Meniti Pelangi

Meniti Pelangi
Semakin serius


__ADS_3

"Ssssst...berisik amat lo ini."


"Haaaaaaaa..kebayang banget lo di tempel sampai jam sepuluh malam, dari mulai jam berapa itu?"


"Datang Mas Arman sekitar tengah hari, ngobrol dan basa basi sama temannya Mas Arman, temannya pulang sekitar jam 14-an siang, ya dari situ gue berduaan."


"Dini, Dini... gue pantas cemas sama lo, pacaran lo mendalam banget sih, satu langkah lagi bablas lo. Apa kalian nggak capek ciuman sama pelukan delapan jam?"


"Nggak lah, kita benar-benar menikmatinya, kita masih sama-sama ingat dan sadar."


"Iya, kalau masih ingat dan sadar, kalau nggak?"


"Gue jujur, baru kali ini pacaran serius dan cocok segalanya, cinta yang berlimpah, perhatian yang berlebih juga materi yang menurut gue lebih dari cukup, apalagi selain kita menikmatinya."


"Iya Dini, gue sebagai sahabat lo hanya mengingatkan, jangan sampai bablas, tinggalkan satu kepenasaran cowok lo buat malam terindah lo suatu saat nanti."


"Iya Makasih Wi, semoga gue tetap bisa menjaga sampai saatnya tiba."


"Kakak lo sudah tahu hubungan lo? atau kedua orangtuamu?"


"Belum, rencana gue mau berkunjung nanti kalau sudah tahu jadwal wisuda. Sekalian pemberitahuan hubungan serius gue."


"Ya syukurlah."


"Main lo kali-kali ke tempatku, kita bisik-bisik di sana nanti haaa..."


"Gue malas, takutnya nonton lo sama pacar lo lagi mesum."


"Masa depan lo gue mesum, nggak punya akhlak apa gue?"


"Oke, pokoknya pasti gue datang, tapi jangan sekarang. Kan lo sama dia lagi kangen-kangenan, besok-besok aja lagi."


Mereka datang ke kampus hanya ingin melihat pengumuman dan melihat jadwal wisuda mereka biar lebih jelas, walaupun pengumuman di share juga di ponsel group kelas.


Tapi ada rasa kangen ingin bertemu juga dengan teman-teman yang sekian lama bersama-sama walau tak akrab semu dan bisa di hitung dengan jari siapa teman dekat, karena kesibukan masing-masing.


"Lo di jemput lagi nanti?"


"Iya, lo mau ikut? ayolah gue traktir makan Mas Arman juga pasti senang."


"Nggak deh, lain kali aja gue ada janji."


"Ya elah, janji melulu pacaran tiap waktu juga, giliran di ajak banyak alasan."


"Gue nggak mau jadi penonton, elo yang pacaran nanti."

__ADS_1


"Ya Ampuuuuun Dewi, masa sih gue ******* depan lo, gue juga pengertian kali."


"Udah, udah. Pokoknya lain kali gue pasti main ke tempat lo kalau semua kosmetik gue udah abis, asal lo kasih diskon sama gue baru itu namanya pengertian."


"Dengan senang hati, gue tunggu."


"Eh, Andini tadi si Alwan tanya-tanya lo."


"Tumben dia ada respon sama gue, biasanya seperti kulkas gitu."


"Serius, malah kelihatan saat gue pancing dia antusias banget nanya soal lo."


"Terus, terus gimana?"


"Astaga lo juga antusias banget sih? terus babang tajir lo mau di kemana kan itu?"


"Gue cuma pengen tahu aja Wi heee...itu kan taksiran pertama gue."


"Katanya lo udah nggak bisa pindah ke lain hati lagi, tapi lo begitu antusias mendengar kalau si Alwan nanyain lo jadi gimana ini."


"Gimana ya, gue sebatas suka sama dia tapi cinta gue buat Mas Arman tersayang."


"Sudah ah lo jangan macam macam dengan perasaan lo, nanti gue yang jadi masalahnya karena gue yang nyampein semua ini pada lo. Kalau udah dapat yang cocok sudahlah nyaman kita di sana ngapain cari yang belum pasti."


"Iya deh gue nggak berani dan nggak bisa main api, kurang apa gue semua sudah tercukupi lahir dan bathin haaa..."


Upacara peneguhan atau pelantikan bagi seseorang yang telah menempuh pendidikan. Di kalangan akademik, wisuda merupakan penanda kelulusan mahasiswa yang telah menempuh masa belajar pada suatu universitas.


Langkah pasti kedepannya semakin yakin, mau apapun lompatan dan pijakan seusai kuliah, semua tergantung nasib membawa mereka ke mana.


Andini masih dengan muka sumringah bercengkrama dengan teman-temannya ketika mobil SUV silver berhenti di depan kampusnya.


Suara klakson membuatnya melirik dan tersenyum, Arman dengan kacamata hitamnya tersenyum menurunkan kaca samping mobilnya.


Andini cipika-cipiki sama Dewi dan langsung menghampiri Arman yang menyambutnya dengan membukakan pintu buat Andini dari dalam.


"Mau ke mana nih?"


"Pokoknya aku lapar mau makan sekarang."


"Nih ada aku, boleh kalau kamu mau makan."


"Yeeeee... mesum, bukan lapar itu tapi perutku yang lapar."


"Kasihan, cantik-cantik nggak di kasih makan."

__ADS_1


"Mas, lapar nggak?"


"Nggak, selama aku memandang kamu."


"Jangan suka gombal berlebihan nanti pingsan sendiri tahu rasa, lapar-lapar aja kangen-kangen aja beda lagi."


"Haaaaaaaa...aku sebenarnya lebih memilih bermesraan sama kamu daripada makan, walau itu hanya teori dan sulit untuk di buktikan kenyangnya, makan juga faktanya kebutuhan lahir dan kamu adalah kebutuhan bathin ku."


"Mas aku jadi wisuda satu minggu lagi, kita kunjung ke Teh Arini ya, kapan Mas ada waktunya? kita bikin surprise Teh Rini gimana?"


"Oh, eh, ayo aja, nanti aku lihat dulu agendaku ya kapan senggangnya."


"Mas, apa kita tidak lebih baik bilang sama orangtuaku dulu juga orangtua Mas Arman?"


"Bagus juga idenya itu sayang, nanti biar Teh Rini tahunya dari orangtuamu saja, sambil menghadiri wisuda kamu. Boleh sekalian kita pulang bareng aku mau banget pulang sama kamu sayang."


"Mas setuju kita pulang dulu?"


"Aku setuju, aku perkenalkan kamu pada orangtuaku dan aku akan melamar kamu bagaimana?"


"Mas serius?"


"Memang kamu tak melihat kalau aku ini sangat serius sama kamu, kok kamu bertanya seperti itu?"


"Apa tidak terlalu cepat kita bertunangan?"


"Kendalanya apa? kan sebentar lagi satu minggu lagi wisuda, bahkan kalau bisa aku akan menikahi kamu secepatnya. Apa kamu senang?"


"Jelas aku senang Mas, cuma aku kaget aja."


"Nggak usah kaget, aku sudah mendambakan saat itu hadir Dini, aku bukan orang yang kesepian lagi ada kamu yang selalu menungguku dengan penuh cinta dan kerinduan, aku pulang kerja ada seorang istri cantik menyambut ku dengan senyuman dan pelukan sayang."


Andini juga tersenyum sejuta bayangan indah terbentang di depan matanya, hidup dengan orang yang di cintainya terasa indah segalanya.


"Kok malah senyum-senyum, katanya mau makan yu kita turun."


Andini gelagapan karena merasa kaget saat dirinya melamun terlalu jauh.


"Aku tahu, kamu masih ngebanyangin kemesraan kemarin ya? nanti habis makan kita ulangi lagi, aku masih kangen."


"Sok pintar, main tebak aja." Andini tertawa kecil sambil turun membuka pintu mobil.


*


Rekomendasi Novel yang sangat bagus untukmu, Pesona Aryanti karya Enis Sudrajat🙏❤️

__ADS_1



__ADS_2