Meniti Pelangi

Meniti Pelangi
Mengadu


__ADS_3

"Ya sudah, nanti kita pikirkan dan kita bicara sama Mas Hadi baiknya seperti apa, kita sekarang pulang, hapus air matamu! jangan biarkan kesedihanmu menjadi tontonan orang." Arini bangkit duluan memandang kepada adiknya.


"Sepertinya ada yang harus diluruskan dengan suamimu Dini." Arini seperti ingin mengorek kesalahan suami adiknya.


"Iya Teh, pokoknya nggak mau pulang sebelum aku tahu dan jelas permasalahannya, aku tak terima diperlakukan seperti ini."


ucap Andini sambil mengusap air matanya.


"Jangankan kamu Dini orang yang menjadi objek nya, Teteh aja sebagai keluarga tidak terima seandainya Arman benar-benar melakukan hal seperti itu." Terlihat Arini agak emosi.


Mereka keluar dari ruangan kerja, Arini masuk ruangan karyawan mungkin izin atau pamit terhadap seseorang yang ada di situ, kalau dirinya mau keluar dulu.


Arini kelihatan kesal mukanya. lagi-lagi masalah datangnya dari Arman entah seperti apa permasalahannya, Arini belum jelas tetapi ingin rasanya Arini menunjuk muka Arman dan marah di depannya, seandainya benar-benar Arman tega melakukan itu kepada keluarganya.


Pernikahan dianggap hanya permainan, perasaan dan hati seperti tidak dihargai sama sekali dan cinta hanya dianggapnya sebagai penyempurna kehidupan yang setiap saat bisa diperlakukan seenak hatinya. Arini benar-benar tak terima dan merasa marah.


Apalagi mendapati Andini kini dalam keadaan hamil muda, yang seharusnya mendapatkan perhatian ekstra lihat aja apa yang aku katakan kepadamu Arman! apa yang bisa aku lakukan kepadamu aku akan menjatuhkan harga dirimu seperti dulu kamu menghinaku habis-habisan.


Kakak adik Arini dan Andini turun melewati lift, Arini menggandeng tangan adiknya, perasaannya khawatir saat tahu Andini sedang hamil. Arini menjadi ingin memberikan perhatian lebih takut Andini tidak seperti dirinya, takutan Andini tidak hati-hati seperti dirinya, takut Andini ceroboh dalam melakukan segala hal, takut ini itu dan takut terjadi sesuatu terhadap adiknya.


Mereka masuk mobil, Arini menyetir dalam diam. Begitu juga Andini diam terpaku seperti orang bingung, memikirkan apa yang akan terjadi dengan dirinya.


Andini melihat jam di pergelangan tangannya, ini jam makan siang Mas Arman pasti sudah berangkat menuju ke ruko tempat dirinya kerja, pasti kaget mendapatkan ruko dalam keadaan tutup.


Ponselnya di matiin, pokoknya sementara biarin dia kelabakan dan akhirnya akan menelephon Kakaknya.


"Dini, apa ponselmu di matiin?"


"Iya, Teh."


"Dini, apa selama ini kamu melihat gelagat mencurigakan dari suamimu? kita jangan berprasangka jelek dan buruk dulu apalagi ini terhadap suamimu. Tapi kita cari tahu dulu seperti apa permasalahannya sehingga sampai dia menerima pesan seperti itu, yang kesannya kalau kita artikan adalah dia bermain taruhan."


"Aku emosi duluan, tapi tidak melihat apapun Teh, kami layaknya pengantin baru, biasa aja dari kemarin aku sengaja meminta yang aneh-aneh biar bisa ngerjain dia." aku sebel banget sama dia.


"Kamu minta apa?"


"Aku pengen makan, cimol, cireng, cilung, cilok, cilor, cendil, candil, cendol."


"Kamu udah makan itu semua?"


"Belum, baru beberapa, karena kami cari nggak semua dapat."


"Kamu benar menginginkan makanan itu semua?"


"Nggak juga, lucu aja nama-namanya."

__ADS_1


"Ya ampuuuuun... Dini! justru kamu yang lagi hamil kedengarannya lucu, menginginkan makanan aneh seperti itu, gempor-gempor tuh suamimu mencarinya."


"Biarin aku sebel banget!"


Mereka sampai di rumah, Bima menyambutnya keluar duluan memeluk Mamanya juga Tantenya.


"Kamu istirahat saja dulu, jangan pikirkan yang lain-lain biarin nanti juga paling dia nelpon Teteh."


Baru saja Arini menyimpan tasnya telephon sudah berdering, benar Arman menghubunginya.


"Ya, halo Arman!"


"Rin, ini aku."


"Aku tahu! ada apa?"


"Galak banget kamu, lembut sedikit kenapa?"


"Aku nggak bisa lembut kalau sama orang yang nggak bertanggung jawab!"


"Loh, siapa ya nggak bertanggung jawab?"


"Kamu! istri lagi hamil kamu biarkan menangis datang ke sini mengadu. Apa yang telah kamu lakukan dengan pernikahanmu, dengan cinta adikku?"


"Kalau kamu nggak ngerti datang ke rumahku saat ini juga! aku tunggu di rumah!"


"Oke,aku datang sekarang juga, tapi istriku ada di situ kan?"


"Iya, tapi dia nggak mau ketemu kamu!"


Klik


Sambungan telephon pembicaraan Arini dan Arman berhenti dan terputus. Arini begitu emosi berbicara di depan Arman ingin rasa hati meluapkan segala emosi yang selama ini ada di dalam hatinya, tetapi selalu tertahan karena di satu sisi ada adiknya. Bagaimanapun juga Arini menjaga perasaan adiknya.


Arini juga menelephon suaminya untuk bisa pulang, biar mereka bisa menyelesaikan permasalahan yang membelit rumahtangga adiknya.


Karena dekat, Mas Hadi datang duluan, Bi Minah membuka pintu pagar mobil masuk dan berhenti di halaman.


Hadinata masuk memeluk Bima dan mencari istrinya, lalu Hadi menghampiri Arini memeluk dan mencium pipinya, Arini mencium tangan suaminya.


"Di Mana Tante Dini sekarang, coba panggilkan." Hadi duduk di sofa ruang keluarga.


"Papa, ada Tante Dini." Bima naik ke pangkuan Hadi.


"Iya, sayang Tante Dini nanti bakal punya bayi adiknya Bima."

__ADS_1


"Adiknya cewek apa cowok Pa?"


"Papa nggak tahu sayang, kan hamilnya juga belum gede."


Arini datang sama Andini, kelihatan mukanya habis nangis. lalu duduk di depan Hadi.


"Tante mau punya bayi adiknya Bima ya?"


"Iya, Bima tapi masih lama keluarnya." sahut Andini pelan.


"Bi Minah ajak main dulu Dek Bima keluar Mama sama Papa mau ada yang di bicarakan dulu."


"Ayo Dek Bima, bawa tuh sepedanya."


Bima keluar di bawa Bi Minah bermain di halaman.


"Ada apa Dini? apa yang terjadi hingga kamu minggat dari rumah?"


"Aku nggak habis mengerti Mas, apa sih maksudnya Arman seperti itu?" Arini menjawab duluan mewakili Andini yang seperti enggan untuk bicara.


"Itu cuma bercanda mungkin?"


"Aku tidak melihat di mana bercandanya kalau melihat pesan seperti itu!" Andini mulai bicara.


"Jangan emosi dulu kita cari tahu dengan bertanya pada Arman sendiri, kita lihat apa jawabannya?"


Hadi berusaha menjadi Kakak yang baik dan bijaksana, dengan mempertimbangkan segala sesuatu baik buruknya.


Terkadang saat istrinya Arini emosi, tidak lantas membuat dirinya emosi juga. Harusnya menyelesaikan masalah itu perlu pemikiran yang serius untuk bisa menyelesaikan masalah yang sedang kita hadapi.


Hadi mengerti pasti Istrinya paling emosi melihat kejadian ini, tapi semua kan belum jelas. Dari awal pun Arini meragukan Arman dan cintanya takut hanya balas dendam dan adiknya yang menjadi sasarannya.


Sekarang baru menikah masih dalam waktu hitungan bulan sudah ada kejadian seperti ini, jelas menohok perasaan Arini dan emosi tinggi.


"Ingat! jangan dulu bicara sebelum Mas selesai bicara, jangan memicu emosi orang berlebihan."


"Baiklah Mas, tapi aku tak terima Andini di jadikan bahan taruhan 1M juga pernikahannya!"


*****


Happy reading dan tinggalkan jejak mu ❤️🙏


Sambil nunggu up Meniti Pelangi baca novel yang sangat bagus untukmu, Masa Lalu Sang Presdir karya Enis Sudrajat. fav, like dan vote ya 🙏❤️


__ADS_1


__ADS_2