
Hampir maghrib Andini dan Dewi baru pulang,kelihatan penat di wajah keduanya tapi semua itu terobati saat Andini mengajak sahabatnya ke Mall dan menyuruhnya memilih juga pakaian yang dia mau seperti Andini juga memilih beberapa potong pakaian yang di sukai nya, awalnya Dewi merasa ragu tapi setelah Dini menjejalkan lembaran duit di tangannya baru Dewi percaya.
"Nih biar lu pilih sendiri baju yang lu suka, biar duit dari Hongkong yang penting sudah di tangan" Dewi masih ingat kata kata Dini tadi di Mall.
Gila bener si Dini jadi banyak duit sekarang,biasanya suka pinjam pada dirinya mending pinjam kalau lagi ada tapi kalau sama sama lagi gundul ya paling pinjam ponsel siapa yang ada pulsanya dan mengandalkan Andini menelephon kakaknya itulah pertolongan pertama mereka.
Dewi masih melirik sekilas tadi dompetnya si Dini masih berjubel duit merah merah,belum lagi program nya yang melihat lihat dan bertanya ke seller grosir tadi yang katanya mau belajar berdagang tapi giliran dirinya ikutan Andini bilang nanti dulu kalau sudah lancar baru aku rekrut elu sekarang gue rintis dulu sendiri.
Ingin rasanya Dewi ngobrol serius dan ikutan kerja sambilan tapi belum ada waktunya biar lihat lihat dulu kondisinya apa serius tuh sahabatnya si Dini ?
Di lain kamar Dini sibuk mematut dirinya depan cermin dengan pakaian barunya ditempel tempelkan di badannya,satu sudah ganti lagi tempel yang lainnya dan tanpa sadar Arman melihatnya dengan tatapan heran dan senyuman dari pintu yang nggak di tutup.
"Senengnya yang habis shoping"
"Oh eh Mas Arman, Mas kenapa nggak telephon dulu ?"
"Emang kenapa nggak boleh aku datang ke sini ?"
"Bukan aku juga baru datang banget,makanya lagi lihat baju yang aku beli tadi,dan aku belum mandi heee..." Andini tersenyum manja.
"Kamu tetep cantik nggak mandi juga"
"Nyindir nih apa tulus mujinya ?"
"Bener aku jujur"
"Ya sudah Mas tunggu dulu aku mandi dulu ya"
"Nggak mau,masa aku di tinggalin sendiri ajak dong mandi bareng kan aku juga belum mandi"
"Iiiiiiiiiih...Mas !?
"Haaaaaaaa..." Arman menangkap tangan Andini dan memeluknya erat sambil berbisik.
"Senang shoping nya sayang ?"
Andini mengangguk dalam pelukan Arman,dan wajahnya tengadah menatap wajah Arman yang ada di atasnya begitu sumringah penuh dengan senyum bahagia, dan Arman begitu tak tahan untuk tidak menciumnya dengan penuh perasaan sayang.
"Aku kasih kejutan buat kamu sayang,seakan kamu adalah pembawa hoki keberuntungan buat aku,tahu nggak ? Proyek raksasa ku gool hari ini"
Arman mengeratkan pelukannya tetapi Andini hanya diam saja.
"Sayang kamu kenapa tidak bahagia dengar khabar keberhasilanku ?"
"Aku tidak suka Mas bilang kalau aku pembawa hoki dan keberuntungan Mas,aku bukan barang perjudian Mas,aku takut kalau mas menganggap aku keberuntungan,jika suatu saat usaha Mas lagi turun dan proyek Mas tidak gool apa aku akan di sebut pembawa sial ?"
"Astaghfirullahaladzim Andini sayang,maksud aku bukan begitu, aku bicara berkah dari setelah aku jalin hubungan kita seakan menyuntikkan semangat buat aku jadi aku begitu semangat memperjuangkannya dan berhasil,aku bahagia dan ingin berbagi dengan kamu sayang,kalau aku salah bicara maafkan aku ya"
__ADS_1
Andini diam saja masih dalam pelukan Arman.
"Aku nggak bermaksud menyinggung dan menyakiti kamu,aku sayang banget apa kamu belum percaya hemght ?"
Andini menggeleng dan memeluk Arman dan Arman tersenyum juga,mereka kembali berciuman dengan rasa yang lebih menggelora dan Arman menutup pintu dengan kakinya,setengah jam dalam diam dan hanya bibir dan tangan yang bekerja di selingi dengan permainan lidah nya aaaah... semua terasa melayang,Arman mengusap usap punggung Andini dan Andini meremas kemeja Arman keduanya berhasrat dan menagih lebih dari candu ciuman yang mereka lancarkan,tapi semua serba ada batas,hanya mata keduanya yang sayu menahan rasa yang harus mereka kendalikan,dan nafas keduanya begitu memburu membakar gairah yang sama sama panas.
"Mas udah"
Arman tak menjawab hanya mengecup lagi dan lagi bibir tipis mungil itu,dan memandang wajah Andini seakan nggak rela di lepaskan dari pelukannya.
"Mas Arman semakin nakal iiiiiiiiiih..."
"Itu karena kamu nya begitu menggoda aku"
"Aku nggak mau ke rumah Mas Arman lagi"
"Lho kenapa ?"
"Aku takut kecolongan lagi,dan tak tahan lagi"
"Heee...kan aku udah minta maaf sayang,kan semua itu nanti juga akan jadi milik aku hanya masalah waktu saja,ya kan ?"
Andini tersenyum.
"Jika suatu saat kita sudah resmi jadi suami istri kamu mau bulan madu ke mana ? Bali ? Lombok ? atau ke mana apa sudah ada gambaran ? atau di kamarku saja meneruskan kemarin yang tertunda ?"
"Haaa...kenapa malu ? kan itu kenyataan dan sudah terjadi,nanti aku bukan icip-icip lagi tapi aku buka seutuhnya"
"Aku nggak mau kemana-mana Mas di dalam kamar yang pasti kalaupun kita nanti bulan madu ke Bali,ke Lombok tetep di dalam kamar tempat paforit kita"
"Aku sudah nggak sabar Dini hari itu datang untuk kita,kita harus sabar dulu ya"
"Iya Mas"
"Tapi suatu saat boleh dong aku icip-icip lagi ?"
"Mas !?"
Andini mencubit perut Arman dan Arman mengaduh sambil menyuruh agak ke bawah lagi sambil menunjuk resleting nya dan tertawa ngakak,kontan saja membuat Andini mencubit lagi sambil melotot lalu cemberut.
"Mau nonton lagi nggak ?"
"Nggak ah Mas aku capek"
"Ya sudah sini aku peluk lagi"
"Mas"
__ADS_1
"Apa sayang ?"
"Aku tadi sudah melihat lihat barang di grosir seller dan aku begitu semangat banget dan optimis,apalagi melihat lihat skin care dan segala macam barang dan aksesoris,aku ingin segera rukonya selesai Mas"
"Aku senang kamu optimis sayang dan semoga semua berjalan seperti yang kamu harapkan"
"Iya Mas"
"Tiga hari lagi kamu sudah bisa pindah ke sana dan membereskan dan menata dulu rak rak yang mau di pakai, semua atur sesuai selera kamu dan daftar belanjaan awal sudah komplit belum ?"
"Bertahap aja Mas,kalaupun datang sekaligus banyak pasti aku juga kewalahan membereskan nya"
"Apa nggak rekrut tenaga bantuan aku takut kamu kecapaian nanti ?"
"Ah jangan dulu Mas usahanya kan baru merintis nanti juga akan ada waktunya kalau sudah mulai ramai dan maju"
"Iya sayang kamu pintar banget,nanti aku bantuin juga kalau ada waktu dan pasti aku sempat sempatkan buat kamu"
"Terus aku gaji Mas dari mana kalau usahanya baru di rintis ?"
"Aku nggak butuh gaji sayang aku butuh tidur sama kamu heee... tapi nanti kalau sudah jadi nyonya Arman"
"Aaaaaah... Mas !?"
"Haaaaaaaa..."
Kebahagiaan hanya milik mereka dan suka cita cinta mereka yang baru merekah,Andini dengan pintar bisa memanfaatkan segala fasilitas yang di cukupi sama Arman dengan begitu tak perhitungan karena Arman telah percaya Andini adalah masa depannya,begitu juga Arman dengan segenap hati mencintai Andini dengan penyambutan Andini yang luar biasa sama cintanya dan sama sama menggelora,Andini juga yakin kalau Arman adalah yang terbaik untuk hidupnya.
Andini siap kapanpun Arman mengajaknya berumah tangga dan siap menanggalkan kesendiriannya menuju bahagia dan Arman yang jadi sandaran hatinya yang telah dewasa dan mapan dalam segala hal.
.
.
.
.
Jangan lupa ikuti dan kunjungi juga novel karya Enis Sudrajat lainnya ya :
❤️ Pesona Aryanti (end)
❤️ Meniti Pelangi (on going)
❤️ Biarkan Aku Memilih (on going)
Up setiap hari
__ADS_1
Salam !