Meniti Pelangi

Meniti Pelangi
Saling memaafkan


__ADS_3

"Jangan menangis Andini sayang, jauh dari awal kita kenal aku sudah persiapkan deposito untuk hidupmu, dan aku beri mahar cukup di pernikahan kita agar kamu bisa hidup layak tanpa aku, seandainya aku harus mendekam di penjara terlebih sekarang ada calon anak kita, aku selalu mencintaimu dan berharap kita tetap saling cinta."


Arini diam juga Hadinata.


"Mas Arman, mintalah maaf pada Mas Hadi dan Teh Rini, aku nggak rela dan nggak akan sanggup kalau Mas Arman harus di penjara hiks... hiks... hiks" Andini menangis menutupi mukanya dengan kedua tangannya.


"Kakakmu tak akan memaafkan aku Dini, karena mereka orang suci dan sempurna tak pernah melakukan kesalahan dalam hidupnya."


"Tidak Mas, mereka belum tahu kalau Mas Arman orang terbaik dalam hidupku, aku memaafkan mu Mas, mereka tidak tahu kalau Mas Arman begitu mencintaiku."


"Aku terima apapun asal kamu percaya padaku itu sudah cukup bagiku, setiap saat aku siap masuk penjara Dini tapi aku tak akan sanggup kalau harus kehilangan kamu."


"Mas Hadi, Teh Rini aku minta maaf dan juga atas kesalahan Mas Arman."


Hadi dan Arini hanya diam.


"Aku memaafkan Mas Arman soal taruhan itu, aku tahu mereka teman baik, aku tahu hati Mas Arman yang mencintaiku, tak mungkin menghianati, aku salah telah melibatkan Teh Rini dan Mas Hadi dalam urusan rumah tangga ku ,seharusnya aku mencari tahu dulu kebenaran akan pesan itu dan seharusnya aku bertanya dulu kepada suamiku bukan malah mengadu kepada saudaraku." Andini berlinang airmata.


"Sudahlah Dini sayang, terimakasih telah memaafkan aku, telah percaya padaku, satu lagi maafkan aku bila suatu saat aku harus mempertanggungjawabkan perbuatan ku dan kesalahanku di waktu lalu."


"Sebagai istri aku harus rela Mas, apapun yang terjadi padamu aku harus ikhlas menjalaninya."


Terasa bimbang hati Arini, kasus suaminya telah lama berlalu haruskah aku ungkit kembali dengan menjadikan Arman tersangka atas pengakuannya? dan haruskah aku membuka luka lama dan sekaligus membuka luka baru bagi adikku yang sekarang sedang hamil, haruskah aku setega itu? kepada adik ipar ku suami dari adikku dan juga sahabatku sejak dulu. Apalagi sekarang Andini akan memiliki anak haruskah aku nodai semua itu dengan cerita sebuah penjara hanya untuk kepuasan hatiku?


Batin Arini meronta pada kenyataan. Siapa Arman sekarang? Arman adalah suami adikku, adik ipar ku, Arman telah begitu jelas jujur di hadapanku dan Mas Hadi. Meminta maaf atas semua kesalahannya.


"Ayo kita pulang sayang, biarkan kakakmu berpikir, aku hanya menunggu polisi menjemput ku setiap saat aku sudah siap."


Arman bangkit menyodorkan tangannya pada Istrinya, Andini menyambutnya masih dalam linangan air mata yang tak pernah berhenti.


Arman memeluknya, mereka berpelukan di saksikan Arini dan Hadi yang masih menunduk mungkin masih dengan emosi atau juga rasa sedih, entahlah.

__ADS_1


Andini mengambil tas di kamar depan dan Arman menunggunya. Mereka berjalan keluar Arman merengkuh bahu istrinya.


"Om, Tante, Bima ikut. Tante mau kemana?"


"Bima sayang ,Tante mau pulang." Andini semakin tak bisa membendung airmatanya.


"Nggak mau! Bima mau ikut Om sama Tante hiks... hiks... Bibi, Bima mau ikuuuuut...."


Arman memangku dan memeluk Bima yang menangis mau ikut, Andini malah menangis sambil berdiri.


Arman juga tak kuasa akhirnya menitikkan air mata dan merangkul istrinya, bertiga bertiga menangis di teras rumah.


Bi Minah berusaha mengambil Bima dan melepaskan pelukannya dari Arman, tapi Bima meronta dan mengamuk.


"Mama...Bima mau ikut Om sama Tante...."


Arini keluar dengan berderai air mata di susul Hadi di belakangnya.


Seketika Andini dan Arman menoleh, Arini berlari menghampiri adiknya dan memeluknya sambil menangis, mereka berpelukan.


"Maafkan Teteh juga Mas Hadi Dini. Kami bukan Kakak yang baik buat kalian."


"Teh Rini, apa Teteh juga memaafkan Mas Arman?"


"Ya, tidak ada alasan aku tidak memaafkan laki-laki 'perusuh' yang kini jadi adik ipar ku!"


Arman membuang muka menyembunyikan tawa kecilnya, saat mendengar gelar lama julukan dirinya di sebut lagi sama Arini.


Arini melepaskan pelukan dan menghapus air mata di pipi adiknya, lalu berhadapan dengan Arman.


"Aku titipkan adikku padamu, aku memaafkan mu, dan aku percaya kamu adalah yang terbaik buat adikku Andini."

__ADS_1


"Terimakasih, bintang kelas MIPA, idola SMA Pasundan!"


Arini tertawa, dan sekilat Arman memeluk Arini, mungkin itu pelukan pertama dan terakhirnya selama jadi sahabat sejak SMP dan SMA nya sampai sekarang menjadi kakak iparnya.


Mereka melepaskan pelukan karena Bima malah menangis meraung-raung.


Sekilat Arman memangku Bima membawanya ke mobilnya.


"Kita culik Bima sayang, biar Mama sama Papanya nanti menjemput ke rumah kita."


Arini tertegun melihat Bima dadah dari mobil yang mulai berjalan. Arini memeluk suaminya.


Semua telah berlalu, ganjalan hati telah mencair dan kebencian tidak harus di pupuk tapi sedikit demi sedikit mulai kita buang dari diri kita, tak ada hati yang lebih lapang selain memaafkan, tak ada kata terluka tapi sembuh dari luka dan bangkit menyambut hari baru yang lebih bahagia.


Arini telah memaafkan, Arman telah jujur mengakui kesalahannya, dan Arman jelas memperlihatkan cintanya yang begitu besar dan dalam pada Andini, begitu juga Andini mencintai Arman dengan sepenuh hati, mereka siap merajut masa depan dengan cinta mereka.


.......................Tamat......................


Terima kasih tak terhingga dan rasa syukur selalu di ucapkan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, sehingga saya bisa menyelesaikan novel ini dengan baik menurut kemampuan saya.


Kepada keluarga yang telah mendukung, dan juga kepada readers semua yang telah dengan setia membaca dari awal sampai akhir novel pertama saya yang terbengkalai ini, yang diilhami sedikit dari kisah nyata.


Pada akhirnya saya ucapkan terima kasih pada semua yang telah mendukung dan jangan lupa mampir di karya-karya Enis Sudrajat lainnya


❤️Meniti Pelangi


❤️Pesona Aryanti


❤️Biarkan Aku Memilih


❤️Masa Lalu Sang Presdir

__ADS_1


🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏


__ADS_2