berkeringat.
Andini semakin mengeratkan pelukannya.
"Sudah jangan menangis, aku merasa bersalah."
"Aku menangis karena merasa bahagia Mas, aku telah memberikan sesuatu yang paling berharga buat orang yang aku sayang."
"Dini apa yang harus aku beri padamu selain hidupku dan semua yang aku punya."
"Aku bahagia Mas bisa hidup denganmu itu sudah lebih dari cukup."
"Iya sayang kita akan bahagia bersama."
"Mas."
"Hemght, apa?"
"Apa Mas akan mengulangnya malam ini."
"Memang kenapa? sakit? nggak apa kalau masih sakit nanti juga kalau sudah biasa akan enak sendiri."
"Untuk pertamakali aku belum bisa menikmatinya, mungkin aku masih kaget."
"Nggak apa, nanti kita coba lagi."
*****
Happy reading dan tinggalkan jejak mu ❤️🙏
Sambil nunggu up Meniti Pelangi baca novel yang sangat bagus untukmu, Metamorfosa Rasa(My Glyn) by AG Sweetie, fav, like dan vote ya 🙏❤️
__ADS_1